
“Mei... maafkan aku....” Ling meminta maaf sambil menangis.
“Tidak Ling...” Aku menggenggam erat tangan Ling. “Apa yang kau katakan?” aku masih tak mengerti maksud Ling dengan meminta maaf.
“Maafkan aku telah melukaimu...” Ling melepaskan tanganku kemudian berjalan pergi meninggalkan ku.
“Ling... Tidak... Lingfei tunggu aku!” Aku berteriak pada Ling tapi dia tetap saja berjalan tanpa menoleh ke arahku.
“TIDAK!!!” aku berteriak sekencang mungkin.
Saat itu juga mataku terbuka.
“Sayang.... kau tak apa-apa?” Jin menatapku khawatir.
Aku merasa linglung. Apakah ini mimpi? Ahh... benar. Rupanya aku tengah bermimpi. Mimpi yang aneh.
“Minumlah dulu!” Jin memberikanku gelas yang berisi air mineral. Dia terlihat begitu khawatir.
Perlahan aku menerima gelas itu dan mulai meminumnya.
Jin menyibakkan rambutku yang bercampur dengan keringat ke belakang telinga.
“Apakah sudah lebih tenang?” Jin bertanya padaku masih dengan raut khawatir. “Kau mimpi apa?” tanyanya menyelidik.
Aku memberikan lagi gelas itu padanya kemudian menyeka keringatku yang bercucuran.
“Jin... aku memimpikan Ling meminta maaf dan meninggalkanku.” Aku bercerita singkat padanya. “Ling menangis dan terlihat sangat sedih sekali.” Aku menunduk lemas.
“Sayang.... sini...” Jin menarikku dalam pelukannya. Aku pun meletakkan kepalaku di dadanya yang hangat.
“Itu hanya sebuah mimpi. Kata dokter Zhao... bukankah kehamilan juga bisa menimbulkan kegelisahan? Mungkin itu efek dari kehamilanmu.” Jin menenangkanku.
“Mungkin demikian. Tapi...” Aku tak jadi melanjutkan kalimatku dan membebaskan diri dari pelukan Jin untuk duduk tegak kembali sembari menatapnya.
“Eum?” Jin ingin tahu dan tersenyum padaku. “Tapi apa Mei?”
“Tadi... saat semua berkumpul untuk menyambutku, aku merasakan ada keanehan pada Huan.” Aku bingung menjelaskannya bagaimana.
“Huan? Dia kenapa?” Jin bertanya menyelidik.
“Huan... sepertinya tengah menyukai seseorang.” Jawabku.
“Itu bagus kan? seusia dirinya memang ada masa seperti itu kan? terus masalahnya di mana?” Jin tersenyum lebar menatapku. Sepertinya dia sangat senang mendengar kabar dariku bahwa Huan menyukai seseorang.
“Tapi masalahnya Jin....” Aku berhenti dan tak bisa melanjutkan kalimatku.
“Iya???” Jin dengan sabar menanti penjelasanku.
“Masalahnya adalah... mungkin yang dia sukai adalah Lingfei.” Akhirnya aku mengatakannya juga.
Jin sedikit tersentak kaget. Namun kmeudian dia tersenyum dan meraih tanganku.
“Mei sayang dengarkan aku... Kau masih berkata mungkin? Jadi ini belum tentu benar kan? jikalau ini pun benar, apa yang akan kau lakukan? Apa kau akan menentangnya? Apa kau akan marah-marah padanya? Apa kau ingin dia melupakannya? Sayang... menyukai seseorang itu tak dapat dikontrol oleh siapa pun. Kau bisa merasakannya juga kan? apa perasaanmu padaku bisa di kontrol? Jika ada seseorang menentang hubungan kita apa yang akan kau lakukan? Tidak usah bingung mengambil contoh, seperti Fei dan Tian yang berusaha memisahkan kita, apa kita akan bertekuk lutut begitu saja pada mereka? Tidak kan? Ah... di sini mungkin situasinya berbeda dengan keadaan dulu saat dirimu menyukai Tian itu. Ketika perasaanmu masih bisa berubah. Berarti kau sebenarnya tidak menyukainya atau hanya sekedar menyukainya. Tapi... jika perasaanmu semakin kuat, berarti kau lebih dari menyukainya atau mencintainya.” Aku mencoba memahami apa yang Jin katakan.
“Jadi menurutku... kita harus mendukung apa pun yang Huan inginkan. Bagaimana?” Jin meminta pendapat.
“Tapi jin... kalau Huan benar menyukai Ling, belum tentu Ling menyukainya juga. Aku sangat tau sifat Ling itu seperti apa? Dia mungkin akan menghindar karena tak mau jika dia harus bersama pria yang lebih muda. Selain itu.... dia sahabatku... kalau dia jadi iparku... ahhhh....” aku setres dan menjambak rambutku.
“Hei Mei sayang... jangan berpikir sejauh itu dulu... eum? Biarkan semua berjalan seperti air yang mengalir. Seperti kita. Semua berjalan begitu saja.” Jin membelai kepalaku pelan.
“Kau tau? Aku dulu bahkan tak berani mendekati orang yang ku suka.” Jin mengucapkan kalimat itu tanpa sadar.
Dengan spontan aku langsung menatapnya dengan tajam. Menyelidik. Kesal dan ingin tahu bercampur jadi satu.
Nin yang menyadari lidahnya yang terpleset langsung terdiam bingung. Dia mungkin menyadari apa yang akan terjadi.
“Siapa dia?” sepertinya ubun-ubunku mulai memanas. Pasti sebentar lagi akan mendidih.
