
Ternyata meskipun dia sebenarnya adalah orang yang sangat kaya raya, tapi kenyataannya, dia tidak bergaya hidup mewah seperti dalam drama dan film yang aku lihat atau novel yang sering aku baca. Rumahnya seperti rumahku, tak jauh berbeda begitu sederhana. Tanpa sadar aku tersenyum tipis.
Di depan rumahnya banyak terdapat tanaman hias dan bunga-bunga yang sangat cantik. Sepertinya keluarganya punya asisten khusus untuk merawat semua ini.
Pertama kali saat aku membuka pintu, aku langsng di sambut oleh angin ringan semilir nan lembut namum mampu membuat rambutku bergelombang terkena sapuannya. Sejuk sekali.
Aku tersadar dan melihat Jin sudah berjalan sendirian berada di depanku tanpa menunggu aku yang tengah memperhatikan sekitar.
Ini... Sungguh sebuah attitude yang buruk dsri seorang pria. Seharusnya jika dia merasa sebagai seorang pria sejati, dia akan berhenti untuk menunggu atau bahkan berjalan bersama wanita itu meskipun dia bukan pacarnya.
Dengan sebal aku berjalan cepat mengejarnya yang hendak mememasuki rumah.
“Aduh calon mantuku sudah datang. Mari... kau terlihat lelah sekali?” Bibi Feng menyambutku seolah kita telah lama tidak bertemu. Dia menciumiku dengan antusiasnya membuatku membelalak heran dan tak percaya. Aku melirik sesaat ke arah Jin yang hanya tersenyum simpul mengalihkan pandangan dariku dan bibi Feng.
Ah ku rasa memang bibi Feng benar-benar menyukaiku sebagai calon menantunya. Tunggu! Aku kan belum menyetujui perjodohan ini? Tapi....???
Ya Tuhan... tak tega rasanya jika aku harus menolak untuk menjadi menantunya. Mata cantik itu, senyum lembut itu? Pasti akan berubah menjadi sendu. Tak ceria lagi seperti saat ini.
Baik sekali.... aku belum tentu bisa mempunyai ibu mertua sebaik ini selain dia. Pikiran macam apa ini? apa aku akan menerimanya? antara hati dan pikiranku terus saja memberikan opini baik dan buruknya. Mungkin kalau di serial tv atau drama, ibaratnya ada angel dan demon dalam dirinya yang mencoba untuk mempengaruhi.
Pikiran ini terus berkecamuk dalam otakku. Jantungku terus berdegub begitu kencang sehingga membuatku sulit untuk bernafas normal. Sesekali aku menghela nafas berat mencoba mengendalikan organ tubuhku yang mulai aneh.
“Ayoo kita ke ruang makan, semua sudah menunggu lama.” Ucap bibi Feng sembari menggamit lenganku menuntunku berjalan menuju ruang makan.
Pikiranku tentang asisten khusus sebelumnya sepertinya salah. Karena bibi Feng terlihat mempersiapkan semuanya sendiri. Terlihat dari celemek yang dia lepaskan saat ini.
Wow.... kemungkinan dia membereskan semuanya sendiri. Mulai dari berbenah rumah dan sebagainya. Seperti ibuku. Meskipun berdiam di rumah saja, tapi tak pernah menganggurkan tangannya.
Jin dengan santaknya duduk di sebelahku. Sedangkan aku? Bagaimana aku bisa merasa santai? Karena setelah acara makan malam ini aku akan diinterogasi dadakan oleh seluruh anggota keluargaku dan keluarganya. Yang tak pernah ku pikirkan sebelumnya. Bodohnya aku yang bersikap sangat santai sehingga tak memikirkan perjodohan ini dengan baik sebelumnya.
Tapi... siapa juga yang bisa memikirkan hal semacam ini hanya dalam kurun waktu kurang dari 2x24 jam??? Memangnya... seperti kita mau beli tofu apa? haahhh.... sigh.
"Makanlah yang banyak." Paman Feng mengambilkanku potongan daging asam manis yang langsung diletakkannya ke mangkukku.
"Terimakasih." Ucapku canggung.
