WE GOT MARRIED

WE GOT MARRIED
Chapter 88 PENGAKUAN



Aku benar-benar merasa kesal dengan manager Wang dan Fei. Bagaimana bisa mereka sepicik itu.


"Maaf nyonya, ke mana tujuan anda?" Sopir taksi yang aku tumpangi mengejutkanku yang tengah melamun.


Benar saja aku lupa mengatakan di mana tujuanku.


"Ah... maaf, Ming Lan Hospital pak." jelasku.


"Baik." Balas sopir itu siap.


Aku mengusap-usap pelan perutku yang terus saja berkedut. Ya, beberapa hari ini gerakan little Feng sepertinya lebih intens meskipun tidak kuat. Tapi aku bisa merasakannya.


Ada perasaan senang ketika merasakan gerakan samar itu. Seperti tak percaya jika sosok lain ada dalam perutku.


Drt.... Drt....


Ponselku bergetar menandakan sebuah panggilan masuk mencoba menghubungiku. Ku rogoh tas selempang yang aku gunakan untuk mengambil ponsel dan melihat siapa gerangan yang telah berusaha menghubungiku.


Jin??? Tidak seperti kemarin yang mengacuhkannya. Kali ini dengan cepat aku menggeser tombol hijau yang berada di layar ponsel.


"Iya sayang?" Sapaku padanya bertanya-tanyan kenapa dia menghubungiku.


"Sayang? Mei??? Kau ada di mana??? Apa kau marah lagi?? Mei...???" Jin terdengar begitu khawatir.


Aku terkikik pelan mendengar kekhawatiran Jin yang menurutku sedikit berlebihan.


"Aku pergi mengambil ponselku yang tertinggal Jin." Ucapku padanya menjelaskan.


"Di mana??? Aku jemput sekarang ya?" Aku bisa membayangkan wajahnya ketika menanyakan hal itu.


"Tak perlu suamiku... Aku sudah naik taksi sekarang. Aku berencana langsung ke Rumah sakit untuk menengok ayah. Tunggu.... apa kau pulang ke rumah?" tanyaku padanya tak percaya karena ini masih waktu istirahat makan siang.


"Ya aku merindukanmu..." jawabnya terdengar merajuk. "Tidak ada pertemuan penting, jadi aku cepat menyelesaikan pekerjaanku dan pulang. Tapi istriku malah pergi." Lanjutnya.


Aku berpikir sejenak.


"Pak maaf, putar arah ya ke jalan Yan An." Aku meminta sopir taksi untuk berputar arah mengantarkanku pulang.


"Baik nyonya." Sopir pun menjawab dengan siap.


"Apa kau pulang?" tanyanya tak percaya.


"Iya... lagi pula aku juga membawa tas besar. Pasti akan sangat ribet jika aku langsung ke rumah sakit." Ucapku padanya memberikan alasa.


Aku memang tak memikirkannya dari awal. Dengan perut begini membawa tas sebesar ini, pasti akan melelahkan sekali. Kemarin saja sebenarnya aku juga merasa lelah.


"Baiklah.... hati-hati sayang..." Pungkasnya mengakhiri panggilan.


Terkadang aku merasa bingung dan tak percaya dengan sifat Jinyi yang mengejutkan. Di awal aku mengenalnya sikapnya sangat kaku sekali. Tapi semakin ke sini semakin memanja seperti seekor kucing pada majikannya. Dan ini begitu mengejutkanku yang mengetahui sifatnya yang sebenarnya.


Dan sikapnya yang seperti itu hanya dia tunjukkan padaku. Tidak dengan yang lainnya.


"Aku pulang..." Sapa ku setelah memasuki Rumah.


"Ya Tuhan.... Aku takut kau pergi lagi." Jin langsung menubrukku dan memelukku erat.


Aku tersenyum kemudian melepaskan tasku dan menyambut pelukannya. Aku juga merindukannya. Rasanya seperti telah berpisah berabad-abad darinya. Padahal hanya beberapa jam saja.


"Aku cepat-cepat pulang karena merindukanmu. Tapi sesampainya di rumah kau malah tak ada. Kau tau aku sangat takut sekali Mei." Jin semakin mengeratkan pelukannya padaku.


"Maaf...." Ucapku kemudian.


Perlahan dia melepaskan pelukannya dan merengkuh wajahku.


