
Sepertinya, bibi Feng sama terkejutnya denganku. Kami terdiam tidak menjawab salamnya sama sekali dan tak menghiraukannya.
“Selamat malam ibu.” Sapa wanita itu pada ibu Jin dengan lemah gemulainya.
Suaranya kenapa terdengar seperti dibuat-buat, sehingga terdengar seperti tengah tersedak biji plum. Ya Tuhan aku berpikir apa ini??? Aku pun buru-buru mengambil masakanku ke pantri yang belum ku siapkan ke meja makan.
Kenapa pikiranku jadi aneh. Perasaanku menjadi tak nyaman. Aku jadi merasa terasing di sini dan juga... jadi merasa begitu kesepian dan tiba-tiba merasa sedih.
Tapi satu hal yang lebih aneh. Aku menjadi semakin kesal dengan Jin. Serasa ingin melempar semua masakanku ke mukanya saat ini juga.
"Hufh...." Aku mendesah mencoba menghilangkan pikiran-pikiran kotor dari otakku.
“Apa sudah selesai semuanya?” tanya bibi Feng padaku sontak membuatku terkejut.
“Ah... ini... yang terakhir bu." Aku mengangkat hidangan terakhir dan menunjukkan padanya. "Apakah ayah dibawakan ke kamarnya?” tanyaku padanya ingin tahu.
“Ah... Tak usah. Biar ibu panggil saja. Ayah pasti sangat senang makan bersamamu di meja makan.” Senyumnya sembari pelan membelai rambutku.
Bibi Feng pun beranjak ke kamarnya untuk memanggil suaminya. Aku pun beranjak menghidangkan makanan terakhir dan menatanya di meja makan.
Mataku melirik Jin sekilas, tapi sepertinya dia sudah tidak ada di ruang tamu. Mungkin dia tengah berganti pakaian. Mataku kemudian kembali melirik wanita yang datang bersamanya tadi. Dia terlihat duduk dengan melipat kakinya yang jenjang diruang tamu sambil membaca majalah.
Dia memakai dres yang pendek sekali. Sehingga saat dia duduk seperti itu memperlihatkan kaki jenjangnya dengan sangat jelas. Terlihat sangat terawat sekali. Pasti... dia sering pergi ke salon untuk melakukan beauty control.
Jujur aku iri. Tapi aku sangat tidak suka dengan attitude nya yang buruk.
Chhh.... Wanita macam apa itu? Kenapa hanya diam saja dan malah membaca majalah di saat yang lain tengah sibuk menyiapkan makan? Dia pikir aku pembantunya apa? Aku menghela napas sebal. Kesal sekali rasanya.
Tak berapa lama Jin menuju ruang makan mendekatiku. Yang masih mencoba mengontrol emosiku.
“Kau yang memasak semua ini?” tanyanya sembari mendelatiku. Aku tak menjawabnya dan foku pada kegiatanku masih menata hidangan dan menyiapkan nasi dalam mangkuk beserta sumpitnya.
“Kau tampak cantik dengan rambut barumu.” Dia memujiku namun tak ku indahkan dan terus menghindarinya dengan menyiapkan sup di mangkok dan menatanya di samping mangkuk nasi masing-masing.
Cuek. Aku kemudian berjalan ke dapur melepaskan untuk melepaskan celemek dan membersihkan pantry sembari menunggu paman Feng.
Bukan karena apa aku menghindarinya, hanya saja perasaanku tak enak jika berada di sampingnya. Jantungku berdegub tak karuan. Aku juga merasa sangat gugup tak tau kenapa.
Masih teringat dengan jelas bagaimana dia kemarin mencuri ciuman pertama, kedua dan ketigaku. Dan lagi... bayangan saat dia bersama dengan wanita itu. Apa lagi dia kini membawanya pulang ke rumahnya. Menambah rasa panas pada jantungku.
Bukankah itu namanya ********? Pantas dia mendapatkan julukan itu.
Sudah mau menikah masih saja bersama perempuan lain. Memang dasarnya ******** ya ********. Ya Tuhan.... Aku harus menikah dengan pria macam ini? bagaimana nasibku kelak?? Aku merutuk dalam hati.
“Kapan kau ke sini?” tanyanya sudah berada di sampingku membuatku geragapan karena terkejut.
Aku tak menjawabnya lagi. Aku kini merasa sangat jengah dengannya. Sekali lagi dia bertanya akan aku siram mukanya pakai sup jahe.
“Aduh... banyak sekali hidangannya? Apa menantu ayah yang menyiapkan semua ini?” ku dengar suara paman Feng sudah berada di ruang makan. Aku bergegas menemuinya untuk menyapa dan meninggalkan Jin di dapur.
“Bagaimana kabar Ayah? Apakah baik-baik saja? Ibu bilang ayah sedang tak enak badan.” sapaku padanya, aku juga merasa khawatir tentang kesehatannya karena wajahnya tampak pucat sekali.
“Anak manis... ayah baik-baik saja. Setelah memakan hidangan yang kau siapkan aku pasti akan langsung sehat."'Ucapnya menyanjungku dengan terkekeh pelan.
Karena di sanjung aku merasa senang tentu saja.
"Syukurlah." ucapku sembari duduk di kursi kosong yang tersedia.
Selang beberapa menit kami sudah duduk berkumpul di ruang makan tak terkecuali wanita seksi itu. Paman Feng duduk sendirian di ujung meja, bibi Feng duduk persis di sampingku. Dan Jin duduk didepanku berdekatan dengan wanita itu.
