WE GOT MARRIED

WE GOT MARRIED
Chapter 101 PENGAKUAN HUAN (Part II)



"Apa kau tak salah informasi? Kenapa kencan buta harus berada di tempat seperti ini?" Gerutu ku pelan setengah berbisik ke arah Huan karena harus mengintai Ling di sebuah pekuburan yang terlihat sepi nan sunyi.


Perutku yang semakin membesar membuatku kesulitan bergerak dengan gesit. Sehingga aku sesekali menarik napas panjang dan dalam sembari memeganginya.


"Aku rasa, pria kali ini adalah seorang psikopat." Huan berbisik padaku meyakinkan sehingga semakin membuatku merasa merinding ketakutan.


"Jangan bercanda!" kesal ku padanya karena menambah suasana semakin mencekam.


"Aku tak bercanda. Maka dari itu aku sangat khawatir padanya. Coba... pria macam apa yang mengajak kencan buta seorang gadis di tempat seperti ini kalau dia bukan seorang psikopat? Jangan-jangan Kak Ling akan dirampok kemudian dibunuh? atau jangan-jangan... kak Ling akan diperkosa??? Tidak!!!" Huan bergumam dan kemudian histeris sendiri.


"Jangan menakuti ku." Tanganku spontan memukul belakang kepala Huan sehingga dia terantuk ke depan.


"Aishh.... kakak ini. Aku tak menakuti mu. Aku hanya merasa khawatir padanya. Seharusnya dia mengajak bertemu di tempat seperti kemarin atau di taman bermain, bukan di sini kan?" Huan benar-benar mengompori perasaanku yang semakin mengkhawatirkan Ling.


Ingin rasanya aku cepat-cepat menelepon Jinyi agar segera datang ke sini. Tapi nanti saja. Jika situasinya sudah sangat mendesak, aku akan menghubunginya.


Mataku kemudian beralih memperhatikan Ling kembali.


"Sssst.... Ling menerima panggilan telepon." Aku memberikan kode pada Huan agar dia tidak terus berbicara aneh dan kembali memperhatikan Ling yang tengah berdiri di depan gerbang masuk pemakaman.


Ling terlihat berbicara beberapa saat sebelum akhirnya kami melihatnya berjalan masuk ke dalam area pemakaman.


"Dia masuk. Ayo cepat kita ikuti." Huan memerintah.


Dan dengan susah payah aku mengikutinya.


Kami sangat terkejut saat Ling berhenti berjalan, sepertinya menyadari jika sedari tadi ada yang tengah mengikuti. Aku dan Huan pun segera bersembunyi di balik pohon besar di dekat sebuah makam.


Jantungku serasa mau lepas dari tempatnya karena adrenalin ku benar-benar telah berpacu.


Apalagi suasana horror menambah gelisah hati.


Kami mengintip Ling yang terlihat menoleh ke sana ke mari merasa tak nyaman mencoba mencari-cari orang yang sedari tadi mengikutinya yang tak lain adalah kami.


"Dia datang!" Huan mengejutkanku setelah melihat seorang pria paruh baya berjalan mendekati Ling yang kini tengah berada di depan batu nisan besar yang tak terlihat dengan jelas apa tulisannya.


"Apa??? Kenapa tua sekali?" Huan ternganga tak percaya.


Ku coba memperhatikan lamat-lamat pria paruh baya itu. Aku pun kemudian teringat dan merasa sangat mengenalnya.


"Huan.... dia...."


"Ini tak bisa dibiarkan!" geramnya memutus perkataan ku yang mencoba memberitahunya dan segera keluar dari persembunyian kami untuk mendatangi mereka.


"Huan tunggu..!" Aku berusaha meraih tangan Huan tapi gagal. Dan Huan kini sudah berada dekat dengan mereka.


Sigh. Aku benar-benar merasa bodoh sekarang.


"MAAF.... LING LINGFEI ADALAH PACARKU!" Teriak Huan kencang pada pria paruh baya yang kini tengah berdiri di depan Ling sehingga membuat pria itu terkejut.


Bodoh... Huan ceroboh sekali. Aku terus menggerutu sendiri dalam hati.


"Huan???? Apa yang kau lakukan??" Ling terkejut akan kedatang Huan yang tiba-tiba dan dengan mengatakan hal yang menurutnya konyol.


"Aku?? tentu saja aku datang untuk menemui mu." Jawab Huan santai sembari berdiri di dekat Ling dan merangkul pundaknya.


"Jangan bercanda!" Ling jengah dengan sikap Huan dan melirik ke arah pria paruh baya itu kemudian mencoba menghindari Huan.


Pria paruh baya itu kemudian terkekeh pelan melihat Huan yang super protektif.


