
Ah... ada yang aneh pada diriku. Kenapa aku sangat ingin sekali mengetahui apa yang mereka bicarakan. Aku sangat ingin sekali berada di sana. Dan anehnya aku begitu sebal melihat gadis itu. Mungkin karena terlalu sempurna atau apa. Anggap saja demikian.
Kenapa hatiku tiba-tiba memanas. Oh no! jangan-jangan aku terkena penyakit hati? Hisssh... berpikir apa aku ini?
Bagaimana tidak? Aku hanya berpostur 155cm dengan berat badan hanya 43kg, dada yang begitu datar, bokong yang kempes. Ahhhh... sangat jauh dari wanita itu.
Wajar saja kalau aku merasa panas. Tunggu! aku yakinkan diriku bahwa aku merasa panas hanya karena merasa iri dengan kesempurnaan wanita itu bukan yang lain.
“Kau ada di mana?” tiba-tiba saja tanpa sadar aku mengeluarkan ponsel dan telah mengirimkan pesan singkat pada Jin. Seketika aku begitu terkejut saat aku menyadarinya. Dan sayangnya pesan itu sudah terkirim dan telah dibaca olehnya.
“Ah.. bodoh! Apa yang baru saja aku lakukan?” aku menggerutu sendiri bingung menatap ponsel di tangan.
Rasanya aku ingin menghilang saja dari sini dan bersembunyi. Kenapa aku bisa ceroboh begini?
Tring...
“Aku sedang ada rapat, kenapa?” sebuah pesan balasan ku terima dan langsung membuat mataku terbelalak tak mempercayai apa yang aku baca.
Rapat??? Dasar pria pembohong. Yang benar saja? Apakah rapat harus berada di sebuah cafe? harus berdua saja?
Tunggu! kenapa aku menjadi gerah dan merasa ingin sekali menghampiri Feng Jinyi dan menjambak rambutnya. Tidak hanya menjambaknya, aku juga ingin mencubit pipinya, menggigit tangan dan telinganya biar dia kapok dan tak akan pernah berbohong lagi. Tapi rasanya tak mungkin. Karena disentuhnya saja aku merasa seperti tersetrum kilat yang berbahaya.
Satu hal.yang harus dia ingat dan harus dia tau. Aku paling tak suka kalau dibohongi.
“Dia sedang rapat? Dia bilang rapat?? Dengan gadis secantik itu?” tiba-tiba aku bertanya dengan gemas pada pelanggan lain yang berada di dekatku. Terkejut, pelanggan itu langsung merasa sedikit takut kepadaku yang tiba-tiba saja mengomel tak jelas, padahal kami tidak kenal. Aku memang semakin aneh.
Lagi, tanpa berpikir panjang aku langsung memfotonya dengan kamera ponselku. Aku Zoom out penuh agar mereka berdua terlihat jelas.
“Rapat yang teramat sangat romantis ya?” aku mengirimkan foto itu dengan pesan tertulis, kemudian aku beranjak pergi dari tempat itu dengan menghentikan taksi yang secara kebetulan lewat di depan mataku. Tak tau kenapa aku jadi semarah ini.
Ini benar-benar di luar kendaliku. Aku seperti bertindak tanpa berpikir terlebih dahulu.
Kenapa aku juga merasa sangat sebal sekali? Ah tak tau apa yang terjadi padaku. Dan yang paling mengesalkan, karena kekesalanku yang tak beralasan, aku akhirnya tak jadi membeli novel baru yang semula ku rencanakan.
Tring...
“Kau di mana?” pesan balasan ku dapat lagi darinya.
Tring...
“Kau cemburu?” Belum sempat membalas pesan berikutnya ku dapat lagi.
Dan aku semakin merasa sebal. Apa dia bercanda? Aku cemburu??? padanya??? No! aku tak mungkin cemburu, tak masuk akal sekali jika aku cemburu padanya yang baru beberapa hari ku kenal.
Aku pun sudah tak berhasrat lagi untuk membalas pesan tersebut.