“Sekarang saatnya ayah dan ibu untuk menilai.” Aku memberikan senyuman. "Silahkan!" Ucapku mempersilahkan mereka mulai mencicipi.
“Tentu...” jawab mereka berdua bersamaan.
“Ayah mau aku ambilkan?” wanita itu tiba-tiba merayu ayah Jin dengan gesitnya.
“Tidak. Aku mau menantuku yang mengambilkannya untukku.” Telak. Ayahnya menolak dan memilihku.
Dengan senang hati aku pun beranjak mengambilkan beberapa potong lauk dipiring untuk ayah dan ibunya. Terlihat sekali raut sebal diwajahnya.
“Aku ambilkan?” wanita itu menawarkan diri pada Jin.
“Tidak... terimakasih, aku bisa sendiri.” Jin menolak dan terlihat sangat acuh.
“Yum.... benar, ini enak sekali.” Ibunya menimpali dan ekspresi mereka sama.
Aku bertepuk tangan girang.
Kulirik Jin yang tidak berkomentar apa pun. Tapi dia terlihat membelalakkan matanya juga.
“Jadi.... apakah masakanku diterima?” tanyaku berseri-seri.
“Tentu... ayah jadi ingin sering-sering makan masakanmu.” paman Feng tersenyum memujiku.
Ku lirik wanita itu sekilas. Tampaknya dia tengah merasa sebal menatapku. Namun aku tak mengindahkannya. Dan Jin ... sepertinya dia banyak terdiam di meja makan, sedangkan aku malah banyak bercengkerama dengan ayah ibunya. Sesekali wanita itu mencoba mengalihkan perhatian ayah ibunya namun ternyata tak berhasil.
Kenapa aku merasa senang sekali melihatnya kesal seperti itu? aku sendiri juga tak tau.
“Eum... Fei, apa Jin yang mengajakmu kemari?” tanya ayahnya menyelidik.
Fei menatap ke arah Jin sebentar kemudian berbalik menatap paman Feng.
“Ah... tidak, aku yang berinisiatif untuk ikut kemari. Karena aku sudah lama sekali tak bertemu dengan Ayah dan ibu.” Jawabnya dengan genitnya.
"Siapa yang kau panggil ayah dan ibu?" bibi Feng tiba-tiba menyela.
Sehingga membuat Jin yang tengah menenggak air tiba-tiba saja tersedak entah karena terkejut atau menahan tawa. Tapi aku melihat sepertinya dia tengah tersenyum.
Fei tampak cemberut dan kesal. Dia kemudian terdiam.
“Oh iya... kau belum berkenalan dengan dia kan?" Bibi Feng menyentuh pundakku menunjukkan padanya bahwa kata "dia" yang dimaksud adalah aku. "Dia adalah Zhang Xiu Mei, calon istri satu-satunya Feng Jinyi. Dia sangat sederhana dan mandiri. Dia sangat menawan, cantik, manis dan tentu saja... dia sangat paaaandai memasak.” Dan ibunya memperkenalkan aku dengan sangat menyanjungku.
Ini apa-apaan? Kenapa rasanya aku dijadikan sebagai pedang penangkal setan di sini? paman dan bibi Feng sepertinya tak menyukai Si Fei ini. Entahlah... atau hanya perasaanku saja.
“Calon istri?” Fei sepertinya sangat terkejut mendengar celotehan panjang lebar bibi Feng.
“Ibu... bukankah ini terlalu berlebihan?" Aku pura-pura merajuk dan memukul pelan lengannya yang semakin membuatnya terkekeh.
Aku bahkan lupa jika tujuanku menerima tawaran makan malam ini karena ingin mengakhiri semuanya. Tapi aku malah terbawa suasana karena mereka sangat menyukaiku.
“Ya Tuhan... aku suka sekali melihatmu seperti ini.” ucap ayahnya kemudian menimpali. "Kau sangat menggemaskan. Ya Tuhan.... manis sekali." Lagi ayahnya menyanjungku.
Aku semakin terbawa suasana.
Dan Fei sepertinya terlihat semakin gusar. Sedangkan Jin, dia hanya tersenyum tipis yang tak bisa ku artikan.
Makan malam yang sangat tak terduga. Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam dan aku harus berpamitan pulang. Aku merasa waktu cepat berlalu. Apakah aku kerasan berada di sana?
“Baru jam 9, aku mau lebih lama lagi bersamamu.” Ucap bibi Feng memanja.
“Begitu juga aku ibu, tapi aku harus pulang.” Ucapku padanya dengan menggenggam tangannya.
"Tidak bisakah kau menginap?" Permintaan Bibi Feng sangat mengejutkanku.
"Menginap? Maaf bu... tidak bisa." Aku menolaknya dengan lembut.
"Kau anak baik. Lagi pula sebentar lagi kau juga akan tinggal di sini." ucapnya senang.
Mendengar perkataan bibi Feng membuat jantungku berdegub sangat kencang. Menikah? benar saja aku akan menikah.
Tidak. Bukankah aku tadi mau mengakhiri semuanya?
“Aku antar kau pulang.” Jin menawarkan diri membangunkanku dari lamunan.
“Aku bagaimana?” Fei merajuk.
“Eoh... kau bisa naik taksi. Rumahmu berlawanan arah dengan rumah Xiumei.” Ibunya memberikan solusi.
“Aku tak apa-apa. Aku akan naik taksi saja.” Ucapku menimpali.
“Tidak, aku akan mengantarmu.” Jin bersikeras yang membuat Fei merasa sebal dan beranjak pergi tanpa berpamitan.
“Aduh... serigala itu....” ibunya berucap. Dan aku hanya tersenyum hambar.
***