WE GOT MARRIED

WE GOT MARRIED
Chapter 57 SABOTASE



Kemarin ketika aku menyadari tatapan mata Jinyi dan pria berhoddie itu benar-benar sama, aku jadi memikirkan hal itu terus. Aku benar-benar tak mengerti. Jikalau Jinyi dan pria berhoddie itu adalah orang yang sama, lalu kenapa dia harus menjadi baik dan jahat di depanku dan seperti menjadi orang yang nerbeda?


 


Dan lagi... yang terus mengusikku adalah.... kenapa Jinyi tidak berterus terang ketika aku menanyakan tentang masa lalu padanya.


Hingga semuanya berimbas padaku di tempat kerja. Aku benar-benar kurang berkonsentrasi dan terus melamun saja seharian memikirkan ada apa di balik semua ini.


“Xiumei kau di panggil direktur.” Seorang teman teamku berkata padaku.


“Apa? Direktur? Kenapa direktur memanggilku?” aku begitu terkejut dan benar-benar tak tau kenapa direktur yang jarang sekali memanggil karyawannya selain para manager kini memanggilku.


“Aku juga tak tau... cepatlah.” Teman teamku juga terlihat begitu khawatir.


“Baiklah... aku akan ke sana.” Aku pun bergegas menuju lift untuk naik ke lantai di mana ruang direktur berada. Perasaanku benar-benar tak enak.


“Maaf, apakah bu direktur memanggilku?” aku bertanya pada sekretaris pribadi direktur yang duduk di meja kerjanya.


“Apa kau Zhang Xiumei?” tanyanya memastikan.


“Iya, itu aku.” Jawabku.


“Mari ikut aku.” Dia dengan ramah mengantarku masuk ke ruangan direktur.


“Permisi Bu direktur, Zhang Xiumei sudah datang.” Ucapnya kemudian pergi setelah direktur menginstruksikan.


“Apa kau yang penanggung jawab atas iklan Bright Cosmetics kemarin??” Presedir perusahaanku bertanya dan terlihat benar\-benar marah saat aku sudah berada di depannya.


Sepertinya perasaan tak enakku benar-benar terbukti.


“Iya bu, saya sebagai penanggung jawabnya.” Jawabku senormal mungkin agar tak terlihat gugup.


“Lihat... bagaimana bisa kau mengerjakan proyek seperti ini? Pihak Bright akan menuntut kita jika kita tidak segera menyelesaikan ini.” direktur benar-benar marah dan membanting sebuah dokumen di atas mejanya.


Perlahan aku mendekati dan mengambil dokumen itu kemudian membacanya cepat. Aku begitu tertegun mendapati rincian di sana yang tak sesuai dengan apa yang aku dan Ling kerjakan.


 


Di sana tertera seolah-olah aku dan Ling menggelapkan dana advertise dari pihak Bright.


 


“Maaf direktur... tapi kami benar\-benar tidak mengerjakan seperti ini. Sebisa Mungkin kami memangkas pengeluaran dan kami dengan jujur menuliskannya dalam laporan. Saya rasa laporan ini telah direkayasa. Jikalau direktur tidak percaya saya masih mempunyai file copy nya. Saya bisa menunjukkannya ke ibu.” Aku mencoba menjelaskan.


Namun aku benar\-benar merasa aneh, ada yang tidak beres di sini. Dokumen ini bukanlah dokumen yang aku berikan pada Fei. Apakah ini.... Tidak. Kenapa Aku jadi berpikir yang tidak-tidak. Apa mungkin Fei yang melakukan ini padaku? Aku harus berpikiran positif. Aku tidak boleh sembarang menuduh. Kalau aku keliru, aku sendiri yang akan kena imbas.


“Aku tak peduli. Yang jelas, selesaikan masalah ini secepat mungkin. Karena aku tak mau kita dianggap sebagai penipu dan dilaporkan ke pihak yang berwajib. Kau tau jika kau tak menyelesaikan ini citra kita akan menjadi buruk. Dan tentu saja, kau harus bertanggung atas segalanya.” Ucapnya kemudian masih dengan nada emosi.


“Maafkan saya bu. Saya akan menyelesaikannya sesegera mungkin. Ucapku kemudian undur diri dari ruangan itu.” Aku benar-benar sangat kesal. Bagaimana bisa ini terjadi?


