
Aku langsung menjatuhkan tubuhku ke sofa perlahan setelah sampai di rumah. Ku pejamkan mata sejenak kemudian menghela napas panjang.
Jin juga melakukan hal yang sama denganku. Kami duduk di satu sofa tapi berada di ujung yang berbeda.
"Sayang.... kemarilah...!" Ucap Jin sembari menarik tanganku agar aku lebih mendekat padanya.
Aku pun mengikuti apa maunya dengan duduk lebih dekat padanya. Tidak hanya lebih dekat, tapi aku juga bergelayut manja dalam pelukannya.
"Apakah ini sudah berakhir?" Aku tiba-tiba bertanya seperti itu.
Mungkin ini karena batin dan pikiranku benar-benar merasa lelah akan kejadian akhir-akhir ini.
Benar kata orang-orang, hidup itu tidak semulus paha Dilireba Dilmurat. Bahkan lebih berliku dan menanjak dari jalur pendakian puncak Himalaya. Sigh.
Tapi dengan begitu, aku bisa menjadi pribadi yang lebih kuat lagi.
"Aku harap begitu. Semoga Fei cepat ditemukan oleh polisi." Jin menjawabnya dengan sedikit kebimbangan.
Mendengar jawaban Jin, sebenarnya aku juga merasakan bimbang, namun aku juga merasa sedikit lebih lega karena Fei sudah dalam pencarian. Dan tidak akan ada lagi yang berniat memisahkan aku dan Jin.
Nyaman. Aku merasa sangat nyaman berada dalam dekapan Jin. Entah kenapa aku seperti sudah sangat lama sekali tak merasakan kenyamanan dalam pelukannya seperti ini.
Sebelah tangan Jin kini mulai mengusap-usap perutku sehingga membuatku semakin merasa rileks.
"Mei.... maafkan aku." Tiba-tiba Jin mengucapkan kata maaf padaku sehingga mataku yang semula memejam merasakan kenyamanan, kini mulai membuka lagi dan mendongak ke arahnya.
"Maaf? untuk apa??" Aku bertanya tak mengerti.
"Maaf.... karena telah membuatmu berada dalam situasi yang sangat sulit akhir-akhir ini. Dan maaf... karena aku benar-benar tak bisa menilai Fei dengan benar, sehingga harus membuatmu berada dalam sitiasi yang berbahaya." Jin menegaskan dengan perasaan sangat menyesal.
Aku mengerti apa yang ada di dalam benaknya.
"Jin.... ini semua bukan salahmu... Mungkin... rencana Tuhan memang seperti ini. Kau tau... karena kejadian-kejadian buruk yang kita lalui selama ini... ini membuatku semakin mencintaimu. Karena setiap ujian yang kita dapatkan... membuatku semakin dan semakin tak ingin kehilanganmu. Dan semakin membuatku yakin kaulah tujuan hidupku." Aku menunduk lagi dan memeluk kembali Jin lebih erat.
"Kau benar... karena ini semua... aku semakin tak ingin berpisah denganmu. Mei.... jangan tinggalkan aku... Aku benar-benar sangat mencintaimu." Jin juga semakin mengeratkan pelukannya padaku kemudian mencium ubun-ubunku hangat.
"Apa kau masih meragukanku?" Aku melepaskan pelukan dan menatap lurus ke dalam matanya.
"Tidak.... Aku tak meragukanmu sedikitpun. Mei... aku bahkan tak meragukan bahwa kau adalah jodohku entah sejak kapan." Jin menjawab mantab sembari merengkuh wajahku sehingga kami saling bertatapan dalam.
Aku langsung tersenyum mendengar ucapannya. Namun aku kembali teringat akan Jin yang selalu berada dalam impian para wanita.
"Aku takut ada Fei lain..." Ucapku tiba-tiba sendu kembali.
Jin mengernyitkan keningnya.
"Apa sebaiknya aku memberitahu media siapa sebenarnya istriku? Agar orang tau kalau pernikahanku bukanlah hanya isu saja.Dan agar semua tau bahwa kau adalah istriku." Jin memberikan gagasan.
Sebenarnya aku sangat siap. Tapi sepertinya Jin tak yakin dengan gagasannya.
"Tidak.... aku punya banyak musuh di luar sana. Aku tak mau mereka menyakitimu." Jin menarik gagasannya. "Aku bahkan lebih takut banyak pria lain yang menyukaimu. Kau tak sadar betapa menariknya dirimu." Jin mengutarakan perasaannya.
Aku hanya tersenyum menatapanya kemudian mengecup bibirnya singkat.
