
"Sayang... kita sudah hampir sampai..." Jin mengusap pipiku pelan sembari mengemudi membangunkan aku yang tengah tertidur dalam perjalanan.
"Eoh? benarkah???" Aku pun perlahan membuka mata dan membenahi jok yang ku duduki agar nakembali seperti keadaan semula hingga aku merasa nyaman saat duduk.
Perlahan mobil yang kami tumpangi memasuki sebuah pekarangan rumah yang begitu asri. Ya... kami telah memasuki pekarangan rumah orang tua Jin yang begitu sederhana.
Hawa rumah yang sangat aku rindukan.... terlihat sama. Bunga-bunga juga masih terlihat segar. sepertinya ada yang merawatnya selama aku tak berada di rumah.
Um...... siapa yang berbenah rumah? Apakah Jin mengambil asisten rumah tangga? aku mengira-ngira.
"Ayo turun..." Jin mengejutkanku yang ternyata sudah membukakan pintu dan berdiri di sampingku.
"Eoh...?" Aku terkejut kemudian beranjak keluar.
"Hati-hati..." Ucap Jin mengingatkanku dan membantuku keluar dengan memegangi tanganku.
Mungkin dia takut jika aku akan terjungkal atau bagaimana. Jadi... aku hanya pasrah saja mendapatkan perlakuan yang sangat sangat sangat sepesial darinya.
Dari pada aku harus beradu argumen lagi jadi aku lebih memilih untuk menurutinya saja.
Setelah aku keluar dari mobil aku bergegas berjalan seperti biasa dan ingin cepat-cepat masuk rumah.
"Sayang..... Jalan pelan-pelan... nanti kau bisa terjatuh.... Lihat! di depan pavingnya rusak, kau bisa tersandung." Jin mulai mengomel sehingga membuatku berhenti berjalan dan berbalik ke arahnya yang tengah sibuk mengeluarkan barang-barang dari dalam mobil.
Dalam keribetannya dia mengambil ponsel dalam sakunya dan menghubungi seseorang.
"Halo... Pak Huang? Hu um... panggilkan aku seorang tukang sekarang! paving depan rumah ada yang rusak. Nanti ibu bisa terjatuh karenanya. Iya... sekarang!" Jin sedikit membentak dan menggerutu setelahnya.
Aku tak bisa mendengarnya karena dia menggerutu terlalu pelan.
Ya Tuhan.... Jin benar-benar ya...? padahal cuma satu paving yang rusak, sampai harus memanggil tukang untuk mengatasinya.
Aku menggeleng seraya mendesah pelan tak mengerti apa yang ada dipikiran Jin sekarang. Merasa Jengah akhirnya aku berbalik dan berjalan menuju pintu.
"Sayang... apa perlu bantuan?" Tanyaku pada Jin yang begitu ribet membawa barang-barang dari rumah sakit.
"Tidak.... kau tidak boleh membantuku. Ini berbahaya untukmu." Jin yang sudah berada di sampingku melarang.
"Baiklah..." Aku menggendikkan bahu dan menekan nomor pasword rumah kemudian membuka pintu depan perlahan.
"SURPRIZE!!!" Teriakan riuh terdengar bersamaan dengan confetti yang berterbangan dan terjatuh di atasku.
Aku tertegun. Kaget. Dan bingung.
Mertuaku? Ada di sini? kapan mereka datang? Orang tuaku, Huan dan juga Ling ada di sini semua. Semua berkumpul di sini.
Mereka ada yang membawa terompet kertas, ada yang membawa kaleng konfetti.
Ku lihat sekeliling, bingung. Bunting flag dan balon-balon berwarna pink dan biru langit tertata cantik di ruang tamu.
"Selamat datang ke rumah kembali!" Sebuah bunting flag bertuliskan kalimat itu tertata rapi di dinding ruang tamu.
"Ya Tuhan...!" Aku hanya bisa menyebutkan kata itu dan ternganga tak percaya.
Semua tersenyum menatapku. Kemudian satu persatu memelukku hangat.
"Menantuku.... aku merindukanmu...." Ibu mertuaku mencium kedua pipiku setelah erat memelukku.
"Ibu dan ayah mertua kapan pulang?" Aku bertanya setelah ayah mertua memelukku.
Mereka semua hanya tersenyum melihatku yang masih terlihat linglung.
