WE GOT MARRIED

WE GOT MARRIED
Chapter 72 KETEGASAN



“Mei.... aku merindukanmu.” Ucapnya lirih dengan mata sendu.


 


Manager Wang.... aku sudah mengantisipasinya. Aku sudah mempersiapkan hatiku jika mendengar kata-kata ini lagi darinya.


“Manager....” Aku terdiam sejenak setelah mengucapkan kata itu. Bingung harus bagaimana memulainya. “Manager tidak seharusnya seperti Ini. Ini tidak benar. Manager tak boleh begini.” Ucapku melanjutkan pada akhirnya.


“Kenapa? Apa aku salah? Salahku di mana? aku hanya merindukanmu dan hanya mengucapkan kalimat itu padamu. Aku hanya jujur dengan apa yang aku rasakan. Apakah jujur itu juga salah?” Manager Wang bersikukuh merasa dirinya tak bersalah dalam hal ini.


Aku menarik napas dalam. Memang aku juga merasa bahwa manager Wang ada benarnya. Dia tidak bersalah sama sekali. Berkata tentang kejujuran itu benar, dari pada harus menahan kejujuran itu dan semakin tersakiti. Tapi jika aku menerima kerinduannya, itu yang akan menjadi masalah. Jadi semua ini tergantung pada diriku sendiri. Tergantung bagaimana aku menyikapinya.


Aku juga tak punya hak untuk melarang akan hal itu. Itu hak setiap orang. Mencintai, menyukai dan merindukan orang lain, bukanlah hal yang dapat di atur orang lain.


Bukankah Itu semua anugerah dari Tuhan? Masalahnya... terkadang anugerah itu bisa menjadi malapetaka. Aku juga tidak menyalahkanmanager Wang yang menyukaiku atau Feiyue yang menyukai Jin. Aku hanya menyayangkan, meskipun mereka memiliki rasa setidaknya mereka juga harus taudan jika ada masanya menyukai seseorang itu tidak harus memiliki. Mereka juga harus bersiap untuk mengalah karena sudah jelas bahwa cinta antara aku dan Jin itu lebih kuat.


“Tidak... manager tak salah. Perasaan manager juga tak salah. Tapi... situasinya yang menurutku salah. Situasinya sudah sangat berbeda. Aku telah menikah dan akan menjadi seorang ibu, Aku tak pantas memdapatkan perasaan manager karena aku tak akan pernah bisa membalasnya.” Aku menatap manager Wang lekat-lekat untuk meyakinkan bahwa ucapanku sungguh dari hatiku.


Manager Wang terdiam.


“Terima kasih... karena selama ini manager telah membantuku dalam segala hal. Dan terima kaksih atas segala yang manager telah berikan padaku. Aku sungguh senang mendapatkan perhatian dari manager, mendapatkan kerinduan dari manager. Tapi maaf manager... aku tak bisa menerima perasaan manager. Aku tak bisa membalas kerinduan manager. Sesungguhnya aku juga menyayangi manager, aku juga merindukan manager. Tapi semua itu hanya sebatas aku menganggap manager sebagai kakakku, sahabatku dan temanku yang sudah sangat lama aku rindukan.” Aku memperjelas perasaanku pada manager Wang berharap dia tidak mengharapkan hal yang lebih selain itu.


Manager Wang masih terdiam. Namun tak berapa lama dia mendesah dan mendongak ke atas melihat langit-langit ruangannya, mengalihkan perhatian dariku. Namun aku mampu melihatnya. Aku bisa melihat kesedihan di wajahnya. Matanya terlihat begitu sendu.


“Hhh...” Dia tertawa kecil. Tawa yang begitu terpaksa. Dia kemudian menoleh ke arah jendela yang berada di samping kanannya.


“Kau bahkan sudah mengatakan hal itu berulang kali, tapi kenapa aku masih saja mengharapkan hal yang lebih dan mengharapkanmu melihat kembali ke arahku.” Dia berucap dengan suara yang bergetar.


Aku yang melihatnya benar-benar merasa tak tega. Dan entah sejak kapan air mataku pun jatuh begitu saja.


“Kakak.... maafkan aku.” Ucapku dengan terisak, pada akhirnya aku memanggilnya kakak seperti dahulu. Seperti saat kita masih sangat muda.


“Aku benar-benar merindukan panggilan itu, tapi... Tidak Mei... jangan katakan maaf padaku.” Dia kini benar-benar menangis.


“Maaf...” namun aku tetap mengatakan kata itu berulang-ulang yang membuat kami semakin larut dalam kesedihan.


“Cukup kau mengatakannya... aku benar-benar tak menyukainya.” Ucapnya seraya berbalik membelakangiku dan kembali menatap langit-langit ruangan. Berusaha menahan sesuatu yang semakin lama semakin besar menyeruak dari matanya.


