
Beberapa Minggu telah berlalu, ayah mertuaku telah sehat kembali. Semua berkat kerja keras para dokter dan tentu saja... karena manager Wang yang memberikan kesempatan kedua untuk ayah mertuaku merasakan degupan jantung yang sehat kembali.
Tapi ayah mertua harus melakukan beberapa terapi lagi untuk mengembalikan kualitas hidupnya sehingga ibu dan ayah mertuaku harus kembali lagi ke Jerman beberapa waktu lalu.
Hanya tinggal kami berdua. Tidak berbeda dari biasanya. Hanya saja aku yang mengalami beberapa perubahan. Aku semakin manja dan sering merasa mudah sekali kelelahan.
"Jin.... bantu pijit kakiku...." Aku mendekatinya yang tengah duduk di sofa ruang tamu sembari berkutat dengan laptopnya.
Aku tak peduli dia sibuk atau tidak. Sekali aku minta tolong dia harus segera membantuku. Mungkin ini pengaruh little Feng atau bagaimana?
Jin menoleh dan tersenyum padaku seraya menutup laptopnya.
"Ayo sini sayang..." pintanya padaku agar lebih mendekat.
Pergerakanku sudah mulai terbatas juga, bergeser sedikit saja payahnya tak terkira. Mungkin karena kandungan ku sudah menginjak Minggu ke 34, jadi semua sudah terasa sangat berat. Punggungku semakin sakit, kakiku sering merasa pegal. Dan kepalaku sesekali kembali merasakan pusing. Yang jelas perutku sudah sangat membesar dan pergerakan little Feng juga semakin intens sehingga terkadang aku merasakan beberapa kontraksi palsu.
Kata dokter itu wajar. Semakin mendekati masa melahirkan semakin kontraksi palsu sering terjadi. Jadi aku menikmati saja semuanya.
"Aiyoo... istriku kenapa kau terlihat semakin cantik setiap hari? Kau lebih imut, lebih manis..." Jin mulai menggodaku lagi sembari memijit kakiku yang kini berada dalam pangkuannya.
"Mulai lagi menggombal ya??" Aku merengut.
Jin terkekeh pelan.
"Aku tak bohong, aku suka melihatmu seperti ini." Ucap Jin meyakinkan sembari terus memijit kakiku. "Ada kesenangan dan kebahagiaan tersendiri melihatmu mengalami fluktuasi emosi karena Little Feng." Lanjutnya Senang.
"Kau senang... aku yang kesusahan." kesalku. "Aku bahkan tak bisa memahami diriku sendiri." lanjutku.
"Sabar sayang... sebentar lagi... semua akan terbayar." Jin mengusap pipiku hangat.
"Jin... kenapa setiap kali ke dokter kau selalu tak mau melihat jenis kelamin anak kita? padahal aku penasaran sekali apakah anak kita laki-laki atau perempuan." Ucapku merajuk.
"Mei... aku mau kelahiran anak kita menjadi sesuatu yang mengejutkan. Yang penting kau dan dia sehat, aku merasa sangat senang. Entah dia laki-laki atau perempuan, aku akan tetap mensyukurinya." Jin menjelaskan tanpa menghentikan gerak tangannya yang tengah memijit kakiku.
Dasar Jin ini. Padahal setiap kali melakukan USG, tapi setiap dokter Zhao mau menunjukkan jenis kelaminnya dia selalu bilang "Cukup, yang penting sehat."
"Kau benar... Kesehatannya lebih penting." Aku mengangguk paham dan tersenyum senang menatap Jin yang tengah serius memijit kakiku.
Tiba-tiba ponselnya yang berada di atas meja bergetar. Sepertinya ada sebuah panggilan telepon masuk.
"Sebentar ya..." izinnya padaku.
Aku pun tersenyum padanya sembari mengangguk menyetujui. Karena Mendapat persetujuanku Jin pun langsung menerima panggilan itu tanpa beranjak pergi menjauh. Kakiku juga masih berada di atas pangkuannya.
Aku memperhatikannya yang tengah serius berbicara dengan seseorang di seberang sambungan. Aku tak fokus dengan pembicaraan mereka karena aku fokus pada garis wajahnya yang tak berubah. Namun terlihat semakin tampan.
Sepertinya Pak Huang yang meneleponnya, pasti ada urusan pekerjaan lagi. Sigh. Padahal aku ingin sekali bermanja-manja dengannya sore ini.
"Kau akan pergi?" Tanyaku padanya setelah dia mengakhiri panggilan telepon itu.
Jin mengangguk tak tega melihatku yang tengah cemberut.
"Mei... maaf... kau tau perusahaan Tang? Aku pernah menceritakannya padamu jika mereka tengah kesulitan investasi dana. Dan aku berhasil mengambil langkah untuk membeli 45% saham mereka. Dan tentu saja ini merupakan tahap awal akuisisi perusahaan. Jadi... aku harus pergi, eum? jangan manyun lagi. Demi masa depan karyawan kita." Dia merayuku.
Benar... dia hidup dan bekerja tidak hanya untuk aku dan keluarga, tetapi untuk karyawan juga. Aku pun akhirnya luluh juga.
