
Sepertinya karena aku semalam tidak bisa tidur dengan nyenyak, dan baru bisa terlelap dengan nyaman saat menjelang subuh tadi, akhirnya aku harus bangun kesiangan. Tidak seperti biasanya yang selalu geragaban saat bangun kesiangan, kali ini aku begitu santai seolah tak memikirkan jika ada orang lain di rumah.
Karena aku tau, ibu mertuaku tidak mengizinkanku menyentuh dapur karena aku baru saja keluar dari rumah sakit.
Aku beranjak duduk perlahan, perutku tiba-tiba terasa mual kembali. Dan perlahan rasa hambar di mulutku mulai mneghampiri. Aku pun langsung berlari ke kamar mandi karena aku merasa aku akan memuntahkan isi perutku kembali.
“Uk...” Aku memuntahkan isi perutku yang masih kosong.
Jadi... bisa dibayangkan jika perut tengah kosong namun tiba-tiba berkontraksi hebat karena mau muntah bagaiamana? pasti akan terasa sangat kaku dan kram.
Perutku rasanya masih bergejolak tak karuan.
“Sayang....” Jin terdengar panik dan mengikutiku masuk ke kamar mandi.
Aku tak memperhatikannya dengan baik, tapi sepertinya dia juga baru saja bangun.
Aku tak sempat melihatnya di sofa. Mungkin lebih tepatnya terbangun karena mendengarku muntah-muntah.
“Ukkk...” lagi... perutku masih berkontraksi sehingga aku masih berusaha memuntahkan isinya meskipun sudah tidak ada yang akan aku muntahkan.
“Sayang... kau tak apa kan?” Jin memij-mijat tengkukku antara bingung dan khawatir. Bingung apa yang harus dia lakukan serta khawatir jika aku akan down lagi seperti kemarin-kemarin.
Aku mengelak dari sentuhannya karena masih kesal dengan hal semalam. Aku juga hanya melambai pelan padanya sebagai isyarat untuk menjawab pertanyaannya bahwa aku tidak apa-apa. Karena aku merasa memang baik-baik saja. Hanya saja... perutku terus saja bergejolak hebat.
Bukankah ini hal yang wajar karena aku masih menginjak usia 10 minggu kehamilan.
“Apa kau yakin? Apa sebaiknya kita perlu ke rumah sakit sekarang?” Jin masih saja terlihat panik. Padahal sudah jelas-jelas dokter Zhao mengatakan mual muntah di awal kehamilan atau masa trimester pertama adalah hal yang wajar. Tapi Jin masih tetap saja terlihat heboh karena terlalu panik.
“Aku tak apa-apa... kau bisa pergi.” ucapku dengan nada yang masih kesal.
"Sayang kau masih marah???" Jin mulai bingung lagi harus berbuat apa. "Mei... sudah hentikan marahnya... Aku tak bisa kau acuhkan begitu." Jin mulai merajuk.
Aku tak menjawabnya. Dan hanya menatap Jin sinis.
Setelah aku merasa lebih baik, aku beranjak menuju tempat tidur lagi untuk duduk sesaat mengembalikan tenagaku yang baru saja terkuras karena muntah.
“Mei.... jangan marah terus seperti ini. Aku tersiksa Mei. Kau tau mungkin aku bisa mati jika kau terus seperti ini.” Jin seperti anak kecil yang merajuk dan hendak menangis.
"Jangan berlebihan Jin..." Jawabku dengan menahan mual yang tak karuan.
"Kau hanya sedikit salah paham.... orang yang aku sukai dulu adalah...."
"Jangan katakan. Atau aku akan marah padamu seterusnya." Aku memutus penjelasannya mengancam.
Aku benar-benar tak mau mendengar nama orang yang Jin sukai. Karena mungkin akan lebih menyakiti hatiku. Cukup keras kepala.
Jin terlihat lebih kebingungan. Namun akhirnya dia menyerah...
"Baiklah sayang.... Aku tak akan memberitahumu siapa dia, tapi kau jangan marah ya? eum?" Jin mendekatiku dan menggenggam tanganku.
“Aku tak marah, siapa yang marah?” aku berkata demikian namun dengan bibir yang cemberut.
“Mei....???” Jin menatapku serius. "Kau masih terlihat marah..."
"Baiklah akan ku coba." Ucapku rak mau menatapnya.
"Mei????" Jin memanggil namaku lagi dengan wajah memelasnya.
"Iya.... iya.... aku sudah tak marah. Tapi aku benar-benar tak suka jika kau menceritakan masa lalu mu." Aku mengatakannya dalam artian masa lalu percintaannya dengan wanita lain.
