WE GOT MARRIED

WE GOT MARRIED
Chapter 58 KONFLIK BARU



 


Sudah beberapa hari nafsu makanku benar-benar berkurang. Aku tak tau kenapa, sepertinya aku mulai tak enak badan. Mungkin karena aku terlalu lelah atau bagaimana. Karena nafsu makanku yang benar-benar memburuk akhirnya semua itu berimbas pada maagku.


 


Aku sering merasakan pusing yang teramat sangat. Perutku terasa begah dan benar-benar tak nyaman.


Mulutku terasa hambar hingga terkadang menimbulkan mual.


"Hei... kau tak pernah makan siang akhir-akhir ini, Kau juga terlihat sangat pucat. Apa tidak sebaiknya kau pergi ke dokter saja?" Ling menyarankan dan terlihat sangat khawatir.


"Tidak.... Aku baik-baik saja. Aku hanya sedikit mengalami maag Ling. Kau makan saja dulu." Ucapku padanya meyakinkan.


"Kau yakin?" Ling masih terlihat khawatir.


"Yakin..." Ucapku lebih meyakinkan.


"Baiklah kalau begitu.... aku pergi dulu ya...." Ling melambai hendak pergi.


"Ling tunggu..." Aku memanggil Ling kembali.


"Iya sayang....?" Ling berbalik.


"Belikan aku jus lemon tanpa gula, pakai madu sedikiiiiiiit saja, ya?" Mendengar permintaanku Ling mengernyitkan keningnya.


"Hei.... perutmu sedang tak nyaman karena maag, kenapa malah meminta jus lemon? tanpa gula pula. Mau bunuh diri eoh?" Dia terlihat kesal.


"Sudah cepat sana.... jangan bawel." Aku mendorongnya pergi.


"Iya.... iya.... aku pergi!" Ling akhirnya menurut dan pergi ke kantin.


Sembari menunggu Ling menyelesaikan makan siangnya aku berjalan menuju lift untuk beranjak ke rooftop. Namun setelah lantai 37 aku harus berjalan menaiki tangga untuk mencapai rooftop.


Sesampainya di atas atap, angin berhembus semilir menyambutku. Hingga membuat rambutku berterbangan tak karuan. Aku melihat ponsel. Tiba-tiba Ingin rasanya aku menghubungi Jinyi, rasanya aku benar-benar merindukannya.


Namun aku urungkan niatku untuk menghubunginya karena tadi pagi dia bilang akan ada rapat. Jadi aku tak mau mengganggunya.


"Sayang aku rindu...." Akhirnya aku hanya mengirimkan pesan singkat padanya.


Aku menghela nafas panjang dan berbalik hendak kembali ke tempatku bekerja. Tapi mataku langsung tertuju pada seseorang yang tengah berdiri di sisi bersebarangan dariku. Dia sepertinya tak menyadari keberadaanku.


Dia terlihat menikmati pemandangan siang hari dari atas rooftop.


Ku lihat dia dari belakang untuk beberapa saat. Mataku akhirnya tertuju pada tangan kanannya yang tengah memegang sepuntung rokok. Perlahan aku mendekatinya dan berhenti sekitar lima meter darinya.


“Manager wang?” aku memanggilnya pelan namun mampu membuatnya terkejut dan berbalik ke belakang, ke arahku.


 


Aku benar-benar tak menyangka jika manager Wang adalah seorang perokok. Aku pikir dia adalah pria yang menjauhi hal-hal seperti itu.


 


“Mei???” Dia menyebut namaku kemudian tersadar dan membuang puntung rokoknya spontan.


“Sedang apa manager di sini?” Aku bertanya ingin tahu.


 


Inilah sifat burukku yang selalu merasa ungin tahu.


Aku tak mau ambil pusing tentang dia yang tengah merokok. Aku bisa memakluminya meskipun sebenarnya aku sedikit tak percaya dengan apa yang aku lihat. Aku berfikir jika itu hak dia jadi aku harus menghormatinya meskipun aku merasa tak begitu nyaman dengan pria perokok.


“Aku?? Hanya mencari udara segar. Kau sendiri?" Ucapnya membuat alasan dan berblik bertanya padaku.


 


"Aku? Ah... aku juga ingin menikmti udara segar." Ucapku salah tingkah sembari merapikan rambutku untuk ku selipkan di belakang telinga kananku.


