
“Sayang aku datang...” Suara seseorang yang sangat aku kenal dengan baik memasuki ruangan tanpa mengetuk pintu.
Terdiam. Kini suasana dalam ruangan menjadi hening dan mencekam.
“Hai... sudah datang.” Aku memahami situasi dan mencoba mengendalikannya.
Aku menyapa Jinyi yang baru saja masuk ke ruangan.
“Eoh? Ada tamu rupanya?” Jin menatap sejurus ke arah manager Wang. Manager Wang menoleh ke arahnya dan melakukan hal yang sama.
Ling menepuk jidatnya sembari menghela nafas panjang.
“Aku mengkhawatirkan Mei. Untuk itu aku datang ke mari.” Ucap manager Wang tajam.
Aku dan Ling saling melempar pandang bingung. Kami mencium bau peperangan yang akan segera di mulai.
Kenapa manager Wang berkata jujur seperti itu? sepertinya dia benar-benar menyiramkan bensin ke hati Jinyi yang mulai memanas.
“Ahh.... say....”
“Sepertinya Mei tidak perlu kau jenguk karena dia benar-benar butuh istirahat.” Jin memutus kalimatku tanpa mengalihkan pandangannya dari manager Wang.
Benar kan apa yang aku pikirkan? Jin yang sudah disiram bensin oleh manager Wang kini mulai tersulut api. Aku semakin bingung harus berbuat apa.
"M...m..ma..."
“Sepertinya tidak begitu, Mei benar-benar sangat kesepian. Bukankah ini terlalu menjenuhkan ketika dia harus berbaring terus seperti ini? untuk itu aku datang ke sini." Manager Wang menyelaku yang mencoba melerai, sepertinya dia tak mau kalah beradu argumen dengan Jin.
Jin tersenyum jengah.
"Jika Mei kesepian, masih ada Huan dan Aku yang akan menghiburnya. Jadi.... kau jangan khawatirkan tentang hal itu." Jin tersenyun sinis.
Aku menghela nafas panjang kemudian tertunduk lemas. Sesekali menatap Ling yang yang sama depresinya denganku.
"Ahhh.... aku mengerti... Tapi aku ingin menemui Mei." Manager Wang memahami maksud Jin dan tersenyum sinis. "Aku merindukannya!" ucapnya kemudian mengejutkanku dan Ling, Jin terlihat biasa saja seolah sudah mengantisipasi akan hal ini.
"Tunggu!" Aku setengah berteriak namun tak ada yang memperhatikan aku. Aku pun merasa putus asa.
Ingin rasanya aku beranjak dari tempat tidur dan menyeret Jin keluar dari ruangan. Namun apa daya... untuk ke kamar mandi saja harus dibopong.
“Apa kau tak melihat kalau Mei sudah menjadi istriku? Dan kami sebentar lagi akan segera mempunyai anak. Jadi... sadarlah. Masih banyak perempuan lain di luar sana. Kenapa harus mengejar orang yang sudah bersuami?” Jin berkata tegas sembari berjalan mendekatiku sehingga mereka kini berdiri berseberangan saling bertatapan tajam.
Aku yang duduk di ranjang di antara mereka mulai merasakan aura panas yang keluar dari jiwa mereka berdua. Sepertinya kilatan petir juga sudah mulai menyambar di mata mereka.
Sigh! Aku dan Ling menghela nafas panjang lagi.
Kali ini Ling yang mencoba mengambil inisiatif. Dia juga ikut merasakan ngeri jika terus-terusan seperti ini. Mungkin nanti ruangan ini akan terbakar juga saking panasnya.
“Ma...manager...”
“Sepertinya kau terlalu percaya diri.” Ucap manager Wang menyela Ling dan mengabaikannya. Kini Ling benar-benar merasakan putus asa dan menatap ke arahku dengan tatapan yang begitu kasihan padaku.
Dia menggeleng dan tertunduk lemas.
“Aku? Percaya diri?” Jin berdecih pelan dengan senyum tipis menakutkannya.
“Ya... kau terlalu percaya diri. Kau boleh senang karena Mei menjadi istrimu untuk sekarang. Tapi nanti? Siapa yang akan tau?” Manager Wang tersenyum mengerikan.
Kami semua yang mendengarkan hal itu benar-benar terkejut. Sebegitu terbukanya kah manager Wang menginginkanku untuk berpisah dari Jin?
“Tidak akan! Itu tak akan terjadi. Mei selamanya akan berada disisiku.” Ucap Jin tegas.
Ling terdiam ketakutan. Ini benar-benar bencana. Aku tak tau harus bagaimana? Apakah aku kurang tegas terhadap manager Wang? atau bagaimana?
“Kakak... ini smoothie nya!” Huan masuk ke ruangan. Seketika ruangan menjadi senyap. sangat senyap seperti berada di pemakaman.
“Mana? berikan padaku.” Aku mencoba mencairkan suasana.
Huan mendekatiku dengan perasaan aneh dan menoleh ke arah Jin dan manager Wang bergantian. Bingung. Sepertinya dia mencium bau kecanggungan di antara kami.
Aku menerima smoothie yang Huan berikan.
“Ya Xiuhuan... antar aku ke ruang perawatan. Infus kakakmu sudah habis.” Ling mengunci leher Huan yang lebih tinggi darinya kemudian menariknya keluar.