"Baiklah... kalau sudah selesai cepatlah kembali." Rajukku padanya.
"Iya sayang... aku akan cepat menyelesaikannya dan segera kembali. Kau ingin apa? Aku belikan nanti." Tawarnya padaku menghibur.
Aku berpikir sejenak.
Jin terkekeh kemudian mengacak-acak puncak kepalaku gemas.
"Baiklah... aku akan mampir ke sana dan membelikannya khusus untukmu." Ucapnya kemudian sembari beranjak berdiri dan meletakkan kakiku di sofa perlahan. "Ingat... kunci rumah dengan baik." Ucapnya sebelum mencium keningku.
Aku pun mengangguk padanya dan dia pun segera bergegas untuk bersiap. Tak berapa lama kemudian Jin sudah bersiap dan berangkat.
Karena merasa sangat kesepian, akhirnya aku mulai membaca-baca aplikasi novel online yang kini tengah mem-booming di kalangan netizen. Aku tak perlu repot lagi mencari buku di rak-rak yang tinggi atau membelinya. Karena hanya dengan ponsel atau tablet saja aku sudah bisa melakukannya.
Ini juga sangat efisien karena bisa menghemat biaya pembelian buku dan juga mengurangi emisi karbon karena semakin sedikitnya pohon yang ditebang untuk pembelian buku.
Sesekali aku tertawa karena lucu dan sesekali aku menahan tangis karena sedih terbawa suasana plot cerita. Karena hal itu aku pun akhirnya merasa haus dan segera bergegas ke dapur untuk mengambil minum.
Saat tengah menuangkan air mineral ke dalam gelas, aku mendengar pintu depan membuka dan suara langkah kaki berjalan memasuki rumah.
Jin? kenapa dia pulang lagi? pasti ada yang tertinggal. Dasar ceroboh. Untung saja aku belum mengunci pintunya.
"Sayang.... kenapa kembali?" Tanyaku spontan berbalik arah.
Dan betapa terkejutnya aku. Dugaanku salah. Dia bukan Jin suami ku. Dia adalah orang lain. Meskipun dia sedikit berubah, tapi aku mampu mengenalinya dengan sangat baik.
"F...Fei???" Aku tergagap mengucapkan nama itu.
Ya... Lu Feiyue. Orang yang berusaha membunuhku dan ternyata salah sasaran sehingga menabrak manager Wang.Orang yang kini dalam masa pengejaran oleh polisi. Kini dia berada di rumahku.
Tanpa menjawab Fei malah tertawa nyaring nan sinis. Sudah hampir 3 bulan, polisi tidak dapat melacak di mana keberadaannya. Tapi kini dia datang dengan sendirinya ke rumahku.
Masalahnya adalah... aku teringat dengan perkataan detektif Song bahwa Fei mengidap sindrom Psychopath.
Ini tidak baik-baik saja. Aku terancam bahaya. Kenapa aku selalu berurusan dengan orang yang sama?
"Apa kabar Zhang Xiumei?!" sapanya tegas dengan intonasi suara yang sangat dalam. Tidak seperti Fei yang dulu aku kenal. Tatapan matanya kini terlihat lebih dingin dan kesepian.
"Fei...." Aku mengucapkan namanya lagi.
"Kenapa? Kau terkejut?" Mimik wajahnya kali ini benar-benar terasa sangat mengerikan.
Aku benar-benar merasa ketakutan sekarang.
Rambutnya sangat kusut. Wajahnya yang cantik terlihat sangat kusam tanpa polesan apapun. Tubuhnya yang biasa tertutupi oleh pakaian yang serba mewah kini hanya mengenakan Hoodie hitam dan celana jeans panjang dengan sepatu kanvas kotor.
Benar-benar berbeda dengan Fei yang dulu aku tahu.
"Aku baik-baik saja..." jawabku senormal mungkin berusaha menutupi ketakutan ku. "Bagaimana kabarmu?" Aku kembali bertanya karena aku sebenarnya juga merasa iba padanya.
"Kau masih bertanya bagaimana keadaanku?!!!" Teriaknya kesal dan menatap ke arah ku tajam. Sorot matanya benar-benar seperti menyimpan sebuah dendam.
Perlahan Dia berjalan mendekat ke arahku. mataku pun tertuju pada tangan kanannya yang sedari tadi luput dari pandanganku.
Gunting. Ya... tangan kanannya memegang sebuah gunting. Dia mencengkeramnya dengan sangat erat. Terlihat dari pembuluh darah tangannya yang membesar.
"Tunggu Fei... apa yang akan kau lakukan?" aku mundur selangkah sehingga menabrak pantry. Karena merasa terpojok aku akhirnya hanya bisa memegang meja pantry di belakangku takut.
"Apa yang akan aku lakukan?" Fei tertawa lirih sembari terus mendekatiku. "Aku ingin kau menemaniku mati. Aku tak bisa mendapatkan Jinyi maka kau pun tak boleh mendapatkannya!" Teriaknya kemudian sembari mengacungkan gunting yang digenggamnya padaku.
Apakah.... apakah ini akan menjadi akhir dari hidupku?? Aku semakin gemetar dan ketakutan.
***