"Tak tau kenapa aku sangat tergila-gila padamu." Ucapnya sembari menatap lekat ke arah mataku dalam. "Saat kau tak ada aku benar-benar merasa kosong." Dia mengusap-usap pipiku dengan kedua ibu jarinya.


"Kau tahu Jin? Dulu ada seorang presiden sekolah yang sangat tergila-gila padaku. Yang mengejutkan, dia sudah menyukaiku sejak lama. Bahkan saat aku masih bayi dia sudah sangat menyukaiku." Aku mulai menggodanya dengan menyindir tentang masa lalunya.


"Apa??" Jin terkejut mendengar ceritaku.


Aku melepaskan kedua tangannya yang merengkuh wajahku.


"Dan kau tau? Saking cintanya padaku, sampai-sampai presiden sekolah itu tak bisa mengekspresikan perasaannya dengan baik. Kenapa? karena selalu gugup saat berada dekat denganku. Dan yang ada dia selalu marah-marah tak jelas padaku. Bukankah itu menyebalkan? Aku bahkan pernah menangis karenanya. Karena tak bisa mengontrol rasa gugupnya, akhirnya dia memilih bersembunyi dalam hoodie dan masker yang selalu dia gunakan saat berangkat dan pulang sekolah. Karena dengan begitu presiden sekolah tak merasa gugup lagi dan bisa mendekatiku dengan benar. Tapi... sepertinya Presiden sekolah memang benar-benar tak punya nyali. Menyatakan perasaan rindunya saja harus melalui surat kaleng. Padahal dia juga sudah bersembunyi dalam hoodienya." Aku melanjutkan cerita sindiranku padanya sembari berjalan ke kamar membawa tas besar yang ku gunakan saat pergi dari rumah kemarin.


Aku menahan tawa saat melihat ekspresinya yang ternganga. Begitu terkejut karena aku mengetahui rahasianya. Bukan rahasia sebenarnya. Karena dia akan menceritakan padaku suatu hari nanti ketika dia telah siap.


"Mei???? Tunggu! Siapa yang menceritakan semua itu padamu?" Jin mengejarku masuk ke kamar.


"Kenapa?" Aku masih berpura-pura tak mengerti apa maksudnya. "Itu cerita tentang presiden sekolahku dulu yang saaaaangat menyukaiku. Apakah kau mengenalnya?" Aku semakin menggodanya.


Ku lihat telinga Jin mulai memerah. Biasanya saat telinganya berubah merah begini, itu artinya dia merasa malu.


"Mei... jangan menggodaku." Jin merajuk.


"Aku tak menyindirmu sayang...." Ucapku padanya pura-pura bodoh.


Aku tercengang. Aku tiba-tiba merasa gugup. Ini seperti pernyataan cintanya saat pertama kali. Rasanya benar-benar membuatku tak karu-karuan karena deguban jantungku yang sangat kencang.


"Karena kau lah harapanku Mei. Kau yang telah membuatku berdiri ketika aku terjatuh. Kau yang telah membuatku bersemangat di setiap hariku. Kau yang telah membuatku menjadi Feng Jinyi seperti sekarang. Tanpamu.... mungkin aku tak akan pernah berhasil. Tanpamu... mungkin aku hanya akan menjadi Feng Jinyi yang pengecut. Semua karena mu.... karena dirimu." Mata Jinyi terlihat berkaca-kaca mengatakannya.


"Semua karena janjiku yang tak terucap padamu. Aku berjanji bahwa aku akan menjadi Jin yang mandiri, menjadi Jin yang sukses, menjadi Jin yang membanggakan. Dan setelah itu baru aku akan datang padamu. Aku sangat mencintaimu Zhang Xiumei." Ungkapnya sangat bersungguh-sungguh.


Aku yang mendengarnya juga merasa sangat bahagia dan bangga. Saking bahagianya aku tak sadar jika pipiku kini sudah benar-benar basah oleh air mata.


"Jin...." Aku memanggil suaranya parau.


Aku pun langsung berjinjit dan merangkul lehernya sehingga dengan leluasa aku bisa menciumnya. Ringan namun tak tergesa-gesa. Dan perlahan ciumanku terlepas dari bibirnya.


Kami saling bertatapan dalam.


"Terimakasih... terimakasih kau telah menungguku... Dan terimakasih... kau telah mencintaiku sepenuh hatimu. Maafkan aku yang tak mengenalmu lebih awal." Ucapku padanya bersungguh-sungguh.


