WE GOT MARRIED

WE GOT MARRIED
Chapter 15 PERHATIAN



Semalam setelah mengantarkanku pulang, Jin mampir untuk minum teh bersama ayah. Mereka bercengkerama di beranda hingga larut malam. Aku juga tak tahu jam berapa Jin berpamitan. Karena sejak aku pulang, aku langsung masuk ke dalam kamar dan tak keluar lagi hingga pagi.


 


Dan pagi ini aku begitu terkejut ketika membuka pintu depan rumah hendak pergi untuk berangkat bekerja seperti biasanya. Jin sudah berdiri di sana bersandaran dinding di samping pintu.


Aku terkejut melihat pemandangan yang tak biasa dan mengejutkan seperti ini.


“Kk... Kau? Sedang apa?” aku menyapanya gugup.


Jin menoleh ke arahku dengan mengembangkan senyum tipisnya yang terasa menakutkan.


“Menurutmu?” dia berbalik memberiku pertanyaan yang aku bahkan tak tau apa jawabannya. “Tentu saja aku datang untuk menjemput calon sitriku.” Dia menjelaskan dengan senyumnya masih seperti semula.


“Ccc ... calon istri? Aku?” aku bingung fan semakin gugup.


Untuk apa dia menjemputku sepagi ini? Apakah ada acara keluarga lainnya?


“ Maaf... Aku tak bisa. Au harus berangkat bekerja sekarang.” Aku menolaknya dan memberikan alasanku kenapa. Aku kemudian berpikir, apa mungkin ibunya merindukanku lagi?


“Aku akan mengantarmu.” Dia menatapku dan menegakkan tubuhnya sehingga tidak bersandar lagi di dinding.


“Mm... mengantarku??" Aku tak percaya dengan pendengaranku. "Ahh... tidak usah... aku bisa naik bus dari depan.” Aku tersenyum canggung sembari menunjukkan di mana aku biasa menunggu bus.


Sret!


Tiba-tiba dia langsung menarik tanganku sembari berjalan sehingga membuatku terhuyung hendak terjengkang.


“Masuklah!” Ucapnya setelah berada di dekat pintu mobilnya dan beranjak membukakan pintu.


"Tta..tapi... aku..."


Tanpa mendengarkan alasanku Jin mendorongku pelan hingga masuk ke dalam mobilnya kemudian menutup pintunya pelan.


Sigh. Akupun akhirnya mau tak mau duduk dengan manis menunggunya masuk ke dalam mobil.


Canggung. Kami hanya terdiam seperti sebelumnya. Tak ada sepatah kata pun keluar dari mulut kami. Dan hanya deru halus mobilnya yang terdengar memecah keheningan di antara kami.


Aku ingin membuka pembicaraan, tapi aku tak tau harus menanyakan apa dan memulainya dari mana. Sesekali aku hanya melirik ke arahnya.


Deg!


Jantungku tiba-tiba berdegub tak beraturan setelah meliriknya. Ku pegang dadaku dan mencoba menarik napas dalam beberapa kali mencoba meredam keanehan yang terjadi.


Apakah aku sakit jantung? Aku berpikir khawatir.


Aku sebenarnya merasa heran, kenapa Jin dengan tiba-tiba datang menjemputku tanpa ada kepentingan seperti sebelumnya. Tidak kah ini aneh?


“Kau nanti pulang tepat waktu kan?” Dia membuyarkan lamunanku dengan membuka obrolan kaku.


“Um... iya, besok akhir pekan. Jadi... aku biasa membawa pekerjaanku pulang ke rumah dari pada harus lembur di kantor. Kenapa?” aku bertanya balik setelah menjawab pertanyaannya.


“Nanti aku jemput.” Dia berkata singkat tanpa menoleh ke arahku.


Aku membelalakkan mataku karena tak percaya dengan apa yang aku dengar.


“Apa?? Ahh... Ti... tidak usah... pasti kau sangat sibuk di kantor, aku tak mau pekerjaanmu terganggu. Aku bisa naik bus seperti biasa.” Aku menolak dan memberikan alasannya.


“Tidak, aku tidak sedang sibuk.” Ucapnya masih tak menoleh ke arahku.


Masih tetap seperti biasanya dingin. Benar-benar dingin dan kaku. Seketika tubuhku bergidik ngeri. Auranya benar-benar seperti aura pembunuh. Begini saja.membuat orang lumpuh.


Akhirnya kami pun telah sampai di depan gedung tempatku bekerja. Di saat aku tengah berusaha membuka pengait sabuk pengaman kursi yang ku duduki, tiba-tiba dia sudah membukakan pintu untukku.


Aku pun dengan canggung beranjak keluar.


