
“Berapa usiamu sekarang Mei? Sudah seperempat abad juga. Tapi kenapa kamu bodoh sekali soal cinta? Bahkan kau berusaha menyangkalnya yang jelas-jelas ini sudah nyata sekali terjadi padamu.” Aku menggerutu pada diriku sendiri sembari tiduran di sofa yang biasa Jin tiduri.
Kini.... aku benar-benar menyadarinya. Aku benar-benar bisa merasakannya. Aku.... sangat merindukan dia. Kenapa merindukan orang terasa sangat menyakitkan seperti ini?
Sudah dua hari Jin pergi keluar kota, tapi dia sama sekali tak menghubungiku untuk memberikan kabar. Mengirimkan pesan singkat pun tidak.
Aku semakin kacau memikirkannya. Aku benar-benar tak merawat diriku dengan baik. Aku bahkan juga tak makan sama sekali.
Aku benar-benar kacau. Sangat kacau.Rambut sebahuku kini benar-benar sangat acak-acakan seperti singa karena aku tak merapikan diriku sama sekali. Seolah aku benar-benar telah pasrah akan kehidupanku.
Triiing...
Dering ponselku memgejutkanku yang tengah berbaring memeluk piyama Jin. Ya aku telah gila. Gila karenanya. Karena dering singkat itu menandakan ada sebuah pesan singkat masuk, dengan gesit aku menggapai ponsel yang berada di atas meja berharap jika itu adalah pesan dari Jin.
Namun setelah aku membaca siapa nama pengirimnya, aku merasa lemas kembali. Ya itu adalah pesan dari Ling, bukan dari Jin. Kesal ku letakkan kembali ponsel itu ke atas meja.
Triing...
Tak berapa lama sebuah pesan singkat masuk kembali. Lagi... dengan gesit aku menggapainya dan melihat siapa pengirimnya. Manager Wang. Ternyata Wang Tian. Kaget tentu saja. Namun aku kembali merasa lesu dan tak bersemangat.
Sudah pasti mereka memcoba menghubungiku karena ingin menanyakan kenapa aku hari ini tak masuk bekerja, apakah masih sakit atau yang lainnya. Yang jelas, pokoknya aku hari ini gak mau masuk.
Aku merindukannya, tapi karena egoku yang terlalu mendominasi, aku tak mau mengirimkan pesan kepadanya terlebih dahulu. Meskipun dada ini sudah sangat sakit.
Mood ku kacau. Sudah beberapa kali sejak pagi aku hanya tiduran saja seperti ini. Sesekali malah menangis, ya Ini semua karena Jin.
Aku berpikir, aku tak ubahnya dengan bayi yang sangat merindukan ibunya ketika masih terhubung dengan asi. Benar-benar layu dan lemas. Aku seperti ketagihan sebuah morphin atau apapun sejenisnya. Aku benar-benar merasa sakau.
Aku menyadari betapa bodohnya aku. Kenapa setelah mengunjungi seorang psikiater aku baru bisa memahami akan diriku sendiri. Kenapa aku tidak seperti yang lainnya yang bisa mengoreksi isi hati mereka sendiri?
Padahal aku sudah sangat jelas cemburu pada setiap wanita yang bertemu dengannya. Aku juga merasa senang ketika dia menciumku meskipun jantungku serasa mau meledak karenanya. Tapi keegoisanku menahan dan mencoba mengelak.
Ini benar-benar sangat bodoh. Kenapa aku menyangkalnya? sebuah pertanyaan yang semula tak bisa ku jawab, sekarang aku tahu jawabannya. Karena... hatiku terlalu gengsi untuk mengakui bahwa aku bisa menyukainya dalam waktu yang singkat.
Sekarang aku bisa meyakinkan diriku bahwa aku memang benar-benar gila. Gila karena mencintainya. Aku akan melakukan apa yang psikiater itu bilang. Aku tak mau lagi menyangkalnya. Aku akan mengakuinya.
Aku... mulai mencintainya... aku... benar-benar mencintainya. Dan kini aku sangat merindukannya. Sangat... merindukannya.
Sejak hari pernikahan, aku tak pernah sekalipun menyentuh album foto maupun hasil video pernikahanku. Karena... pada awalnya aku sama sekali tak berpikir jika itu akan menjadi kenangan yang sangat aku rindukan nantinya.
Tapi kini perlahan aku mengambil album foto yang tertata rapi di nakas sudut kamar. Dengan kaki berselonjor di lantai aku mencoba membuka halaman demi halaman dan memperhatikan setiap detilnya.
Ya... betapa tampannya dia... suamiku. Jin suamiku. Dengan senyum tersungging di bibirnya di setiap foto. Sangat tak sinkron dengan diriku yang hanya terfoto tanpa ekspresi dan terlihat lesu. Ini membuatku mulai menangis dan menangis lagi.
