
Aku tak kuasa menahan semuanya. Sesampai di rumah aku langsung berjalan menuju dapur. Lemas. Kantong belanja ku lepaskan begitu saja hingga terjatuh ke lantai.
Buah-buahan yang diberikan manager wang keluar menggelinding begitu saja dari kantongnya. Aku terduduk lemas bersandaran kulkas. Akhirnya apa yang ingin menyeruak keluar sedari tadi, kini keluar juga. Aku mulai menangis.
Ini sakit. Sangat sakit. Aku menyadari siapa yang manager Wang maksud bahwa dia menyukai seseorang. Aku menyadari apa yang di maksud Ling bahwa aku kurang peka. Aku menyadari semuanya. Aku benar-benar menyadari semuanya.
Manager Wang... orang yang selama ini aku kagumi, aku sukai secara diam-diam... kini dia benar-benar menyukaiku. Aku bahagia sesaat saat menyadari semuanya. Namun kemudian hatiku menjadi sangat sakit dan terluka.
Tangisku terguguk. Aku sudah tak mampu menahannya lagi. Ku pukuli dadaku beberapa kali berharap agar rasa sesaknya segera menghilang. Berharap agar rasa sakitnya segera berkurang. Tapi kenapa semua tak kunjung mereda dan malah membuatku semakin terluka.
Aku harus bagaimana? Apa yang harus aku lakukan? Tuhan tolong...
Kenapa harus sekarang? Kenapa harus di saat aku sudah menerima perjodohan? Kenapa di saat aku sudah menikah dengan orang lain? kenapa? Aku bertanya 'kenapa?' yang jawabannya pun tak bisa aku dapatkan. Sehingga membuatku malah semakin kencang menangis.
Seseorang terdengar membuka pintu. Namun aku tak peduli. Aku masih terguguk pilu meratapi hatiku yang rapuh. Aku benar-benar tak peduli dengan siapa yang memasuki rumah.
“Aku pulang...” Suara Jin memasuki rumah. Namun kemudian ku dengar dia berlari ke arah di mana aku berada.
Mungkin karena dia mendengarku menangis begitu kencangnya. Aku tak peduli. Aku hanya ingin menangis sekarang.
“Mei????” dia memanggilku.
Namun aku tak bisa menjawab panggilannya. Suaranya terdengar sangat terkejut dan khawatir. Mendengar suaranya membuatku semakin merasakan sesak. Aku semakin menangis meraung.
Entah aku harus benci atau harus bagaimana dengan Jinyi. Hatiku benar-benar dalam keadaan complicated.
“Mei? Ada apa?” dia spontan berlari ke arahku kemudian berjongkok dan langsung menarikku dalam pelukannya.
Aku sepertinya sudah kehilangan banyak tenaga hingga aku tak mampu mengelak darinya. Anehnya aku malah mendekap erat tubuhnya dan menangis sekencang-kencangnya di dalam dekapannya. Aku tak peduli. Yang aku mau sekarang adalah mengeluarkan semua beban di hatiku dengan menangis sepuasnya dan sekencangnya.
“Tak apa Mei... semua akan baik-baik saja.” dia mencoba menenangkanku dengan mengusap rambut kepalaku yang berada dalam dekapannya.
Aku semakin mengeratkan pelukanku padanya tak merespon apa yang dia katakan.
“Hushh... Tak apa-apa Mei... semua akan baik-baik saja.” ucapnya pelan meneduhkan mencoba menenangkanku meskipun dia sendiri tak tau apa yang sebenarnya aku tangisi.
Sesekali ku rasakan dia mencium ubun-ubun kepalaku dan mengusapnya perlahan. Dan lagi... entah kenapa setiap sentuhannya membuatku semakin tenang dan tenang.
Perlahan... namun pasti. Seperti sebuah sihir. Seperti sebuah morphin. Akhirnya aku terdiam dan hanya menyisakan isakan-isakan kecil dalam dekapannya. Nyaman. Bahkan aku merasa sangat nyaman seolah aku seperti berada dalam pelukan ibuku yang sangat menenangkan.
Mataku yang terasa panas karena telah banyak menangis berusaha untuk membuka. Samar kemudian menjadi sangat jelas dan jelas. Aku masih berada di sini, di dapur terduduk selonjor di antara kaki seseorang... Yang tengah erat memelukku dari belakang. Jin. Aku berada dalam pelukannya dan mencengkeram lengannya erat seolah tak ingin jika tangannya terlepas dariku. Dia bahkan menjagaku saat aku tertidur hingga dia tertidur pula.
Aku mendongak ke atas untuk melihatnya.Dia tengah tertidur. Aku pun melepaskan tanganku yang memeluk erat tangannya mulai ku lepaskan. Dan aku sedikit beringsut memiringkan tubuhku untuk melihatnya lebih dekat.
Dasinya terlihat longgar dan begitu berantakan. Dua kancing baju teratasnya yang telah terbuka. Lengan bajunya tersingsing hingga ke siku.
Masih dalam pelukannya, aku mencoba mendongak melihat wajahnya yang sangat tenang dalam tidurnya. Sepi. Hanya terdengar dengkuran halus darinya. Entah kenapa aku suka sekali mendengar dengkuran halusnya.
Dia seperti telah menyihirku. Sentuhannya membuatku melupakan sesak yang ku rasakan karena tekanan perasaanku sendiri.
Setelah ku pikir-pikir kembali... dulu aku merasa sangat menyukai Wang Tian. Namun segalanya berubah ketika Wang Tian memberikan perhatiannya padaku meskipun tak terungkap bahwa dia menyukaiku. Aku bahkan merasa sangat tak nyaman.
Aku juga tak tahu kenapa seperti ini. Awalnya senang. Namun berikutnya perasaan itu menjadi bimbang. Dan sekarang menjadi seperti ini.