Jin tersenyum hangat padaku. Kemudian mengecupku ringan.


"Tapi Mei.... Maafkan aku.... Kali ini... aku harus membagi cintaku.


padamu, sepertinya aku tak akan bisa hidup tanpanya." Jin tiba-tiba mengatakan hal yang tak pernah ku pikirkan. Bahkan membayangkannya saja aku tak pernah.


Deg!


Perkataan Jin menusuk jantungku. Tidak... Dia pasti bercanda.


"Kau bercanda kan sayang?" Aku memastikannya.


"Tidak Mei... Aku benar-benar harus membagi cintaku padanya. Aku rasa aku tak akan mampu jika hidup tanpa dia. Dia sama berartinya denganmu Mei. Maaf kan aku." Dia menatapku lekat menyiratkan kesungguhannya.


Ku tatap manik matanya. Tidak.... Jin tidak berbohong. Aku sangat tau itu jika melihat di matanya.


Aku kemudian mulai menangis. Dadaku terasa sesak. Jantungku seolah berhenti berdetak.


"Baru saja kau katakan padaku bahwa kau sangat mencintaiku. Tapi kenapa kini kau berubah? Katakan Jin kau hanya nercanda?'Tidak aku tak mau.... Aku tak mau kau membagi cintamu. Aku tak mau." Aku terguguk pilu.


Apa karena selama ini aku sangat egois padanya? Hingga dia lelah padaku? Dan melabuhkan ssparuh hatinya pada yang lain?


"Apa karena aku selalu menyakitimu Jin? Apa karena aku sangat egois?? Jin aku tak mau." Aku menggeleng mengisyaratkan bahwa aku tak reka. Tangisku semakin kencang.


Tiba-tiba jin beranjak untuk berjongkok di depanku. Spontan aku mundur selangkah ke belakang. Tidak, Bahkan Jin berlutut dan memohon padaku. Hatiku rasanya sakit sekali.


Namun...


Sret!!


Jin menggapai tanganku dan menarikku mendekat padanya.


Dia kemudian mencium perutku yang membuncit. Ini membuatku semakin meraung membayangkan bagaimana nasib little Feng selanjutnya.


Perlahan Jin mengusap-usap perutku.


"Nak... bahkan mamamu tak mau jika papa membagi cintanya untukmu. Tapi bagaimana pun juga, papa tetap akan mencintaimu." Ucapnya kemudian mencium perutku lagi.


Tunggu! Jadi yang Jin maksud adalah....


Aku semakin menangis meraung sembari melepaskan tas selempangku yang sedari tadi masih ku kenakan.


"Dasar Jahat! Ku pikir itu perempuan lain." Aku mulai memukuli Jinyi dengan tasku.


"Aw... Aku tak salah kan sayang? stop... jangan pukul aku. Aku juga tak bisa hidup tanpanya." Jin menyilangkan tangannya ke atas berlindung dari pukulan tasku. sesekali dia merasa kesakitan ketika pukulanku mengenai kepalanya atau punggungnya.


"Jahat! Aku sudah hampir mati karena terkejut." Ucapku masih memukulinya dan menangis. "Rasakan pembalasanku." Ucapku semakin kuat memukulnya.


Tapi kali ini Jin beranjak berdiri dan malah menarikku dalam pelukannya.


"Tidak sayang... maafkan aku... Hanya kau... dan anak-anak kita kelak yang akan membagi cintaku. Tidak ada yang lain. Jangan pukuli aku lagi. Itu sakit." Ucapnya kemudian merengkuh wajahku.


Dia menatapku dalam.


"Bagaimana bisa aku berpaling darimu. Apa aku gila?" Gumamnya pelan kemudian mengecup bibirku pelan.


Namun aku mendorongnya kemudian.


"Kalau itu wanita lain. Akan aku patahkan senjatamu." kesalku padanya.


"Lakukan apa maumu. Karena aku mencintaimu." Jin terkekeh pelan kemudian mengecupku lagi. Dan kali ini kecupannya berubah menjadi ciuman yang lebih dalam.


Hingga membuatku terlena dan lupa akan keadaan ayah mertua yang tengah berbaring lemah di rumah sakit.


'Maafkan aku ayah. Setelah ini aku akan menengokmu.' ucapku dalam hati.


***