
Pagi ini aku benar-benar berbeda dari biasanya karena aku begitu ceria saat di kantor. Tau kan karena apa? Sampai-sampai bibirku tersenyum-senyum sendiri tanpa bisa ku kontrol.
Aneh kan? Sesekali aku menggoyangkan kedua tanganku mencoba mengipasi wajahku karena merasa pipiku benar-benar memanas jika mengingat hal kemarin.
Ah tidak... tidak aneh. Aku tak mau lagi berpikir aneh dan malah menjerumuskanku ke seorang psikiater lagi karena berpikir aku telah kelainan jiwa.
Betapa memalukannya pergi ke psikiater karena cinta? tawa psikiater itu masih terekam dengan jelas. Pasti dia berpikir bahwa aku ini benar-benar bodoh.
Oh no! No more Psychiatrist. I’ve done with it.
Sekarang belajar memahami diri sendiri saja. Karena ternyata aku sebenarnya tidak begitu paham dan peka terhadap diriku sendiri. Makanya aku juga tidak begitu peka dengan orang lain.
“YA ZHANG XIUMEI!!!!” sebuah teriakan mengarah kepadaku bersamaan dengan mendaratnya tumpukan satu rim kertas di atas kepalaku.
“AKK!!” aku merintih sembari mengusap-usap ubun-ubunku yang mungkin sudah mengalami dislokasi karena tertimpuk satu rim kertas.
Ling telah berada di depan meja kerjaku sambil berkacak pinggang. Terlihat begitu marahnya dia.
“Hish dasar ibu tiri ini.” aku menggerutu kepadanya.
“Kau ini. Apa kau sudah tak waras? Ha? Berapa kali aku menelponmu kemarin? Berapa kali aku mengirimimu pesan? sudah tak terhitung Mei. Dasar kau ini memang gila! Kau gila!” ucapnya sembari memukuli pundakku, kali ini dengan gulungan kertas bukan dengan rim kertas lagi.
"Ya.... sakit tau..." Aku mencoba mengelak.
“Kau tau aku sangat khawatir sekali denganmu bodoh! Kau tak tau betapa hancurnya aku saat berusaha menghubungimu namun kau tak meresponnya? Aku ingin pergi ke rumahmu karena khawatir kau sakit parah. Tapi aku tak tau di mana rumahmu sekarang. Aku menemui Huan di sekolah dan bertanya padanya di mana rumahmu yang sekarang, tapi dia malah memalakku dan pada akhirnya aku malah tidak mendapatkan alamatmu. Auch... Dasar anak SMA itu. Mau aku cincang saja rasanya.” Ling mendengus jengah. Sepertinya dia masih terlihat kesal sekali.
Namun mendengarnya aku malah tertawa terbahak-bahak.
“Ibu tiriku sudah mengocehnya?” Aku malah suka melihatnya seperti ini.
“Auchh.... dasar anak ini.” Dia mengangkat tangannya seolah ingin memukulku lagi namun tidak jadi melakukannya dan membanting gulungan kertas ke atas mejaku kesal.
“Lihat kan aku tak apa-apa? Sudah ku bilang aku hanya anemia biasa. Karena beberapa hari ini aku tak berselera makan.” Ucapku pada Ling menjelaskan, padahal aku tidak terkena anemia.
Yang lebih jelasnya aku terkena Syndrom kangen. Kangen karena ditinggal Jin pergi ke Hunan. Padahal baru setengah hari. Tapi efeknya benar-benar terasa sungguh luar biasa.
“Tetap saja kau membuatku khawatir. Dasar bodoh.” Kekesalannya sepertinya belum berkurang.
“Ya Tuhan... aku minta maaf.” Aku beranjak berdiri kemudian memeluknya dari samping erat dan memanja.
“Jangan buat aku khawatir lagi. Aku takut kau bunuh diri.” Ucapnya tiba-tiba hampir menangis.
“Hmmpfffhhh.” Aku menahan tawa namun tak berhasil dan pada akhirnya malah tertawa.
“Yaa... aku serius.” Ucap Ling gemas. "Aku takut kau benar-benar bunuh diri." raut muka Ling berubah sedih lagi.
“Buat apa aku bunuh diri? Heum? Kau ini ada-ada saja.” aku tersenyum kemudian kembali duduk.
