
Semua terdiam menatap ke arah Jinyi. Mereka sangat penasaran siapa nama yang Jin berikan untuk Little Feng. Tak terkecuali aku. Aku juga sangat penasaran. Aku sama sekali tak ada gambaran siapa nama terbaik untuk Little Feng kami.
"Kakak ipar... Kita gunakan saja nama fetusnya. Feng Xiao Feng. Bagaimana?? Itu bagus juga kan? maknanya juga baik." Huan memberikan saran dengan semangat.
"Iya benar... itu juga mempermudahkan kita memanggilnya kan? Little Feng... Xiao Feng... punya makna yang sama." Ling setuju dengan Huan.
Xiao Feng? Xiao \= Little. Bukankah ini nama yang sangat imut? mungkin akan seperti Xiao Zhan nantinya yang akan selalu terlihat imut. Aihh... berpikir apa aku ini?
Semua terlihat senang. Aku pun menoleh ke arah Jinyi yang tengah tersenyum melihat tingkah mereka. Sepertinya Jin sudah mempunyai nama lain dalam hatinya.
"Jadi sayang... apa kau sudah memikirkan nama untuk anak kita??" Tanyaku padanya penasaran.
Jin pun langsung menoleh ke arahku.
"Menurutmu??" Jinyi malah tersenyum menggoda ku.
Aku mengernyit heran.
"Jin...." Aku mulai merengek padanya karena kesal dia tak langsung memberi tahu dan malah membuat tebak-tebakan.
Jin semakin melebarkan senyumnya dan kemudian meraih tanganku untuk digenggamnya.
"Aku harap kau juga menyukainya." Jin menghela napas dalam.
"Eum. Kalau kau menyukainya aku juga akan menyukainya." Aku mengangguk mantab.
"Sebenarnya ini adalah nama yang tak asing. Nama ini yang pertama kali aku pikirkan setelah mendengar tangis Little Feng pertama kali." Jin menceritakan bagaimana awal mulanya. "Feng Yi Tian." Jin menatapku dengan tersenyum menyebutkan sebuah nama yang membuat kami yang berada dalam ruangan terdiam.
"Feng... Yi... Tian...?" Aku mengulangi nama itu dengan sangat pelan.
"Eum..." Jin mengangguk yakin.
Tiba-tiba dadaku langsung terasa sesak. Ingatan tentang manager Wang kembali berkelebat dengan jelas di pikiranku. Yang paling mengena adalah ingatan terakhir tentang bagaimana dia menyelamatkan ku dan jatuh tersungkur penuh dengan darah. Ini sangat menyakitkan.
"AKU SETUJU!!!" ayahku langsung berteriak senang membuat seisi ruangan terkejut yang kemudian diikuti tawa yang lainnya.
Aku pun langsung tersadar namun tak dapat menyembunyikan perasaan sedihku lagi.
"Ish... kau ini...!" Ibuku mengomel pada ayah sembari memukul lengan ayah pelan.
"Iya sayang... Feng Yi Tian. Apa kau tak menyukainya??" Kening Jin mengkerut melihat reaksiku.
"Tidak... bukan seperti itu. Itu... itu ... itu adalah nama yang sangat bagus. Hanya saja.... nama itu membuatku teringat pada seseorang." Ucapku sendu.
Jin menatapku dengan tatapan mata yang mengerti tentang apa yang aku pikirkan.
"Mei...." Jin memanggil namaku, sepertinya ingin menjelaskan sesuatu padaku. "Menurutmu?? kenapa aku memberikan nama itu??" akan tetapi Jin malah kembali memberikan pertanyaan yang penuh teka-teki padaku.
"Aku tak mengerti..." Aku menggeleng pelan.
Tangan kanan Jin tiba-tiba langsung merengkuh wajahku.
"Yi, Karena dia adalah anak kita yang pertama. Aku juga berharap dia kelak akan menjadi yang utama. Menjadi pemimpin yang bijaksana. Tian... adalah perhiasan kita yang berharga, baik budi pekertinya dan juga ... karena dialah pahlawannya. Pahlawan kita. Pria hebat yang telah menyelamatkan istri dan anakku." Jin menjelaskan sembari mengusap sebelah pipiku dengan ibu jarinya.
"Benar! Tian mempunyai makna yang luas. Itu sangat bagus. Itu juga sebagai penghargaan padanya karena telah menyelamatkanmu dan cucuku." Ayahku benar-benar senang.
Sekarang aku mengerti. Jin sengaja menggunakan nama Tian karena dia sangat berterimakasih padanya. Dan ingin mengenang Wang Tian dengan penghargaan yang tak ternilai harganya.
Feng Jinyi... suamiku... aku tak menyangka kau sebijaksana ini. Pasti Wang Tian akan sangat bahagia melihatnya dari surga.
"Jin..." Aku meraih tangan Jin yang tengah merengkuh wajahku kemudian ku genggam dengan erat. "Aku tak tau bagaimana lagi aku harus berterimakasih padamu. Ini benar-benar...." aku tak sanggup melanjutkan kata-kataku dan malah terguguk.
"Eiii... sayang.... sini...." Jin kemudian menarik ku dalam pelukannya hangat.
