
Ketika menikahi Jin, aku tak mengira jika akhirnya aku akan jatuh cinta padanya. Aku pikir aku akan terus menyukai manager Wang. Namun pada akhirnya aku malah tak begitu tertarik padanha. Dan ketertarikanku kini terpusat pada Jin.
Mungkin ini yang orang-orang bilang mencintai karena terbiasa, itu rasanya lebih luar biasa. Karena setiap menit setiap detik rasanya hanya madu, madu dan madu.
Semuanya berjalan seperti air yang terus mengalir begitu saja. namun di satu sisi aku sangat merasa ketakutan. Takut, jika Jin akan meninggalkanku suatu saat nanti. Takut, jika Jin sudah tak menyukaiku lagi. Dan aku takut, jika rasa yang semula berupa madu pada akhirnya akan berubah menjadi nektar bunga kamboja yang pahit.
Kini aku hanya menatap wajahnya yang sangat tenang saat menikmati sarapan bersamaku. Tak bohong, melihatnya saja rasa laparku sudah menghilang. Ku perhatikan dia lekat-lekat. Suamiku yang ternyata begitu tampan, ketika dia membuka mata, matanya yang tajam kecoklatan terasa langsung menusuk ke jantungku jika tengah menatapku.
“Mei....?” Dia menatapku yang terus memperhatikannya penuh dengan tanda tanya.
“Hum?” Aku hanya menjawabnya dengan gumaman sembari menyeruput susu hangatku.
“Apakah aku setampan itu hingga kau terus menatapku seperti itu?” Tanyanya menyelidik dengan menggoda tentu saja.
Namun itu berhasil membuat pipiku merasa panas seketika. Kenapa dia mengetahui apa yang sedang aku pikirkan? Seperti seorang yang bisa telepati saja.
“Hu um.... ternyata suamiku memang benar sangat tampan." Aku kembali menatapnya. "Jin... aku jadi berpikir, atas dasar apa kau menyukaiku? Aku bahkan jauh dari teman-temanmu.” Aku mulai membahas tentang kekuranganku. Lagi. Ini yang kesekian kali.
Aku merasa sedih tentu saja. Jin terlihat kesal kemudian beranjak mendekatiku.
“Mei... kau mulai lagi.” Jin menyentuh tanganku kemudian digenggamnya. “Boleh aku bertanya?” Jin menatapku dalam.
Aku hanya mengangguk memberi isyarat kepadanya bahwa dia boleh menanyakan apa yang dia inginkan.
“Kalau kau menginginkan sesuatu dan itu sudah ada di depanmu, bahkan sangat sempurna di matamu. Apa kau akan mencari yang lain lagi?” Sebuah pertanyaan simpel tapi begitu mengena.
“Tidak, aku akan memilikinya dan menjaganya.” Aku menjawab dengan tegas.
“Nah... sekarang kau sudah tau kan? Aku sudah memilikimu yang lebih dari sempurna di mataku. Jadi untuk apa aku memilih yang lain?”
Jin berbalik bertanya padaku namun tak bisa aku jawab. Tapi aku begitu mengerti jawabannya.
Dia kemudian beringsut memelukku erat.
“Aku benar-benar mencintaimu Mei...” Ucap Jin pelan.
Aku membalas pelukan Jin yang begitu hangat.
“Aku hanya merasa takut... ketika melihatmu dikelilingi banyak wanita cantik. Aku takut.” Ucapku mulai menangis.
“Hei... kau pikir aku tak takut ketika kau di dekati Wang Tian itu?” Jin langsung melepaskan pelukanku dan menatapku tajam. “Aish.... pria itu, benar-benar.... berani sekali dia mendekati istriku. Jadi aku rasa Mei, kau tak suburuk yang kau pikir.” Jin terlihat emosi namun juga terlihat lucu.
Aku yang awalnya mulai menangis kini jadi tertawa melihatnya. Pria seperti ini... aku tak mau melepaskannya.
Tidak kami sadari ternyata waktu pun telah menunjukkan pukul setengah sembilan pagi dan kami harus segera berangkat. Ini sudah sangat terlambat untukku.
Tapi karena hari ini proses pengambilan gambar iklan, jadi aku tak begitu khawatir jika terlambat.
Namun ternyata aku salah. Sesampainya di depan gedung kantor, sebuah mobil berhenti di depan mobil Jin.
Jin yang baru saja membukakan pintu untukku merasa tak asing dengan mobil yang terparkir di dekatnya. Dia menatap mobil itu lekat-lekat.
Perlahan aku keluar dari mobil dan pengendara mobil itu pun keluar hampir bersamaan denganku.
