
"Sayang.... kau sudah bangun???" Jin langsung mencium keningku ketika aku mulai membuka mata.
Sekarang aku baru merasakan kalau seluruh tubuhku benar-benar sangat lemah dan lelah. Apalagi pada bagian bawahku. Kini aku merasakan sedikit nyut-nyutan meskipun tidak sakit.
"Jin..." Sapaku pada Jin yang tengah duduk di atas ranjang perawatan yang aku tiduri sembari menggenggam tanganku erat.
Aku teringat kembali setelah Little Feng dibawa pergi oleh perawat, aku langsung tertidur atau pingsan... entahlah ... yang jelas aku benar-benar tak ingat setelah itu.
"Mana Little Feng???" Tanyaku khawatir.
"Sayang.... jangan khawatir. Little Feng baru saja dibawa oleh perawat untuk dimandikan dan akan diberikan susu kembali." Jin tersenyum sembari menyibakkan rambutku yang sedikit berantakan.
Aku berusaha beranjak duduk.
"Hati-hati..." Jin khawatir dan langsung berdiri membantuku.
"Tak apa Jin... aku baik-baik saja." Senyumku padanya memberikan isyarat aku benar-benar baik-baik saja hanya saja aku benar-benar merasa sangat lelah.
"Minum ya sayang..." Jin menawarkan sembari mengatur posisi ranjang perawatan agar aku bisa duduk bersandar dengan nyaman.
"Eum..." Aku mengangguk.
Jin dengan senang hati menuangkan air ke dalam gelas dari ketel kaca yang berada di atas nakas di samping ranjang perawatan.
"Ini... minumlah yang banyak..." Ucap Jin sembari memberikanku gelas yang penuh berisi air mineral kemudian duduk kembali di depanku di atas ranjang yang sama denganku.
"Apakah aku harus menghabiskannya??" tanyaku heran.
"Ya... Dokter Zhao bilang kau harus banyak minum air putih." Jin tersenyum mengangguk kemudian menjelaskan.
Aku pun menenggaknya hingga habis. Jin masih saja memperhatikanku dengan tatapan yang dalam sehingga membuatku mengernyit heran.
"Mei...." Jin tiba-tiba langsung beringsut memelukku erat. Erat sekali.
"Sayang.... kenapa??" Aku membalas pelukan Jin dengan tangan masih memegang gelas.
"Mei... Kau tau? semalam tubuhmu menggigil dengan hebat, padahal tubuhmu tidak demam sama sekali. Dan matamu menutup rapat. Sama sekali tak merespon setiap panggilanku. Kau benar-benar tak sadarkan diri. Aku sangat takut. Aku takut sekali... aku takut kehilangan dirimu Mei... Aku benar-benar takut kehilanganmu. Jangan tinggalkan aku dan Little Feng." aku merasakan tubuh Jin bergetar ringan dan detik berikutnya napas Jin terdengar berat kemudian terisak.
Dia menangis??
"Hei... aku tak selemah itu." Aku tersenyum dan menepuk-nepuk pelan punggung Jin. "Sayang.... dengar.... Awalnya aku memang merasa ingin sekali menyerah. Kau tau rasanya sangat sakit sekali. Tapi kemudian... aku teringat jika aku menyerah.... bagaimana dengan nasib Little Feng? bagaimana dengan kamu? Aku tak sanggup membayangkan jika kau merawat Little Feng sendirian. Atau yang paling menakutkan adalah bayangan jika kau akan mencari mama baru untuk Little Feng. Tidak. Aku tidak mau. Maka dari itu aku harus kuat dan harus terus berjuang. Untuk Little Feng... untuk kamu." Jelas ku panjang lebar sembari menepuk-nepuk punggung Jin dan sesekali mengusap-usap rambut cepaknya.
"Tidak... aku tak mau yang lain. Aku hanya mau Zhang Xiumei yang menemaniku hingga aku tua... bahkan... nanti hingga aku mati... aku mau disemayamkan bersama Zhang Xiumei disampingku." Jin malah memelukku semakin erat.
