
Perutku benar-benar tak bisa di ajak untuk berkompromi. Ini sudah yang ke tiga kalinya aku muntah selama menunggu panggilan masuk ke ruang periksa dokter.
Dan tak tanggung-tanggung langsung periksa ke dokter spesialis dalam. Mungkin orang akan berpikiran jika aku ini terlalu ribet, tapi memang itulah aku. Aku merasa khawatir jika aku langsung datang ke dokter kandungan ternyata aku malah sakit bukannya hamil. Akhirnya aku down dan pasti akan menjadi sangat menginginkannya.
“Nyonya Feng Xiumei.” Seorang perawat dengan ramah memanggil namaku.
“Iya, saya suster.” Jawabku parau sembari mengangkat tangan kananku rendah.
“Baik, mari silahkan masuk bu.” Dia mengajakku masuk ke dalam.
“Baik, ibu apa yang di keluhkan?” Tanya dokter ramah.
“Begini dokter, saya selama beberapa hari terakhir... eum... kurang lebih mungkin sekitar dua minggu terakhir saya sama sekali tak mempunyai nafsu makan. Dan tiga hari terakhir ini saya sering merasa mual dan selalu muntah. Ketika mencium bau-bau tertentu saya langsung terpancing hingga perut saya bergejolak tak karuan dan pada akhirnya saya muntah. Saya juga sering memakan buah masam untuk mengurangi rasa hambar dan mual, apakah mungkin karena hal itu lambung saya terserang maag atau bagaimana?” aku menjelaskan panjang lebar apa yang aku rasakan.
“Begitu?” Dokter memastikan kemudian beliau berpikir sesaat. “Sepertinya saya tidak ahli dalam hal ini, tapi mari kita periksa dulu apakah ada sakit yang lain atau tidak.” Ucap beliau memberikan saran.
Akhirnya aku menyetujuinya dan mulai berbaring. Perawat mulai mengecek tekanan darahku, sepertinya sangat rendah karena hanya 98/70. Kemudian Perawat mempersiapkan alat ultrasonografi.
Dokter kemudian mendekat dan mulai meletakkan stetoskop di dadaku, setelah dirasanya cukup, dokter mengambil alat ultrasonografi yang sudah dioleskan gel di sana. Perutku pun demikian. Hampir seluruhnya diberikan gel. Pertama mendeteksi ginjal, kemudian bagian-bagian lain. Beliau sedikit terbelalak hingga membuatku sangat khawatir. Namun kemudian beliau tersenyum tipis.
“Sudah selesai, mari.” Beliau mengajakku untuk duduk kembali.
“Untuk tekanan darahnya saya rasa cukup rendah, karena kurangnya asupan nutrisi anda juga mengalami kekurangan darah sehingga sedikit mengalami anemia. Untuk bagian jantung, mungkin karena badan anda lemas jadi tekanannya juga melemah, untuk ginjal, paru dan hati saya rasa tidak ada keluhan lain. jika anda bertanya apakah ada Maag? Saya rasa memang ada tapi tidak begitu parah.” Dokter menjelaskan dengan sabar. “Tapi.... ada satu hal yang harus ibu periksakan lebih lanjut.” Dokter itu berkata sangat serius sehingga membuatku benar-benar merasa ketakutan.
“Apa dokter? Apa kah saya mempunyai penyakit lain yang lebih serius?” Tanyaku khawatir.
“Tidak... bukan seperti itu.” Dokter kemudian tertawa. “Saya bukan ahlinya tentang hal ini. tapi saya tahu sedikit tentang apa yang ibu alami. Jadi agar jawabannya lebih meyakinkan, ibu sebaiknya periksa ke Dokter Obstetri dan Ginekologi.”
“Apa? Dokter kandungan?” Aku masih bingung. Obstetri dan ginekologi itu bukannya dokter kandungan? Jadi??? aku semakin berdebar-debar ketika dokter tersebut menyebutkan kata obstetri dan ginekologi. Antara berharap dan takut.
“Iya, saya akan menuliskan surat pengantar. Biar asisten saya yang mengantarkan anda ke ruangan dokter Zhao yang berada di ruangan sebelah jadi anda tidak perlu menunggu.” Ucapnya sepertinya sangat senang.
Aku pun mengikuti perintahnya dan undur diri. Tak berapa lama aku sudah berada di ruang obgyn dan bertemu dengan dokternya. Beliau seorang perempuan seumuran dengan ibuku. Sepertinya sangat ramah juga. Dari balik kaca matanya dia menatapku tajam tapi terkesan ramah dan lembut.
“Baik... apakah ibu sudah melakukan tes urine?” Tanyanya ramah.
