WE GOT MARRIED

WE GOT MARRIED
Chapter 107 MALAIKAT



“Sayang…. Cepatlah…..!!” Suara Jin terdengar sangat nyaring sampai ke kamar.


Padahal dia berteriak dari ruang tengah. Tapi teriakannya terdengar ke seluruh penjuru rumah.


“Iya… sebentar….!" Jawabku yang tengah memakai anting dengan tergesa.


Anting ini kenapa juga susah sekali masuknya ke lubang cuping ku. Padahal biasanya aku bisa memakainya sambil berlari. Bukan anting yang besar atau yang mewah sebenarnya. Hanya sebuah anting kecil yang aku sesuaikan dengan busanaku kali ini.


Ya, kami akan menghadiri acara yang sangat spesial, jadi aku harus berhias secantik mungkin.


“cepatlah sedikit…. Nanti terlalu siang, kasihan Xiao Tian kalau kepanasan.” Jin terdengar berteriak lagi.


“Iya-iya aku datang…” jawabku sambil tergesa berjalan keluar kamar.


"Yaa… Mama mu lama sekali….” Gerutu Jin pada Tiantian yang kini tengah berusia hampir 9 bulan dalam gendongannya.


Bayi itu kemudian tertawa melihat Papanya yang sedikit uring-uringan karena menungguku yang lama bersiap.


"Aku mendengar mu Jin...." Ucapku sembari berjalan mendekati mereka. "Aduh aku lupa, tas Xiao Tian masih di kamar." aku pun berbalik kembali ke kamar Tiantian mengambil tas perlengkapannya.


 "Pa…paa…” terdengar suara lucu yang terputus-putus.


 “Apa…???” Jin sangat terkejut mendengar suara itu. "Apa nak??? kau bilang apa???" Jin bertanya pada Tiantian gemas tak bisa menyembunyikan kebahagiaannya.


Dari kamar Tiantian aku bisa mendengar suara itu. Aku yang terkejut karena tak percaya hanya bisa ternganga mendengarnya.


"Sayang, kau dengar itu???? Xiao Tian memanggilku papa." senang Jin berteriak memamerkannya padaku.


 "Pa…ppa..” Tiantian mengucapkan kata itu.


Aku pun tersadar dan langsung berlari setelah mengambil tas Tiantian.


 "Kau dengar itu???" Jin dengan senangnya masih memamerkannya padaku. "Ya… kau bisa memanggilku papa? Kau benar-benar bisa nak??” Jin kegirangan.


Tiantian terlihat tertawa sembari sedikit berlonjak-lonjak senang dalam gendongan Jin dan sesekali mempermainkan mata Jin.


 “Akkkkk…” Teriakku terpeleset permadani saking terburu-burunya setelah hampir mendekati mereka.


“Ya… sayang hati-hati.” Jin berlari cepat sembari tetap menggendong Tiantian menolongku yang terjatuh.


Dadaku masih berdegup sangat hebat saking terkejutnya. Dengan sigap Jin mengulurkan tangannya membantuku. Dan sebelah tangannya masih menggendong Tiantian.


“Xiao Tian???” Ucapku girang setelah berhasil berdiri dengan sempurna. Aku tak memperdulikan sakit di pinggulku akibat terjatuh tadi.


“Ya… hati-hati…” Omel Jin padaku namun aku tak memlerdulikannya dan langsung merebut Tiantian.


"Xiao Tian bisa katakan Ma-Ma??? Mmaa..mmaa… ayo tirukan Mama sayang. Ma...ma.....” Aku sangat tak sabar ingin mendengarkan Tiantian memanggil mama.


 “Ppa…ppa…” Tiantian malah tertawa dan berlonjak-lonjak girang dalam gendongan ku.


 “Yaa… ini bukan papa… ayo sayang coba katakan Ma.. ma....” aku terus saja berusaha membuat Tiantian memanggilku.


“Aishh… pelan-pelan sayang, nanti dia pasti bisa.” Jin terkikik geli melihat tingkah ku yang tak sabar ingin di panggil oleh Tiantian.