"Kemarin.... tapi kata Jin kami tidak usah ke rumah sakit karena kau kemungkinan pulang hari ini, jadi kami menahannya sampai hari ini untuk bertemu denganmu." Jelas ayah mertua sembari mengusap rambutku pelan.
"Aduh... Ayah ibu ini....? kenapa istriku dibiarkan berdiri begini?? Itu bisa berbahaya untukknya jika berdir terlalu lama." Jin mengingatkan semua orang yang ada di sana
"Ish... kau ini jangan berlebihan Jin. Hanya berdiri sebentar saja." Aku mencubit pinggang Jin pelan.
"Auch..." Jin meringis kesakitan mendapatkan cubitanku. "Tetap saja itu tak boleh." Jin menekankan kata 'tak boleh'
"Ah... benar.... ayo sini sayang.... hati-hati..." Ibuku tersadar dan menuntunku masuk menuju sofa.
"Duduk pelan-pelan...." Ayahku membantuku duduk.
"Aduh.... aku bisa sendiri ayah... aku juga tak apa-apa..." Aku semakin tak nyaman karena semua orang memperlakukanku dengan berlebihan.
"Ini susunya kak..." Huan menyodorkan susu hangat kepadaku.
Aku mendesah pelan dan menerima gelasnya.
"Apa kau ingin makan sesuatu?" Ling bertanya kepadaku.
"Tidak terimakasih." ucapku pada Ling.
"Aku sudah baik-baik saja... kalian tak perlu khawatir dan melakukan hal ini." Aku utarakan perasaan tak nyamanku.
"Ish... tetap saja, kau butuh perhatian ekstra." Ibu mertua menjelaskan.
Sigh!
Aku mendesah pelan. Ling dan Huan tersenyum senang melihatku diperlakukan seperti ini. 'Awas saja. Kalian tak merasakan bagaimana tak nyamannya diperlakukan seperti ini. Jadi tunggu pembalasanku.' Aku menggerutu dalam hati.
Ini benar-benar kejutan, pulang dari rumah sakit saja seperti pulang dari berperang dengan selamat. Ah... Tapi ini memang berperang kan?
"Siapa yang memberi tahu ayah dan ibu kalau aku di rumah sakit? Seharusnya kalian tak usah pulang, bagaimana dengan perawatan ayah? akan tertunda kan?" Aku menyayangkan kenapa mertuaku harus pulang di saat ayah mertua membutuhkan perawatan.
Tapi sepertinya ayah mertua memang kelihatan sehat sekali seperti orang yang tak sakit. Apakah ini karena pengobatannya berhasil? Aku menduga-duga. Tapi katanya... pengobatan dan terapi hanya untuk memperkecil kemungkinan saja.
"Eum... e... anu... begini..." Ibu mertua sepertinya kebingungan harus menjawab apa.
"Ayah mertuamu merasa jenuh di sana dan merindukan rumah, saat kau di rumah sakit, ibu mertuamu menelpon dan ibu jujur saja kalau kau tengah dirawat di rumah sakit, sekalian ibu memberikan kabar kalau kau tengah hamil. Langsung saja mereka ingin segera pulang." Ibuku menjelaskan.
Namun ada yang aneh, sesekali dia melirik ke arah Jin dan mertua.
"Ah... benar begitu." Ibu mertua mengiyakan cerita ibuku kemudian tersenyum.
" Apa kau tak senang kami pulang menengokmu? Tenang saja, ayah dan ibu akan kembali lagi untuk menyelesaikan terapi." Ayah mertua terlihat sedih mengucapkannya.
"Ahhh... tidak.... bukan begitu maksudku ayah... Aku... Hanya tak mau pengobatan ayah tertunda." Aku menjelaskan sedikit kesalah pahaman yang diterima ayah mertuaku.
"Sayang... jangan khawatirkan ayah, khawatirkan dirimu dan kehamilanmu saja... Sekarang dirimu dan janinmu adalah prioritas utama." Jin mendekatiku seraya menggenggam tanganku dan menatap lekat ke arahku hangat.
Aku di sini sebenarnya tak mengetahui sakit apa yang di derita ayah mertuaku sehingga beliau harus melakukan terapi ke luar negeri. Aku pernah bertanya tentang hal itu pada ibuku, tapi beliau menghindari pembicaraan itu.
Ingat saat makan malam keluarga, beliau berpesan agar aku mau menikahi Jin sebagai permintaan terakhirnya. Seolah-olah itu adalah sebuah wasiat. Di sana lah aku berpikir bahwa aku tak mungkin mengabaikan permintaannya secara beliau adalah sahabat lama ayahku, selain itu beliau juga tengah sakit parah. Katanya... pengobatan dan terapi hanya mampu memperpanjang resiko meninggal saja karena tak bisa menyembuhkan.
