WE GOT MARRIED

WE GOT MARRIED
Chapter 63 MAAFKAN AKU



"Mama.... mama.... ayo bangun.... mama bangun..." Seorang anak kecil dengan suaranya yang khas nan imut terdengar seolah memanggilku berulang-ulang dan menyuruhku untuk bangun.


Badanku terasa lemas sekali. Aku berusaha membuka mata, tapi entah mengapa terasa sangat berat.


"Mama..." Lagi... suara itu terngiang jelas terasa nyata memanggilku lagi.


Apakah benar suara itu memanggilku?


Sekilas terlintas potongan bayangan-bayangan ketika aku melihat monitor USG pertama kalinya, pergi ke kantor Jin setelahnya dan kemudian bertemu dengan Fei. Hingga bayangan terakhir saat aku terjatuh dan merasakan sakit di perut bawahku yang teramat sangat.


 


"Mama...." Panggil suara itu yang kesekian kalinya.


Tidak. Janinku. Calon anakku. Seketika ingatan itu langsung membuatku tersentak sehingga mampu membuatku membuka mata. 


Nafasku memburu. Antara bingung dan ketakutan.


 


“Anakku.” Itulah kata pertama yang langsung keluar dari mulutku saat aku tersentak dan membuka mataku secara spontan.


“Sayang? Sukurlah kau sudah bangun.” Jin langsung menghambur memelukku sambil menangis kemudian sesekali menciumi ubun-ubun kepalaku.


 


"Mana yang sakit eum?" Jin menyentuhku mulai dari kepala, tangan, perut semua secara bergantian mencari di mana aku merasakan kesakitan.


Aku masih tak merespon dan hanya menyisakan satu pertanyaan. Bagaimana nasib janinku?


 


“Huan... Cepat panggil dokter.” Ibuku memberikan perintah pada Huan histeris, sedangkan aku yang masih tertegun antara bingung dan takut hanya menoleh ke arah ibuku dan Jin bergantian.


 


"Ibu... apakah janinku baik-baik saja?" Aku meraih tangan ibuku yang berada di samping kananku.


 


“Nak....? Mau minum?” Ku lihat ayahku begitu tergopoh ingin memberikanku minum.


"Ayah... semua baik-baik saja kan?" Karena tak mendapatkan jawaban dari ibuku akhirnya aku bertanya pada ayahku dan mengabaikan tawarannya untuk memberiku minum.


 


Tiba-tiba aku merasakan kepalaku pening kembali dan mual yang sebelumnya ku rasakan kini juga mulai datang menghampiri. Semua mata orang yang ada di sekitarku terlihat sembab.


Kenapa mereka semua menangis? aku yakin mereka baru saja menangis.


“Jin.... Calon bayi kita baik-baik saja kan?” Tanyaku padanya karena ayahku juga mengabaikan pertanyaanku.


Jin tak langsung memberikan jawaban, Aku merasakan sesuatu yang berat menyumbat di jantungku hingga membuatku merasakan sesak dan sulit bernafas.


Aku yakin sekali Jin dan orangtuaku sudah tau kalau aku tengah mengandung. Makanya aku menanyakan perihal janinku. Tapi kenapa mereka tak ada yang menjawab pertanyaanku.


Perasaanku berkata pasti sesuatu yang buruk tengah terjadi padaku. Karena Jin dan seluruh keluargaku hanya menatapku sendu dan tak menjawab pertanyaanku.


“Jin????” Aku mencengkeram lengan Jin meminta jawaban.


 


Jin menatapku bingung.


“Jin???” sekali lagi aku memanggilnya. Namun kali ini air mataku sudah tak dapat ku bendung lagi.


"Sayang.... tenang dulu..." Jin kembali memelukku mencoba menenangkan.


"Kita tunggu dokter eum? Tenanglah..." Jin masih memelukku dan mengusap-usap rambutku pelan.


Kenapa harus menunggu dokter? Aku takut. Aku mulai menangis tertahan. Ini bukan karena aku miscarriage kan? Tidak. Itu tak mungkikin.


Aku tak mau itu terjadi. Ya Tuhan... jika sampai aku miscarriage, aku benar-benar tak akan memaafkan diriku sendiri.


 


“Ibu sudah sadar?” Suara yang terdengar tak asing memasuki ruangan memutus perkataan Jin. Ku lihat Huan berjalan masuk bersamanya.


“Dokter Zhao? Calon bayiku?” Tanyaku masih sesenggukan.


Ya... mungkin Jin sudah melihat kotak kejutanku yang gagal, makanya dia tau jika dokter yang menanganiku adalah dokter Zhao sehingga membawaku kembali ke rumah sakit yang aku datangi sebelumnya.


Dokter Zhao masih tetap sama tersenyum ramah dan menenangkan. Namun hatiku terasa sudah sangat hancur.


“Bagaimana rasanya? Apaka sudah lebih baik?” Tanyanya lembut dan sabar. “Apakah masih terasa sakit di sini?” Beliau melanjutkan pertanyaannya dengan menyentuh perut bawahku yang hanya ku balas dengan gelengan kepala.


Perutku rasanya sudah tak sesakit tadi saat aku mengeluarkan darah, tapi perasaan tegang masih ada.


“Mualnya apakah masih terasa juga?” Dokter Zhao yang menyentuh perutku pelan kemudian mengusap-usapnya lembut.


Aku kembali mengangguk padanya. Kemudian ku lihat dia tersenyum kembali. Tak berapa lama dua orang perawat memasuki ruanganku dan mendekat ke arahku.