“Tt..tapi kak... itu ada telfon lokal. Kenapa harus ke ruang perawat?” Huan terhuyung sekaligus juga merasakan kebingungan.
“Sudah... antar saja, sekalian aku mau jalan-jalan melihat-lihat rumah sakit.” Ucap Ling sembari menarik leher Huan meninggalkan ruangan.
Aku yakin betul, pasti Ling berencana kabur dari situasi ini dan meninggalkanku lagi seperti yang lalu.
Blam!
Pintu tertutup. Keadaan berubah sunyi kembali.
Tok...tok...
Pintu terdengar ada yang mengetuk, sepertinya perawat yang akan masuk.
“Permisi?” suara dari balik pintu.
“Silahkan masuk!” Jin mempersilahkan tanpa menoleh ke arah pintu.
Tak berapa lama perawat masuk dengan membawa cairan infus.
“Maaf... tapi jam besuk sudah berakhir. Pasien harus beristriahat.” Ramah perawat itu berkata pada Manager Wang. Ya... karena perawat itu sudah tau kalau Jin suamiku.
Mau tak mau manager Wang akhirnya berniat untuk beranjak juga.
“Mei jaga kesehatan ya? Jaga kandunganmu baik-baik, Sepertinya aku harus segera pergi.” Ucap manger Wang sembari menyentuh pundakku.
Melihat hal itu Jin terlihat sangat gusar.
Plak!
Jin menampik tangan manager Wang kasar.
“Baiklah... terimakasih.” Ucapku sembari mengangguk pelan.
Manager Wang pun berjalan hendak pergi. namun saat dia hampir mendekati pintu dia berbalik lagi dan menatap Jin tajam.
“Kita lihat saja nanti Feng Jinyi!” Ucap manager Wang kemudian berbalik dan langsung keluar ruangan.
Aku ternganga tak percaya dengan apa yang manager Wang lakukan. Ini sangat menakutkan. Dia tidak seperti sahabat dan manager yang aku kenal. Dia seperti menjadi orang lain sekarang.
Jin berdecih pelan dan tersenyum jengah.
“Wuuuaahhhh.... managermu itu benar-benar nekat sekali dia.” Ucap Jin kesal kemudian ikut duduk bersamaku di atas tempat tidur ruangan.
Karena terlalu fokus dengan manager Wang sampai-sampai aku tak sadar jika perawat sudah tak ada di ruangan.
"Sungguh... sikapnya sangat mengejutkan." Jin masih tak percaya.
Melihatnya yang masih terlihat gusar perlahan aku pun langsung menggelayut manja di lengan Jin. Mencoba merayu dan mendinginkan hatinya yang tengah berkobar.
“Meii.... kau dengar sendiri kan? dia bahkan juga mengancamku di depanmu.” Jin tak percaya.
“Jin... coba liat aku.” Ucapku padanya, sehingga dia pun menatap mataku dalam. Aku pun merengkuh wajahnya untuk semakin mendekat dengan wajahku yang berada lebih rendah darinya.
“Walau bagaimana pun... Sampai kapan pun... dengan keadaan apa pun... aku akan tetap bersamamu.” Ucapku dari hati meyakinkannya.
"Aku percaya padamu. Sangat percaya. Tidak akan ada yang berani mengambilmu dan little Feng dariku. Hanya Tuhan yang mampu melakukannya." Dia pun akhirnya tersenyum kepadaku, senyum yang lembut. Bukan senyum yang mengerikan seperti tadi.
Aku pun perlahan beringsut dan menarik wajahnya untuk semakin mendekat.
Satu....
Ku kecup pelupuk kanan matanya.
Dua...
Beralih ke pelupuk kiri matanya...
Tiga...
Pucuk hidungnya....
Dia tersenyum semakin lebar menatapku. Lama kami saling bertatapan dan tersenyum lebar. Akhirnya Jin mendekatkan wajahnya padaku dan mengecup bibirku pelan... pelan... dan lembut. Samakin lama semakin dalam... dan dalam.... hatiku mulai berdegub lagi tak beraturan. Jin. Hanya Jin yang bisa membuatku mabuk seperti ini.... dan ini benar-benar sensasi yang aku sukai ketika dia menyentuhhku.
“Kakak?!” Huan memasuki ruangan secara tiba-tiba.
Terkejut. Dengan spontan kami melepaskan ciuman kami. Huan yang melihat hal itu langsung canggung.
“A... eum.... aku... em..... aku akan pulang bersama kak Ling.” Ucapnya kemudian sembari berlari mengambil tasnya yang tadi diletakkannya di sofa ruangan. setelahnya dia setengah berlari menuju pintu.
“Kakak.... silahkan dilanjutkan lagi. Aku tak akan mengganggu.” ucapnya sebelum dia membuka pintu dan berlari keluar.
Melihat itu, aku dan Jinyi tersenyum bersamaan. Benar-benar situasi yang lucu. Untung Huan sudah dewasa jika tidak mungkin kami akan dikenai pasal porno aksi karena tengah mengadakan live porn di depan anak dibawah umur.
Jin kemudian menggenggam tanganku erat dan menciumnya.
"Maafkan ayah tadi bertengkar dengan orang lain di depanmu." Jin berbisik lirih di depan perutku yang masih datar kemudian menciumnya hangat. Melihatnya, aku hanya bisa tersenyum dan membelai kepala Jin sayang.
***