
"Nyonya Feng..... katakan apa maumu sebenarnya?" Ling benar-benar sangat merasa kesal namun dia menahannya.
"Aku??? Kau sudah tau sendiri mauku apa." Aku memasang wajah polos seolah-olah aku tak menyadari akan perilakuku yang keterlaluan. "Maaf.... pria itu tampan sekali. Aku tak kuasa menahan keinginanku untuk menyimpan fotonya. Kau tau kan? kalau ibu hamil bagaimana?" Aku meminta maaf namun masih tak mau mengakui perilaku yang ku sengaja.
"Arghhhhh!!!!" Ling merasa gemas denganku dan pada akhirnya dia mengangkat kedua tangannya dan meluapkan emosinya dengan mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat.
"Sudahlah.... berarti dia bukan pria yang baik. Masa aku bertingkah begitu saja dia tak mau lagi bertemu denganmu?" Aku mendekati Ling dan menepuk pundaknya menyemangati.
Ling kemudian menoleh ke arahku kemudian matanya membelalak berbinar.
"Kau benar... masih banyak pria di luar sana yang lebih baik. Lihat...," Ling menunjukkan memo di ponselnya. "Masih ada 9 pria lagi yang mengantri untuk kencan buta bersamaku. Jadi kau jangan khawatir." Ling malah berbalik menepuk pundak ku menyemangati.
"A... APA??? masih ada sembilan lagi?" Aku membelalak tak percaya seperti orang yang kehilangan otakku untuk berpikir.
"Benar... masih ada sembilan lagi. Besok untuk kencan yang kedua. Jadi... CIAYO!!!" Ling mengangkat tangannya dan mengepal memberikan semangat.
"**... ta...ta..pi..."
"Nyonya Feng... maaf aku tak bisa menemani masa mengidam mu. Aku harus segera pergi. Aku harus mempersiapkan kencan buta besok sebaik mungkin. Pai... Pai... sayang...." Ling langsung berlari begitu saja.
"Ya .. Ling....!!! Ling Lingfei!!!" Aku berteriak memanggilnya namun apa daya. Dia mengabaikan teriakan ku dan terus saja pergi meninggalkan ku.
Sigh.
"Kakak... bagaimana???" Setelah kepergian Ling, Huan mendekatiku.
"Bagaimana kepalamu? dia masih punya sembilan jadwal kencan buta lagi. Jadi.... kita harus berjuang lebih keras lagi." Ucapku pada Huan.
"Apa??? sembilan kencan buta lagi? Apakah dia sudah sebegitu inginnya menikah???" Huan membelalakkan matanya.
"Menurutmu???" Aku balik bertanya padanya.
Huan berpikir sejenak sembari melipat tangannya di dada dan sebelah tangannya memegang dagunya.
"Kakak.... apa sebaiknya.... aku langsung melamar kak Ling saja???" Huan seolah mendapatkan pencerahan.
"Apaaa????" Aku tersentak mendengar perkataan Huan.
Plak!!!
Telapak tanganku mendarat mulus di kepala belakang Huan.
"Ya... kau mulai menganiaya adikmu lagi?" Marahnya sembari mengusap belakang kepalanya.
"Wuaaah.... sungguh bocah ini." Aku menghembuskan napas melalui mulutku jengah.
"Senior???" Sebuah suara selembut angin menegur Huan.
Aku dan Huan langsung menoleh ke arah suara yang lembut tersebut.
Manis. Dilihat bagaimana dia memanggil Huan dengan sebutan senior, pasti dia adalah adik kelas Huan di sekolah.
Aku tak berbohong, dia benar-benar manis. Rambut bergelombangnya yang panjang sepunggung. Hidungnya yang mungil. Matanya bulat dengan bulu mata yang lentik. Seperti boneka hidup.
"Er Zi?" Huan memanggil nama gadis itu.
Aku menatap menyelidik pada Huan. Merasa aku tatap tajam Huan menoleh kembali ke arahku dengan gugup.
"Tidak... tidak... kakak salah paham." Huan memberikan sign dengan kedua tangannya.
