
Aku merapikan meja kerjaku sebelum beranjak pulang. Ku ambil ponselku yang tergeletak di samping keyboard pc kemudian melihatnya apakah ada panggilan masuk atau tidak. Dan ternyata tidak ada sama sekali, bahkan pesan singkat pun tidak ada. Ada tapi dari operator provider yang memberikan pop up layanan.
Ah.... aku semakin kesal. ‘Dasar Feng Jinyi. Ingin rasanya aku membunuhmu!!’ aku hanya berteriak dalam hati frustasi.
Ngomong-ngomong.... Kenapa aku menantikan Feng Jinyi untuk menghubungiku? Konyol.
Menyadarinya aku menepuk keningku dengan ponsel yang ku pegang.
Tapi... Apakah dia tidak berniat menjemputku? Bukankah nanti akan ada acara makan malam bersama keluarganya di rumahnya? Kenapa dia begitu cuek sekali?
Lagi... apa dia tak tau kalau ibunya mengundangku makan malam? Masa iya dia tidak tau? Aku kan calon istrinya? Nah kan... Kenapa aku memgakui kalau aku calon istrinya? menyebutnya dengan bangga? Auuuchhh.... apa yang salah dengan diriku??? kenapa aku seperti ini??? Ku jambak rambutku dengan kedua tangan biar keanehan ku menghilang.
Tapi otakku mulai berpikir lagi. Apa dia sibuk lagi? Sibuk dengan para gadis-gadis semacam yang kemarin itu? Ah yang benar saja. Lama-lama aku muak padanya.
Bisa dihitung sehari berapa kali dia mengirimkan pesan singkat. Telepon? Tidak pernah.
Pria macam apa ini? bisa di bayangkan hidupku akan menjadi seperti apa setelah menikah nanti. Bahkan suamiku tak perhatian padaku.
Mungkin aku akan kesepian seumur hidupku? Tanpa anak? Tanpa suami yang memperhatikanku? Sepertinya hidupku akan benar-benar kujalani seperti biarawati. Tidak. Aku tak mau hidup seperti itu. Aku sungguh tak mau.
Baik. Aku harus memikirkan diriku sendiri. Sebaiknya aku benar-benar harus membatalkan pernikahannya. Dan mengejar cinta sejatiku. Iya, sebaiknya begitu.
Aku kemudian beranjak keluar dari kantor dan menghentikan sebuah taksi untuk mengantarku pergi ke rumah Paman Feng.
Aku turun dari taksi setelah sampai di depan rumahnya Jin. Aku masih harus berjalan kaki memasuki halaman depan rumah Jin yang sangat luas dan ditumbuhi bebagai macam tanaman hias dan bunga.
Tak terasa kakiku sudah berhenti di depan pintu rumahnya. Perlahan ku beranikan dii untuk memencet intercom pada pintu depan rumahnya.
Tadi sebelum aku datang ke sini, aku mampir untuk berbelanja beberapa sayuran dan daging buat tambahan makan malam keluarganya nanti. Tidak banyak, tapi aku merasa sedikit kesulitan untuk membawanya.
“Kau sudah datang? Wah kau terlihat sangat cantik sekali dengan rambut barumu.” ibunya menyapaku senang setelah membukakan pintu. Kemudian merengkuh wajahku dengan kedua tangannya yang ku balas dengan senyuman.
Kemudian dia menoleh ke sana ke mari melihat sekitar seperti mencari-cari sesuatu. Aku ikut menoleh ke sana ke mari mengikuti arah mata bibi Feng dengan perasaan heran.
"Apa kau tidak datang bersama dengan Jin?” tanyanya. Detik berikutnya dia kelihatan sangat kecewa.
Melihanya kecewa seperti itu aku merasa tak enak.
“Sepulang bekerja aku langsung datang ke mari bu.” Ucapku padanya dengan senyum yang aku buat setulus mungkin.
Padahal hatiku juga dongkol sekali, ingin sekali rasanya melempar Jin dengan sepatu kanvas yang aku kenakan sekarang.
“Ya Tuhan... anak itu tega sekali! Benar-benar tak bisa dibiarkan. Awas saja nanti kalau pulang.” ibunya terlihat sangat kesal.
Tapi anehnya aku tiba-tiba merasa senang ketika mendengar ibunya menggerutu dan kesal sekali pada Jin.
“Tak apa ibu... aku baik-baik saja. Mungkin... dia sangat sibuk, makanya tidak menghubungiku.” Ucapku seolah membela dia.
Padahal aku ingin berkata ‘begitulah kelakuan anakmu’ tapi sayang aku tak bisa berucap seperti itu. Jadi.... aku menahannya saja dalam hati.