“Xiao Tian… bayi lain akan menyebut mama lebih dulu, tapi kenapa kau malah menyebut papa??? Aku yang mengandung mu, melahirkan mu, menyusui mu.” aku benar-benar kesal dan cemburu pada Jin.


Namun mendengar aku menggerutu Tiantian malah tertawa sembari mempermainkan hidungku.


"Mei...." Jin memanggilku sembari menarik pundak ku sehingga aku kini menghadapnya. "Terimakasih." Ucapnya sembari tersenyum menatapku.


“Uhmm… untuk???" Aku tak mengerti.


 “Untuk.... menjadi istriku, menjadi ibu dari anakku dan telah memberikanku putra yang sangat tampan dan pintar.” Ucapnya lagi sembari merengkuh wajahku tak peduli aku tengah menggendong Tiantian.


Aku pun hanya bisa tersenyum mendengar kata-kata manis yang keluar dari bibir Jin. Dan perlahan Jin mendekatkan wajahnya padaku kemudian mengecup bibirku dengan sangat hangat.


"Akh..." Jin tiba-tiba memekik pelan dan spontan melepaskan kecupannya padaku membuatku ikut terkejut.


"Kenapa???" Aku sangat kaget.


"Yak... Xiao Tian Lepaskan papa sayang... ini sakit." Jin merintih dan kepalanya sedikit mendongak.


Tiantian malah tertawa nyaring dan ternyata dia menjambak rambut kepala Jin dengan sangat kuat.


Aku pun akhirnya ikut tertawa bersama Tiantian.


"Sayang jangan tertawa, bantu aku melepaskan tangan Xiao Tian." Ucap Jin sembari berusaha melepaskan tangan Tiantian yang menjambak rambutnya dengan sangat kuat.


"Baiklah.... aku tak akan mengambil Mama mu." Ucap Jin kemudian mengalah.


Aku dan Jin pun saling bertukar pandang. Tercengang. Dan detik berikutnya tawa kami pun pecah. Rupanya Tiantian tak mau jika Jin merebut ku darinya.


"Kak Tian... Maafkan kami.... Dan terimakasih. Apa kau tau bahwa kami sangat kehilangan mu? Kenapa kau harus menyelamatkan aku waktu itu? Aku benar-benar menyesal telah kehilanganmu. Tapi tenang saja, Fei telah diadili dan dijatuhi hukuman yang setimpal. Dia juga mendapatkan konseling. Ah iya... Ayah mertua juga sangat sehat. Beliau sangat berterimakasih padamu. Beliau meminta maaf karena tidak bisa datang ke peringatan kematian mu hari ini karena pesawatnya delay. Jadi dia meminta maaf padamu dan akan datang besok." Ucapku panjang lebar di depan sebuah Kolumbarium yang berisi guci abunya.


Ya Hari inilah acara yang ingin aku datangi bersama dengan keluarga kecilku. Hari Ini tepat satu tahun yang lalu Wang Tian menghembuskan napas terakhirnya.


"Hei.... seperti Janjiku padamu. Aku merawat Mei dengan baik. Dan Juga...." Jin lebih mendekat ke depan sembari menggendong Tiantian. "Perkenalkan... Ini Xiao Tian. Kau pasti sudah menebak dia siapa. Ya dia anak kami. Anak dari wanita yang kau ingin lindungi. Maaf aku meminta namamu untuk kuberikan padanya. Tapi aku yakin kau pasti senang mengetahuinya. Dan satu hal. Dia sangat mirip sekali denganmu. Dia benar-benar tidak mau membiarkanku mendekati Mei. Tian... terimakasih banyak. Aku benar-benar berterimakasih padamu." Ucap Jin bersungguh-sungguh.


Tanpa bisa ku tahan aku mulai menangis lagi. Ini sangat menyedihkan. Dia pergi karena ingin aku tetap hidup dan bahagia.


"Aku merindukanmu kak Tian." ucapku lirih sembari terisak. "Aku benar-benar merindukanmu." Kini aku sedikit terguguk tak bisa menahannya lagi.


