
Jin merasa hari ini benar-benar seperti roller coaster. Terkadang dia merasa sangat senang, terkadang dia merasa sangat sedih dan terkadang pula dia merasa sangat marah.
Benar-benar sangat sensitif. Dia tak pernah merasa sesensitif ini sebelumnya. Jadi... apakah ini semua karena Mei?
Dia Berjalan santai berlawanan arah dengan tempat tinggalnya. Sepertinya dia akan menghampiri suatu tempat. Namun dalam perjalan itu dia tampat berbincang-bincang sendirian. Tidak, sepertinya dia tengah bertelpon dengan seseorang. Karena tangannya memegang ponsel yang dia dekatkan ke telinga kanannya.
"Paman... maaf..." Ucapnya membuka obrolan yang terjadi dalam sambungan telepon tersebut.
"Eum??? Kenapa kau terdengar sedih sekali?" Sapa suara di seberang sambungan menerka. "Ayo ceritakan padaku?" Pinta seseorang di seberang sambungan.
"Ya... Aku memang sangat sedih. Paman tahu, Tadi... aku telah melakukan kesalahan yang... ahh... Mei... kesan pertamaku... ahh... semua kacau paman. Mungkin... Mei akan sangat membenciku. Dia tak menatap ke arahku sama sekali." Jin bingung bagaimana menjelaskannya. Di lain sisi dia juga merajuk menyadari kebodohannya.
Bukan terdengar makian, malah terdengar tawa dari seberang. Tawa yang sangat nyaring namun terdengar lembut berwibawa.
"Hey boy! Apa kau ini benar-benar seorang pria? kenapa begitu saja kau sudah sangat depresi?" Orang yang tak lain adalah paman Zhang ayah Xiumei itu hanya kembali tertawa.
"Ya... paman aku ini pria..." Jin berubah kesal karena diledek oleh ayah Xiumei.
"Benarkah? Kalau pria, kenapa mendekati anakku saja tak bisa? Kekeke... sebaiknya aku memberitahu Rong Hao kalau putra semata wayangnya ini benar-benar jauh dari ekpsektasi." Ancam Ayah Zhang sembari tertawa.
"Yaa... jangan beri tahu ayahku... aku akan sangat malu sekali. Aku takut ayah akan merasa hopeless padaku paman. Please..." Jin memohon dalam suaranya.
"Hm... kalau begitu... buktikan kalau kau putra Rong Hao." Terdengar nada serius dari ayah Zhang.
"Ya... tunggu saja beberapa tahun lagi aku akan membuatkan cucu yang banyak untukmu, sebagai pembuktianku bahwa aku adalah sebenar-benarnya pria. Tapi... untuk saat ini... aku..." Jin yang baru saja bersemangat berapi-api tiba-tiba langsung berubah lemas.
"Kkkk.... Paman tidak minta hal seperti itu sekarang anak baik, Kalau itu... nanti saja. Gapai dulu mimpimu. Biarkan Mei menjadi lebih mandiri dulu. Eum?" Ayah Zhang berpesan. "Ngomong-ngomong... kau di mana sekarang? apa kau tidak pulang membuntuti Mei?" Tanyanya kemudian sembari tertawa.
"Eoh?? Aku bukan penguntit yang setiap saat seperti itu." Jin kesal tapi juga senang bercanda bersama ayah Mei. "Paman lupa kah? kemarin aku sudah meminta izin padamu bahwa hari ini aku mau mampir ke pasar loakan buku. Sepertinya buku-buku lama lebih membantu belajarku. Sebentar lagi ujian masuk ke Universitas di German kan? Jadi aku butuh lebih banyak bahan untuk belajar." Jin menjelaskan.
"Hahaha... Aku lupa, aku pikir kau akan mengikuti Mei sepanjang Hari." Ayah Zhang tertawa lagi.
Bersamaan dengan itu Jin menghentikan lagkahnya karena matanya melihat sesosok yang teramat sangat dia kenali.
Sosok mungil yang polos dan begitu energik. Terlihat tengah memilih-milih buku di rak salah satu kios.
"Jin??" Ayah Zhang memanggilnya dari seberang karena Jin tiba-tiba terdiam.
"Jin??? Kau masih di sana nak? Apakah ada sesuatu??" Ayah Zhang muali panik.
Jin sepertinya langsung tersadar dari pandangannya dan kembali pada teleponnya.
"Eum... sepertinya, meskipun aku tidak mengikutinya, dia sudah berada di depanku sekarang." Ucap Jin pelan.
"APA???" Ayah Zhang bingung.
"Paman, sampai jumpa lagi! Aku sayang paman." Jin memutus panggilan telepon itu sepihak. dan bergegas memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya.
Di seberang ayah Zhang hanya tertawa membayangkan bagaimana reaksi Jin.
"Anak ini... Semoga mereka benar-benar berjodoh." Ucap ayah Zhang sembari meletakkan ponselnya di meja kerjanya.
Selain itu, Jin yang selalu memakai hoodie saat berangkat dan pulang sekolah kini merapikan hoodienya dan menaikkan masker hitam yang tengah menggantung di lehernya. Hingga menutupi hidungnya dan kini menyisakan matanya saja yang terbuka.
Perlahan namun pasti, Jin mendekati Mei yang tengah memilih-milih buku meskipun mereka saling bertolak belakang. Tak mengendap-endap, Jin dengan leluasa memilih buku di rak yang bertolak belakang dengan Mei berada.
Sepertinya Mei juga tidak terlalu peduli dengan sekitarnya dan asik dengan dirinya sendiri.
