WE GOT MARRIED

WE GOT MARRIED
Chapter 40 LIFE AS A NEWLY WED



 Kenapa ketika merasa bahagia waktu berjalan begitu cepat. Seperti saat ini. Aku merasa baru beberapa menit yang lalu aku mulai memejamkan mata, tapi kenapa waktu sudah pagi saja. padahal masih ingin berlama-lama berlayar ke alam mimpi dalam pelukannya.


Tapi tidak juga, bukankah kemarin sebelum menikah aku juga merasakan bahwa waktu cepat sekali berlalu? Berarti sebenarnya ini karena perasaan kita saja kan? Ketika kita terlalu senang atau lelah pasti perasaan kita akan demikian. Namun ketika kita menunggu sesuatu rasanya pasti akan sangat lama.


Ketika mataku membuka pertama kali aku langsung melirik jam digital di atas nakas di samping tempat tidur yang sudah menunjukkan pukul 5 pagi. Dan ini waktunya aku harus bangun seperti biasanya.


Tubuhku benar-benar merasa letih sekali. Rasanya malas ingin beranjak dari bantal. Tentu saja, karena sekarang bantalnya adalah lengan Jin. Rasanya sangat nyaman sekali.


Aku sedikit menoleh ke arah Jin yang masih tertidur dengan pulasnya memelukku dari belakang. Ya, dia sudah tidak tidur lagi di sofa seperti sebelum-sebelumnya. Sejak saat itu... ahh.... aku tak perlu menjelaskannya kan? Ya sejak saat itu, Jin selalu tidur di sampingku. Dan memelukku dengan hangat tentu saja.


Benar saja, tidur di dekat pasangan itu memang nyaman sekali. Meskipun Jin berkeringat atau bagaimana aku tetap saja suka berada dalam pelukannya. Keringatnya seperti sebuah magnet aku rasa. Aneh bukan? Mungkin ini karena aku terlalu gilanya dengan Jin. Atau memang seorang yang kasmaran itu seperti ini?


Setelah kesadaranku sudah kembali pulih dengan sempurna, perlahan aku memindahkan tangan Jin yang tengah memelukku. Sebelum beranjak ku pandangi wajahnya. Aku benar-benar semakin terpukau melihatnya saat tertidur seperti ini. Garis wajahnya yang begitu sempurna. Sangat sempurna. Apakah ini karena perasaanku saja atau dia memang sempurna?


Namun, ketika melihatnya seperti ini, kenapa rasanya dia benar-benar terasa sangat familiar? Aku tak tau kenapa? Tapi sepertinya perasaanku berkata aku pernah mengenalnya sebelumnya.


Ya, wajar saja. Dia satu sekolah SMA denganku meskipun beda angkatan. Setidaknya meskipun hanya satu tahun kita pasti pernah bertemu juga.


Tapi kenapa aku sama sekali tak bisa mengingatnya? Yang sangat aku ingat, dulu pada waktu SMA adalah ada seseorang penggemar rahasia. Tiap hari dia selalu menaruh bunga dan surat di dalam loker.


Suratnya yang terkumpul sampai ratusan masih ada di rumah orang tuaku. Namun pengiriman surat dan bunga itu hanya terjadi sekitar 10 bulan saja saat aku masih berada di tingkat pertama.


Setelahnya aku sangat menantikannya, tapi tak kunjung ada juga. Mungkin dia si pengirim itu sudah lelah mengidolakanku.


Mengingatnya membuatku tersenyum karena merasa lucu. Tapi sejujurnya aku masih penasaran sampai sekarang.


Untuk sekarang mengetahui fakta bahwa Jin sangat mencintaiku, aku sangat senang tentu saja. Tapi... ada kegundahan disela hatiku. Beberapa pertanyaan muncul begitu saja. Sejak kapan dia mulai menyukaiku? Kenapa dia mencintaiku? Dan pertanyaan-pertanyaan lain yang menurutku begitu luar biasa.


Pelan... ku cium keningnya sebelum aku beranjak dari tempat tidur untuk bergegas berbenah dan membuat sarapan.


“Jangan pergi... sebentar lagi saja.” Jin tersadar kemudian menarik tanganku sehingga aku kembali berada dalam pelukannya.


Dan hatiku masih seperti sebelumnya yang selalu memberikan sensasi aneh ketika mendapatkan perlakuan Jin yang di luar dugaan.