"Ahh... apakah ini kak Meimei? Halo kakak... aku Li Er Zi. Adik kelas Senior Huan di sekolah. Senang bertemu denganmu." Ucapnya kemudian tersenyum dan membungkuk ramah padaku.
Tapi tunggu.... dari mana dia tau aku Mei?
"Senang bertemu denganmu juga. Ngomong-ngomong kau sudah tau aku??" Tanyaku padanya dengan perasaan bingung namun dengan tetap meninggalkan kesan ramah.
"Tentu saja. Siapa yang tak tahu keluarga senior Huan? Hampir seluruh sekolah mengetahuinya. Dan ternyata Kak Meimei cantik sekali." Er Zi menjelaskan dengan tak meninggalkan kesan imutnya.
"Jangan bercanda." Huan terlihat jengah.
"Tidak... itu memang benar." Er Zi meyakinkan.
"Kau sedang apa di sini?" Tanyaku padanya mencoba memecah suasana antara dia dan Huan yang terkesan aneh. "Ah... tentu saja kau akan makan... mksudku kau dengan siapa?" Aku mengoreksi pertanyaan.
"Aku tadi berada di toko di depan dan melihat senior Huan. Jadi aku langsung masuk ke sini. Karena senior sedang masa istirahat setelah ujian dan mumpung kita bertemu di sini. Aku mau memberikan ini untuk senior. Semoga senior menyukainya." Er Zi memberikan sebuah bungkusan dari dalam tasnya pada Huan.
Namun sepertinya Huan enggan menerimanya dan malah mengabaikannya begitu saja. Aku hanya memperhatikan tingkah mereka berdua.
"Ah... tidak... tidak perlu... Kakak ipar ku sudah menunggu di depan. Jadi kami harus segera pergi." Huan menolak pemberian Er Zi.
"Apakah aku perlu menyapa kakak ipar juga?" Tanyanya polos.
"Tidak... tidak... dia kakak ipar ku bukan kakak ipar mu. Jadi kau tak perlu menyapanya." Huan kebingungan mencari alasan.
Kata-katanya Menohok sekali.
Fei...
Perbedaannya, Fei terlihat sangat centil dan Er Zi sangat manis.
"Ayo kak kita pergi..." Huan bergegas membawaku meninggalkan Er Zi yang berusaha memberikan bungkusan itu.
Aku pun segera tersadar dari lamunan ku.
"Eh... Er Zi sampai jumpa..." Aku tersenyum melambai padanya meskipun Huan terus membawaku pergi.
"Di mana kakak ipar mu?" Aku menyelidik pada Huan setelah berada di luar.
"Bekerja tentu saja." Jawab Huan acuh sembari mengehentikan sebuah taksi.
Sudah ku duga. Dia hanya mencari alasan Jin telah datang.
"Dasar bocah." Gerutu ku setelah memasuki taksi.
"Yang penting bisa menghindarinya." Ucapnya setelah duduk di sampingku.
"Jalan pak, ke pasar tradisional Tsu Che ya pak." Ucapku memerintah pada sopir ramah.
"Kenapa kau memilih Fei? Menurutku Er Zi lebih manis dan.... lebih muda tentu saja." Tanyaku pada Huan menyelidik.
"Kakak... kenapa kau memilih terus tinggal bersama kakak ipar dan tidak memilih manager Wang?" Huan malah balik bertanya padaku.
Aku mengerutkan keningku mencoba mencermati pertanyaan Huan.
"Hei... aku bertanya padamu kenapa kau malah balik bertanya?" Aku mulai gemas pada Huan.
"Jawab saja dulu... nanti aku jawab." Huan menegaskan.
"Baiklah... Aku tak bisa menjawab secara spesifik tapi aku bisa memberikan pengandaian. Jinyi... Ibarat dia adalah sebuah akar dan aku adalah pohonnya. Jadi jika Jinyi tidak ada, aku akan tumbang begitu saja. Sedangkan manager Wang.... aku tak bisa menjelaskan bagaimana dia. Yang jelas... Hidupku dan hidup kakak iparmu, bergantung satu sama lainnya." Jawabku rumit.
