
Pekerjaan terakhir hari itu telah ku selesaikan dengan baik. Ku angkat kedua tanganku ke atas untuk merenggangkan otot-otot tangan dan punggungku. Ku pegang tengkukku yang terasa lelah kemudian ku gelengkan kepalaku ke kanan dan ke kiri bergantian.
"Huh...." aku mendesah pelan, rasanya nyaman sekali ketika lelah dan melakukan perenggangan.
Hari ini aku tak perlu pulang tergesa-gesa toh Jin sedang ada pertemuan, jadi... aku mampir berbelanja kebutuhan saja sebentar? Kebetulan sayuran di rumah juga sudah habis. Sekalian aku juga mau merilekskan otak dan pikiran.
Kalau kebanyakan perempuan di luar sana merilekskan pikiran dengan berbelanja baju-baju, tas dan lain sebagainya, aku lebih memilih berbelanja buah dan sayuran yang berwarna warni. Karena itu jauh lebih menyenangkan. Aku tidak mengatakan semua perempuan seperti itu, tapi kebanyakan memang seperti itu. Dan minoritasnya seperti diriku.
Aku pun segera meraih tasku dan segera beranjak berdiri untuk bergegas pulang.
“Ling apa kau sudah selesai?” Tanyaku menghampiri Ling di mejanya.
“Sebentar lagi aku selesai, tapi kau pulang saja dulu. Tak apa-apa kok?!” Ling berkedip ke arahku kemudian melanjutkan kegiatannya lagi.
Bilangnya sebentar lagi selesai, tapi dia masih terlihat sangat sibuk.
“Ya sudah kalau begitu, aku pergi duluan ya? Mau mampir dulu ke pasar.” Ucapku sekenanya.
Bukan pasar sebenarnya. Karena pasar pasti sudah tutup tentu saja, karena ini sudah menjelang malam.
“Ok, hati-hati sayangku....!” Ling melambaikan tangannya padaku dengan senyuman anehnya.
Pasti dia tengah berpikiran macam-macam.
“Chh... dasar.” Aku berdecih pelan kemudian tersenyum sembari meninggalkannya.
Ada supermarket di dekat kantor. Jadi aku putuskan berjalan kaki menuju ke sana. Hanya butuh waktu sekitar 10 menit untuk berjalan kaki sampai di sana.
Suasana supermarket sedikit lebih sepi dari biasanya. Mungkin karena hari ini bukan weekend atau hari libur jadi tidak banyak orang yang berbelanja. Dan ini adalah momen terbaik berbelanja karena tidak berdesakan dan bisa memilih-milih sepuasnya apa yang kita mau.
Aku berjalan mengambil troli sebelum akhirnya memilih-milih apa yang akan aku beli. Mulai dari sayuran, daging, buah hingga snack. Aku berjalan menyusuri semua rak-raknya dan mengambil apa yang aku perlukan.
Setelah berkeliling sekitar 30 menit aku merasa semua apa yang aku cari sudah cukup. Aku pun berjalan menuju kasir sembari mendorong troli belanjaku yang sudah penuh.
Namun tiba-tiba aku teringat sesuatu. Susu. Iya susunya sudah hampir habis. Jadi aku kembali lagi untuk membelinya. Ku lihat di susunan rak, susu yang aku sukai tinggal satu. Akhirnya ku ulurkan tanganku untuk menggapai satu-satu ya susu yang tersedia.
Srettt!!!
Seseorang memegang susu yang sama denganku. Aku sedikit terkejut kemudian menoleh ke arahnya.
“Mei?” Sapa orang itu padaku sunringah.
Ya, ternyata adalah manager Wang. Hatiku berdebar lirih.
“Manager? Anda berbelanja juga?” tanyaku padanya dan bergegas melepaskan kotak susu yang aku inginkan.
“Huum, kau juga mau susu ini? sepertinya tinggal satu.” Tanya manager Wang ragu.
“Ah.. tak apa-apa, buat manager saja.” aku tersenyum padanya. “Ah... sepertinya aku harus ke kasir dulu manager. Permisi.” Aku menunduk pelan kemudian berjalan cepat-cepat meninggalkannya.
“Mei??? Tunggu...!” Manager Wang sedikit berteriak kemudian mengejarku.
Padahal aku ingin sekali cepat-cepat meninggalkannya. Tapi dia malah mengejarku. Sigh. Akhirnya dia berhasil mengejarku dan kini sudah berada di sampingku dengan mendorong trolinya.
