
Aku dan pak Huang berjalan masuk ke lift tanpa melalui pemindai kartu. Aku memaklumi saja jika perusahaan Jin bisa seribet ini. Pasalnya perusahaan ini termasuk perusahaan besar, jadi butuh keamanan khusus.
“Pak Huang...” aku memecah keheningan di dalam Lift.
“Ya Ibu muda.” Pak Huang menunduk sopan.
“Heii... bapak jangan seformal itu padaku. Aku jauh lebih muda dari bapak. Seharusnya aku yang melakukan itu.” Aku menggerutu pada pak Huang yang terlalu sopan.
Namun pak Huang hanya tersenyum melihatku yang menggerutu.
“Pak... apa nona Lu itu sering datang ke sini?” tanyaku menyelidik.
“Um... tidak setiap hari, tapi bisa dikatakan sering. Tapi walaupun begitu anda jangan khawatir, Pak direktur tak pernah menemuinya.” Pak Huang meyakinkan.
“Kenapa?” Aku bertanya penasaran.
“Maaf... saya kurang paham. Mungkin karena merasa terganggu.” Pak Huang sedikit tertawa hingga membuatku ikut tertawa.
“Bapak ada-ada saja.” Aku masih tertawa geli.
Tak berapa lama pintu lift terbuka dan kami pun menuju ruangan Jin yang berada di ujung.
“Saya permisi dulu.” Pak Huang berpamitan sopan sebelum pergi meninggalkanku dan aku hanya bisa membalas dengan senyuman dan anggukan.
“Ibu bisa langsung masuk.” Seorang wanita dengan sopan memberitahuku.
Mungkin dia sekretarisnya. Sepertinya dia juga sudah mengenaliku dengan baik.
“Ah... baik, terimakasih.” Ucapku sesopan mungkin padanya kemudian memegang gagang pintu ruangan Jin dan mencoba membukanya.
Aku telah membukanya, dan pemandangan yang pertama kali ku lihat saat masuk ke dalamnya adalah Jin yang terlihat begitu sibuk dengan layar monitor di hadapannya.
dia terlihat begitu tampan saat sibuk seperti itu.
“Aku datang.” Ucapku menyapanya sembari menutup pintunya kembali.
“Eoh sudah datang?” Dia beranjak berdiri menyambutku dan meninggalkan pekerjaannya sejenak.
Dia langsung mendekat untuk memelukku kemudian memberikan kecupan. Tidak... bukan hanya kecupan. Karena semakin lama kecupan ringan itu berubah menjadi ciuman yang dalam dan hangat.
“Aishhh.... sudah hentikan... nanti kalau ada yang masuk bagaimana?” Aku sedikit mendorongnya hingga ciuman kami terlepas.
Dia sepertinya menjadi sedikit kesal.
“Biarkan saja... tak akan ada yang masuk. Aku merindukanmu.” Ucapnya memanja kemudian hendak menciumku lagi.
Tapi Jin sama sekali tak bereaksi tentang tatanan rambutku yang aku buat seperti masa SMA dulu. Apakah dia benar-benar melupakannya?
“Ssst...” aku memasang jariku dibibirku hingga dia tak bisa menciumku langsung karena ciumannya terhalang jariku.
“Kenapa?” Jin mulai merajuk. “Apa kau tak merindukanku?”
“Tentu saja rindu, rindu setengah mati, maka dari itu aku datang ke kantormu." Ucapku kemudian mengecupnya ringan di pipi kirinya. "Ah... Aku dan ibu tadi membuat mantou dan ini masih hangat. Mau coba?” Aku tersenyum menunjukkan kotak bekal padanya.
Jin akhirnya menyerah juga dan menuruti ajakanku untuk memakan mantou itu.
Jin mengajakku duduk di sofa panjang yang biasa di duduki tamu yang mengunjunginya. Aku pun duduk di sebelahnya dan mulai membukakan kotak itu.
“Jin... aku bertemu dengan Fei di depan. Apa dia setiap hari mengunjungimu seperti ini?” Tiba-tiba aku langsung merasa sedikit kesal.
“Ah.... Fei?” Jin malah balik bertanya padaku sepertinya tak begitu peduli.
“Kenapa ekspresinya seperti itu? Aku serius menanyakannya?” Aku semakin kesal.
“Uhmmm.... ini enak sekali.” Dia mengabaikan aku dan malah menikmati mantou yang ku bawa.
“Jin....!” Aku memanggilnya kesal dengan sedikit memukul lengannya.
Melihatku seperti itu dia malah tertawa.
“Sayang.... kau tau jika kau merajuk seperti itu, itu benar-benar membuatku ingin segera menciummu." Jin kemudian duduk kembali di dekatku dan menarikku dalam pelukannya.
Jadi sebenarnya... aku mau, tapi... malu. Mungkin begitu.
“Fei?? Kau kesal dengannya?” Jin bertanya sembari meletakkan dagunya di pundakku.
“Tentu saja, dia sudah jelas-jelas mengajakku berperang secara terbuka. Kau yang tidak tegas padanya.” Aku melepaskan pelukannya dan mulai meluapkan emosiku.
“Biarpun setiap hari dia datang ke sini, tapi aku tak pernah menemuinya. Sumpah, aku tak berbohong sayang...” Jin kemudian mengangkat tangannya membentuk sign dua jari. “Lagi pula.... istriku jauh lebih baik dari dia, kenapa aku harus menemuinya?” rayunya.