"Aku hanya ingin kita bahagia tanpa ada aral lagi." Ucapku padanya dengan senyum meyakinkan. "Jadi.... mari kita lalui segala kesulitan bersama dan lebih lagi untuk saling percaya." Ucapku kemudian mengecupnya lagi.
Jin mengangguk dan tersenyum menyetujui perkataanku.
"Baiklah... aku siapkan air untukmu mandi ya...?" Jin tersenyum menawarkan sembari beranjak berdiri.
"Tak perlu sayang.... aku bisa sendiri." Aku menarik tangan Jin yang beranjak pergi.
"Tidak.... kau duduk saja di sana, nanti aku panggil kalau sudah siap." Jin mengusap pipiku gemas.
"Aku mau bersamamu beberapa saat saja..." Aku merengek padanya.
Jin mengernyit heran kemudian duduk kembali di sampingku.
Sekilas dia mengecup bibirku ringan kemudian menarikku dalam dekapannya lagi.
"Baiklah...." Jin tersenyum senang mendapatiku yang memanja.
Perutku tiba-tiba merasa berkedut ringan. Ini pasti gerakan little Feng.
"Sayang.... rasakan ini." Aku menarik tangan Jin dan menaruhnya di bawah pusarku agak ke kanan.
Gerakan itu semakin nyata ku rasakan. Jin tiba-tiba membelalakkan matanya.
"Apakah.... ini....???" Jin tercengang.
"Huum..." Aku mengangguk. "Dia menyapamu." Ucapku sembari tersenyum.
Secepat kilat Jin langsung menunduk dan menempelkan telinganya pada perutku yang mulai membuncit.
"Nak.... apa ini kau???" Jin begitu excite-nya menyapa perutku sembari mengusapnya perlahan.
Dan gerakan itu semakin terasa nyata. Aku tersenyum melihat tingkah Jin yang kegirangan.
"Sayang.... kau bisa mendengar papa???" Jin lagi-lagi bertanya pada perutku dan mengusap-usapnya gemas.
Dan sepertinya Little Feng memang bisa mendengar sapaan dari papanya. Dia terus saja bergerak-gerak di sana.
"Ya Tuhan.... anakku...." Jin memeluk perutku dan sesekali menciuminya. "Aku sungguh mencintai kalian...." Jin sepertinya terharu.
Ya... Ini kali pertamanya aku memperlihatkan gerakan little Feng padanya. Meskipun gerakannya belum kuat dan hanya sebatas kedutan atau perut yang tiba-tiba tegang dan menonjol.
Tanganku mulai bergerak menyentuh rambut Jin dan mulai membelainya sayang.
"Jin...." Aku memanggilnya perlahan.
"Eum??" Jin mendongak ke arahku.
"Apa?? Mi Hitam?" Jin tercengang. "Bukankah kita tadi sudah makan di luar bersama Huan dan Ling? Ya meskipun bukan Mi Hitam, tapi kau tadi makan banyak sekali sayang..." Jin bertanya heran.
Iya, kami tadi memang makan malam di luar bersama mereka. Dan aku makan banyak sekali. Entah kenapa nafsu makanku sangat besar hari ini.
Apakah karena pikiran dan hatiku yang sudah merasa lebih lega sehingga aku bisa merasakan apa yang biasa ibu hamil lainnya rasakan.
"Tapi aku mau makan mi hitam." Aku merengek lagi padanya.
Jin kemudian menoleh ke arah jam di dinding.
"Ini sudah hampir jam 11 malam sayang. Mana ada rumah makan yang masih buka?" Jin bingung.
"Tapi aku mau itu...." Tiba-tiba aku merasa sedih karena Jin menolak mencarikannya untukku.
"Ok.... ok.... aku akan membelikannya untukmu. Jangan menangis.... tunggu di rumah. Jangan lupa semua pintunya di kunci mengerti?" Ucapnya berpesan kemudian bergegas pergi.
Apa aku sudah gila? di luar sana dingin sekali. Ini sudah memasuki musim dingin. Salju tipis sudah mulai turun. Dan Jin keluar begitu saja tanpa memakai mantel.
Tapi aku benar-benar mau makanan itu. Dalam benakku, pasti enak sekali makan mi hitam dalam cuaca seperti ini.
Sembari menunggu Jin aku mandi air hangat dan berganti pakaian tidur yang lebih hangat. Aku juga sudah menyiapkan air panas dalam bathub untuk Jin mandi nanti.
Aku beranjak keluar kamar membawa selimut dan menunggu di sofa.
Tapi sudah jam 12 Jin belum juga datang. Aku mulai khawatir. Bergegas aku mengambil ponsel dan segera menekan dialpad 1 untuk menghubunginya.