Aku bahkan tak pernah berpikir Jin akan memberikan nama Kak Tian untuk anak kami.
"Benar.... tanpa nak Tian, mungkin Mei dan Little Feng kini tak akan bersama kita." Ibuku yang memangku Little Feng kini mulai menangis.
"Dia benar-benar pria hebat, dia hanya menyukai satu perempuan selama hidupnya." Ling ikut berkaca-kaca.
"Hei... aku juga akan menyukaimu selama hidupku." Huan tiba-tiba menyela.
"Yaakk... ayah!" Huan berteriak kesakitan karena ayah memukul kepalanya pelan dengan tablet yang sedari tadi dipegangnya.
"Buktikan dulu kau bisa sukses, lalu kau boleh merayu Ling!!" Ayah mengancam.
"Atau aku akan mencari pria lainnya." Ling mengimbuhkan dengan tatapan yang lebih tajam ke arah Huan.
"Tenang saja sayang... aku akan menjadi orang yang saaaangat sukses. Bahkan lebih sukses dari pada kakak ipar. Asalkan kau terus bersamaku." Huan mulai merayu Ling sehingga membuat kami semua tertawa melihatnya.
"Tapi kakak ipar, keponakanku ini Yi Tian? apakah kelak akan ada Er, San, Se dan seterusnya??" Huan polos bertanya.
"Apa???" Jin langsung terkejut mendengar pertanyaan Huan. "Seterusnya???" Jin balik bertanya.
Benar juga. Rasanya saja jalan lahirku masih ngilu. Bagaimana bisa Jin berpikir untuk membuat Little Feng selanjutnya? Aku pun menatap ke arah Jin tajam.
"Tidak.... tidak.... tidak....!" Jin Histeris. "Kalau saja aku bisa menggantikannya melahirkan Little Feng, aku siap ada Feng selanjutnya. Tapi kalau saja kau melihat langsung kakakmu berjuang di ruang persalinan, kau pasti tak akan menanyakannya. Saat paling menakutkan dan menegangkan dalam hidupku. Tidak ... Cukup Yi Tian saja." Jin berkata panjang lebar dengan mimik wajahnya yang terlihat ketakutan.
Aku pun langsung tersenyum mendengar jawaban darinya. Berarti dia memahami bagaimana diriku.
"Tapi kalau sendirian, pasti dia akan kesepian seperti dirimu." Huan tak mau kalah menggoda Jin.
"Tenang saja, nanti biar Ling saja yang melahirkan banyak anak, jadi Tian Tian tak akan kesepian." Aku mengedipkan mataku pada Jin.
"A... APA??? Aku???" Ling terkejut.
"Iya.... buatkan sepupu untuk Tian Tian yang banyak agar Tian Tian tak kesepian." Aku berbalik menggoda.
"Benar.... sepertinya, kemarin kau masih ada jadwal kencan buta." Jin ikut menggoda.
"Tidak...!!! tidak boleh!" Huan Histeris.
Melihatnya demikian kami pun langsung tertawa karena Huan kena batunya.
Tok tok tok...
"Permisi?" Suara seseorang membuka pintu.
Dan tak berapa lama kemudian dua orang memasuki ruangan.
"Dokter Zhao? mari silahkan." Ibuku berdiri sembari menggendong Tian mempersilahkan dokter Zhao dan asistennya masuk ke ruangan ku dirawat.
Dokter Zhao hanya mengangguk dan tersenyum kemudian melangkahkan kakinya mendekatiku.
"Ibu sudah merasa baik?" Tanya dokter Zhao padaku ramah.
"Syukurlah, sudah dokter. Sudah sangat baik." Jawabku mantab.
"Syukurlah. Ah nanti ibu akan di ambil sampel darahnya, jika ibu tidak ada keluhan, besok sudah boleh pulang." Jelas dokter Zhao.
"Syukurlah." Ucapku senang.
"Tapi dokter.... istriku..."
"Tidak apa-apa pak, ketika ibu melahirkan normal beliau akan cepat sehat asalkan mematuhi anjuran kesehatan, makan teratur dan cukup istirahat. Jangan khawatir. kondisi ibu dan bayi sangat sehat. Kita lihat dulu hasil lab ibu. Semoga besok benar-benar bisa pulang." Dokter Zhao menjelaskan.
"Syukurlah kalau begitu. Terimakasih dokter." Ucap ayahku senang.
"Baik, nanti akan ada petugas yang akan kembali mengambil sampel darah ibu. Kalau begitu, kami permisi." Ramah dokter Zhao undur diri.
Aku menoleh ke arah Jin yang terlihat sangat khawatir.
"Tenang sayang. Semua baik-baik saja. Aku sudah sehat." yakinku pada Jin.
"Eum." Jin mengangguk tapi masih terlihat khawatir.
Aku pun tersenyum geli melihatnya.
Awalnya aku tak tau apa tujuan hidupku, bahkan aku tak peduli tentang bagaimana nasibku. Tapi setelah aku menyadari bahwa aku menyukai Jinyi. Aku pun mengerti dan mempunyai impian. Bahwa aku ingin hidup bahagia di sampingnya dengan anak kami. Semoga tidak akan ada lagi rintangan di depan kami.
***