Baru kali ini aku mengetahui jika Jin pernah menyukai seseorang. Tiba-tiba aku langsung menjadi kesal. Seharusnya aku memakluminya saja, aku juga pernah menyukai seseorang. Tapi... ini rasanya berbeda. Karena aku melihat Jin mengatakannya dengan senyuman dan tatapan menerawang yang tak bisa aku artikan. Sepertinya dia masih menyukai siapa orang yang dimaksudnya.
“Eum... a.... itu... mmm... Mei... itu sudah masa lalu.” Jin ingin menjelaskan. Tapi sepertinya dia sangat kebingungan mencoba menjelaskannya.
“Itu... ah Mei... kenapa membahas ini? aku kan hanya bercerita tentang masa lalu. Kau sendiri juga pernah menyukai managermu itu kan?” Jin masih terlihat bingung namun mencari-cari alasan yang pada akhirnya malah membuatku semakin marah.
Kenapa dia mengatakan 'hanya masa lalu?' bagiku itu tidak hanya masa lalu karena Jin mengatakan itu dengan.... ya bisa dibayangkan seperti orang yang benar-benar kagum pada seseorang.
Ok aku akui aku juga egois, aku bahkan tidak jujur pada Jin bahwa dulu sebelum aku menyukai manager Wang aku juga menyukai seseorang yang misterius.
Tapi.... rasanya kalau Jin yang mengatakan dia pernah menyukai seseorang diam-diam, tetap saja aku merasa kesal. Aku benar-benar cemburu buta. Aku benar-benar egois.
“Kau tak mau jujur padaku? Kalau itu hanya masa lalu, seharusnya kau mau jujur padaku karena itu sudah berlalu. Tapi kenapa kau menutupinya? Kau pasti masih menyukainya kan??” aku mulai meninggikan suaraku kesal.
“Sayang.... ayolah jangan bahas ini lagi. Yang penting sekarang aku memilihmu. Aku benar-benar mencintaimu. Tak ada yang lain. Eum...? jangan marah lagi.” Jin mulai merayuku bingung.
Kelihatannya dia benar-benar menyukai gadis itu. Kalau saja dia berani mendekatinya pastinya sekarang dia sudah bersamanya. Aku semakin marah membayangkannya.
Aku tak berbicara dan beranjak berdiri. Perlahan aku berjalan menuju almari dan mengambil selimut. Kemudian berjalan kembali ke arah tempat tidur di mana Jin tengah duduk dan memandangku tak mengerti.
"Sayang sudah ada selimut itu untuk apa?" Jin bertanya polos sembari menunjuk selimut ragu.
“Sepertinya anakmu tak mau tidur denganmu, jadi sebaiknya kau tidur di sofa saja.” Ucapku kesal sembari melempar selimut ke pada Jin kasar.
“Apa??? Kenapa aku harus tidur di sofa lagi? Sayang...?” Jin mulai merajuk.
“Anakmu yang minta bukan aku.” Aku berkata asal.
“Mei...?? aku mau berada di sampingmu.” Jin cemberut dan meraih tanganku mengajakku kembali ke tempat tidur. "Baiklah aku akan jujur sayang dengarkanlah..."
“Tidak...!" Tiba-tiba aku yang semula memintanya untuk jujur kini malah ketakutan.
Aku jadi takut mendengar siapa orang yang pernah Jin sukai.
"Tidak... Aku tak mau dengar." Ucapku lagi memperjelas namun malah membuat Jin bingung karena aku ragu-ragu dan terkesan plin-plan.
Bukan karena apa? Aku tak mau mendengarnya karena aku benar-benar telah merasa cemburu.
"Sayang... Sebenarnya dia...."
"Kalau kau tak mau tidur di sofa, aku yang akan tidur di sana.” Marahku memutus pembicaraan Jin sembari merebut paksa selimut yang tadi ku lempar dan kini berada di pangkuan Jin.
“Tidak.... tidak.... jangan tidur di sofa.” Jin panik. “Ok. Aku saja yang tidur di sana.” Bibirnya terlihat manyun merajuk.
“Ya sudah... sana pergi ke sofa!” perintahku kesal.
“Mei....? aku beneran tidur di sofa ya?” tanya Jin meyakinkanku sembari merangkak pelan beranjak dari tempat tidur.
“Iya cepat sana!” aku semakin kesal.
“Mei???” Jin berjalan pergi menuju sofa yang berjarak sekitar 2 meter dari tempat tidur dengan perasaan berat seolah dia telah aku usir pergi dari rumah.
“Jangan beranjak ke sini!” Aku memperingatkannya dengan judes setelah aku berada di atas tempat tidur.
“Selamat tidur sayang....” ucap Jin memelas dari sofa.
Namun aku terdiam tak bergeming menanggapinya.
“Mei... apa kau tak mau menciumku dulu??” Tanya Jin lagi merayu.
Mendengarnya aku semakin kesal. Aku pun langsung mengangkat bantal hendak melemparkan padanya.
“Ok.... tidak sayang.... jangan.... jangan lakukan itu. Kau tak boleh melakukannya. Kau tak boleh mengeluarkan tenaga. Itu berbahaya untukmu. Jadi aku akan diam. Ok... tenang.... tenang....” Jin mengisyaratkan dengan tangannya agar aku tenang dan tak marah-marah lagi.
Dia pun akhirnya merebahkan dirinya dan menutupi tubuhnya dengan selimut mengahdap ke arahku dan mulai memejamkan mata. Aku pun mulai merebahkan diriku kembali untuk kembali tidur. Tapi nyatanya aku malah tak bisa dan terus teringat tentang cerita Jin bahwa dia pernah menyukai seseorang yang tak berani dia ungkapkan.
Aku egois... tapi aku juga takut.... takut mengetahui siapa gadis impiannya dulu yang sebenarnya.
***