WE GOT MARRIED

WE GOT MARRIED
Chapter 75 BADAI



Kami benar-benar menikmati weekend bersama dengan sangat senang. meskipun hanya berdiam diri di rumah hanya bermain monopoli dan jenga.


Tapi ini bahkan lebih seru daripada bermain di taman hiburan. Sesekali kami berteriak spontan jika ada salah satu di antara kami yang mendapatkan hukuman atau mendapatkan prize.


Tapi di sela itu, aku juga memperhatikan tingkah Huan pada Ling yang sepertinya memang sudah bisa di tebak dari awal.


Sepertinya Huan benar-benar menyukai Ling. Ini kali pertama aku melihat Huan seperti ini. Dan aku berani memastikan bahwa Ling adalah cinta pertamanya karena Huan tak pernah bercerita tentang gadis lain sebelumnya.


Aku kembali tersadar akan lamunanku dan beralih menatap suamiku yang terlihat sangat akrab dengan orang-orang terdekatku.


Dia juga terlihat senang sekali. Ini benar-benar lucu. Aku tak menyangka jika dia bisa seperti ini. Aku pikir dia tidak akan menyukai hal-hal semacam ini karena dia adalah pria yang serius.


Kali ini Jin terlihat sangat fokus pada permainan karena kini gilirannya memindahkan balok jenga.


Kami semua terdiam dan menatap jenga dengan fokus karena bentuknya benar-benar sudah mengkhawatirkan.


Satu... dua...


Kami menghitung dalam hati masing-masing.


PRANG!


“AAAAA.....” kami berempat berteriak bersama. Detik berikutnya kami tertawa terbahak-bahak.


“Kakak ipar, kau harus menerima hukuman lagi.” Huan terlihat begitu senang karena berkesemmpatan membuli Jin yang biasanya terlihat sangat dingin.


Huan mulai bersiap untuk menyentil kening Jin sebagai hukuman.


Ting tong...


Di saat kami tengah tertawa karena senang melihat Jin yang dibully oleh Huan, bel pintu depan berbunyi. Sepertinya ada seseorang di luar sana.


“Biar aku saja yang membukanya. Kalian lanjutkan saja.” Ucapku sembari beranjak berdiri kemudian berjalan menuju pintu.


Sedangkan mereka semua melanjutkan permainan tanpa diriku.


“Iya?” aku menyapa seseorang yang tengah berdiri menghadap pintu dengan memakai topi dan seragam rompi berwarna merah.


Sepertinya dia adalah seorang kurir dari sebuah perusahaan jasa pengiriman.


“Apakah ini benar kediaman keluarga Feng?” tanya kurir itu memastikan.


“Iya benar.” Jawabku padanya mmembenarkan pertanyaannya.


“Ahh... kalau begitu ini ada sebuah paket untuk ny. Feng Xiumei.” Kurir itu menyerahkan sebuah paket berbentuk amplop berwarna coklat muda padaku.


"Ini paket apa? Perasaan aku tidak membeli sesuatu secara online?" Aku bertanya bingung. “Maaf, ini nama pengirimnya tidak ada ya?” aku menyadari bahwa nama pengirimnya juga tidak tertulis dalam bungkus paket itu.


“Ah... benar bu. Saya juga tidak tahu siapa pengirimnya. Saya hanya menjalankan tugas sebagai kurir untuk mengantarkan paket. Jadi saya tidak tahu detilnya.” Ucapnya juga terlihat sama bingungnya.


Aku membenarkan apa yang kurir itu bilang, karena dia hanya bertugas mengantarkan paket saja.


Pikiranku terus mengelana mencari siapa kiranya yang mengirimkan paket ini untukku?


Kenapa harus dengan pengirim Anonim?


“Silahkan Anda tanda tangan di sini bu, sebagai tanda penerimaan." Kurir itu mengejutkanku yang sedari tadi bengong tengah berpikir apa kiranya isi dalam paket itu dengan menunjukkan letak di mana aku harus membubuhkan tanda tangan.


