WE GOT MARRIED

WE GOT MARRIED
Chapter 42 KENANGAN



Sebenarnya hari ini aku dan Jin ingin berkunjung ke rumah orangtuaku, namun kata mereka. Mereka sedang pergi ke pernikahan anak teman ayah. Sedangkan Huan katanya sedang ada acara di sekolahnya. Jadinya aku dan Jin tidak jadi pergi ke sana.


 


“Mei... tidak kah kau mau pergi berkencan?” Jin tiba-tiba memelukku dari belakang yang tengah membaca novel di teras. Kemudian dia mencium pundakku sayang.


Aku mengernyit menoleh ke arah Jin yang terlihat memanyunkan bibirnya.


“Berkencan??” aku berbalik bertanya padanya.


“Hu um...” Jin melepaskan pelukannya kemudian duduk di kursi depanku. “Ayo kita jalan-jalan.” Dia merengek seperti anak kecil. Ini sama sekali bukan seperti Jin yang aku tau saat sebelum menikah. Sangat Jauh berbeda. Dulu dia terlihat dingin dan kaku, sekarang dia terlihat manis dan imut saat sedang seperti ini.


“Ke taman bunga itu lagi?” tanyaku kemudian.


“Apa kau menyukai taman bunga itu?” dia berbalik bertanya.


“Hu um... sepertinya aku punya memori yang tak terlupakan di sana.” Aku tersenyum mengingat saat Jin menciumku.


“Iya... di sana kau sangat cemburu namun kau tak mau aku bilang cemburu.” Jin tertawa mengingatkanku akan kecemburuanku yang tak terbendung saat itu. Aku langsung berubah cemberut.


“Maaf...” ucapnya kemudian saat melihat ekspresiku yang semula tersenyum senang berubah menjadi cemberut dan kesal. Dia seraya menarikku agar aku duduk di pangkuannya. Dan merebut novel yang ku pegang untuk di taruhnya di meja kemudian mengeratkan pelukan tangannya di pinggangku.


“Taman bunga itu sekarang sudah jadi milikmu.” Ucapnya kemudian hingga membuat mataku terbelalak.


“Jangan bercanda. Aku tak pernah membelinya.” Ucapku tak percaya.


“Menurutmu aku bercanda?” dia malah bertanya padaku.


“Hu um.” Jawabku mantab dengan menatap matanya.


“Tidak sayang... taman itu sudah menjadi milikmu, awalnya tanah itu di tawarkan ke perusahan. Namun setelah melihatnya malah aku yang merasa tertarik secara pribadi. Karena aku pikir sayang jika dijadikan pabrik. Jadi taman itu sekarang menjadi milikmu bukan milik perusahaan.” Dia menjelaskan.


“Milikku? Bagaimana bisa?” Aku masih tak percaya. “Tanah seluas itu pasti sangat mahal sekali. Uangku tak akan cukup Jin.” Aku kebingungan.


“Mei sayang.... dengar.” Jin merengkuh wajahku agar menatapnya. “Aku yang membelinya. Untukmu. Aku tak memintamu membelinya sayang. Sejak menikah, kau tak mau aku beri uang. Kau juga tak pernah berbelanja atau apa pun dengan uangku. Kau tau, bagi seorang pria hal itu sangat menyedihkan. Jadi aku ingin memberikanmu sesuatu. Apapun... milikku adalah milikmu.” Ucapnya menjelaskan.


Memang benar, semenjak kami menikah aku selalu menolak jika dia ingin memberiku uang. Bukan karena apa, aku hanya merasa tak enak. Selain itu aku juga bekerja. Jadi aku tak mau menyulitkannya. Apa lagi, dia mempunyai karyawan yang banyak sekali. Dia harus memikirkan kesejahteraan karyawannya dulu. Meskipun uang perusahaan dan uang pribadinya sudah diatur secara terpisah.