Jin dengan sabar mengusap-usap punggungku mencoba menenangkan ku.


"Ppa...pa..." Suara Tiantian yang mungil mengejutkan kami lagi dan aku pun mengusap air mataku dengan kedua telapak tanganku.


"Ahh.... benar.... sayang.... ayo sapa paman." aku berkata pada Tiantian yang tengah bermain-main dengan boneka kecil yang dibawanya.


Tiantian menatap ke arah guci dari balik kaca. Entahlah... dia benar-benar menyapa atau ini hanya kebetulan saja.


"Anak pintar." Ucap Jin kemudian mencium kepala Tiantian. "Eh.... sini berikan bonekanya pada paman. Biar paman tidak kesepian." Ucap Jin berinisiatif.


Aku pun tersenyum dan memasukkan boneka itu ke dalam Kolumbarium dan meninggalkannya di sana dengan foto kami bertiga.


"Kami akan datang lagi lain kali... Jaga dirimu di sana eoh?" pamit ku sembari menangis sesenggukan lagi. Dan lagi-lagi Jin mencoba menenangkan ku dengan mengusap-usap punggungku.


“Mmaa…mmaaa…” Tiba-tiba sebuah kata tak terduga terucap dari bibir Tiantian sehingga spontan membuatku terkejut dan menghentikan tangisku.


"Xiao Tian??" Aku membelalak tak percaya.


"Kau menghibur Mama?? Anak pintar." Jin tersenyum senang kemudian mencium Tiantian berulang-ulang.


“Sayang… kau dengar? itu nyata??? dia memanggilku?? dia mencoba menghibur ku??" Aku kegirangan.


“Mma... maa..” terdengar suara lucu dari bibir Tiantian lagi kemudian tertawa renyah khas bayi.


“Dia memanggilku???” aku masih tak percaya. "Sekali lagi sayang.... ayo katakan... mmaa... mmaa...!" Aku memintanya menirukanku.


“Ppa..ppaa…” Tapi Tiantian malah mengucapkan papa dengan polosnya kemudian tertawa lucu.


“Ya… mama…mamaa… bukan papa.” aku mulai cemberut anakku tak mau mengatakan mama.


“Ya… Anak Papa memang pintar…” Jin menggodaku.


"Ayo sayang.... Mama.... ma... ma...." Aku masih bersikeras.


“Ppa... ppaaa…” Tiantian kembali menyebut papa.


“Lihatlah kak Tian, sepertinya Xiao Tian mulai tak berpihak padaku." Aku merengek ke arah guci Abu manager Wang.


Jin terkekeh pelan.


“Xiao Tian… Mama mengadu pada Pamanmu.” Jin tertawa lagi renyah.


Namun Tiantian tak menghiraukan kami dan malah tertawa sendiri menghadap ke belakang.


Kami terus bercanda, padahal awalnya sudah berpamitan. kemudian tanpa sengaja mataku seperti melihat bayangan seseorang dari pantulan kaca Kolumbarium. Tidak begitu jelas, hanya samar-samar. Berpakaian serba putih dan terlihat Sayap yang sangat lebar di punggungnya.


Apakah aku berhalusinasi?? Pantulan dari kaca itu seperti....


"Ttaaa...tta...tta..." Tiantian membuka suara dan tertawa lagi menghadap ke belakang.


Dengan cepat aku menoleh ke belakang mengikuti arah mata Tiantian. Tapi sepertinya tidak ada siapa-siapa. Apakah Tiantian melihatnya?


"Apa kau datang???" Aku mulai menyadari apa yang terjadi dan mengembangkan senyumku.


Apakah benar orang yang telah meninggal itu jika amalnya baik akan menjadi malaikat atau bidadari?? Sepertinya iya ...


"Ayo kita pergi." Jin mengejutkanku yang tengah tersenyum menatap kosong hal yang tak dapat ku lihat.


"Ayo..." senyumku padanya sembari menoleh ke arah Kolumbarium lagi untuk yang terakhir kali dan bayangan itu masih terlihat di sana dan tersenyum.


"Sampai jumpa.... Malaikat kami."


END