"Apa kau benar pacar Lingfei?" Tanya pria itu dengan senyumnya yang sangat ramah dan kebapakan.


"Tentu saja.... aku yang akan menikahinya nanti." Ucap Huan percaya diri.


Ya Tuhan.... aku hanya bisa menepuk kening kepalaku sendiri dalam persembunyian. Huan ini terkadang bersikap dewasa terkadang bersikap kekanakan.


"Apa???" Ling terkejut.


"Jadi kau pacar Lingfei?" Pria itu terkekeh lagi sembari bertanya pada Huan sekali lagi.


Huan mengernyitkan kening.


"Ya... aku pacarnya." Ucap Huan lagi semakin tegas.


"Huan? Apa yang kau lakukan??" Ling menyikut perut Huan yang tengah merangkul pundaknya spontan.


Namun Huan mengabaikannya. Dan hanya meringis menahan sikutan Ling.


"Wah... kebetulan sekali kalau begitu. Hari ini peringatan kematian istriku. Jadi Sepertinya ini waktu yang tepat untuk berkenalan dengannya." Ucap pria paruh baya itu sembari tersenyum dan mengedipkan sebelah matanya pada Ling.


"App... apa??? Is.... is...??"


"Dasar bocah nakal!" Aku tak bisa menahan keinginanku untuk menjitaknya sehingga kini aku berjalan menghampirinya saat dia tengah mencerna perkataan pria paruh baya itu dan melancarkan serangan ku padanya.


"Mei??" Pria paruh baya itu menyapaku.


"Mei??? Dia mengenal kakak??" Huan semakin ternganga.


"Tentu saja aku mengenalnya. Dia ayah Ling. Kau ini mengacau saja." gerutu ku gemas padanya. "Maaf paman Ling, dia Huan adikku." Aku pun kemudian tersenyum kepada pria paruh baya yang ternyata adalah paman Ling seraya membungkuk sedikit lebih sopan.


"Ja... jadi.... jadi...." Huan tak bisa berkata-kata dan hanya menunjuk Lingfei dan paman Ling bergantian.


"Makanya jangan ceroboh!" Aku memukul belakang kepala Huan lagi sehingga membuatnya meringis.


"Aku pikir.... aku pikir kak Ling akan melakukan kencan buta lagi." Jelas Huan akhirnya dengan perasaan canggung.


Paman Ling terkekeh lirih. Huan merasa malu dan akhirnya dia hanya tersenyum canggung.


"Mana mungkin aku melakukan kencan buta di tempat seperti ini? Kau ada-ada saja." Ling menggerutu dan terkikik pelan.


Namun beberapa saat kemudian dia menghentikan tawanya dan mulai menyadari sesuatu.


Aku tau pasti Lingfei menyadari bahwa aku dan Huan dengan sengaja telah mengacaukan kencan butanya. Aku pun kebingungan.


"Tunggu Zhang Xiumei. Kenapa aku menyadari ada yang tidak beres dengan kencan buta ku beberapa hari ini?" Ling mengajukan pertanyaan yang membuatku dan Huan langsung merasakan kaku di sekujur tubuh.


Ling menatap ke arah kami menyelidik.


"Ah.... itu.... itu...." Aku tergagap bingung mau menjelaskan bagaimana.


"Kau bilang kau adalah pacar Lingling?" Paman Ling bertanya pada Huan tiba-tiba.


Huan tersentak sesaat.


"I.... I.... itu.... sebenarnya...." Huan gugup dan geragapan bingung tak tau bagaimana harus menjelaskan.


Aku menoleh pada Huan dan menatapnya dengan penuh keyakinan. Kalau tidak sekarang, kapan lagi dia bisa meyakinkan Ling bahwa dia menyukainya.


Sepertinya Huan menangkap maksud dari tatapan mata dan mimik wajahku. Dia pun langsung menghela napas dalam dan panjang mengatur detak jantungnya yang aku prediksi mungkin sekarang seperti tengah berada dalam lingkaran Bom atom yang menunggu untuk meledak.


"Paman Ling.... sebenarnya... aku bukanlah siapa-siapa. Dan aku hanyalah seorang pria yang masih belum dewasa. Tapi aku benar-benar menyukai kak Lingfei dari dalam lubuk hatiku yang paling dalam. Aku benar-benar tak bisa melupakannya. Setiap melihat senyumnya hatiku selalu berdesir hebat. Ketika berada dekat bersamanya aku selalu merasa sangat nyaman. Aku mungkin memang belum dewasa, tapi perasaanku padanya benar-benar tulus." Huan menjelaskan.


Lingfei terkejut namun tidak dengan paman Ling yang malah tersenyum melihat dan mendengar kejujuran Huan.


"Apa kau sudah gila??" Suara Ling bergetar dengan mata berkaca-kaca.


