
Mulai hari ini, aku harus benar-benar menjadi istri yang multi tasking. Harus bisa membagi waktu antara pekerjaan rumah dan pekerjaan kantor.
“Kapan kau akan kembali masuk kerja?” Jin mengejutkanku yang tengah membaca novel di teras rumahnya.
Kemudian dia duduk di kursi yang berada di sampingku sembari membawa tabletnya.
“Eoh? Aku.... hanya mengambil cuti selama 3 hari, jadi besok pagi aku sudah harus mulai bekerja lagi.” Jawabku menjelaskan kemudian melanjutkan kegiatanku membaca novel kembali.
Ya... aku hanya mengambil cuti tahunanku yang biasanya tak pernah aku ambil sama sekali. Dan itu hanya selama tiga hari saja.Jadi pihak kantor tak tau sama sekali jika aku telah melangsungkan pernikahan.
Apalagi menikah dengan Feng Jinyi pengusaha muda yang katanya tampan dan berwibawa. Semua sama sekali tak ada yang tau. Pihak media pun tak tau. Hanya beberapa relasi ayahku dan ayah Jinyi yang terpercaya yang diundang ke acara resepsi. Dan untuk teman kantor, hanya Ling saja yang tau. Karena dia adalah sahabat terbaikku.
“Kalau kau merasa lelah, kau tak harus bekerja. Kau bisa beristirahat di rumah.” Ucapnya kemudian memberikan saran padaku.
Aku mencoba menangkap apa maksud di balik perkataan Jin.
“Aku tak apa-apa, aku masih bisa mengatasinya untuk saat ini. mungkin nanti kalau aku sudah tak bisa mengatasinya, aku akan berhenti bekerja.” Aku tersenyum memberikan jawaban padanya.
Aku sangat mengerti arah pembicaraan Jin yang sebenarnya adalah menginginkanku berhenti bekerja. Namun aku tak bisa jika tidak bekerja. Tidak, aku bisa mati kesepian jika aku tidak bekerja.
“Baiklah... terserah kau saja. Aku juga tak mau begitu mendominasi kehidupanmu. Lakukan apa pun yang kau mau, asalkan kau senang dan tak merasa tertekan.” putusnya kemudian tanpa ekspresi dan kembali berkutat pada tabletnya.
Aku melirik ke arahnya yang tengah fokus pada tabletnya. Kemudian beralih pada novelku lagi cepat-cepat takut jika Jin memergokiku yang tengah memperhatikabnya.
Malam terasa begitu cepat sehingga pagi pun kini sudah menjelang. Ku lirik jam digital di atas nakas di samping tempat tidur yang sudah menunjukkan pukul lima pagi.
Jika biasanya aku bangun pada jam enam, kali ini aku bangun lebih awal karena tugasku semakin bertambah.
Ku sibakkan selimut dan segera beranjak duduk. Sebelum aku beranjak ke kamar mandi, aku merapikan tempat tidurku terlebih dulu.
Jin? Dia masih tidur di kamar ini, tapi dia tidak tidur di atas tempat tidur melainkan di atas sofa panjang di sudut kamar.
Kasihan sebenarnya. Tapi mau bagaimana lagi? Ini untuk kebaikan kita bersama. Emmm... atau untuk kebaikanku sendiri? entalah. Aku tak memintanya. Dan ini adalah inisiatifnya sendiri yang ku sambut dengan gegap gempita.
Setelah dari kamar mandi, ku melihat ke arah Jin yang tengah pulas tertidur dengan selimut yang terjatuh dan tak menutupi tubuhnya dengan baik. Perlahan ku dekati dia dan merapikan selimutnya kembali.
Mataku kemudian terpaku pada wajahnya yang begitu polos dan tenang saat tertidur. Sangat polos seperti bayi.
Benar kata Ling. Bahwa Jin adalah pria yang terlahir sempurna. Hidungnya yang tegas, bibirnya yang tipis kemerahan, alisnya... semuanya terlihat sangat sempurna.
Tidak. Sudah cukup aku mengaguminya, aku harus segera memasak untuk sarapan pagi. Heran. Kenapa aku malah menatap wajahnya seprti ini dan melupakan tugasku. Jadi aku pun segera beranjak menuju ke dapur untuk bersiap memasak sarapan.
Ku buka kulkas dan melihat isinya. Kemudian mengambil beberapa bahan yang sesuai dengan menu apa yang aku pikirkan.
Dengan headset di telinga, lagu BGM President kesukaanku yang berjudul Come To Me mengalun dengan sangat merdu. Rasanya sangat cocok sekali dengan suasana pagi ini. Sesekali aku bersenandung lirih menirukan lirik dalam lagunya sembari melakukan kegiatanku.
“Hummm... Baunya enak sekali...” Tiba-tiba sebuah suara samar datang dari arah belakangku.
“Ya Tuhan!” aku sedikit melompat karena begitu terkejut mendengar suaranya, sehingga headset terlepas seketika dari telingaku.
"Apakah aku mengejutkanmu?" suara yang serak dan berat karena baru bangun tidur, benar-benar telah memporak-porandakan konsentrasiku.
"**...ti..tidak..." Jawabku gugup.
“Memasak apa?” tanyanya sedikit menunduk sehingga napasnya mengenai cuping telingaku.
Seketika bulu kudukku langsung meremang. Ada sensasi aneh menjalar dari ubun-ubun kepalaku hingga ujung kakiku. Pipiku terasa mulai memanas lagi.