Dokter Zhao Yue, suaranya benar-benar lembut. Aku seperti tersihir dan sangat menyukainya. aku pun yang semula merasa tegang kini berubah menjadi lebih santai.
“Urine?” tanyaku bingung. “Ahh... belum dokter.” Ucapku kemudian menyadari sesuatu.
“Tapi sebenarnya tak apa-apa. Kita lihat langsung saja ya?” beliau menyarankan dengan senang hati.
Aku mengangguk dan mengikuti asistennya. Seperti saat di dalam ruang dokter yang sebelumnya. Aku juga melakukan ultrasonografi, tapi ini lebih fokus ke arah perut bawah pusar yang ku rasakan sedikit tegang.
“Ibu... lihat...” Ucapnya sembari menunjukkan monitor besar yang berada di hadapanku.
Aku pun melihat tak mengerti. Ada gambar seperti sebuah bola kecil tapi tidak bulat sempurna tidak juga seperti telur yang berbentuk oval, sesuatu itu berwarna hitam di sana.
“Nah... apakah gambar ini jelas?” Dokter merubah gambar yang semula berwarna hitam dan putih saja berubah menjadi warna kuning dan hitam dan berbentuk lebih detil dari yang sebelumnya. Sepertinya ini yang dinamakan dengan USG 3 Dimensi sehingga membuat gambarnya terlihat jelas.
Aku menoleh ke arah dokter itu bingung. Dokter itu melihatku masih dengan senyum mengembang di wajahnya.
“Ibu perhatikan panah mouse saya, ini... adalah rahim ibu. Sangat bersih dan juga sehat.” Dokter menggerakkan panah mousenya menunjukkan padaku. “Dan ibu bisa melihat ada sesuatu seperti bola di sini? Ini besarnya hanya sebiji kedelai, tapi... jika ibu dengan baik menjaga dan merawatnya maka sesuatu itu akan semakin tumbuh dan berkembang. Ini adalah embrio yang nantinya akan berkembang menjadi janin dan kemudian akan terlahir sebagai bayi.” Dokter Zhao menjelaskan dengan semangat.
Mendengar itu aku membelalakkan mata mencoba mencerna apa yang dokter itu katakan.
“M..maksud dokter Zhao.... apakah saya hamil?” Tanyaku tak percaya.
Dokter Zhao hanya tersenyum kemudian mengangguk.
“Sungguh?” Aku akhirnya tak bisa menahan bibirku yang tiba-tiba tersenyum dengan sendirinya. “Jadi saya tidak sakit dokter? Jadi saya hamil???” Tanyaku masih tak percaya tapi merasa sangat senang sekali.
“Benar. Dan ini... usianya masih memasuki minggu ke delapan. Jadi ibu harus sangat hati-hati. Banyak istirahat, olah raga ringan secukupnya saja. makan yang teratur. Jika memang kesulitan makan, minum susu penunjang biar nantinya baby mendapatkan asupan gizi yang cukup. Ahhh... untuk buah-buahan, memang baik. Tapi...njangan terlalu banyak ya? Secukupnya saja. Nanti kalau maagnya lebih parah bisa bahaya juga ke babynya.” Dokter menjelaskan.
Aku masih tersenyum senang tak percaya. Jadi aku benar-benar hamil? Aku tidak sakit? Aku hamil buah cintaku bersama Jin? Ya Tuhan... aku sungguh tak percaya dengan ini.
Aku bahkan sampai takut untuk memeriksakannya langsung ke dokter kandungan. Ternyata aku beneran hamil. Aku benar-benar sangat senang tak terkira.
Hari ini adalah tepat empat bulan setelah kami menikah dan Tuhan memberikan hadiah yang tak ternilai harganya. Aku benar-benar merasa senang sekali.
Sepulang dari rumah sakit aku masih tersenyum-senyum sendiri di dalam taksi sambil melihat foto hasil ultrasonografi oleh dokter Zhao tadi. 'Sesuatu hitam kecil ini... adalah anakku.' Aku terus mengusap-usap gambar itu antara senang dan tak percaya.
Jin? Aku akan memberinya kejutan. Pasti dia akan sangat senang sekali.
Aku memasukkan foto dan hasil pemeriksaanku tadi ke dalam sebuah kotak coklat lucu bergambar boneka beruang kecil-kecil yang aku beli di toko di depan rumah sakit. Aku berencana akan memberikan kado ini kepadanya.
“Pak... kita ke Empire elektronics ya?” Aku menyentuh pundak pak sopir pelan memberi tahu.
“Baik bu.” Ucap sopir itu ramah mengiyakan.
Bayangan Jin yang tersenyum senang terus terngiang dibenakku.
'Jin.... aku mengandung anakmu.' Gumam senangku dalam hati.
***