“Aku harus memasak.” Ucapku pelan karena berusaha mengontrol jantungku.


“Tidak mau.... memasak nanti saja.” Jin semakin mengeratkan pelukannya memanja. “Mei apa kau tau? Ketika pagi hari tubuh pria itu biasanya....” dia tidak melanjutkan kalimatnya. Namun aku paham apa maksudnya sehingga membuat jantungku berdegub semakin kencang.


“Ta... ta...pi... .” Aku sangat gugup sekali.


Cup... Cup...


Ciuman Jin mendarat di pipi dan leherku bergantian hingga aku tak mampu melanjutkan kalimatku.


Jin beralih posisi sehingga dia berada di atasku. Mata kami saling bertemu. Sebelah tangan Jin mulai membelai rambutku dan sebelahnya lagi menjadi tumpuannya.


“Mei...” dia menyebut namaku dengan sangat lembut sehingga membuat pipiku serasa memanas lagi.


Cup...


Dia mencium keningku pelan, kemudian kedua kelopak mataku, pucuk hidungku. Ini benar-benar membuat darahku serasa berdesir dan berkumpul di ubun-ubun kepalaku. Hangat sekali. Dia menatapku lagi. Teduh. Sebelum akhirnya dia mulai mencium bibirku ringan.


Tanpa sadar tangannku meraih tengkuknya dan semakin mengeratkan pelukanku. Sehingga ciuman yang awalnya ringan, kini berubah menjadi ciuman yang begitu dalam.


Hatiku kini benar-benar bersemi.


Olahraga yang begitu membakar kalori, namun meskipun begitu aku tetap bergegas bangun untuk melanjutkan rutinitas pagiku. Jin sangat kelelahan hingga tertidur kembali.


Dengan riang aku mulai menyiapkan sarapan. Aku buat yang simple saja. Omurice. Ini karena aku terlalu siang berjalan ke dapur sehingga tidak ada waktu untuk memasak yang lainnya.


“Sayang kau tak lelah. Saat aku terbangun kau sudah tak ada.” Jin mengejutkanku dengan tiba-tiba sudah memelukku dari belakang dan menyandarkan dagunya di pundakku.


“Aku harus membuat sarapan.” Ucapku sembari tersenyum seraya mengusap rambutnya tanpa menoleh ke arahnya. Kemudian melanjutkan memasak.


Cup... cup...


Jin mencium leher dan tengkukku ringan bergantian hingga membuatku tersentak.


“Jin... aku sedang memasak, jangan mulai lagi.” Ucapku gugup mengingatkannya.


Namun dia tetap saja melanjutkan aksinya dan tak mau mendengarkan.


“Jin... hentikan. Itu geli.” Aku mulai tertawa geli hingga membuatku kini berbalik menoleh ke arahnya.


Dia tersenyum sangat senang telah berhasil menggangguku.


“Beri aku satu dan aku akan mandi.” Ucapnya sembari menunjuk arah pipi kirinya.


“Dasar modus.” Aku berpura-pura kesal.


“Ayolah Mei... sedikit saja. tidak minta banyak. Nanti malam saja banyaknya.”


Ucapnya dengan cemberut.


Melihatnya merajuk seperti itu membuatku semakin gemas. Akhirnya ku raih wajahnya agar menunduk padaku. Dengan malu-malu aku mulai mencium keningnya ringan, kemudian pipi kanannya, berlanjut pipi kirinya, dagunya, pucuk hidungnya. Dan terakhir, kecupan ringan di bibirnya.


Senyum mengembang kemudian di bibirnya.


“Sudah, ini sudah lebih dari cukup.” Ucapku masih merengkuh wajahnya.


“Saat pipimu memerah seperti ini. kau benar-benar menggodaku.” Ucap Jin membuatku tersentak. Takut kalau-kalau dia menarikku lagi dalam candunya. Dia terkikik pelan sembari berjalan hendak pergi.


Aku pun lega dan hendak berbalik menghadap tungku kembali. Tiba-tiba....


Cup...


“Sedikit saja.” ucapnya setelah berhasil mencuri ciumanku dan kemudian dia benar-benar meninggalkanku di dapur.


Aku tertegun tak percaya.


Ya Tuhan... Apakah orang yang jatuh cinta itu selalu bertingkah seperti ini? kenapa aku merasa bahwa diriku dan Jin kini berubah seperti anak TK lagi?


 


***