WE GOT MARRIED

WE GOT MARRIED
Chapter 10 CIUMAN PERTAMA



“Kenapa kau datang ke mari? Bukankah kau sedang berkencan?” aku menggerutu sebal kepadanya dengan mata tertutup.


“Apa kau marah?” tanyanya pelan.


“Kenapa aku harus marah padamu?” Aku bertanya balik padanya dengan perasaan malas dan masih dalam posisiku tanpa membuka mata. “Kalau kau mau berkencan, ya kencan saja. Kenapa kau mesti bilang padaku kalau kau sedang ada meeting? Kenapa kau harus berbohong? Toh dalam perjanjian pra nikah yang telah kita tanda tangani tidak ada larangan bagi kita untuk berkencan dengan orang lain sebelum pernikahan berlangsung. Eum... Kalau begitu... apakah sebaiknya aku juga? Kan Mumpung aku belum menikah.” Aku membuka mata namun masih dalam posisiku semula.


“Apa??? Tidak. Tak boleh... kau tak boleh berkencan dengan orang lain sebelum atau bahkan setelah kita menikah.” Ucapnya terdengar kesal sedikit kesal.


“Kenapa? Kenapa kau boleh berkencan sedangkan aku tidak?” aku sontak duduk dan melihatnya yang kini berada lebih rendah dariku karena dia berjongkok di samping tempat tidur. "Apakah ini adil menurutmu???" Aku ternganga tak percaya mendengar penolakannya.


“Tentu saja aku tak mengizinkannya. Karena kau akan menikah denganku. Kau akan menjadi istriku” Ucapnya tegas sehingga membuatku kehabisan kata-kata.


Aku semanking tercengang mendengar penjelasannya yang merugikan bagiku dan menguntungkan baginya. Ini benar-benar tidak adil kan?


Dadaku mulai sesak. Mataku sepertinya mulai buram karena pandanganku terhalan oleh air yang berusaha menyeruak keluar.


“Kau... Kau.... tega sekali padaku. Tidak kah kau berpikir bahwa itu sangat keterlaluan untukku?” aku mulai terisak.


Aku sudah tak bisa lagi menahan sesak dan panas di dadaku.


“Mei...." Dia memanggil namaku untuk pertama kalinya. "Dia... hanya teman sekelasku dulu saat SMA. Apa kau tidak mengenalnya? Dia dulu sangat populer loh.” dia beralih duduk di tempat tidurku tepat di sampingku.


Sebenarnya dia ke sini mau apa? Apa maksudnya?? Apa dia datang hanya mau menyanjung wanita teman SMA nya yang populer itu? Dan mengatakan padaku bahwa aku tak boleh berkencan sedangkan dia boleh???


“Peduli apa aku? Mau dia temanmu? Kolegamu? Pacarmu? kekasihmu atau sekedar teman kencanmu? Aku tak peduli dan tak mau peduli.” jawabku kesal dengan masih terisak pelan. “Ya... Kenapa kau tak menikah saja dengannya? kenapa kau harus menikah denganku?? Katakan pada ayahmu kau mau menikah dengannya.” ucapku lagi sambil membalikkan badan beranjak beranjak untuk rebahan lagi memunggunginya.


“Kau marah kan?” tanyanya lagi sembari tersenyum tipis yang tak bisa aku artikan.


Apa dia meledekku??


“SUDAH KU BILANG AKU TAK MARAH!!” teriakku geregetan spontan duduk menghadapnya dan melempar bantalku padanya sekencang mungkin.


Dia menangkap bantalku dengan santai dan malah tersenyum puas menatapku bertingkah seperti itu.


“ADA APA DENGANMU?” aku berteriak lagi.


Kali ini sepertinya tandukku benar-benar keluar. Ya sepertinya aku memang marah.


Dan lagi... dia hanya terkekeh dan tetap menatapku dengan tatapan yang... entahlah.


“Meeting macam apa itu pakai cium-cium pipi kanan, pipi kiri? Peluk sana peluk sini? Ya Tuhan... Pakaiannya saja seperti mau pergi clubbing? dandanannya saja seperti.... Ish... Kenapa kau tak menikah saja dengannya? Bukankah dia lebih cantik? Bukankah dia lebih seksi? Bukankah dia lebih lebih dan lebih lagi dariku.” aku mengeluarkan semua yang ada di pikiranku tanpa bisa ku kontrol. Ya Tuhan... ada apa denganku? “Dia yang kau kencani kenapa aku yang akan kau nikahi? Kau tamak sekali.” Aku menangis meraung dengan keras.


Aku sendiri tak tau ada apa denganku??? Aku kenapa???


Tapi anehnya dia malah semakin tersenyum lebar dan malah menatapku tanpa berkedip.