"Ei... mengena sekali." aku menggodanya.
"Aku serius Mei...." Jin melepaskan pelukannya kemudian menatapku lekat.
"Apakah ini sebuah janji??" Aku mengerlingkan mataku menyelidik padanya.
"Janji??? Ya... aku berjanji kembali. Aku bahkan telah berjanji di hadapan Tuhan dan orang tua kita. Apa kau masih tak percaya???" Jin mengambil gelas di tangan ku kemudian mengembalikannya di atas nakas.
"Permisi... Baby Feng ingin bertemu mama...." Seorang perawat dengan suara manis masuk ke dalam ruangan sembari mendorong baby box di mana little Feng tengah terbaring manis.
"Ah.... anakku..." Aku terkejut kemudian merasa senang sampai-sampai aku mau menangis.
"Lihat... Dia manis sekali Bu... Baby Feng juga tidak rewel. Padahal masa kelahirannya masih sebulan lagi, tapi Little Feng sangat sehat sehingga tak perlu di incubator." Ucap perawat itu dengan sangat senang sembari memindahkan Little Feng ke pangkuanku.
Benar..... anakku sangat manis. Ahh... rasanya aku benar-benar ingin menangis.
"Ibu baik-baik saja??" tanya perawat panik.
"Tidak.... aku hanya... tak percaya bahwa ini nyata." Ucapku dengan menangis haru.
Perawat yang tadi membawa Little Feng malah tersenyum gemas melihatku.
"Loh suamiku ke mana?" Tanyaku pada perawat setelah aku berhenti menangis karena terharu.
Belum sempat perawat menjawab, pintu ruang perawatanku terbuka.
*nǐ shuō nǐ yǒu diǎn nán zhuī xiǎng ràng wǒ zhī nán ér tuì
lǐ wù bú xū tiāo zuì guì zhī yào xiāng xiè de luò yè
yíng zào làng màn de yuē huì bú hài pà gǎo zá yī qiē
yōng yǒu nǐ jiù yōng yǒu quán shì jiè
tián mì de hěn qīng yì
qīn ài de bié rèn xìng nǐ de yǎn jīng
zài shuō wǒ yuàn yì*
Ibuku... Ayahku... Huan... Ling... dan Jin. Mereka semua masuk ke dalam ruang perawatan ku sembari membawa banyak balon, boneka dan bunga menyanyikan penggalan lagu Love Confession-nya Jay Chou secara bersamaan. Bahkan perawat yang tadi membawa Little Feng ikut bernyanyi juga.
Tentu saja ini mengejutkan. Saking terkejutnya aku masih tercengang tak bisa berkata apa-apa. Mulutku masih ternganga dan mataku masih terpaku dengan lebarnya.
Aku melirik Huan yang memegang tablet yang ternyata tengah terhubung panggilan video dengan mertuaku.
"Ini apa???" Aku masih bingung dan tertegun tak percaya.
Jin kemudian berjalan mendekat ke arahku sembari membawa buket bunga mawar putih dan dan bunga tulip.
"Zhang Xiumei.... Maaf karena dulu aku tidak melamar mu dengan semestinya yang para pasangan kekasih lakukan, karena situasi kita sangat berbeda dengan sekarang. Jadi... aku ingin melamar mu kembali. Tidak untuk menikah... karena kita telah menikah... Tapi aku melamar mu... agar kamu selamanya menjadi istriku.... agar kamu selamanya menjadi ibu dari anakku... agar kamu selamanya menjadi ratu dalam hati dan kehidupanku... agar kamu selamanya menjadi orang yang selalu menemaniku... dalam sedih maupun duka ku. Dalam sehat maupun sakitku." Kenapa.... aku merasa ingin menangis lagi?