“Hai Jin.... Akhirnya aku bisa bertemu denganmu di sini. Kemarin aku ke kantormu dan kau tak ada. Kau tau aku sangat kecewa sekali.” Wanita itu dengan gesit langsung menggamit tangan Jin yang bahkan dengan jelas aku yang kini berstatus sebagai istri sahnya berdiri tegap berada di sampingnya. Dia masih saja merajuk merayu Jin.
Perasaanku mulai kacau. Aku marah tentu saja. Namun aku tahan karena aku tau marah pun nenek sihir itu akan tetap seperti itu.
“Fei... jangan begitu. Ini tidak benar, aku sudah menikah.” Jin masih berusaha melepaskan tangan Fei yang sedari tadi menggelayut padanya.
“Mei.... aku....”
“Jin... apa kau tak merindukanku?” Fei memotong perkataan Jin yang ingin menjelaskan sesuatu padaku dengan masih mencari perhatian Jin dan bergelayut manja dengannya.
“Tak apa.... aku baik-baik saja. Lanjutkan saja.” Aku marah dan langsung bergegas pergi. namun saat itu Juga manager Wang datang dan mengejarku yang tengah memasuki lobi.
Aku sudah tak peduli lagi dengan Jin dan Fei yang ada di belakang. Jika aku menoleh ke sana aku pasti tidak akan mampu lagi menahan emosiku yang kini tengah terkumpul di ubun-ubun kepalaku yang rasanya sudah hampir meledak.
“Xiumei???!!!!” Manager Wang berlari mengejarku. Namun aku tak memperdulikannya dan hanya terus berjalan menuju pintu Lift.
Sebenarnya aku di sini sangat paham betul jika di situasi ini Jin 80% tak bersalah. Akan tetapi 20% -nya dia juga bersalah. Yang membuatnya salah adalah.... kenapa dia tidak bisa tegas dengan Fei? Apa karena dia teman lamanya. Tetap saja itu salah.
Heuuuuh.... rasanya ingin aku jambak saja rambutnya. Rambut siapa? Rambut mereka berdua tentu saja. Kemudian aku ingin memelintirnya menjadikannya tak berbentuk lagi.
“Xiumei!!” sekali lagi manager Wang memanggilku yang sedari tadi ku acuh kan. Namun Akhirnya aku menoleh juga padanya.
“Ya manager?” aku berusaha bersikap senormal mungkin meski rasa di dada ini begitu sesak sekali.
Manager Wang yang berlari akhirnya sampai di depanku. Dia sedikit terengah-engah.
“Apa kau baik-baik saja?” tiba-tiba dia menanyakan pertanyaan yang tak ingin aku dengar.
Tentu saja aku tak baik-baik saja. Jadi aku hanya terdiam dan menunduk. Sepertinya Manager memperhatikan apa yang baru saja terjadi padaku. Pasti aku terlihat sangat menyedihkan sekali. Punya suami yang digamit wanita lain.
Tapi aku tak boleh menangis di depannya.
"Pemandangan yang menyedihkan bukan?" Aku bertanya padanya sembari tersenyum kecut. Bibirku bergetar karena menahan tangis yang sudah siap membuncah.
“Aku mengerti perasaanmu. Tapi... Mei yang aku tau tak selemah ini." Ucapnya pelan mencoba menghiburku. "Ini... mungkin bisa mengurangi rasa sedihmu.” Tiba-tiba manager Wang mengangkat tangan kananku hingga membuatnya membuka.
Tak berapa lama sebelah tangannya memberikan sesuatu di atas tanganku kemudian kedua tangannya menggenggamkan tanganku pada benda itu.
Ketika tangan manager Wang sudah melepaskan tanganku, perlahan aku juga membuka genggamanku dan melihat benda apa yang dia berikan padaku.
“Bersemangatlah!” Manager Wang berjalan mundur dengan tersenyum memberikan semangat dan pergi meninggalkanku sendiri.
Ku tatap tanganku kembali. Sebuah permen. Permen coklat. Aku sedikit tersentak. Seketika ingatanku kembali pada masa-masa yang hampir aku lupakan.
Dulu... aku begitu menyukai permen coklat ini. Setiap kali aku mendpatkan nilai buruk dalam ujian aku selalu menangis, namun ayahku selalu memberiku permen ini. Kata ayahku permen ini akan mampu menghilangkan rasa sedihku dan mampu membuatku semangat lagi.
Tidak ada yang tau hal ini kecuali ayahku dan seorang teman lamaku. Setiap kali aku pergi ke taman bunga di bukit dan menemukan kakak kelasku yang cantik selalu menangis di sana, aku selalu memberikan permen yang sama untukknya.
“Kakak apa mereka menjahatimu lagi? Makanlah ini... Mungkin bisa mengurangi rasa sedihmu. Bersemangatlah!!” Aku langsung teringat saat aku memberikan permen itu pada sahabat tanpa nama masa kecilku dulu.
“Manager Wang????!!!” Jantungku serasa berhenti berdetak.
***