Meskipun di awal dia mengatakan aku lah yang pertama dan terakhir. Tetap saja... dia itu seorang tsundere, jadi masih ada sedikit ketakutan.
"Tapi...."
Cup....
Aku menghentikannya yang masih ingin membahas masalah itu dengan mengecup bibirnya yang membuatku gemas dengan lembut dan ringan. Aku bahkan melupakan rasa mual yang semula terasa begitu tak nyaman.
Semarah apa pun tetap saja aku ingin menyentuhnya. Sejujurnya, aku juga tak bisa jika terus mengabaikannya. Mungkin aku juga akan merasa mati seperti apa yang dia katakan. Jauh darinya saja rasanya benar-benar tak berdaya.
Jin terkejut namun begitu senang mendapat ciuman spontan dariku.
"Kenapa istriku ini lebih pintar merayuku dari pada aku, padahal dia tak melakukan apa-apa. Tapi kenapa aku selalu terlena olehnya?" Jin menarikku dalam pelukannya kemudian menatap wajahku yang berada dalam dekapan di dadanya. Kemudian mencium kening dan ubun-ubunku hangat.
“Kau tak berangkat kerja? ini sudah hampir jam 8." Tanyaku padanya masih berada dalam dekapannya.
"Pergi ke pertemuan nanti siang saja, sekarang aku mau sama istri dan calon anakku." Ucapnya semakin mengeratkan pelukannya.
Tiba-tiba rasa mual menghampiri perutku lagi.
"Sepertinya aku harus minum obat anti mual muntah lagi. Rasanya perutku benar-benar mual." Kataku sembari berusaha melepaskan diri dari dekapan Jin.
"Iya kau pucat sekali sayang." Jin menatapku khawatir.
"Tak apa, aku hanya mual muntah yang wajar. Aku ke dapur dulu." Ucapku perlahan berdiri dan beranjak pergi menuju dapur sembari memegangi perutku yang terasa kaku karena merasa ingin muntah.
Jin mengangguk, "Aku akan menyusul sebentar lagi. Aku rapikan kamar dulu." ucapnya.
“Eoh?? Sudah bangun nak?” sapa ibu mertuaku yang tengah sibuk di dapur.
“Ya Tuhan... Mei... kau tak apa-apa sayang?” Ibu mertuaku panik kemudian mendudukkanku di kursi meja makan.
Aku belum sempat mengambil obat dan vitamin.
“Aku tak apa ibu.” Ucapku lemah sembari memegangi perutku.
"Kau pucat sekali?" Ibu mertua memberikan gelas yang sudah terisi susu yang masih hangat. Sepertinya baru beberapa menit lalu dibuat.
Aku benar-benar terkejut karena ibu mertua sudah menyiapkannya untukku. Aku sangat beruntung mempunyai ibu mertua sepertinya.
"Terimakasih." Ucapku tulus padanya. "Mungkin... ini karena efek semalam bu. Tapi tak apa kok, setelah minum obat semua akan baik-baik saja." Ucapku sembari menyeruput susu tanpa melihat ke arah ibu mertuaku yang menatapku menyelidik.
Tak lama setelahnya ayah mertua dan Jin datang hampir bersamaan ke dapur. Jin memegangi tengkuknya dan sesekali menggelengkan kepalanya ke kanan dan kiri. Dia terlihat letih sekali. Mungkin dia badannya merasa sangat rapuh karena tidur di sofa dengan posisi yang salah.
"Ini obatnya, maaf..." Ucap Jin mendekatiku sembari memberikan obat yang tadi lupa aku bawa dari kamar.
Aku menerimanya dan mengangguk.
Ayah dan ibu mertua menatap ke arahku dan Jin bergantian. Mereka memperhatikan kami tanpa kami sadari. Lama. Hingga akhirnya ibu mertua terlihat marah dengan melempar kain lap di meja makan kemudian menghampiri Jin.
Aku yang melihat ibu mertuaku marah benar-benar bingung.
“Aduh.... ibu... apa yang ibu lakukan? Ini sakit. Kenapa aku diperlakukan seperti anak kecil begini?” Jin berteriak ketika ibunya menjewer telinga kirinya kuat-kuat.
Aku terkejut melihat hal itu. Aku tak tau kenapa ibu mertuaku melakukan hal itu. Apakah aku harus menolong Jin atau bagaimana aku benar-benar bingung.
“Dasar anak nakal. Sudah ibu bilang bersabar dulu sampai beberapa minggu. Kalau calon cucuku kenapa-napa bagaimana? Menantuku juga, dia masih lemah. Apa kau tak kasihan padanya?” Ibuku terus saja mengomel tak jelas.