Berikutnya Mei terlihat berjinjit berkali-kali berusaha mengambil buku usang yang berada di rak paling tinggi.
Jin hanya meliriknya saja dan tak melakukan apa-apa. Detik berikutnya Mei terlihat melompat-lompat kecil semakin tinggi dan berusaha melompat tinggi mencoba mengambil buku tersebut.
Lucu. Jin merasa melihat Mei seperti itu benar-benar sangat lucu. Dia tertawa tertahan melihat Mei yang begitu menggemaskan.
Karena berulang kali melompat dan gagal, Mei sepertinya sudah sangat kelelahan, napasnya tersengal-sengal. Kejam bagi Jin yang hanya memperhatikan dan tertawa dalam diam melihat tingkah Mei yang seperti itu.
Tapi akhirnya, saat Mei berusaha berjinjit dan tangannya berusaha untuk menggapai yang kesekian kalinya, Jin memberanikan diri mendekati Mei meskipun jantungnya berdegub dengan sangat kencang. Seolah-olah ingin melompat dari tempatnya.
Dengan cepat Jin menggapai buku usang yang dimaksud oleh Mei. Mei sangat terkejut dan perlahan menurunkan tangannya.
Beberapa detik Jin mengamatinya buku yang dia ambil baru saja.
Sebuah novel klasik berjudul Hong Lou Meng karya Cao Xueqin yang diterbitkan pertama kali pada tahun 1700-an. Novel ini menceritakan tragedi romansa Jia Baoyu dengan Lin Daiyu yang sangat fenomenal.
Kini Jin benar-benar meyakini apa yang Ayah Zhang katakan padanya tentang Mei yang sangat menyukai buku terutama novel. Dia akan sangat nyaman berada di kamarnya tanpa keluar rumah jika ada beberapa novel yang menemaninya.
Senyumnya mengembang perlahan dalam masker yang menutupi mulut hingga hidungnya. Sehingga dia tidak terlihat tengah tersenyum atau meringis atau bahkan marah.
"Menarik!" pikirnya.
Jin menatap Mei yang tengah mendongak menatapnya yang berdiri lebih tinggi di belakangnya.
Lama... Mei begitu menikmati tatapan mata Jin yang seolah menyihirnya. Begitu pula Jin. Mata bulat yang selama ini hanya dia lihat melalui foto, kini benar-benar tengah menatapnya.
Keduanya terpaku sama lain. Bak medan kutib magnet yang berbeda yang saling tarik menarik dengan kuat.
Namun pada akhirnya Jin tersadar.
“Apakah ini yang ingin kau ambil?” suara Jin tak terdengar dengan jelas karena masker yang dia kenakan. Namun mampu membuat Mei kembali ke alam sadarnya.
Mei terdiam karena dia begitu tertegun melihat pria dalam hoodie dan masker yang tak lain adalah Jin. Orang yang mulai dibencinya karena telah mebentaknya saat pertemuan pertama tadi dalam kegiatan pengenalan sekolah.
Perlahan Mei mengangguk pelan mengiyakan, menjawab pertanyaan Jin.
Setelahnya Jin kemudian memberikan novel klasik itu pada Mei yang masih terdiam menatap mata teduh Jin yang telah menyihirnya tanpa bicara.
Bagaimana bisa berbicara, mulut Jin seolah terkunci saking gugupnya. Namun, entah keberanian dari mana... tanpa diduga, Jin mengusap puncak kepala Mei pelan sebelum dia beranjak pergi meninggalkan Mei.
Jantung Mei serasa ingin meledak karena berdegub terlalu kencang dan tak beraturan setelah mendapatkan perlakuan Jin yang begitu hangat dan tiba-tiba.
Satu hal yang membuat Mei semakin gugup.Mei memikirkan bagaimana pelajar pria itu memperlakukannya seolah telah mengenalnya dengan waktu yang lama.
Tak jauh berbeda dengan Mei. Jin yang baru saja membelai puncak kepala Mei, dengan cepat menghilang dalam maze rak-rak buku ingin bersembunyi.
Napasnya naik turun tak beraturan. Dia mulai melepaskan maskernya dan tersenyum senang sembari memandangi tangannya yang baru saja menyentuh Mei.
Perasaan bahagia yang dirasakan Jin benar-benar membuncah bak gunung api yang sudah lama dianggap mati namun akhirnya meletus dengan kuatnya.
Dalam persembunyiannya dia mengintip di mana Mei masih berdiri sembari memeluk novel klasik yang tadi telah diambilkannya. Sesekali Mei terlihat menyentuh puncak kepalanya dan tersenyum. Perasaan apa ini??
Mengetahui hal itu, Jin semakin merasa senang. Jin berpikir, seandainya saat di sekolah dia tidak kasar terhadap Mei. Mungkin Mei akan mengingat wajahnya dengan baik.
Namun sayangnya, Mei terlanjur tidak menyukai presiden sekolah dan tak mau menatapnya sama sekali. Atau mungkin bukan karena benci tapi karena takut akan kegalakan Jin.
Jadi, mungkin menggunakan hoodie dan masker seperti ini, adalah cara agar Mei bisa menatap matanya dengan baik dan mampu mengobati kerinduan yang Jin rasakan selama ini.
Malam telah tiba, kenangan saat berada di pasar loakan masih melekat di ingatan masing-masing.
Sentuhan Jin di kepala Mei, benar-benar mampu membuatnya tak bisa tidur dengan nyenyak dan selalu memikirkan Jin yang belum Mei tahu identitas aslinya. Padahal Mei berpikir kalau itu adalah kali pertama Mei bertemu dengan pria berhoodie.
***