Harusnya aku membenci Jinyi. Tapi kenapa aku malah merasa nyaman berada di dalam pelukannya seperti ini.
Ku coba meraih wajahnya yang sangat tenang dalam lelap tidurnya. Menyentuh kelopak matanya yang tengah menutup. Menyentuh alisnya yang tegas, hingga hidung dan bibirnya tak luput dari sentuhanku. Semua. Kenapa aku begitu menikmatinya ketika melihatnya seperti ini.
Jin bergerak pelan hingga akhirnya dia membuka matanya yang kemudian mata kami saling bertemu dengan jarak kami yang begitu dekat.
Detik berikutnya aku terbangun dari lamunanku dan dengan cepat menjauhkan tanganku yang masih menyentuh bibirnya. Segera aku duduk tegak membelakanginya yang masih bersandaran lemari pendingin. Dan pelukan Jin pun terlepas.
Canggung. Aku kepergok. Aku merasa malu.
“Sudah merasa baikan?” tanyanya sembari meregangkan ooto-otot tangannya yang sedari tadi mendekapku dalam pelukannya.
Aku geragaban. Gugup.
“A... aku memalukan bukan? Berapa kali sudah aku menangis di depanmu?” aku menunduk dan membekap wajahku dengan kedua tangan.
“Eum... Mei... Apa kau tau? Aku malah senang melihatmu menangis dan tertawa di depanku. Itu artinya kau tidak menjaga image mu terhadapku.” Jin menarik tanganku hingga membuatku menoleh lagi menatapnya yang kini berada di depanku.
“Ya?” aku tidak mengerti maksud perkataan Jin, namun kemudian aku menyadari sesuatu.
Aku memang tidak pernah merasa sungkan terhadap Jin. Apa pun. Bahkan saat aku bangun tidur dengan rambut seperti singa atau bekas liur yang masih menempel. Atau bahkan belek yang menempel di mataku. Aku tetap percaya diri terhadapnya.
Tapi dengan manager Wang? Aku tak bisa seperti ini. Setiap aku ingin pergi bekerja, aku selalu bingung memilih pakaian berharap manager Wang akan melihatku. Aku seperti tertekan. Tapi setelah mendapatkan perhatiannya, aku malah merasa tak nyaman dengan itu.
“Bukan. Bukan apa-apa. Lupakan saja” Jin menjawab dengan cepat sembari menggeleng. “Apakah kau tadi sudah makan malam? aku buru-buru pulang karena ingin menemanimu makan.” dia mengalihkan pembicaraan.
Aku hanya menggelengkan kepalaku pelan. Kemudian memegang perutku yang terasa perih keroncongan. Sekarang aku benar-benar merasakan lapar.
“Aku lapar....” lirihku memelas padanya.
“Baiklah ayo kita makan.” Ajaknya bersemangat.
“Tapi aku belum memasak.” Aku kebingungan. Namun Jin malah tersenyum.
“Sini...” Jin berdiri sembari menarik tanganku agar aku ikut beridiri juga.
Kemudian dia menuntunku untuk duduk di kursi meja makan yang berada di dekat pantry.
“Apa yang akan kau lakukan?” tanyaku padanya bingung dan tak mengerti.
“Sudah kau duduk saja di sana.” Ucapnya sembari sibuk mengangkat kantong-kantong plastik belanjaanku tadi dan memunguti buah-buahan yang diberikan manager Wang yang jatugh bergelindingan kesegala arah.
“Tapi... apa kau tidak memberlakukan Jam malam untuk makan?” tanyanya sembari melihat jam di dinding yang sudah menunjukkan pukul 11 malam.
Aku tersenyum paham apa maksudunya.
“Jika aku gemuk, tak masalah kan? Toh aku sudah menikah denganmu. Kalau kau tak mau aku gemuk, kau boleh meninggalkanku dan mencari yang lain.” Ucapku santai.
“Kau ini bicara apa?” dia merengut kesal mendengar penuturanku. “Aku tak peduli kau gemuk atau tidak.” Ucapnya kemudian dengan acuh namun terlihat sangat salah tingkah.
Jantungku langsung berdegub tak beraturan lagi. Aku menopang dagu di atas meja makan dan terus memperhatikan gerak gerik Jin.
Ku lihat Jin melepaskan dasinya dan meletakkannya di atas tasku yang sudah ditaruhnya di atas kursi meja makan di sampingku. Tak berapa lama dia mengambil celemek dan memakainya hingga membuatku terkesiap tak percaya.
“Apa kau akan memasak? Sini biar aku saja.” ucapku hendak menggantikannya.
Aku benar-benar meragukan keahliannya dalam memasak.
“Eits... kau duduk saja di sana. Kau jangan meremehkanku. Selama kuliah di Jerman aku selalu memasak sendiri. Jadi kau jangan khawatir.” Ucapnya sembari memotong sayur tanpa memperhatikan aku.
Apa ini? aku bahkan tak tau jika Jin ternyata pernah berkuliah di Jerman. Tak Heran sih, dia adalah anak orang kaya. Tapi aku sama sekali tak tau tentang latar belakang Jin seperti apa sebenarnya?
Akhirnya aku hanya duduk memperhatikan dia yang tengah sibuk memasak. Ternyata... pria yang memasak itu jauh terlihat lebih tampan dan seksi dari pada saat berenang.
Melihatnya mondar-mandir, menggoyangkan wajan di atas kompor, mencuci sayur. Kenapa semuanya sangat menarik. Aku mulai tersenyum tipis tanpa ku sadari.
Tidak! Aku memejamkan mata dan menggeleng-gelengkan kepalaku mencoba menolak apa yang otakku pikirkan.
***