Sopir itu hanya mengernyitkan dahinya bingung karena tak tau dia harus bersikap apa padaku yang terus mengomel tak jelas.
Kenapa dengan diriku?? kenapa aku sangat aneh seperti ini?
Sesampainya di rumah aku langsung saja masuk ke dalam kamar.
"Eh sudah pulang? ibu buat..." Sapa ibuku dan tak melanjutkan sapaannya saat melihatku yang berwajah masam dan kesal. Aku pun tidak menghiraukannya dan tak membalas sapaan ibuku. Aku benar-benar mengabaikannya.
Bisa dibayangkan, kurang beberapa hari dari tanggal pernikahan yang telah di tentukan. Tapi apa?? dia malah enak-enak saja meeting atau apa lah... dengan perempuan seksi macam itu. Apakah dia tak tau? Aku saja menahan diriku dengan manager Wang agar aku tidak terlalu dalam menyukainya, eh dia malah seperti itu. Kan jahat itu namanya. Gak adil kan???
'Baiklah... kalau dia saja bisa berkencan meskipun telah terikat, maka aku juga akan berkencan. Dengan siapa?? dengan pria tentunya. Lihat saja...' aku terus saja menggerutu kesal dalam hati sembari melemparkan tasku tak karuan.
Aku mulai merebahkan tubuhku di tempat tidur setelah berganti piyama tokoh kartun kesayanganku. Moodku untuk membaca novel pun sudah sirna begitu saja.
Aku memiringkan tubuhku dan memeluk teddy besarku berusaha memejamkan mataku agar aku bisa tertidur.
Mataku memejam, namun aku tetap tak bisa tidur. Pikiranku terus saja teringat pria brengsek sialan itu.
Setengah jam berlalu dan aku hanya kesal saja tanpa alasan. Membolak balikkan tubuhku tak nyaman. Berguling ke kanan ke kiri dengan mata terpejam mencari posisi yang nyaman agar aku lekas bisa tidur dengan nyenyak.
Cklek!
Terdengar suara pintu kamarku terbuka, sepertinya seseorang tengah mengintip ke dalam kamarku. Aku masih enggan membuka mata.
Tak berapa lama ku dengar pintu itu tertutup kembali. Tidak ada suara langkah kaki berarti tidak ada orang masuk ke kamar. Pasti ibuku hanya memeriksaku. Biasanya seperti itu. Mengintipku dari pintu kemudian pergi.
Cklek!
Tak berapa lama ku dengar lagi suara pintu kamarku dibuka oleh seseorang. Tapi kali ini berbeda. Karena aku mendengar suara langkah kaki berjalan pelan mendekati tempat tidurku.
Aku berpikir bahwa Ini pasti Huan yang tengah memintaku untuk mengajari tugas-tugas sekolahnya. Aku masih diam tak bergeming dan tetap tidur miring menutup mataku.
Tak berapa lama ku rasakan seseorang menyibakkan anak-anak rambutku sehingga membuatku ingin sekali membuka mata untuk memastikan siapa kiranya yang melakukan hal ini. Karena Huan tak akan pernah selembut ini. biasanya dia akan langsung memukulku dengan bantal atau guling untuk membangunkanku.
Akhirnya pertahananku runtuh juga. Perlahan mataku mulai membuka. Dan... sosok yang pertama ku lihat adalah dia. Ya dia rupanya. Dia tengah berjongkok dan menatapku. Bibirnya menyunggingkan senyum tipis membuatku merasa semakin kesal.
Kenapa dia ke mari? Ke kamarku? Ahh... pasti aku telah tertidur dan tengah bermimpi.
Kenapa harus memimpikan dia? perlahan ku buka mataku lagi. Dan ternyata pemandangan yang sama seperti sebelumnya. Sigh! Aku mendesah pelan. Ini bukan mimpi. Dia benar-benar ada di kamarku. Aku benar-benar merasa jengah melihatnya. Aku biarkan saja dia di sana dan aku menutup mataku kembali.
***