Bukan karena aku yang tak punya prinsip atau apa karena tak berusaha menolaknya, tapi karena bagiku... membahagiakan orang yang menyayangiku adalah kebahagiaan terbesar, meski pada awalnya aku harus mengorbankan kebahagiaanku.
Walaupun, Ada terbersit perasaan ingin kabur dan membatalkan rencana pernikahan, tapi tetap saja... Aku tak tega dan akhirnya aku malah terjerat cinta Jinyi setelah menikah. Aku tak sanggup membayangkan jika ayah mertua meninggal dunia serta meninggalkan sebuah keinginan yang tak terpenuhi. Pasti akan menjadi penyesalannya dalam persemayamannya.
Kalau aku boleh meminta, aku ingin ayah mertuaku sehat kembali dan penyakit itu hilang begitu saja dari tubuhnya. Setiap kali aku berdoa tentang hal itu.
"Ngomong-ngomong... Aku sudah mempersiapkan nama untuk little Feng." Ayahku mencoba mencairkan suasana yang sebelumnya begitu senyap.
"Oh ya? Aku juga sudah mempersiapkannya." Ayah mertuaku tak mau kalah.
"Tidak, pasti nama pemberianku yang bagus." Ayahku yakin.
"Eits... tunggu dulu... nama pemberianku yang pastinya lebih bagus." Ayah mertua terlihat begitu bersemangat dan tak mau kalah.
"Feng Linyi, Bagus kan?" Ayahku memberitahu nama yang dia buatkan.
"Wuah.... itu nama yang bagus." Ibuku menyetujuinya.
"Tidak.... itu bagus, tapi lebih bagus jika namanya adalah Feng Chenyi." Ayah mertua tertawa senang.
"Chen? Aku bisa membayangkan jika nanti setelah dewasa dia akan menjadi pria yang tampan seperti ayahnya." Ibu mertua mendukung ayah mertua.
"Linyi itu juga bagus, Aku bisa membayangkannya jika dia nanti akan sangat jangkung dan tampan sekali." ibuku tak mau kalah.
"Tunggu.... nama itu untuk bayi laki-laki, bagaimana jika anakku akan cantik seperti ibunya?" Jinyi menyela.
"Oh... benar, jika bayinya akan cantik maka nama yang sesuai untuknya adalah Feng Xiulan." Ayahku memberikan saran dengan sumringah.
"Tidak.... nama itu terlalu kuno, Sebaiknya Feng Xiubei." Ayah mertua tak mau kalah.
"Tidak... Aku tak menyukainya. Nama yang ayah berikan juga kuno." Jinyi menyela.
Terus seperti itu.
Hufh.... sepertinya perdebatan ini akan menjadi sangat panjang.
Aku mendesah pelan melihat mereka yang tengah berlomba saling meninggikan suara dan saling bersahutan seperti sebuah grup Choir.
Perlahan Huan dan Ling mendekatiku dan mengajakku pergi dari ruang tamu untuk menghindari peperangan yang sebentar lagi akan terjadi.
Saking bersemangatnya berdebat tentang nama, mereka bahkan tak mengetahui jika aku sudah tak berada di sana.
"Kau beruntung sekali mendapatkan suami dan mertua seperti mereka, Tuhan... aku ingin kau berikan satu saja untukku yang seperti mereka." Ling mendesah padaku pelan setelah kami duduk di teras.
"Kak Ling tunggu saja aku, 7 Tahun lagi aku akan menjadi suami seperti kak Jin untukmu." Ucap Huan menggoda Ling.
Aku dan Ling begitu terkejut. Aku benar-benar merasakan sesuatu saat Huan bercanda. Tatapan mata Huan menyiratkan sesuatu... aku bisa merasakannya.
"Hish.... Bayi kau bicara apa? kau masih 18 Tahun, menunggumu aku akan menjadi Perawan tua." Ucap Ling sembari mengacak-acak rambut Huan.
"Ya.... jangan lakukan itu... Ahh... rambutku..." Huan mencoba menghindar namun Ling malah mengunci lehernya dalam lengan kirinya dan terus mengacak-acak rambutnya.
Aku hanya menatap Ling dan Huan bergantian. Kucing dan tikus ini...
Sepertinya....
***