"Zhang Xiumei.... Hari ini... adalah awal yang baru untuk keluarga kecil kita. Aku akan berusaha membuat keluargaku selalu bahagia. Penuh dengan cinta dan kasih sayang... Tapi aku tak bisa melakukannya sendirian... Jadi... Zhang Xiumei... Mau kah kamu menemaniku dan membantuku mewujudkannya????" Jin tersenyum penuh arti menatapku.
Namun entah sejak kapan aku malah menangis tanpa suara dan bahkan terisak-isak. Tapi kini rasanya aku ingin meluapkan tangisanku sekencangnya.
"Mei... maaf.... aku tak bermaksud..."
"Dasar bodoh!!" Aku memutus kalimat Jinyi di sela-sela tangisanku. "Tentu saja aku mau... Kenapa kau mesti melakukan hal ini. Kau membuatku menangis saja." Ucapku di sela Isak tangisku.
"Mei... sayang... maaf....." Jin langsung memelukku dengan erat. "Dan... terimakasih.... aku benar-benar berterimakasih padamu." Ucapnya lagi kemudian mengecup keningku dan kembali memelukku.
"Ya Tuhan.... cucuku!!!" Ibuku tiba-tiba memukul kepala kami bergantian dengan boneka yang tadi dibawanya mengacaukan suasana.
Dan aku pun langsung teringat bahwa Little Feng kini berada dalam pangkuanku.
"Aduh... sayang.... maaf...." ucapku sembari menciumi Little Feng.
"Berikan padaku." Ibuku langsung mengambil Little Feng dari dekapanku. "Ya Tuhan cucuku... Papa sama Mama nakal ya nak ya?? minta di cubit ya nak ya?? Sini ikut Neinei saja ya.... sayang... sayang...." Ibuku terus saja menyindir kami dengan mengajak Little Feng berbicara. Sangat Lucu.
"Sayang... Sini Ayi temani." Ling ikut mengajak Little Feng berbicara di sofa sudut kamar bersama ibuku.
"Tujuh tahun lagi, giliran kakak membantuku." Huan mengancam sembari memberikan semua bunga dan boneka di atas pangkuan ku.
Aku dan Jin pun terkikik geli.
"Apakah aku terlalu kekanak-kanakan??" Jin bertanya padaku polos.
"Tidak." aku tersenyum sembari menggeleng.
"Sayang.... aku benar-benar mencintaimu..." Tiba-tiba Jin berubah manja dan mendekatkan wajahnya untuk mencium ku.
"Aku juga.... sangat mencintaimu." jawabku tak kalah manja dan meresponnya dengan mendekatkan wajahku padanya.
Bibir kami sudah semakin dekat dan....
Ctak!!!!
"Anakku baru saja melahirkan!" Ayahku tiba-tiba mengacaukan momen di antara kami dengan menjitak kepala Jin. Tak berapa lama terdengar suara tawa dari arah tablet yang kini sudah berganti ayah yang memegangnya.
"Jin.... Kalau kau nakal, Aku patahkan milikmu!" Suara ibu mertuaku. Dari dalam video yang masih terhubung.
"Ibu...." Jin kesal.
"Jin, jangan buat ayah malu... tahan dulu sampai Mei sehat." Ayah mertua sama kocaknya dengan ibu mertua.
"Ayah.... aku hanya ingin menciumnya...." Jin merengek.
"Itu tidak boleh!" jawab ayah dan ayah mertuaku bersamaan.
Melihat itu aku terkekeh tak henti-henti.
Semoga... Hari ini menjadi awal yang baru yang lebih baik lagi. Tidak ada lagi masalah atau hati yang tersakiti.
"Apakah kalian sudah menemukan nama untuk Little Feng???" Ayah tiba-tiba mengutarakan pertanyaan yang membuat seisi ruangan menatap ke arah Jinyi.
Tidak menjawab, Jin hanya tersenyum.
Jadi.... apakah Jin sudah mempunyai nama untuk Little Feng???