Apa? Dia mengatakan aku lebih baik dari Fei? Mendengar sanjungan Jin Kenapa aku jadi tersenyum tersipu-sipu begini. Tentu saja aku lebih baik darinya. Setiap orang pun bisa menilainya. Aku bisa memasak, aku bisa berbenah, aku bisa menjadi istri yang multi tasking, tidak suka menghamburkan uang untuk hal yang tak perlu. Kekurangannya hanya aku tak secantik dan setinggi Fei dan lagi... aku tak bisa memakai make up dengan baik. Jika menyangkut tiga hal itu aku memang merasa kalah. Mengingat tiga hal itu membuatku cemberut lagi.
“Tetap saja, aku tak menyukainya. Tadi saat di lobi dan bertemu dengannya, aku benar-benar merasa gemas sekali padanya, sampai-sampai aku menunjukkan ini. Karena dia bilang kalau kau tak mencintaiku dan terpaksa menikahiku... ya... meskipun sedikit ada benarnya” Ucapku lagi merajuk sembari menunjukkan bekas cupangan yang aku tunjukkan pada Fei tadi.
“Mana? Coba aku lihat." Jin menarik kerah kaos oblongku sendiri hingga terlihat bekas cupangannya. Aku pun membiarkannya melakukan itu meskipun jantungku mulai berdegub kencang lagi...
Tetapi akhirnya tidak hanya melihat, Jin malah mulai mencium tulang selangkaku dan mulai menghisapnya pelan namun sangat terasa. Ya Tuhan... dia membuat cupangan lagi di sana.
“Jin... apa yang kau lakukan.” Jin mulai mendorongku perlahan hingga aku kini bersandar pada sofa.
“Menurutmu apa yang akan aku lakukan?” Jin berbalik bertanya padaku hingga membuatku gugup tak karuan. “Aku memberikan bukti lagi jika ada Fei yang ke dua, tiga dan seterusnya. Kalau perlu si Wang Tian itu juga harus kau beri tau juga.” Ucapnya sembari tersenyum.
Aku pun ikut tersenyum juga melihat tingkahnya yang seperti ini.
Kemudian Jin semakin mendekatkan wajahnya padaku. Kami saling bertatapan, mata kecoklatan yang teduh, mata yang benar-benar aku suka dan terasa sangat familiar.
Di saat aku tengah mengagumi matanya, ku rasakan bibirku tersentuh lembut oleh bibirnya. Pelan dan hangat. Harum nafasnya benar-benar sangat aku suka hingga aku mulai memeluk erat tengkuknya. Deguban jantungku menambah sensai luar biasa. Seperti terbang di antara pelangi di angkasa.
Kemudian perlahan sentuhan antara bibir kami mulai memudar dan akhirnya terlepas. Kini tersisa nafas kami yang saling memburu.
“Mei... Jika ada yang bilang kalau aku tak mencintaimu, apa kau percaya?” Jin bertanya, matanya menatap tajam ke dalam mataku. Tangannya membelai lembut rambutku kemudian mengusap pipiku lembut yang perlahan menyentuh bibirku. Matanya beralih melihat ke arah bibirku yang tengah dirabanya.
Aku tak menjawab pertanyaannya dan hanya menggeleng pelan.
“Jika kau mempercayainya, kau sungguh keterlaluan sayang.” Jin mencubit hidungku gemas.
“Jin... apa kau benar-benar tak mengenaliku saat pertemuan pada makan malam keluarga waktu itu?” aku memberanikan diri bertanya padanya.
Jin terdiam.
“Apakah itu benar-benar penting untukmu?” Dia menatapku serius.
“Jin...”
Tok... Tok....
Belum sempat menjawabnya terdengar suara ketukan di pintu yang menginterupsi. Kami kemudian menoleh ke arah pintu bersamaan. Kemudian tersadar jika posisi kami tidak layak untuk menjadi konsumsi publik, sehingga kami cepat-cepat beringsut dan aku dengan cepat merapikan kaos dan rambutku.
“Masuklah!” Jinyi setengah berteriak setelah menoleh ke arahku telah rapi kembali.
Seorang perempuan yang tadi ku temui di meja depan ruangan Jinyi masuk dengan sopan.
“Maaf saya mengganggu bapak dan ibu.”
“Tak apa, ada apa?” Jinyi bertanya kemudian.
“Schedule terakhir hari ini, bapak ada rapat dengan perusahaan L electronics pada jam 15.30. Dan ini berkas yang bapak perlukan, mohon diteliti kembali.” Ucapnya sopan.
“Ahh... aku hampir melupakannya.” Jin menerima berkas dari perempuan itu kemudian menoleh ke arah jam dinding yang menunjukkan pukul 14.25 menit.
Aku menatap Jinyi yang tengah serius membaca berkas –berkas itu. Kenapa dia terlihat tampan sekali jika seperti ini. aku benar-benar takjub padanya. Tiba-tiba jantungku berdetak sedikit lebih cepat saat berkas itu menutup separuh wajah Jin dan hanya terlihat matanya saja dari arahku. Matanya yang berakomodasi pelan terlihat benar-benar sangat familiar.
Mata itu... aku tiba-tiba teringat seseorang dengan mata seperti itu.
“Sayang...” Jinyi memanggilku pelan dan melihat ke arahku. Separuh wajahnya masih tertutup dokumen yang dia baca.
DEG!
Mata itu...
***