Aku menoleh ke arahnya yang kini tengah menunduk di atas pundakku. Tidak benar-benar di atas pundak sebenarnya. Wajah sembabnya setelah bangun dari tidur kenapa sepertinya terlihat semakin tampan sekali. Bahkan lebih tampan dari dia yang dalam keadaan setelah mandi.
“Jangan dekat-dekat denganku... kau masih bau.” Ucapku memberi alasan agar dia segera pergi dariku.
Padahal, alasan sebenarnya adalah agar aku bisa mengatur detak jantungku karena dia berada terlalu dekat denganku.
“Iya kah?” tanyanya dengan polos dan mencoba membaui dirinya sendir. “Ahh... benar. Kalau begitu aku ke kamar mandi dulu.” Senyumnya kemudian beranjak pergi ke kamar mandi meninggalkanku sendirian di dapur.
Aku hamlir pingsan dibuatnya.
“Hufhh....” aku bernapas lega sembari memegang dadaku yang berdegub tak beraturan.
Sepertinya aku memang mengalami kelainan jantung atau bagaimana? Kenapa aku sering sekali mengeluhkan tentang detak jantungku. Kenapa selalu seperti ini? apa sebaiknya aku ke dokter saja? aku terus bertanya-tanya dalam hati.
Akhirnya... makanan telah selesai ku siapkan beberapa saat kemudian. Ku lihat jam di dinding sekilas, ternhata masih ada waktu untuk bersih-bersih sesaat.
Aku pun mulai menyapu, mencuci dan berbenah yang lainnya. Hingga akhirnya jam sudah menunjukkan pukul tujuh, aku pun beranjak ke kamar untuk segera bersiap berangkat kerja.
Saat aku memasuki kamar aku melihat sekilas Jin yang sudah berpakaian sangat rapi lengkap dengan dasinya tengah sibuk dengan laptopnya di meja kerja yang berada di sudut kamar.
Tanpa menyapanya aku langsung masuk ke kamar mandi untuk berganti pakaian. Saat aku ke luar dari kamar mandi dia masih sibuk dengan laptopnya. Jadi dia tidak memperhatikanku yang tengah sibuk bersiap ke sana ke mari.
“Ayo kita sarapan dulu!” ajakku padanya setelah siap dan mengambil tas ku yang tergantung di dekat pintu.
“Eoh?” Jin sedikit terkejut kemudian melihat ke arah jam yang menunjukkan pukul setengah delapan pagi. “Ayo!” ajaknya kemudian.
Ku tuangkan susu low fat di hadapannya. Dia kemudian menatap ke arahku dengan memicingkan sebelah matanya heran.
“Kenapa? Apa kau tak suka susu?” tanyaku polos dan ini memang karena aku tak tau apa uang dia suka dan apa yang tidak.
“Tidak... hanya saja...” Jin tak melanjutkan kata-katanya dan langsung menenggak susunya kemudian tersenyum tipis tertahan.
Aku menatapnya bingung. Ekspresinya benar-benar sangat aneh.
Kami sarapan tanpa suara. Sesekali aku meliriknya. Jin... dia seperti punya dunia sendiri. Benar-benar pria dengan beberapa dimensi berbeda.
Kenapa aku berpikir demikian? karena dibalik sikapnya yang dingin dan kaku, ada sifat lembut di dalamnya. Dan aku sangat yakin jika hanya aku dan keluarga lah yang tau tentang sifatnya ini.
Kami pun telah menyelesaikan sarapan. Aku pun mulai bergegas membereskan meja makan dan mencuci piring-piring yang kotor.
Setelah merasa semuanya beres aku langsung bergegas ke luar rumah. Jin sudah menungguku dalam mobilnya sembari memainkan tablet kesayangannya. Aku pun menghampiri dia setelah mengunci pintu rumah.
Sebenarnya, aku tak harus mencuci karena pintu sudah terpasang codepass otomatis. Tapi untuk keamanan aku menguncinya secara manual juga.
Aku berpikir bahwa menikah adalah hal yang sangat sulit. Tapi nyatanya tak sesulit apa.yang aku bayangkan. Apa mungkin karena aku masih beberapa hari saja menikah? Jadi belum merasakan di mana sulitnya pernikahan.
Yang paling aku respect dengan Jin, adalah karena dia sangat mengerti. Padahal aku mengira jika pada awalnya dia benar-benar pria yang tak memikirkan perasaan orang lain kecuali ayahnya dan keluarganya. Nyatanya aku yang sedikit lebih egois. Terbukti dari Jin yang rela tidur di sofa Dan aku di tempat tidur. Begini saja aku sudah meleleh dibuatnya.
“Nanti aku ada pertemuan, mungkin akan pulang larut malam. Jadi tak apa-apa kan kalau pulang naik taksi?” tanyanya khawatir terhadapku.
“Baiklah... aku baik-baik saja.” senyumku padanya meyakinkan.
Aku sudah terbiasa naik taksi atau bus. Jadi buatku itu tak masalah. Aku pun segera keluar dari mobilnya.dan beranjak masuk ke kantor. Jin pun segera beranjak pergi.
“Xiumei... kau di antar oleh siapa barusan?” sebuah suara yang tak asing membuatku menoleh ke arahnya.
Wang Tian? Aku harus jawab bagaimana???
***