“Nah sudah.” Ucapku setelah melakukan apa yang di minta kemudian tersenyum ramah pada kurir itu.


“Terima kasih, kalau begitu saya permisi.” Kurir itu mengangguk kemudian berlalu pergi.


Aku masih tertegun beberapa saat antara bingung dan merasa aneh karena aku mendapatkan paket misterius itu.


"Kakak.... Kami akan pulang." Huan dan yang lainnya tiba-tiba sudah berada di belakangku tanpa ku sadari.


"Eoh? sudah mau pulang?" Tanyaku sedikit kecewa.


"Iya, besok atau kapan-kapan ke sini lagi." Ucap Ling sembari memelukku.


"Hai... padahal aku masih kangen." Aku tak bisa menyembunyikan kekecewaanku.


"Besok kita bergantian ke rumah ibu." Jin meraih pundakku menghibur.


"Jangan lupa mampir ke rumahku juga." Ling mengingatkan.


"Pasti." Jin menjawab singkat namun tetap tersenyum.


"Ayo... mau pulang saja lama sekali berpamitannya." Huan mulai menggerutu.


"Kakak ipar, aku benar-benar bersukur padamu karena kau mau menerima kakakku yang galak seperti itu." Huan menyindirku, mendengarnya Jin terkikik pelan.


Setelah berdebat ringan, akhirnya mereka pun pergi meninggalkan aku dan Jin berdua lagi.


"Mei aku mandi dulu ya... Aku ada janji dengan pak Huang jam 3 sore." Ucap Jin yang hanya ku balas dengan senyum dan anggukan.


Jin pun kembali memasuki rumah. Dan aku teringat kembali dengan paket yang sedari tadi terus ku pegang.


Perlahan aku mulai membuka paket itu di teras. Hal yang pertama terlihat adalah sebuah kertas. Namun setelah aku ambil, ternyata isinya adalah beberapa gambar foto.


“Foto mertua?” aku bergumam sendiri kemudian melihat gambar-gambar dalam foto tersebut lebih jeli.


Ada beberapa lembar foto di sana yang mulai ku perhatikan satu persatu. Ternyata adalah foto ibu dan ayah mertua yang tengah tersenyum senang. Seperti tengah menikmati liburan berdua.


Dan sepertinya foto ini di ambil di luar negeri. Aku kemudian membalik foto itu. Dan ternyata di setiap masing-masing foto terdapat tanggal dan tempat di mana dan kapan foto itu di ambil.


Aku mulai merasa ada yang aneh. Bukankah ayah dan ibu mertua pergi ke luar negeri untuk melakukan terapi ayah? Tapi kenapa mereka sepertinya tengah melakukan liburan? Bukankah seharusnya ayah mertua beristirahat? Aku terus berpikir tentang hal itu.


Dan lagi, setiap tanggal yang tertera dalam foto tersebut adalah tanggal di mana seharusnya ayah melakukan terapi dan beristirahat.


Hatiku mulai berdegub lebih kencang.


Apakah aku telah di bohongi? Apakah selama ini mereka telah membohongiku? Tidak. Ini tidak mungkin. Kenapa mereka membohongiku? apa motifnya?


Ah motifnya? aku menyadari sesuatu. Motif mereka membohongiku.... bukan karena hatiku yang lemah dan mudah tersentuh bukan? Apakah mereka memanfaatkan hatiku yang lemah agar aku mau menikah dengan Jinyi?


Meskipun sekarang aku mencintainya, jika ini kenyataannya, sepertinya aku tak mau menerimanya. Aku benar-benar tak suka dengan cara mereka.


Drt... drt....


Ponselku di ruang tamu bergetar. Dengan langkah gontai dan lemas aku berusaha mengambil ponselku. Lama ponselku terus saja berdering. Akhirnya dengan tangan bergetar aku menggapai ponselku dan melihat pemamggil. Nomor tak di kenal. Aku semakin merasa gugup. Tubuhku semakin lemas.