Apakah menurutnya aku tengah melucu??? Apakah baginya ini hanya sebuah lelucon???


“Apa kau gila? Kenapa kau malah tersenyum seperti itu? Apa menurutmu ini lucu??? Ya... pergi sana... pergi!!! aku tak mau melihatmu. Pergi... aku mengikhlaskanmu menikah dengannya. Ikhlas sekali. Menikah saja dengannya. Pergi...” aku memyuruhnya pergi dan mendorongnya sekuat tenaga agar dia beranjak pergi.


Tapi apa??? tiba-tiba tanganku yang mendorong dadanya malah ditarik olehnya dan....


Aku terdiam tak bisa melanjutkan perkataanku. Aku terkejut. Bibirnya? Menyentuh bibirku?? Lembut... Mataku terbelalak tak percaya.


“Ini apa?” aku terkejut mendapatkan perlakuan spontan darinya dan berusaha menjauhkan kepalaku darinya. Tangisku berhenti seketika.


Chup...


Sekali lagi dia mencium bibirku kilat. Dan lagi aku terpaku tak dapat bergerak. Aku tak percaya ini. Aku seperti terhipnotis olehnya. Kaki dan tanganku lemas seketika.


Tunggu...! Apakah ini ciuman yang kedua kalinya? Jadi... ciuman pertama dan keduaku??? Jinyi????


“YA!” aku berteriak padanya setelah tersadar sepenuhnya. Jantungku berdegub sangat kencang. Napasku tak beraturan.


Tidak itu bukan ciuman. Itu hanya sebuah kecupan. Aku mencoba menghibur diri.


Chup...


Ketiga kalinya... Dan ini sedikit lebih lama. Dan... sedikit....


Tidak... kenapa tubuhku jadi lemas begini? Aku ingin menamparnya tapi kenapa Aku hanya terbelalak tak percaya dan malah menyukai bibirnya yang lembut menempel di bibirku. Tidak... ini tak hanya terasa menempel.


“YA... Feng Jinyi!!” aku tersadar dan mendorongnya. Dengan spontan kedua tanganku langsung membekap mulutku takut kalau dia mencurinya lagi untuk yang ke empat kalinya.


Dia hanya terkekeh sembari menatapku, membuatku merasa ingin sekali memukulnya.


“Ya... kau???? bisa-bisanya kau dengan mudahnya mencurinya dariku? Ini harusnya jadi ciuman pertamaku dengan seseorang yang aku sukai, tidak!! Bahkan yang ke dua dan ke tiga kau ambil juga.” ucapku dengan napas tak beraturan menahan emosi yang mulai meledak-ledak.


 


“Mentang-mentang kau sudah sering kali melakukannya, seenaknya saja kau merampas milikku. Dasar kau pria brengsek... aku bukan wanita murahan.” Aku mulai memukulinya dengan bantal dengan sangat brutal.


Dia tak menghindar atau marah atau bahkan membalas. Dia hanya pasrah menerima perlakuanku yang tengah menganiayanya. Lama kelamaan aku lelah dan sepertinya aku mulai menangis lagi.


“Kau benar. Aku lupa ini ciumanku yang ke berapa? Karena aku tak pernah menghitungnya.” ucapnya santai sekali dengan senyuman aneh yang mengembang. Senyuman yang terasa dingin.


Bukankah ini namanya pelecehan?


“Dasar kau...” aku serasa ingin sekali memelintirnya karena geregetan. Tapi... kemudian hal itu aku urungkan dan malah membuatku menangis kencang meraung-raung. “Bisa-bisanya kau melakukannya padaku... ini bahkan yang pertama bagiku... kau jahat sekali...! ibuuuuu.....” Aku menangis sekencang mungkin. “Pergi kau! Aku tak mau menikah denganmu. Kau jahat sekali.” Aku mendorongnya agar beranjak dari tempat tidurku.


Lagi dia malah menarik tanganku, tapi kali ini dia menarikku ke dalam pelukannya erat serta mengunciku hingga aku tak bisa bergerak untuk mencoba memberontak melepaskan diri dari pelukannya. “Aku benci denganmu.” Ucapku seraya menangis meraung-raung pasrah pada akhirnya.


Padahal aku menangis meraung sangat kencang, tapi kenapa ibuku atau Huan tidak masuk ke kamarku untuk memastikan apa yang tengah terjadi denganku, dengan anak perempuan satu-satunya yang harus dijaga kehormatannya.


Tapi sepertinya mereka malah cuek dan santai-santai saja. Tidak kah seharusnya mereka akan segera mengecek apa yang terjadi denganku. Tidak.. bahkan mereka mengijinkan orang asing masuk kamarku begitu saja. Apakah mereka berkomplot? Keluarga macam apa ini?


 


****