"Ya... aku gila. Aku gila karena telah menyukai Ling Lingfei. Aku gila karena aku telah menyukai orang yang lebih tua dariku. Aku gila karena aku menyukai orang yang lebih dewasa dari ku. Tapi apakah aku salah? Katakan... di mana kesalahan ku? Aku tak pernah berencana, tapi perasaan ini datang begitu saja. Aku berusaha menyangkalnya tapi perasaanku semakin tersiksa. Aku semakin sakit. Aku tak bisa lagi membohongi diriku sendiri. Kak Ling aku benar-benar menyukaimu." diluar ekspektasiku, Huan bahkan menjelaskan perasaannya lebih detail.


Adik bayiku... Benar-benar telah dewasa sekarang. Dia menyatakan perasaannya pada seorang gadis di depan mataku. Aku benar-benar merasa ingin menangis saking terharunya.


Ling masih terdiam dan matanya malah terlihat berkaca-kaca.


"Aku tak peduli kau lebih tua atau lebih muda, aku juga tak peduli kau cantik atau tidak, aku benar-benar tak peduli akan semua itu. Karena aku benar-benar menyukai mu. Tolong berikan kesempatan padaku. Jangan lakukan kencan buta bodoh itu lagi. Jangan paksakan dirimu. Ku mohon Kak Ling, percayalah pada ku." Huan menatap Ling dalam-dalam sembari meraih tangan Ling dan merengkuhnya dalam genggamannya.


Ling tak bisa berkata apa-apa dan kini ia malah mulai menangis.


"Ling Lingfei... kau juga menyukaiku kan?" Huan memberikan pertanyaan yang malah membuat Ling semakin terguguk menangis.


"Jadi ini yang membuatmu merasa tertekan akhir-akhir ini? Jadi ini yang membuatmu ingin pergi ke kencan buta? Lingling... ayah tak pernah memaksa mu untuk segera menikah. Yang ayah inginkan hanya kebahagiaan mu sayang. Tak ada yang lain." Paman Ling menyadari sesuatu pada Ling.


"Jadi kau juga menyukai adikku? Kenapa kau tak jujur padaku?" Entah kenapa kini aku mulai merasa kesal pada Ling. "Ling..." Aku merendahkan suaraku sembari menariknya menghadap ku.


Bukan menjawab Ling malah menangis sejadi-jadinya.


"Ling Lingfei????!!!!" Huan setengah berteriak memanggil namanya karena dia merasa sangat geram.


"Maafkan aku..." Hanya ucapan itu yang keluar dari mulutnya.


Tak perlu mengatakan hal lainnya kami sudah sangat mengerti sekali. Bahwa Ling sebenarnya juga menyukai Zhang Xiuhuan.


"Apakah semuanya karena aku?? Kau takut padaku? kau tak mau persahabatan kita akan memburuk? Tidak Ling... aku tak begitu. Aku bahkan lebih senang jika kau bersama dengan Xiuhuan. Aku tak akan menentang. Kalian saling menyukai. Aku harus mendukung apapun perasaan di antara kalian." ucapku lembut seraya memeluk Ling erat.


"Aku bisa melihat kesungguhan di matamu. Tapi kau masih terlalu muda, apa yang akan kau lakukan agar anakku bahagia?" Paman Ling dengan senyum ramahnya bertanya pada Huan.


"Aku berjanji padamu paman, aku pasti bisa membahagiakan anakmu dan membuatmu dan dia bangga padaku. Maaf... aku harus membuatmu bersabar untuk menungguku sementara waktu." Huan berjanji pada ayah Ling.


Dan ini mengingatkan diriku akan Jinyi yang berjanji pada ayahku beberapa tahun yang lalu.


Aku menatap Ling dan Huan bergantian. Senang, tentu saja.


"Kau harus buktikan itu padaku. Aku akan menunggumu..." Ling kemudian mengucapkan kalimat itu dengan senyum yang bercampur tangis bahagianya.


"Eum. Aku berjanji padamu dan akan berusaha sebaik mungkin." Huan mengangguk mantab pada Ling.


"Baiklah... baiklah.... sekarang saatnya penghormatan dan ucapkan janjimu itu pada istriku." Ucap paman Ling tersenyum senang.


"Baik ayah mertua." Huan mantab.


Kami bertiga kemudian tersentak dan menoleh ke arah Huan.


"Eh... belum saatnya... masih jauh." Aku memukul lengan Huan.


"Tak apa-apa, sekarang atau nanti sama saja kan?" Huan kekeh, membuat Ling dan ayahnya tertawa karenanya.


Dasar Huan. Aku hanya bisa mendesah dan menepuk keningku sendiri merasa jengah.


Akhirnya... satu masalah lagi terselesaikan. Tapi... kapan Feiyue akan tertangkap?


***