Aku bahkan merasa tak nafsu makan. Tapi kenapa paman Feng terus menerus mengambilkanku potongan daging.
"Ini nak... kau pasti lelah seharian bekerja." Kini giliran bibi Feng yang mengambilkanku.
"Terimakasih." Ucapku lagi pasrah.
Aku melirik sekilas ke arah ayah dan ibuku yang tersenyum mencurigakan.
Rasanya makan malam kali ini sangat menderita. Bagaimana tidak, menelan nasi saja rasanya seperti menelan batu padas yang sangat tajam dan keras. Leherku serasa tercekat. Kerongkonganku serasa menciut. Apakah begini ini rasanya ketika kita dihadapkan pada suatu keputusan yang harus diambil saat itu juga?
Namun pada akhirnya aku mampu menghabiskan nasi dalam mangkukku meskipun aku harus berusaha sekuat tenaga untuk menghabiskannya.
Setelah semuanya selesai, aku bergegas membereskan semua yang ada di meja.
"Nak... tak apa, biarkan saja. Nanti biar ibu yang bersihkan. Kau ke ruang tamu saja." Bibi Feng melarangku.
"Tak apa-apa bi, saya sudah terbiasa." aku tersenyum kepadanya dan melanjutkan kegiatanku.
"Tenang saja, biar Mei yang melakukannya. Dia sudah biasa melakukan pekerjaan rumah." Ucap ibuku meyakinkan.
"Kalau begitu... maaf ya nak?" Ucap bibi Feng sebelum beranjak ke ruang tamu bersama ibuku.
Perlahan aku mulai mencuci piring-piring kotor yang telah menumpuk di wastafel dapur.
"Ya Tuhan!!!" Aku memekik pelan ketika tiba-tiba seseorang berdiri di dekatku sehingga membuatku terkejut dan hampir menjatuhkan piring yang tengah ku pegang.
"Apa perlu bantuan?" Ucap Jin yang tengah berdiri di samping kananku.
Aku menghela napas panjang kemudian melanjutkan kegiatanku lagi.
"Tak perlu... sudah hampir selesai." Ucapku padanya tanpa menoleh dari cucianku.
"Eoh... ok." Ucapnya santai kemudian melipat kedua tangannya di depan dada dan menyandarkan tubuhnya pada kabinet setengah duduk di pantri masih di dekatku.
"Apa kau ada kekasih?" Tanyanya tiba-tiba mengejutkanku.
Aku menoleh ke arahnya sekilas.
"Aku?? Tidak... belum..." Jawabku sambil menggeleng heran kemudian melanjutkan kegiatan.
Kenapa dia menanyakan hal ini?? kenapa juga aku menjawab belum??? bukankah ini berarti aku bodoh?? Aku mengumpat pada diriku sendiri dalam hati.
Akhirnya selesai juga. Dan aku beranjak mengeringkan tanganku dengan lap yang tergantung di dekat Jin.
"Maaf... itu... lap..." Aku gugup sekali.
"Ahh... ini??" Jin geragapan dan mengambilkan lap yang tergantung di sampingnya kemudian diberikannya padaku.
"Terimakasih." ucapku dan dengan segera mengalihkan pandanganku darinya.
"Aku... ke ruang tamu dulu." Ucapnya sembari beranjak ragu-ragu.
Aku hanya mengangguk mengiyakan. Setelahnya aku akan beranjak ke ruang tamu. Tapi sebelumnya aku menarik napas panjang tiga kali agar aku tak merasa gugup lagi karena aku akan segera diinterogasi.
Tapi rasanya aku ingin sekali pergi ke kamar kecil. Aku ingin pup ahh... tidak... aku ingin pee ahh... sepertinya tidak juga. Yang jelas ini karena aku sangat gugup.
Namun akhirnya aku beranikan diri dan beranjak ke ruang tamu. Aku duduk di antara ibuku dan bibi Feng.
“Jadi.... apakah kau mau menerima Jin menjadi calon suamimu?” tanya ayahku di depan semua anggota keluarga kami. Apakah ini namanya manusiawi?? Aku bahkan baru saja duduk. Tapi ayah sudah menanyakan hal ini.