Dengan cepat aku mencari dokumen copy di meja kerjaku. Aku mengobrak abrik ke sana ke mari namun aku tak menemukannya. File di komputer juga sudah tidak ada. Aku benar-benar heran. Aku mencari flashdisk ku di dalam tas, dan ternyata flashdiskku juga tidak ada di sana.


 


"Di mana? perasaan aku tak pernah mengeluarkannya dari tas?" Aku langsung terduduk lemas.


Tidak mungkin ada yang mengambilnya. Tidak... Aku harus tetap tenang dan berpikir jernih. Jangan sampai aku membuat fitnah. Mungkin saja benda kecil itu terjatuh saat aku mengambil sesuatu dalam tas ku.


Tapi lagi-lagi pikiranku terus beprasangka ada yang mengambilnya. Aku meninggalkan tasku hanya saat makan siang saja. Apa itu mungkin? Jikalau memang benar apa yang aku pikirkan, berarti... Di sini memang ada orang yang berusaha menjatuhkanku. Pikiranku melayang ke mana-mana.


 


“Ini kau lihat sendiri.” Aku menyerahkan dokumen itu pada Ling.


“APA??? Bagaimana bisa begini? Kita tidak memberikan laporan seperti ini. perinciannya juga tidak sesuai dengan apa yang telah kita kerjakan. Bukankah kita waktu itu benar-benar meminimalkan pengeluaran? Tapi kenapa di sini tetera pengeluaran besar sekali?” Ling begitu terkejut dan merasa kebingungan.


“Itu dia masalahnya. Sepertinya ada yang ingin menjatuhkanku.” Ucapku spontan.


“Sudah kau cari file copynya?”


Aku tak menjawabnya dan hanya memberinya isyarat dengan menunjukkan mejaku yang berantakan dan isi tasku yang bercecer.


“Sudah ku duga.” Ling kemudian berlari ke mejanya, sepertinya dia juga mengobrak\-abrik semua yang ada di sana. Kemudian berlari ke mejaku lagi.


“Aku sudah mempunyai firasat tentang hal ini. File copy yang ada padaku juga hilang semua. File copy dan arsipnya hilang sama sekali." Ling terlihat ikut frustasi. Kemudian dia seperti mendapatkan pencerahan. "Ah... Tapi.... aku benar\-benar pintar bukan?” Ling mengambil sesuatu dari balik bajunya. Flasdisk yang dijadikannya liontin dan dimasukkannya ke dalam baju.


 


“Bukankah aku jenius?” Ucapnya membanggakan diri.


 


“Ya Tuhan.... Ling!” Aku langsung membelalak tak percaya dan spontan memeluk Ling. “Kau memang jenius sahabatku.” Aku benar-benar gemas sehingga ku cubit terus menerus wajah tembemnya.


“Jangan lakukan itu.... pipiku bisa terlepas." Dia merasa kesakita dan akhirnya aku melepaskannya juga. "Ayo jangan buang waktu lagi. Ayo kita kerjakan sekarang!” Ucapnya menyemangati.


Kami pun segera mengerjakan dokumen itu agar sesegera mungkin dapat ku serahkan secara langsung pada presedir dan bisa segera dikirimkan kepada presedir Bright.


 


Dengan maksud agar tidak terjadi lagi rekayasa.


 


“Baiklah... kembalilah ke tempatmu. Jangan kau ulangi lagi lain kali.” Ucap Presedir pada akhirnya memaafkanku.


Hatiku pun langsung merasa lega.


Ini adalah kesalahan pertamaku semenjak aku bekerja. Tapi sekali melakukannya presedir langsung memanggilku untuk menemuinya. Aku benar-benar merasakan ada sesuatu yang tak beres di sini.


“Kau tau siapa yang melakukan ini?” tanya Ling penasaran.


Aku hanya menggedikkan bahu tak mau menduga-duga.


“Aku yakin pasti ini ulah Fei itu. Sepertinya ada orang dalam juga yang membantunya melakukan ini.” Ucap Ling berasumsi.


Aku menatap Ling tajam, perkataan Ling sama dengan apa yang aku pikirkan.


“Kalau seperti itu, siapa kira-kira orang dalam yang melakukannya?” aku bertanya kembali pada Ling.


“Itu... aku juga tak tau.” Ling kemudian terlihat lemas.


 


***