Aku tau dia hidup sendiri sudah sejak lama. Dia begitu mandiri. Karena itu aku benar-benar mengaguminya. Tapi entah mengapa. Kali ini aku ingin menghindarinya. Mungkin karena aku mulai menyadari perkataan Ling. Dan aku telah menikah. Bagaimana pun aku harus berusaha mengabaikan perasaan yang membawaku pada kesesatan.
“Ada apa manager?” tanyaku polos padanya saat tengah berada di depan kasir. Dan dia berada di kasir sebelahku sehingga kita bisa saling berbincang.
Namun dia tidak menjawab pertanyaanku dan hanya tersenyum karena dia tengah membuka dompetnya untuk membayar belanjaannya. Tak berapa lama belanjaanku pun telah ternota dan saatnya aku membayar.
“Apakah berat? Sini aku bantu.” Manager Wang mencoba meraih belanjaanku.
“Ah... tidak manager. Aku masih bisa membawanya.” Ucapku menolak dengan halus dan berusaha menjauhkan tanganku dari tangan manager Wang yang hendak menggapainya.
“Tak apa. Belanjaanku Cuma sedikit.” Ucapnya sembari tersenyum dan merampas belanjaanku pada akhirnya. Ya akhirnya aku kalah dari pertahanan.
Aku pun tak bisa berbuat apa-apa dan akhirnya hanya bisa pasrah.
“Terimakasih.” Ucapku canggung.
“Hanya membawakan belanjaan. Tak apa-apa.” Ucapnya dengan melemparkan senyum ramahnya. Dia benar-benar telah berubah banyak.
Aku bingung harus berbuat apa? Kenapa manager Wang jadi seperti ini? padahal dia dulu terkenal sangat cuek. Kan aku sekarang jadi merasa sangat tak nyaman. Aku terus menggerutu dalam hati.
“Aku antar kau pulang?” ucapnya setelah kita berada di depan supermarket.
“Ah... tidak. Terimakasih. Aku... naik taksi saja.” ucapku menolak. Kebetulan mataku melihat sebuah taksi tengah mendekat. “Taksi!” aku melambaikan tangan dan sedikit berteriak hingga akhirnya taksi itu menepi.
“Terimakasih sudah membantuku manager.” Ku lirik sekilas manager Wang yang terlihat kecewa.
Kemudian ku ambil belanjaanku darinya dan mulai memasukkannya ke dalam taksi. Manager wang tak menjawab. Dia hanya memandangku pasrah.
Semua telah aku masukkan ke dalam taksi dan aku beranjak memasukinya.
“Mei... tunggu.” Panggil manager Wang.
“Ya manager?” Aku pun mengurungkan niatku untuk masuk ke dalam taksi dan menoleh ke arahnya.
“Ini... kau lebih memerlukannya.” Ucapnya seraya menyerahkan plastik berisi susu dan beberapa buah-buahan.
“Ah... tidak... aku...”
“Ambillah...!” dia memotong kalimatku dan memberikan kantong plastik itu di tanganku. Ku tatap matanya yang sedikit sendu. Kenapa hatiku menjadi ikut sendu seperti ini?
“Baiklah.. terima kasih.” Aku menerimanya dan langsung masuk ke dalam taksi mencoba mengabaikannya.
“Mei...?” panggilnya lagi. Dan untuk kesekian kalinya aku menoleh sebelum pintu ku tutup.
“Ya?” tanyaku lagi singkat.
“Kau masih berhutang sesuatu padaku. Lain kali... kau harus membayarnya.” Dia tersenyum tipis mengingatkan.
Hutang? Aku berpikir sejenak. Ahh... apa yang dia maksud makan malam? Aku harus bagaimana?
“Ahh... baiklah... lain kali.” Aku berbalik tersenyum padanya kemudian menutup pintu taksi.
Taksi pun mulai berjalan pelan beranjak pergi meninggalkan manager Wang. Aku menoleh ke belakang dan melihatnya melalui kaca belakang taksi dia masih terpaku dan tersenyum kecut menatap kepergian taksi yang ku tumpangi.
Kenapa hatiku sangat sakit melihatnya yang terus menatapku pergi seperti itu. Di saat dia sangat perhatian kepadaku, di saat semuanya kini sudah menjadi hal yang terlarang bagiku.
Ku raba pelan dadaku yang terasa sesak dan sepertinya mataku mulai panas. Ada sesuatu yang ingin menyeruak keluar darinya.
***