 


“Permen itu...?” Aku tidak melanjutkan kalimatku, karena aku bingung harus memulainya dari mana. Jantungku berdegub sedikit lebih cepat. “Apakah itu manager?” akhirnya aku bertanya meskipun terdengar ambigu.


Manager Wang tak menjawab dan malah mengalihkan pandangannya dariku dan berbalik membelakangiku. Dia kembali melihat pemandangan sekitar gedung.


 


"Aku pikir kau melupakannya." Dia tak menjawabnya dengan pasti.


Deguban di jantungku kini berubah jadi tak menentu. Tapi aku juga merasa ada sedikit kelegaan di sana. Lega karena pada akhirnya aku menemukan sahabat lamaku.


 


“Sejak kapan manager mengenaliku?” Aku terus memberondongnya dengan pertanyaan.


Dia kemudian berbalik lagi mengahadapku.


“Apakah setelah aku mengatakannya kau akan berbalik ke arahku?” Manager Wang langsung memberikan pertanyaan tersirat.


 


Aku bingung dengan pertanyaan itu. Apa maksudnya?


“Apa maksud manager?” Aku mencoba meminta penjelasan padanya.


“Aku.... ingin kau melihatku lagi seperti dulu.” Ucapnya begitu mengejutkanku.


“Ma.. manager...”'Aku benar-benar bingung dan tak bisa berkata apa-apa.


“Aku mengenalimu pertama kali saat kita tergabung dalam team yang sama. Tapi... maaf aku tak mengatakan ini padamu. Sejujurnya... aku ingin sekali mengatakan bahwa aku merindukanmu. Dalam diam aku selalu memperhatikanmu. Melihatmu dari kejauhan, menantimu mengingatku. Namun sepertinya kau tak akan pernah mengingatku. Kau tau betapa senangnya aku saat mengetahui bahwa kau sangat menyukaiku. Hingga pada suatu hari aku melihat ada sebuah cincin di jari manismu. Dan saat itu pula aku menyadari bahwa aku terlalu bodoh yang selalu bersikap acuh padamu. Dan aku benar-benar bodoh karena hanya menunggumu tanpa melakukan apa pun.” Matanya terlihat menahan sesuatu saat mencoba menceritakan apa yang tengah terjadi padanya.


Aku mencoba mencerna apa yang manager Wang katakan. Tiba-tiba ada sedikit rasa perih di sisi hatiku. Rasa empati kah? simpati kah?


“Tu...tunggu manager....” Aku merasa bingung harus bagaimana.


“Aku merindukanmu Mei... sangat merindukanmu.” Ucapnya sembari berjalan mendekatiku.


 


Aku hanya terpaku tak bisa berkata apa-apa. Aku benar-benar berada dalam situasi yang sulit digambarkan.


"Kenapa.....???" Aku tak menjawab kerinduannya dan malah menanyakan lagi dengan ambigu.


"Mei.... Aku benar-benar merindukanmu.... Aku benar-benar menginginkanmu. Aku benar-benar menyukaimu Mei..." Mata manager terlihat mulai berkaca-kaca.


“Tidak manager. Ini tidak benar. Aku telah menikah. Kau tidak boleh seperti itu,” aku mengingatkan.


 


Aku sebenarnya juga sangat merindukannya, tapi rasa rinduku sepertinya tak sama dengan apa yang manager Wang rasakan. Aku mulai menangis. Aku merasa tersentuh oleh kata-katanya, tapi aku tak mau dia terus meminta harapan dariku.


“Aku tak peduli. Kau telah menikah ataupun kau telah punya anak aku tak peduli. Aku hanya menginginkanmu.”


Tiba\-tiba aku langsung merinding mendengar perkataan manager Wang. Ada yang salah padanya.


“Tidak manager, ini tidak benar. Ku mohon jangan seperti ini.” Aku bingung harus menjelaskan bagaimana lagi.


“Hanya ingin kau tau Mei, Aku benar-benar menyukaimu. Kapan pun... kau membutuhkanku... aku akan selalu berada di sampingmu. Kapan pun... Jika suamimu lelah padamu, aku akan selalu siap menerimamu. Dan satu hal.... Aku tak akan menyerah tentangmu.” Manager Wang berucap dengan menyentuh puncak kepalaku dan menatapku meyakinkan lalu pergi meninggalkanku yang masih terpaku akan kata-katanya.


Aku tak tau harus bagaimana lagi. Situasi ini.... telah mengobrak-abrik perasaanku.


 


***