"Nah.... hampir mirip seperti itu. Bedanya adalah... aku sebuah ikan dan kak Ling adalah airnya. Er Zi? Mungkin dia adalah sebuah kail pancing nelayan. Ketika aku bersamanya, maka aku tak akan bertahan hidup." Huan membuatkan perumpamaan lebih masuk akal.
"Huan ... aku tak menyangka kau telah tumbuh dewasa. Tapi menurutku... kau masih terlalu berlebihan khas anak remaja." Aku langsung tertawa renyah melihat ekspresi Huan yang semula sarat emosi berubah menjadi seperti bayi saat aku menyanjungnya.
"Terserah kakak saja.... mau mengolok-olok ku seperti apa." Pasrahnya dengan bibir mengerucut.
"Pak... tak masalahkan jika si Pria lebih muda tujuh tahun dari si wanita?" Tiba-tiba Huan mengajukan pertanyaan pada sopir taksi.
Sopir itu tak lekas menjawab malah tertawa kecil.
" Kok bapak malah tertawa?" Huan sedikit kesal.
"Jangankan tujuh tahun. Dua belas tahun pun tak masalah. Dulu... waktu bapak masih sekolah tingkat dasar, bapak menyukai seorang gadis pengirim susu yang usianya dua belas tahun lebih tua. Setiap pagi bapak selalu menunggunya mengantar susu ke rumah. menginjak sekolah menengah pertama, dia tak ada kabar sama sekali. Bapak bingung dan putus asa. Sampai saat telah lulus sekolah, bapak mencoba mencari di mana dia berada. Dan ternyata dia masih belum menikah dan menjadi sukarelawan di sebuah panti asuhan. Dan sejak saat itu, bapak berjuang mendapatkan cintanya. Perjuangan sangat berat tentu saja. Dari pihak keluarga pasti akan sangat mengekang. Tapi karena perjuangan yang tiada menyerah. Kini dia telah menjadi istri bapak dan lagi... kami sudah mempunyai dua orang putra." Bapak sopir itu tersenyum senang mengenang masa lalunya.
Aku dan Huan tertegun.
"Bapak... romantis sekali." Ucapku terharu.
"Jadi aku harus memperjuangkan cinta Ling Lingfei." Huan semakin bersemangat.
"Benar nak... Tapi satu hal... Impianmu jangan sampai terbengkalai. Jangan seperti bapak yang hanya menjadi seorang sopir taksi." Ucap bapak sopir itu mengingatkan.
Seperti sebuah cambuk untuk Huan. Aku langsung bisa melihat binar matanya yang penuh semangat.
"Pasti pak." Ucap Huan yakin.
Kami pun terdiam beberapa saat hingga akhirnya kami telah sampai pada tujuan. Ya, pasar tradisional Tsu Che. Aku ingin sekali memborong jajanan kaki lima di sana. Mama Little Feng tengah menginginkan jajanan kaki lima.
Kami telah turun dari taksi. Sesaat setelah taksi pergi aku memperhatikan Huan dengan sangat cermat.
"Kenapa kakak melihatku seperti itu?" Tanyanya dengan perasaan aneh.
"Boleh aku memelukmu?" Tanyaku padanya dengan bibir mengerucut memanja.
"Aihh... kenapa kau jadi manja sekali. Baiklah... sini..." Huan membuka tangannya.
Melihat itu aku langsung memeluknya erat. Aku baru menyadari jika dia sudah setinggi Jinyi. Dia benar-benar telah tumbuh menjadi seorang pria.
"Adik bayiku...." Aku memeluknya erat sekali.
"Aku bukan bayi... jangan memanggil seperti itu lagi." protesnya.
"Adik bayiku..." Aku mengucapkan kata itu lagi. "Kau masih tetap adik bayiku..." Ucapku semakin mengeratkan pelukanku padanya.
"Baiklah... katakan apapun yang kau mau..." Dia pun kemudian mengalah dan semakin mengeratkan pelukannya padaku sembari tersenyum hangat.
***