WE GOT MARRIED

WE GOT MARRIED
Chapter 41 UNGKAPAN CINTA YANG TAK TERDUGA



Besok adalah akhir pekan. Tidak seperti dulu saat aku belum menikah, yang selalu membawa pekerjaanku pulang untuk aku kerjakan di rumah dari pada harus lembur di kantor.


Tapi kali ini sudah berbeda. Aku harus benar-benar bisa membagi waktuku antara rumah dan bekerja. Jadi aku tak mau membawa pekerjaanku pulang ke rumah.


Namun aku juga tak mau lembur. Karena aku mau menghabiskan waktuku bersama Jin di rumah. Tau kan kami sedang kasmaran, jadi kami tak mau diganggu.


Jadi aku harus menyelesaikan pekerjaan tepat pada waktunya. Aku sungguh sangat sibuk sekali. Mataku terus saja melihat monitor dan tablet bergantian. Jari tanganku tak henti-hentinya menari-nari di atas keyboard.


“Xiumei, kau di panggil manager Wang untuk ke ruangannya.” Teman satu team ku menghampiri mejaku untuk mmenyampaikan kabar ini.


“Baiklah. Terimakasih ya?!” ucapku padanya sedikit berteriak karena dia berjalan pergi terburu-buru. Bisa dibayangkan, bekerja di kantor jika menjelang akhir pekan seperti ini bagaimana sibuknya?


Aku kemudian teringat kembali perihal manager Wang yang memanggilku ke ruangannya. Dia mungkin memanggilku karena membutuhkan proposal yang aku teliti kemarin.


Aku bergegas berdiri menyiapkan berkas yang harus aku bawa ke ruangan manager Wang. Dan langsung berjalan menuju ke sana.


Aku mengetuk pintunya tiga kali, kemudian menunggunya memberikan izin untuk masuk ke ruangan.


“Masuklah...” ucapnya kemudian terdengar dari balik pintu.


Aku melongokkan kepalaku ke dalam kemudian berjalan masuk mendekati meja manager Wang. Dia terlihat sibuk sekali. Namun setelah melihatku dia menghentikan segala kegiatannya dan menatapku sendu.


“Ini proposal dari produk kosmetik yang kemarin manager minta untuk di pelajari. Sepertinya proposalnya bisa kita terima. Namun ada beberapa kendala. Untuk biaya anggaran iklan rasanya akan sedikit membengkak, karena pihak produsen menginginkan ambassador resminya yang menjadi bintang iklan. ini sudah pasti demikian karena produsen dan ambassador sudah menyetujui kontrak kerja antara perusahaan dan management. Masalahnya artis yang kini ditunjuk sebagai ambassador kontrak iklannya mematok biaya yang begitu tinggi. Dan lagi artis yang bersangkutan kini tengah berada di luar negeri sehingga sangat sulit sekali untuk menghubunginya.” Ucapku panjang lebar setelah menyerahkan berkas kepadanya.


Dia menerima berkas itu tapi kemudian hanya ditaruhnya di atas meja di depannya sama sekali tak membacanya. Dia malah menatapku sendu.


Ada sesuatu yang tak beres di sini. Aku benar-benar merasakan aura yang mencekam keluar dari manager Wang.


“Apa ada yang lain manager?” aku bertanya padanya ingin cepat-cepat pergi dari sana.


Manager Wang beranjak dari duduknya kemudian berjalan mendekatiku yang ada di seberang meja. Aku masih berdiri pada tempatku.


“Sepertinya... aku benar-benar menyukaimu Zhang Xiumei.” Ucapnya langsung tanpa basa-basi sehingga membuatku sangat terkejut. Tidak. Ini rasanya lebih seperti sebuah gunung menimpa dadaku. Rasanya membuatku tak bisa bernafas. Darahku serasa berhenti mengalir. Jantungku serasa berhenti berdetak. Kepalaku jadi terasa sedikit berkunang-kunang.


“Maaf manager, selera humorku rendah.” Ucapku kemudian tertawa bingung.


“Tidak Xiumei. Aku benar-benar menyukaimu.” Ucapnya lagi kini terlihat lebih serius.


Aku semakin bertambah bingung, dia benar-benar serius atau hanya bercanda? baru kemarin lusa aku memperkenalkannya pada Jin. Tapi sekarang?? Dia sudah tau aku bersuami kan? Kenapa masih berani mengatakan suka padaku? Kenapa situasinya bertambah rumit begini?


INI BENCANA!


“T...t...tapi manager...”


“Tak apa, lupakan saja. Anggap aku tak pernah mengatakan apa-apa.” Ucapnya kemudian sembari tersenyum ke arahku.


“Aa... apakah ada yang lain yang harus aku kerjakan manager? Kalau tidak ada aku permisi dulu.” Aku bertanya namun tidak menunggu jawabannya dan cepat-cepat pergi dari ruangan manager Wang.


Sekilas sebelum aku pergi dari ruangannya, aku melihat Manager Wang yang tengah menatapku dengan tatapan yang tak bisa aku artikan.


Manager Wang sudah gila. Aku sudah memperkenalkannya pada suamiku dan dia malah menyatakan suka padaku.


Kakiku benar-benar merasa lemas. Bahkan saat aku sudah duduk di kursiku pun kakiku masih terasa bergetar hebat.


Apakah aku memberikannya harapan? Tidak kan? Aku bahkan sangat jutek sekali saat menyadari dia menyukaiku.


Rileks. Aku harus bisa merilekskan pikiranku, baru aku bisa berpikir jernih.


Tapi pada akhirnya dia mengatakan agar aku melupakan ucapannya. Apakah itu berarti... bahwa dia sudah tidak akan menaruh harapannya lagi padaku kan?


Berarti ini tidak serius kan? apakah aku terlalu percaya diri? Pasti tadi manager Wang hanya bercanda kan?


Aku mencoba menghibur diriku sendiri.


***