“Tunggu...!” Ling sepertinya menyadari sesuatu. Dia mulai mengamatiku dari ujung kaki hingga ujung kepalaku. “Biasanya kau tak pernah memakai lipstik saat ke kantor?”
Aku terkejut dan begitu geragaban mendengar pertanyaan Ling. Aku salah tingkah.
“Hei... aku selalu pakai. Tapi apa salahnya kalau aku pakai dengan warna yang sedikit kentara?” aku tersipu-sipu bingung.
Pipiku rasanya mulai memanas. Pasti terlihat merona.
Tentu saja lebih cantik. Jadi... cerita sebenarnya adalah... kemarin, sepertinya aku tak menyadari jika bibirku sampai terluka. Dan pagi ini, aku yang biasanya hanya pakai shimer tint mencoba memberanikan diri pakai lipstick warna golden coral untuk menutupi lukanya.
Reaksi Jin? ini yang membuatku tersipu. Dia bilang... aku terlihat sangat.... sangat.... cantik. Lebih cantik dari bunga plum yang bermekaran, Lebih indah dari pelangi di kala pagi dan.... lebih manis dari madu bunga Heather. Mengingatnya membuatku tersipu-sipu lagi.
“Tunggu....!” Ling memperhatikan aku lagi hingga membuatku terkejut dan kebingungan.
Kalau sudah begini urusannya bakalan panjang. Ling tak akan menyerah sampai aku cerita.
“Jangan bilang kau berhias karena kau sedang jatuh cinta kan?” dia menebak lagi.
“A.. apa?” Aku geragaban, gugup dan bingung bagaimana harus mengatasi Ling yang rasa ingin tahunya sangat tinggi.
“Kan.. pipimu langsung memerah. Kau juga tersenyum-senyum sendiri tanpa sebab. Jangan bilang... kau makin jatuh cinta dengan manager Wang.” Ling mengernyitkan kening seraya menatapku tajam menuelidik.
CTAK!
Sentilanku mendarat mulus di kening Ling.
“Jangan bercanda.” Aku mendengus. “Aku sudah menikah. Aku harus menjaga komitmenku. Aku tak mau dicap sebagai Istri tak tau diri. Kan aku sudah mempunyai suami yang melebihi standart tipe gadis-gadis pada umumnya. Buat apa aku masih mengejar pria Lain. Lagi pula.... yang kita bayangkan sebelumnya tentang hidupku yang akan berjalan seperti biarawati, sepertinya itu tak akan terjadi.” Aku tersenyum sumringah tanpa sadar.
“Ahhh....” Ling langsung melongo kemudian menutup mulutnya dengan tangan.
Refleks. Sepertinya dia menyadari sesuatu.
“Ka... ka.. kau???” dia tak bisa berkata dengan jelas.
Sepertinya dia benar-benar terkejut dan shock. Matanya yang bulat dan besar terlihat melotot seakan-akan hampir melompat meninggalkan kelopaknya.
“Apa?” aku balik bertanya padanya gugup dan berlagak seperti tak terjadi sesuatu.
“Pantas saja kau aneh sekali hari ini. kau...kau...????” dia tak bisa melanjutkan kata-katanya lagi tak percaya.
“Apa sih Ling?” Aku menyadari kebodohanku karena memberikan clue pada Ling. “Tidak, maksudku... “
“Xiumei??? Kau sudah sehat?” Belum sempat aku melanjutkan kalimatku manager Wang muncul dan mendatangi mejaku. Aku dan Ling terkejut bukan kepalang.
“Ahh.... pagi manager. Aku... mau melanjutkan pekerjaan dulu. Byebye...” Ling kabur begitu saja meninggalkanku berdua dengan manager Wang.
Tanganku berusaha menahan Ling namun Ling lolos begitu saja.
“Ah... se... lamat pagi manager.” Aku mengucapkan salam bingung dan canggung yang semua berkumpul menjadi satu.
“Kau belum menjawab pertanyaanku.” Ucapnya serius.
“Ah.... Seperti yang manager lihat, saya sangat sehat.” aku tersenyum sumringah meski sebenarnya aku tengah kebingungan.
Bingung harus bagaimana. Situasinya benar-benar tak memihakku.
“Kau tau aku sangat mencemaskanmu Zhang Xiumei.” Ucapnya kemudian tanpa aku antisipasi sebumnya.
Deg!
‘Ini dia. Ini adalah ancaman untukmu Mei.’ Aku merutuk dalam hati.
***