“Baiklah... ayo masuk, di luar dingin sekali.” Dia mengajakku masuk ke dalam kemudian.
Aku melihat sekeliling, sepi sekali.
“Ayahmu sedang beristirahat. Tadi selesai meeting dia bilang sedikit lemas. Jadi sekarang dia berada di kamar beristirahat.” Ucap bibi Feng memberi tahu.
“Ah... begitu?” aku mengangguk mengerti. “Kalau begitu, sebaiknya nanti saja aku menemuinya.” Tawarku.
“Tentu... tak apa-apa.” Bibi Feng tersenyum menyetujuinya.
“Ah... ibu sedang memasak apa? Aku mau membantu.” Tanyaku padanya.
Yah... baru kali ini ku temui sebuah keluarga kaya raha tapi tidak menggunakan jasa pembantu dan sopir sama sekali. Rumahnya pun sangat sederhana seperti hunian keluargaku. Bukan karena pelit atau bagaimana? Tapi keluarga Feng memang terkenal dengan kerendahan hatinya seperti Bill Gates atau Mark Z yang tak suka hidup mewah.
“Masih belum. Ini baru daja pakai celemek dan kau sudah datang.” Dia tertawa.
Aku tersenyum menatapnya.
“Kalau begitu... biar aku saja yang memasak. Dan ibu, bisa menemani ayah beristirahat.” Usulku.
Bibi Feng menatap padaku tak percaya.
“Kau bisa memasak?” tanyanya menyelidik dengan alisnya yang hampir bertautan karena penasaran.
Melihatnya seperti itu membuatku ingin membuktikan bahwa aku pandai tidak hanya dalam satu hal.
“Tentu saja, setiap kali aku juga memasak di rumah. Meskipun terkadang hanya membantu ibuku." Aku meringis padanya. "Anggap saja aku sedang mengikuti kompetisi memasak dan ibu yang menjadi penilainya? Bagaimana?” aku sedikit memberikan tantangan dengan tersenyum merayunya.
Dia berpikir sejenak.
“Um... ok... boleh... ibu mau melihat dan merasakan masakan menantu ibu.” Bibi Feng mengusap pipiku sayang.
Tanpa sadar aku memeluknya dari samping kemudian. Aku sepertinya merasa tak tega jika harus menyakitinya. Bibi Feng sangat baik. Bahkan memeluknya seperti ini rasanya seperti memeluk ibuku sendiri.
“Kalau begitu....” aku meletakkan belanjaanku di pantry. “Biar celemek ini aku yang memakainya. Dan ibu bisa menemani ayah beristirahat. Bagaimana?” Aku mencoba melepas celemek bibi Feng.
“Baiklah... semua bahan ada di dalam kulkas.” Ucapnya sembari melepaskan celemeknya dan memberikan padaku. “Kalau begitu ibu tinggal dulu ya.” Ucapnya kemudian yang ku sambut dengan anggukan dan senyuman.
Setelah aku memakai celemeknya, ku mulai mengeluarkan semua bahan yang ku butuhkan dari dalam kulkas.
Aku memulai dengan memasak masakan sebisaku. Aku fokus saja pada masakanku. Sesekali aku mencicipinya. Aku mengecap rasanya. Sempurna, semua masakanku sudah sempurna menurutku.
Tanpa terasa aku sudah menyiapkan tiga menu utama dan empat menu pendamping. Tapi aku merasa masih ada yang kurang. Aku berpikir sejenak.
Paman Feng sedang tidak enak badan jadi apa sebaiknya aku membuatkan sup jahe kayu manis agar badannya fit kembali? Ya... sebaiknya aku membuatkannya. Dan aku tak lupa juga membuatkan puding susu sebagai makanan penutupnya.
Aku bertepuk tangan senang setelah semua masakanku selesai. Tinggal membawanya dan merapikannya ke meja makan.
Aku mulai menatanya satu persatu di meja makan dengan senang hati. Entahlah... Kenapa aku senang sekali melakukannya. Aku bahkan bersenandung lirih.
“Aku pulang.” Sebua suara dengan tone berat tiba-tiba mengejutkanku yang tengah menata meja makan.
Jin masuk ke dalam rumah bersamaan dengan ibunya yang memasuki ruang makan. Dan... sesuatu yang sangat memgejutkanku adalah... dia pulang bersama dengan seorang wanita. Wanita yang sangat cantik dan terlihat sempurna.Dan dia... adalah wanita yang aku foto bersama Jin di cafe beberapa waktu lalu.
***