Jin dan ayah mertua membelalakkan matanya.
“Apa??? Jadi kau?” Ayah mertua juga terlihat gusar sepertinya menyadari sesuatu. Beliau kemudian bernjak ikit mendekati Jin yang dijewer ibu mertua. Aku masih bingung.
“Dasar bandel kau ya? Kau bilang kau sayang pada mereka, tapi kenapa menahannya untuk beberapa minggu saja kau tak bisa. Dasar calon ayah kurang ajar. Ayah sebagai calon kakek benar-benar merasa malu.” Ayah mertua marah dan ikut menjewer telinga sebelah Jin.
“Yaa.... ayah.... aku tak melakukannya.” Jin meringis kesakitan karena kini kedua telinganya tengah dijewer ayah dan ibunya.
Aku yang melihatnya hanya melongo semakin kebingungan. Aku tak tau apa yang sebenanarnya terjadi dan harus berbuat apa.
“Ayah... ibu....” aku mencoba berdiri untuk menghentikan mereka karena aku merasa kasihan dengan Jin yang tampak begitu menderita mendapatkan dua jeweran sekaligus di telinganya.
“MEI, DUDUK DI SANA!” mereka bertiga kompak berteriak ke arahku sehingga membuatku duduk kembali antara bingung dan ketakutan.
Sebenarnya drama apa yang sedang berlangsung pagi ini? aku benar-benar tak mengerti dan tak tau.
Yang hanya bisa ku lakukan hanya meringis dari kejauhan melihat Jin yang juga tengah meringis kesakitan. Bingung... aku ingin menolongnya tapi mereka memintaku untuk tetap diam. Jadi aku harus bagaimana?
“Akkk.... sakit ayah!” Jin mengerang.
“Ini akibatnya kalau kau buat malu ayah.” Ucap ayah kesal.
“Mei... Lain kali kalau Jin memaksamu, kau harus berani menolak sayang, Ingat Little Feng.” Ucap ibu mertua mengingatkanku dengan tangannya masih menjewer Jin.
Tunggu. Aku mencoba memahami maksud ibuku.
Kami bangun kesiangan dengan keadaan aku yang merasakan mual muntah dan kram perut dengan wajah pucat dan melemah. Sedangkan Jin? dia sepertinya mengeluhkan punggung dan leher belakangnya yang sakit karena tidur di sofa dengan posisi yang tak benar. Meskipun dia tak mengatakannya, tapi kami bisa melihat hal itu dengan jelas.
Jadi..... aku memahaminya sekarang. Ya Tuhan... kenapa pikiran mertuaku selalu menjerumus ke arah itu(?) yang aku sendiri tak berpikir sampai ke sana.
Benar-benar mertua yang.... entahlah...
“Aa...ayah... ibu... Sebenarnya ini tidak seperti yang kalian pikirkan.” Aku memulai pembicaraan sehingga mengalihkan perhatian mereka padaku.
"Tapi Jin sudah menyulitkanmu." Ibu mertua bingung.
“Semalam Jin tidur di sofa karena aku marah padanya, makanya dia....” aku tak melanjutkan kalimatku karena aku merasa malu yang bercampur dengan perasaan ingin tertawa.
“APA??” Ayah dan ibu mertua terkejut, kemudian melepaskan tangannya dari telinga Jin perlahan.
Aku bisa melihat raut wajah mereka yang memerah, mungkin karena malu atau bagaimana.
Ayah dan ibu mertua terlihat canggung ketika menatapku.
“Makanya turuti kata ibu jangan nakal.” Ibu memukul pundak Jin yang lebih tinggi darinya canggung.
Melihatnya aku tersenyum lucu.
“Sudah ku bilang aku tak melakukannya, aku rela menunggunya sampai trimester kedua bahkan sampai setelah dia melahirkan. Aku tak apa-apa. Ibu dan ayah ini." Ucap Jin memelas.
“Bagus... ini baru namanya anak ayah.” Ayah mertua berubah menjadi bangga pada Jin dan mengusap-usap rambutnya seperti seorang ayah dengan anaknya yang masih TK. Beliau menatapku yang masih terlihat canggung.
"Cinta itu tak selalu nafsu. Ayah dan ibu ini buat malu saja." Jin menggerutu.
Sedangkan ayah dan Ibu saling tersenyum canggung.
Keluarga ini, benar-benar tidak seperti keluarga pada umumnya. Tingkah mereka benar-benar berbanding terbalik dengan apa yang terlihat saat mereka berada di luar rumah.
Dan aku merasa sangat beruntung telah mengenal seperti apa Jin dan keluarganya yang tak bisa dilihat oleh orang lain.
***