"Aku pulang!" Belum sempat terhubung, Jin sudah memasuki rumah dengan tubuh basah oleh salju. Suaranya terdengar bergetar, pasti dia sangat kedinginan.
"Aku khawatir sekali...." Ucapku langsung menubruknya dan memeluknya erat. Tubuhnya terasa sangat dingin.
Dengan cepat aku melepaskan blazer hitam yang dia kenakan sedari pagi dan membungkus dirinya dengan selimut yang tadi aku bawa keluar kamar.
"Tak apa sayang..." Ucapnya dengan sedikit menggigil.
Aku benar-benar sangat menyesal telah meminta Mi Hitam padanya.
"Kau diam saja di situ!" aku menyuruhnya duduk tenang di sofa, sedangkan aku bergegas ke dapur membuatkannya teh ginseng hangat.
Tak berapa lama aku kembali padanya dan memberikan teh ginseng itu.
"Terimakasih." Ucapnya sebelum menyeruput teh ginseng itu.
"Maafkan aku...." Ucapku kembali memeluknya dari samping.
"Heii... Apapun... demi istri dan anakku aku rela." Ucapnya sembari tersenyum dan mengecup ubun-ubunku. "Cepat dimakan... keburu dingin." perintahnya.
Aku pun melepaskan pelukanku darinya kemudian membuka tutup kemasan Mi Hitamnya. Senang tentu saja, dengan cepat aku memisahkan sumpit dan mulai mengaduknya.
"Sudah tutup semua, tapi untung saja masih ada yang jualan di dekat stasiun Mingbo." Ucapnya dengan suara yang sudah mulai normal.
Stasiun Mingbo? itu kan jauh sekali. Aku menatap Jin antara senang dan sedih. Dalam cuaca seperti ini dia rela mencarikanku Mi Hitam sampai ke sana.
"Eiii.... jangan menatapku seprti itu. Buruan di makan!" Jin tersenyum.
Aku pun mengangguk dan perlahan mulai menyuapkan ke mulutku. Tapi... sepertinya... tidak sesuai dengan apa yang ada dalam ekspektasiku.
"Kenapa?" Jin terlihat khawatir.
Melihatnya yang kedinginan seperti itu, rasanya tak tega jika aku hanya memakan sedikit saja. Jadinya aku memaksanya untuk memakan lebih lagi.
"Ini.... enak...." Ucapku setelah dua kali suapan dengan senyum yang kupaksakan agar dia senang.
Tapi sepertinya tidak dengan perutku. Sepertinya perutku menolak Mi Hitam itu. Rasa mual langsung terasa semakin parah.
Aku tak menyukai bau kecap manis apalagi memakannya. Dan sekarang Mi Hitam yang aku inginkan sudah pasti ada kecap manisnya.
"Hoekkk...." Spontan aku langsung beranjak dan berlari ke wastafel dapur mulai memuntahkan semuanya.
"Mei..... sayang.... kau tak apa??" Jin sudah berada di belakangku dan mulai memijat tengkukku perlahan.
Aku menggeleng pelan kemudian muntah lagi.
"Aku sudah menduganya...." ucap Jin khawatir.
Jin membopongku kembali ke sofa kemudian membersihkan mulutku dengan tisue. Dia kemudian memberikan teh ginsengnya padaku.
"Minumlah sedikit." Perintahnya.
Namun aku menggeleng menolaknya.
"Aku mau jus buah pipa." Ucapku begitu saja tanpa aku pikirkan.
"Apaaa????" Jin terkejut.
Ya aku ingin jus buah pipa yang segar. Pasti enak sekali. Apa lagi perut mual seperti ini, pasti buah Pipa sangat membantu karena rasa asam manisnya.
"Sayang.... ini musim dingin. Di mana aku bisa mendapatkan buah Pipa? Apa kau bercanda?" Jin membelalakkan matanya tak percaya dengan apa yang aku minta.
Benar saja... buah Pipa hanya akan berbuah saat musim gugur. Tapi aku mau makan buah itu. Pasti masih ada beberapa orang yang menjualnya meskipun sudah jarang.
Aku tiba-tiba merasa sedih lagi memikirkan buah pipa. Jin mengehela napas dalam dan panjang.
"Baiklah.... Ini sudah jam 1 malam... kita istirahat dulu ya? baru besok aku carikan buah Pipa untukmu." Jin menghiburku yang tengah murung.
Aku pun mengangguk senang. Perlahan Jin membopongku membawaku berjalan menuju kamar.
Aku pun tak sabar menunggu pagi, karena Jin akan mencarikan buah pipa. Ah... pasti segar sekali rasanya.
***