"Ha...lo..." Sapaku dengan terbata-bata.


“Hai ny. muda Feng.... bagaimana paketnya? Apakah sudah sampai???” suara seorang perempuan yang terdengar nyaring di seberang sambungan.


Aku memutar otak dan berpikir sejenak suara siapa kiranya itu? aku langsung teringat satu sosok dan sepertinya suara itu adalah suaranya. Aku tak begitu hapal dengan suaranya, karena kami jarang bertemu. Tapi aku yakin jika itu suaranya.


“Fei?” aku memastikan dengan berpura-pura tak terjadi apa-apa.


“Ternyata kau bisa mengenali suaraku dengan baik nyonya muda Feng? Kekeke...” dia tertawa renyah mengejek di balik sambungan telepon.


“Apa maksudmu dengan mengirimkanku ini?” tanyaku padanya tak mengerti dengan menahan hatiku yang tengah bergejolak menahan emosi.


“Tidak usah bertingkah sok bodoh nyonya Feng Xiumei. Kau sudah jelas sekali mengetahui apa yang aku maksudkan. Kau... benar-benar telah dibohongi oleh semua orang. Ayah Jinyi... tidaklah sakit seperti apa yang mereka katakan padamu. Dan pastinya... mereka kini malah berlibur menikmati hari tua di luar negeri. Ouuww... sangat romantis sekali. Tapi... aku sangat tau kalau kau paling benci dibohongi oleh seseorang meskipun kau sangat mencintainya. Apalagi... kebohongan ini, adalah kebohongan yang teramat sangat tak ingin kamu harapkan kan? Jadi.... aku telah berbaik hati untuk memberi tahumu.”


Deg!


Jantungku benar-benar terasa berhenti berdetak, padahal baru saja aku merasakan detakannya sangat kuat sekali.


Darahku serasa berhenti mengalir. Ribuan petir serasa menyambarku.


“Mereka... telah membohongimu agar kau mau menikah dengan Jinyi. Kau tahu? karena mereka tahu bahwa Zhang Xiumei sangatlah bodoh dan hatinya sangat rapuh. Sehingga kau akan merasa sangat berempati pada ayah Jinyi dan secara otomatis kau akan menerima perjodohan itu. Juga... mengorbankan perasaanmu sendiri Ckckckck... kasihan sekali hidupmu. Kekeke....” sekali lagi Fei memperjelas apa yang ada dalam benakku.


Karena kesal, aku langsung mematikan sambungan telepon itu. Kepalaku tiba-tiba merasa sangat berat.


Aku mulai menangis. Mengingat kenapa mereka semua sangat tega sekali kepadaku.


Aku lemas dan duduk di kursi teras dengan masih menggenggam foto-foto itu di tangan.


Jadi, selama ini ayah mertua benar-benar tidak sakit? Jadi selama ini aku benar-benar hidup dalam kebohongan semua orang? Bahkan keluarga ku sendiri? Mereka tau kelemahanku, makanya mereka memanfaatkannya untuk membohongiku agar aku mau menikahi Jinyi?


Aku marah. Aku sangat marah. Bukan karena aku harus mengorbankan perasaanku pada manager Wang. Tapi aku marah, karena mereka mempermainkan perasaanku yang lemah. Mempermainkan perasaanku yang rapuh.


Ini lebih menyakitkan dari pada sakit harus menyerah pada manager Wang.


Ya... aku mencintai Jinyi. Tapi aku sungguh marah sekarang. Perasaanku.... benar-benar sudah dipermainkan olehnya.


***


Note : Baca cerita Ezy yang lain juga ya... "SORRY, I STILL LOVE YOU" cerita ini Aku dedikasikan untuk sahabatku tersayang Kak Maria yang sudah pergi untuk selama-lamanya, Ini janji Ezy memenuhi permintaan terakhirnya menjadikannya tokoh utama dalam cerita.


salam hangat... -Shin Ezy-