“Sesungguhnya Mei... aku benar-benar tak bisa jika harus melupakanmu. Jadi.... Tolong jangan memintaku untuk menghilangkan segala rasa yang aku miliki untukmu. Karena aku tak akan bisa. Aku tak bisa Mei." Dia berbalik menghadapku kembali dan meyakinkanku.


"Mungkin... aku terlihat lemah di matamu, tapi inilah aku yang sebenarnya. Aku masih tetap sama seperti aku yang dahulu. Seperti aku yang selalu menangis di antara bunga-bunga dahulu. Jadi jangan paksa aku, Biarkan perasaanku berubah secara sendirinya seiring berjalannya waktu. Jika memang sampai akhir perasaanku tak bisa berubah. Tetap sama.... tetap menyukaimu...dan tetap mengharapkanmu. Maka... Memang inilah yang harus aku terima. Aku harus mencintaimu meskipun kau benar-benar sangat jauh dari jangkauanku.” Dia menegaskan padaku dengan mata dan pucuk hidungnya yang memerah.


Aku tak bisa berkata apa-apa. Namun aku berusaha tegar dan mencoba membersihkan pipiku yang basah dengan punggung tanganku.


Dia terdiam dan menunduk. Tak menunggu jawaban darinya aku segera berbalik dan beranjak meninggalkan ruangan itu.


Di depan pintu ruangannya aku memberishkan bekas air mataku dan menepuk-nepuk pipiku agar tidak terlihat sembab meskipun ini tak berhasil. Aku menarik napas panjang mencoba mengontrol detak jantungku sebelum aku benar-benar beranjak dari sana.


Aku langsung bergegas menemui Ling di mejanya.


“Ling....” aku langsung menubruknya yang masih duduk di kursinya sembari menangis pelan.


“Hei.... apa kau sudah dari sana?” Ling menebakku yang baru saja dari ruangan manager Wang. “Ushhhh...” Ling menenangkanku dengan membelai kepalaku pelan.


Dia kemudian mendorongku pelan dan beranjak berdiri serta berbalik mendudukkan aku di kursinya. Dia kemudian berjongkok menghadapku.


“Kau tak salah Mei. Kau juga sudah melakukan apa yang seharusnya kau lakukan. Jadi... aku benar-benar kagum padamu. Percayalah dia akan mendapatkan jodoh yang lebih baik nanti.” Ling tersenyum menatapku sembari membersihkan pipiku yang basah oleh air mata.


“Aku hanya merasa tak tega melihatnya.... pasti dia sangat sakit sekali. Dulu dia tersiksa, sekarang pun dia tersiksa... aku sungguh tak bisa membayangkannya Ling.” Aku menunduk menceritakan apa yang aku rasakan. “Namun di lain sisi... aku benar-benar sudah merasa lebih lega. Lebih lega daripada saat aku mengatakan padanya bahwa aku sudah bersuami.” Aku yang semula dalam kesedihan kini sedikit lebih tenang setelah berbicara dengan Ling.


“Aku tau kau sudah berulang kali juga mengatakannya pada manager Wang meskipun tidak secara langsung. Tapi nyatanya memang dia yang tak mau menyerah padamu. Bukan karena kau yang tak tegas padanya. Sudahlah... jangan menangis lagi, eum?” Ling menggenggam tanganku sayang.


"Hufh...." aku menghela napas panjang beberapa kali mencoba menetralisir suasana hatiku yang terasa sesak.


“Little Feng... a yi merindukanmu.” Ling mengalihkan topik dengan menyapa janinku dan mengusap perutku pelan.


Sesaat aku berpikir. Ling benar-benar tidak seperti sahabatku. Karena dia lebih seperti saudari perempuanku yang sangat mengertiku.


Aku pun tersenyum menatapnya yang terus berbicara dengan perutku dengan wajah imutnya. Dia benar-benar kelihatan lebih seperti anak SMA dan berbanding terbalik dengan sifatnya yang dewasa.


Tak berapa lama ponselku bergetar. Aku melihat screen yang menunjukkan nama Pak Huang yang tengah menghubungiku.


"Halo pak Huang? Iya sudah, aku akan segera keluar." Ucapku kemudian menutup sambungan.


"Sudah dijemput?" Ling bertanya, ada raut kesedihan di wajahnya.


"Eyyyy... jangan cemberut, kau masih bisa main ke rumah. Kita masih bisa bertemu sesering mungkin." Ucapku meyakinkannya.


"Tetap saja aku akan kesepian di tempat kerja." Ling mengatakan dengan sangat sesih.


Melihatnya aku langsung memeluknya.


"Sahabat terbaikku.... Terimakasih...." Ucapku memeluknya erat.


***