Aku ingin mengulanginya. Aku ingin mengulang moment itu lagi dengan perasaan berbeda. Tidak lagi merasa sedih, aku akan merasa sangat senang dan bahagia.
Aku tak menyadari jika malam telah menjelang. Dan Kini mataku terpaku dengan layar laptop yang berada di pangkuan.
Ya, aku mulai memutar video pernikahan kami yang terekam dengan sangat sempurna. Terekam dengan sangat epic.
Dariku yang tengah digamit ayahku yang matanya sangat sembab menahan tangis. Memasuki ruangan dan berjalan perlahan menuju altar di mana Jin tengah berdiri dan tersenyum hangat menyambutku.
Hiingga sumpah-sumpah pernikahan yang terucap dengan begitu lancar dan mantab.Serta kecupan hangat di keningku. Semua tergambar dengan sangat jelas. Dan aku mengingatnya dengan sangat jelas pula.
Tak kuasa melihat semuanya akhirnya aku menutup laptop itu dan duduk memeluk lututku dengan isakan-isakan kecil keluar dari bibirku.
Lagi.... Aku sangat menyesal. Aku benar-benar menyesali semuanya yang tak menyadari semuanya. Aku merasa... kini aku sangat merindukannya.
CKLEK!
Seseorang terdengar membuka pintu kamar kami yang membuatku spontan terhenyak dan mengangkat kepalaku menoleh ke arahnya.
Aku melihat bayangan sosok yang aku rindukan di depan pintu tengah menatapku. Spontan aku berdiri dan berjalan pelan ke arah pintu.
Tidak... aku sudah gila. Ini halusinasi. Aku melihat Jin tengah berdiri di sana dengan sangat berantakan dan napas yang tak beraturan. Begitu terengah-engah seolah baru saja berlari ribuan kilometer jauhnya.
Ini halusinasi, tapi kenapa tatapannya yang dalam seperti nyata sekali.
“Mei...” dia memanggilku pada akhirnya dengan terengah-engah mencoba menstabilkan napasnya.
Apa? Jadi ini bukan halusinasi? Ini benar Jin? ini benar-benar Jin. Tangisku pun pecah dan aku segera melompat menubruknya yang berada tiga langkah di depanku. Aku tak menahannya lagi. Tak akan ku sangkal lagi. Aku memeluknya dengan sangat erat. Erat sekali.
"Jin...." Aku memanggil namanya di sela tangisku.
Tidak... ini bukan pelukan sepihak. Dia juga memelukku sangat erat. Sama eratnya dengaku. Seolah kami takut akan kehilangan satu sama lain. Hangat.
Dia benar-benar pulang sekarang. Kenapa perasaanku seolah dia sudah pergi selama bertahun-tahun dan berabad-abad.
“Aku merindukanmu.” Jin berbisik lirih.
Aku tak mampu menjawabnya dan semakin mengeratkan pelukanku dengan terisak.
Dia pulang karena sangat merindukanku. Dia benar-benar pulang karena aku. Jin juga sangat merindukanku. Rinduku tidak sepihak. Dia juga merasakannya.
Perlahan Jin melepaskan pelukanku dan meraih wajahku dalam rengkuhannya. Dia... menatapku yang masih menangis dalam isakan dengan sangat teduh dan dalam. Lama...
“A... aku...” aku tak bisa melanjutkan kata-kataku. Sangat sesak di dada.
Cup...
Pelan... sebuah kecupan mendarat lembut dibibirku. Sentuhannya begitu hangat. Hingga kehangatannya menjalar ke ubun-ubun dan seluruh tubuhku.
Jantungku berdetak lebih cepat dan tak beraturan lagi. Namun aku bisa mengontrol semuanya sehingga aku tak merasakan sesak kembali.
Aku mulai menyambut kecupannya dan mengeratkan rangkulanku pada lehernya.
Sentuhan lembutnya yang semula terasa ringan kini terasa semakin dalam dan dalam.
Kami berebut untuk memimpin satu sama lain. Aku sudah sangat gila. Gila padanya.
Ya Tuhan... Aku menyukainya. Ya... aku menyukai sentuhannya. Aku menyukai semuanya. Semua. Semua tentang dia.
Sesuatu yang selama ini aku simpan, sesuatu yang selama ini aku banggakan. Kini benar-benar aku berikan dengan suka rela. Tanpa paksaan... tanpa keraguan... aku pasrahkan semuanya.
Kerinduan yang lama tertahan.... dan cinta yang selama ini terpendam... kini benar-benar telah tersampaikan. Indah. Keindahannya bagaikan dentuman Supernova yang memecah keheningan alam semesta. Yang membuncah menjadi kepingan-kepingan cahaya indah yang bertaburan di angkasa.
Seperti itulah rasanya.... tak bisa diungkapkan dengan jelas dalam kata-kata.
Dan ternyata.... jujur terhadap sebuah penyangkalan itu terasa benar-benar melegakan.
***