"Terimakasih." Ucapku saat aku sudah berdiri tegak di depannya.


“Jangan pernah melepaskan cincin itu.” Ucapnya sambil melirik jari tangan kiriku tak menghiraukan ucapan terimakasih ku.


Benar saja aku sama sekali tak ingat kalau di tanganku ada cincin manis bertengger.


"Kau berkata apa?" Tanyanya dengan mengernyitkan kening, seprtinya dia mendengar samar perkataanku.


"Tidak... Aku hanya tak ingat jika aku mempunyai sebuah cincin di jariku." Aku memperjelas sembari memegang cincin di jari manisku.


Bukankah ini aneh? Dia kenapa? Aku terus bertanya dalam hati merasa heran dengan sikap Jin hari ini.


"Jangan pernah melepasnya." ucapnya lagi mengulangi.


Aku tak menjawabnya. Kami kemudian terdiam beberapa saat melihat ke arah ujung kaki masing-masing.


"Aku... pergi dulu." Dia tersenyum berpamitan padaku.


Tanpa menunggu jawabanku dia sudah berjalan ke arah pintu kemudi mobilnya.


“Jin...” tiba-tiba aku memanggilnya.


Jin yang sudah membuka pintu hendak masuk ke dalam mobil, kini berbalik menatapku.


“Ya?” Dia tersenyum menanggapi panggilanku.


Ini... aku merasa tiba-tiba ada hembusan angin semilir yang merasuki hatiku. Jika dia tersenyum seperti ini kenapa dia terlihat tampan sekali.


Tidak! Bukankah dia sering tersenyum seperti ini? tapi aku sering menganggapnya aneh dan kaku. Tapi kenapa kali ini terasa sangat berbeda? Senyumnya... seolah memberikan sengatan listrik tepat di jantungku.


Aku kemudian tersadar dan kembali pada maksudku kenapa memanggilnya.


“Mungkin... kau sedikit salah paham dengan apa yang aku maksudkan kemarin. Aku...”


“Tidak.” Dia memutus kalimatku. ”Aku mengerti.” Dia tersenyum dan membuatku tak bisa berkata apa-apa karena merasa lumpuh oleh senyumnya yang tiba-tiba terasa berbeda.


Aku mengangguk kemudian serta membalas senyumnya. Jin pun kemudian memasuki mobilnya. Dengan senyum yang masih mengembang aku berbalik dan beranjak memasuki kantor.


Entah mengapa aku merasa mencium bau harum di mana-mana. Aku juga merasa banyak bunga-bunga warna warni memenuhi gedung ini sekarang. Bukankah ini aneh?


“Sudah datang?” tanya manager Wang yang sudah berada di sampingku dengan tiba-tiba.


Senyumku yang semula mengembang kini memudar perlahan, aroma wangi pun menghilang.


“Ahh... iya.” Aku menjawab singkat dan canggung.


Aku masih belum terbiasa dengan sikap manager Wang yang tiba-tiba berubah akrab denganku. Harusnya aku meraskan senang bukan? Tapi ini malah terasa sangat aneh bagiku. Apa mungkin karena aku tak terbiasa?


“Kenapa?” Dia menyelidikku yang tengah melamun untuk beberapa saat.


“Ahh... tidak... saya hanya berpikir... manager Wang terlihat lebih ceria akhir-akhir ini.” aku menjawab asal.


“Benarkah? Apakah itu terlihat dengan jelas?” dia terlihat terkejut dan balik bertanya. Namun dia kemudian tersenyum ke arahku.


Waduh... padahal aku berkata asal. Kenapa itu tepat sekali.


“Ini.... karena aku baru menyadari... bahwa aku telah menyukai seseorang.” Dia melanjutkan dengan mata yang berbinar-binar.


Aku menoleh ke arahnya memastikan apa yang aku dengar ini benar. Tentu saja benar. Berpikir apa aku ini. Tapi anehnya aku tak merasa sedih sedikit pun. Bukankah aku seharusnya merasa sedih karena orang yang ku sukai telah menyukai orang lain?


“Pasti... dia... wanita yang beruntung itu... akan sangat senang disukai oleh manager.” Yah... aku menyerah... aku harus menyerah. Aku akan menikah dan dia menyukai seseorang. Jadi itu baik untuk kami.


“Aku... tak yakin dia juga menyukaiku atau tidak. Mengingat selama ini aku selalu mengacuhkannya.” Dia terlihat menerawang memikirkan tentang wanita pujaannya.


“Eoh??” aku berharap dia menjelaskan lebih rinci tentang wanita yang di idamkannya itu, namun pintu lift telah terbuka bersamaan dengan ucapanku. Sehingga, Rasa penasaranku tak segera terjawab.


 


***