Jika bisa, ingin aku skip saja jika waktu saat ini. Tapi sayangnya aku tak bisa melakukannya. Pasrah. Aku akhirnya harus memberikan keputusan juga. Agar kedua keluarga mendapatkan titik terang.
Aku terdiam tak berkata sedikit pun. Aku menatap ke arah Jin yang tengah duduk di samping ayahnya, dia menatap ke arah meja tak memperhatikanku. Dia seperti tengah berpikir. Kemudian ku edarkan pandangan mataku ke arah yang lainnya yang tengah berharap-harap cemas akan jawaban kepastianku.
Aku menghela napas berat. Apa yang harus aku katakan? Bibi Feng yang sedari tadi duduk disampingku, kini mulai meraih tanganku dan menggenggamnya lembut. Dia seolah menguatkan dan memberikan semangat padaku. Aku menoleh ke arahnya. Mata kami saling bertemu. Ku tatap matanya dalam. Tatapannya sangat berharap padaku. Senyumnya yang menghangatkan membuatku ingin menangis saat itu juga. Dia terlihat begitu tulus mengharap padaku.
“Aku...” aku mencoba membuka suara parau. Jantungku terasa semakin kuat memompa. “A... aku... aku akan mengikuti alurnya saja.” Ucapku pada akhirnya dengan menunduk sembari menggigit bibir bawahku berharap apa yang aku putuskan ini adalah benar.
Aku sendiri tak tau kenapa aku bisa mengambil keputusan ini. Kini aku mengabaikan jargon hidupku untuk lebih mencintai diriku sendiri. Pada akhirnya aku mengorbankan hidupku untuk kebahagiaan orang lain.
“Ah.... Akhirnya keinginanku akan segera terwujud.” Teriak ayah Jin yang kemudian disambut tawa seisi ruangan senang. sekilas aku melirik Jin yang masih duduk dengan santainya tanpa ekspresi.
“Ah... tunggu...!” ibuku tiba-tiba menyela di antara tawa. “Sepertinya... kita belum tenang jika Jin dan Mei belum menandatangani ini.” Ucapnya seraya menunjukan sebuah map dan meletakkan di atas meja di tengah-tengah kami.
Mataku terkesiap menatap map itu.
“Ini apa?” tanyaku belum mengerti yang dibalas tatapan yang sama dari Jin. Sepertinya dia juga belum mengetahui perihal ini.
“Ah... benar sekali... kami sudah menandatanganinya.” Ucap bibi Feng dengan senyum khasnya.
Dengan perasaan aneh aku beranikan diri langsung saja mengambil dan membuka map tersebut kemudian mulai membaca isinya.
‘SURAT PERJANJIAN PRA NIKAH?’ aku membaca dalam hati namun tidak bisa menunjukkan keterkejutanku. Sungguh aku benar-benar terkejut membaca isinya. Yang intinya di dalam surat tersebut, aku dan Jin berjanji tidak akan menyakiti satu sama lain, tidak akan meninggalkan satu sama lain dan masih banyak lagi. Yang paling akhir, di surat itu tertulis, tidak akan menuntut cerai atau menceraikan satu sama lain.
Ini apa??? Seharusnya kan kontrak pernikahan seperti di dalam drama-drama atau novel?
Aku menjerit histeris dalam hati.
Di surat itu sudah tertera tanda tangan keempat orang tua kami. Dan dua orang notaris dari keluarga Feng dan Zhang.
Sret!!
Disaat aku tercengang, Jin mengambil surat perjanjian itu dari tanganku. Dan tanpa pikir panjang dia mengambil balpoin yang disediakan di atas meja langsung menandatanganinya.
Aku terbelalak tak percaya menatap ke arah Jin. Dia salah tingkah menghindari tatapannku yang tajam. Aku yakin ini tak lebih tajam dari pisau daging. Dengan santainya dia malah memberikan pena yang tadi dia gunakan padaku.
Aku semakin lesu. Semua mata menatap padaku agar aku menandatanganinya, Dan mau tak mau aku harus menandatanganinya juga.
***