“Sayang... maaf jika menyakitimu dan membuatmu sedih. Aku tak bermaksud demikian. Aku lebih suka membaca novel di rumah daripada berhura-hura belanja barang-barang yang tak perlu. Baju? aku masih punya baju yang layak. Make up? Kau tau aku tak pandai ber make up. Tas? Aku sudah punya banyak, sepatu juga. Jadi buat apa aku belanja? Semua sudah ada.” Aku mencoba menyelesaikan sedikit kesalah pahaman.


“Baiklah... hadiahnya aku terima dengan sangat senang. Tapi ini sedikit berlebihan. Lain kali berlaku lah sewajarnya. Terkadang manusia itu bisa berada di atas kemudian berada di bawah. Roda itu terus berputar. Sebaiknya, uangnya di simpan dan digunakan untuk beramal.” Aku berbicara panjang lebar menceramahi Jin.


Matanya menatapku tanpa berkedip, bibirnya tersenyum manis


 


.


“Kenapa? Apa aku mengatakan sesuatu yang salah?” aku bingung melihat reaksi Jin.


 


 


“Sepertinya aku benar-benar beruntung menikahimu." Jin menyanjungku. "Tapi Mei... sebenarnya, tentang beramal... aku juga sudah melakukannya.”


 


“Benarkah? kenapa aku tak tau?" Aku bergelayut manja padanya.


“Apakah perlu di sebarkan ke media sosial?” Jin bergurau.


“hishh,.... dasar! Tak boleh.” Aku menyentil keningnya pelan. “Kalau begitu mulai sekarang aku akan meminta jatah bulanan. Untuk membeli kebutuhan sehari\-hari.” Ucapku pada Jin kemudian.


“Memang sebaiknya begitu kan?” Jin mengernyit. Dan ku balas senyum. “Mei Apa kau sungguh menyukai taman itu?” Jin bertanya lagi.


“Hu um... Sangat menyukainya. Taman itu adalah situs bersejarah. Tentu saja aku sangat... sangat... sangat menyukainya.” Aku mengangguk dan tersenyum senang menatap wajah dalam rengkuhanku. Aku tidak hanya senang karena itu adalah kenangan manisku bersama Jin, tapi aku juga senang karena taman itu mengingatkan akan masa kecilku. Kenangan di mana aku sangat merasa senang. Kakak cantik yang selalu dibully waktu itu... dia ada di mana? Bagaimana kehidupan dia sekarang? apakah bahagia? aku di sini juga bahagia.


Aku mengecup pucuk hidungnya kemudian bibirnya pelan. “Terimakasih.” Ucapku bersungguh-sungguh.


“Apa kau pernah berjalan kaki?” aku bertanya pada Jin kemudian.


“Um...”


“Ayo kita jalan-jalan.” Tanpa menunggu jawaban Jin aku sudah berdiri dari pangkuannya dan menariknya juga agar berdiri.


“Tapi kita akan ke mana?” tanya Jin bingung.


“Ke Taman kita tentu saja, kau bilang ingin berkencan?” ku gamit tangannya dan ku ajak dia berjalan ke luar rumah.


“Tapi itu jauh Mei.” Jin Kebingungan.


“Tak apa... nanti aku pijat jika kau lelah.” Ucapku menyemangati Jin sembari berjalan.


“Pijat sebelah sini saja ya?” Jin menunjuk ke arah bibirnya. dengan senyuman memabukkannya.


“Ishhh... dasar.” Aku berpura-pura merajuk. Namun akhirnya aku malah berhenti di depannya kemudian berjinjit dan menarik tengkuknya.


Ya kuberikan dia sebuah kecupan. Tangan Jin perlahan memelukku dan semakin mengeratkan pelukanku. Ciumanku yang semula hanya sebuah kecupan, kini berubah menjadi sebuah ciuman yang sangat dalam dan saling menyambut.


Kami sama sekali tak peduli walau pun kami berada di tengah jalan. Karena kami merasa bahwa dunia ini benar-benar serasa hanya milik kami berdua.


 


***