“Karena Pasien sudah terbangun, sebaiknya kita bawa ke ruang Ultrasonografi agar penjelasan saya lebih detil.” Dokter Zhao menyarankan.


Jin dan seluruh keluargaku mengiyakan. Tapi aku merasa ketakutanku semakin menjadi. Sepertinya aku mulai msnangis lagi. Perlahan aku mencengkeram lengan Jin lagi memberinya isyarat agar dia berada di sisiku selama di ruang ultrasonografi.


“Tak apa-apa sayang.” Jin menenangkan kemudian menggenggam tanganku yang tengah mencengkeram lengannya dan mengecup keningku pelan berusaha membuatku lebih tenang.


Perlahan aku didorong untuk dibawa memasuki ruang ultrasonografi. Ayah, Ibu dan Huan menungguku di luar karena ruangan di dalam tidak begitu luas. Sehingga hanya diperkenankan satu orang saja yang mendampingi, Jadi... Hanya Jin yang menemaniku dan meyakinkanku bahwa semua akan berjalan baik-baik saja.


“Baik.... mari kita lihat lagi ya?” Dokter Zhao mulai meletakkan alat USG ke perut bawahku yang sudah diberikan gel sebelumnya.


Jin menggenggam tangannku erat.


Dengan rasa takut yang bercampur dengan ingin tahu aku memberanikan diri menatap monitor besar yang ada di depanku.


"Tadi ibu mengalami pendarahan yang lumayan banyak, apalagi ibu sampai pingsan juga. Jadi benar-benar waktu yang kritis bagi ibu untuk mempertahankan janinnya.Namun... Ibu dan bapak bisa melihat apakah di sini masih terlihat sesuatu?” tanya dokter Zhao kepada kami dengan mengarahkan panah mousenya ke arah sesuatu hitam bulat yang tak terlihat jelas.


Aku mulai ketakutan. Sebelumnya Janinku benar-benar terlihat jelas tapi kini terlihat buram.


“Iya.” Jin menjawab singkat dengan pandangan fokus menghadap ke monitor dan tangannya menggenggam erat tanganku.


“Dan syukurnya... Calon bayi bapak dan ibu baik-baik saja.” Dokter Zhao tersenyum memberitahukan kabar bahagia.


Aku dan Jin yang mendengarnya malah terkejut dan spontan menangis tersedu-sedu, tak bisa berkata apa-apa.


 


Jadi... sebenarnya keluargaku dan Jin, belum mengetahui keadaanku yang sejujurnya karena dokter Zhao meminta untuk menungguku sadar terlebih dahulu. Dan hanya memberitahu Jin bahwa aku sudah membaik. Karena itu saat aku terbangun semua merasa kebingungan harus menjawab apa.


 


Sekali lagi Jin mencium keningku. Lama dan terasa sangat hangat. Bisa ku lihat betapa bahagianya dia. Dokter Zhao yang melihat kami seperti ini sepertinya juga ikut tersenyum senang.


“Seperti yang saya katakan pada ibu saat periksa pertama kali, bahwa rahim ibu sehat. Hanya saja saat ibu terjatuh, rahim mengalami sedikit shock sehingga terjadi pendarahan. Ini sebuah mukjizat. Biasanya ketika terjadi pendarahan yang lumayan banyak seperti ibu tadi, ditambah lagi ibu sempat pingsan janin akan sulit tertolong. Karena pada saat pingsan ada dua kemungkinan, nafas sempat terhenti atau masih bernafas dengan baik. Jika nafas terhenti sementara, pasokan oksigen dalam darah akan berkurang dan akan membahayakan janin juga, Syukurnya... saat pingsan, ibu masih mengatur nafas dengan baik, jadi janin mendapatkan pasokan oksigen yang baik juga. Selain itu... sepertinya... calon putra bapak dan ibu benar-benar punya semangat yang kuat untuk membahagiakan orang tuanya juga.” Dokter Zhao menjelaskan kemudian memberikan semangat kepada kami.


Air mataku benar-benar tak bisa berhenti saking senangnya.


“Tapi... karena kasus ini, saya menyarankan jika ibu harus di rawat di sini sampai benar-benar sehat kembali. Setelahnya, Ibu harus bed rest total hingga melalui masa trimester pertama. Karena pada masa inilah kandungan benar-benar sangat rawan. Selain itu, Kami menyarankan ini agar kami bisa dengan mudah mengontrol nutrisi ibu, karena asupan nutrisi ibu akhir-akhir ini benar-benar buruk.” Dokter Zhao menambahkan penjelasannya kemudian prihatin.


“Tak apa dokter. Meskipun harus disini selama satu bulan juga tak masalah asalkan istri dan calon bayi saya sehat dan baik-baik saja.” Jin begitu bersemangat.


Melihatnya seperti ini, benar-benar membuatku merasa sangat bahagia. Hampir saja aku akan kehilangan janinku. Dan hampir saja aku akan menjadi gila karena rasa bersalahku pada janinku.


Syukurlah.... semua itu tak akan terjadi. Jadi... mulai sekarang aku akan fokus saja pada kehamilanku dan kebahagiaan keluarga kecilku.


"Sepertinya aku harus memberikan Fei pelajaran." Jin terlihat marah saat kami sudah kembali ke ruang perawatan.


"Jangan...." Aku menarik tangan Jin dan menatapnya memohon.


"Tapi Mei?" Jin tak mengerti apa yang aku mau.


"Kita fokus saja pada Little Feng." Senyumku meyakinkannya.


Lama... namun akhirnya Jin menerima permintaanku.


"Kau benar, Little Feng adalah prioritas." Ucapnya sembari memelukku lagi.


***