
Detik berikutnya aku benar-benar terkejut menyadari siapa sebenarnya yang ada di foto itu.
“YA TUHAN!! BUKANKAH INI....??” Aku spontan berteriak.
Jadi..??? presiden sekolah yang dingin bak es itu? Presiden sekolah yang selalu menghukumku waktu itu? Presiden sekolah yang membuatku benar-benar merasa ingin keluar dari sekolah itu? Presiden sekolah yang selalu membuatku menangis setiap pulang sekolah?
Ternyata dia adalah Feng Jinyi?? Dan... sekarang.... aku benar-benar mencintainya setengah mati? Padahal dulu aku benar-benar membencinya. Terus senior jutek itu? Lu Feiyue?
Aku benar-benar terkejut menyadari semua ini. Tapi sejujujrnya wajah Jin tidak mengalami banyak perubahan. Hanya saja rahangnya terlihat lebih tegas sekarang dan tubuhnya terlihat lebih maskulin. Benar-benar terlihat seperti seorang vampir yang tak kelihatan menua.
Tapi tetap saja aku tak mengenalinya.
Dan Fei? Aku benar-benar juga melupakannya karena sekarang wajahnya benar-benar penuh dengan make up tebal. Bodohnya aku yang tak pernah mengetahui nama presiden sekolah karena sangat membencinya. Selain itu... dulu aku juga begitu cuek dengan yang lainnya.
Jadi pertemuan pertama saat makan malam itu, dia juga tak bilang jika mengenalku kan? Apakah dia lupa padaku? Bisa di maklumi, karena aku juga tak pernah menatap wajah presiden sekolah yang dingin dan galak itu. Makanya aku benar-benar tak tau.
Aku menghela nafas panjang....
Ya Tuhan.... aku tiba-tiba langsung mengingat betapa kejamnya dia padaku.
“Hei pendek! Apa kau tak bisa berlari dengan cepat?” Ucapnya saat aku kelelahan karena sudah berlari mengelilingi lapangan basket 10 kali. Padahal bukan aku saja yang seperti itu. Tapi kenapa dia terus saja mengomeliku seolah-olah aku saja yang payah.
Aku tak berani menatapnya. Aku hanya menoleh melihat teman-temanku lainnya yang juga kelelahan, bahkan ada yang baru mendapatkan 7 putaran dia sudah berhenti. Tapi kenapa aku saja yang dibentak? tak masuk akal kan?
“Hei pendek! Dasar penakut. Ayo cepat meluncur!” ini ucapannya saat aku tengah ketakutan bermain flying fox saat perkemahan bersama. Dan lagi... aku tak sendiri. Tapi kenapa dia hanya berteriak padaku.
Dia tak tau begitu gemetarnya aku yang hampir pingsan karena ketakutan.
“Hei pendek! Kau harus squad jam 30 kali!” dan ini... perintahnya saat aku terlambat meskipun hanya 1 detik saja.
Bisa dibayangkan betapa desperate-nya diriku yang selalu mendapatkan perlakuan tak adil dari sang presiden sekolah?
Dan parahnya dia memanggilku dengan sebutan ‘pendek’? sebutan yang sangat tak manusiawi.
Betapa lucunya ini???? dia dulu benar-benar telah membuatku merasa hilang semangat saat pergi ke sekolah. Seperti sebuah Game RPG, Ketika bertemu dengan pria hoddie semangatku akan terpompa, exp ku akan meningkat 1000x lipat. Namun kemudian jika berpapasan dengan presiden sekolah semangatku akan dipatahkan dan exp ku akan menurun dengan cepat.
Dan faktanya sekarang adalah... presiden sekolah yang dingin, galak dan kejam itu telah menjadi suamiku.
Kenapa coba dulu dia melakukan itu padaku? Aku benar-benar sangat terkejut. Jin yang dahulu sama sekali berbeda dengan Jin yang sekarang. Dulu begitu kaku, sekarang begitu lembut. Eum... apakah ini hanya berlaku padaku?
Mengingatnya membuatku merasa sedikit kesal. Namun detik berikutnya senyumku mengembang.
“Baik... dulu kau sering mengerjaiku. Sekarang aku yang akan mengerjaimu.” Aku bergumam sendiri sembari tersenyum membayangkan apa yang akan aku lakukan pada Jin nanti. “Tunggu saja pembalasanku sayang!” Ucapku sembari melihat fotonya gemas.
Aku pun bergegas menutup album foto itu dan berlanjut menuju rak lain di sudut kamar. Ada sebuah kotak karton besar di sana. Aku pun meraihnya dan kemudian membukanya.
Surat itu ditinggalkan dengan sebuah kotak kayu hitam bermagnet, Yang mana kotak itu belum pernah aku buka sebelumnya.
Perlahan aku membuka surat itu kembali.
“Hai... bagaimana kabarmu hari ini?
Apa kau baik-baik saja? atau kau sedang merasa resah?
Aku selalu berharap kau baik-baik saja, tetap tersenyum meskipun kau sedang kesal.
Setiap melihat senyummu, kau memberikan energi baru bagiku.
Namun sepertinya aku tak akan bisa melihatmu dari dekat lagi untuk beberapa lama.
Apa kau sangat penasaran denganku?
Aku adalah orang yang selalu berada di dekatmu tanpa kau tau.
Aku menulis ini dengan perasaan yang benar-benar gundah. Tapi aku sangat yakin suatu saat kita akan dipertemukan dengan cara yang spesial.
Bukalah kapsul waktu ini setelah kau menjalani satu tahun usia pernikahanmu nanti
Aku harap, kau akan benar-benar melakukannya.
Semoga Tuhan selalu melindungimu...
Dariku... yang selalu mengirimkan harapan untukmu.”
Aku pun melipat kembali surat itu dan memasukkannya ke dalam amplop ungu itu lagi dan mengembalikannya lagi ke dalam kotak karton. Mataku kemudian tertuju pada kotak berukuran 20x15 cm yang pengirim itu berikan padaku untuk terakhir kalinya.
Sekarang ini sudah tidak penting lagi kan? Jadi aku mengambilnya dan tergerak untuk membukanya. Aku tersenyum setelah memikirkannya.
Hatiku langsung berdegub sedikit lebih cepat karena aku begitu tegang. Aku mulai menghitung dalam hati.
Satu....
Dua...
Ti....
“Mei..... bisa kau bantu ibu sebentar?” di saat aku hampir membuka kotak itu ibuku memanggilku.
Akhirnya aku pun mengurungkan niatku untuk membukanya dan memasukkannya kembali bersama dengan surat-surat yang lain.
***