WE GOT MARRIED

WE GOT MARRIED
Chapter 97 MERASA SIMPATI



Salju masih turun tipis-tipis. Tapi dingin sudah menusuk tulang. Pemanas ruangan tak hentinya bekerja sehingga mengeluarkan uap tipis yang membuatku merasa hangat meskipun cuaca teramat sangat dingin di luar sana.


Ting Tong...


Aku begitu terkejut mendengar suara bel rumah berbunyi. Ahh... benar, aku hampir saja lupa, bukankah sekarang ada polisi yang ditugaskan menjagaku di rumah?


Dengan cepat aku berjalan menuju pintu depan. Namun sebelumnya aku mengintip melalui intercom.


"Pak mari silahkan masuk, di luar dingin sekali." Pintaku pada mereka setelah membukakan pintu.


"Ah ya bu, terimakasih." ucap salah satu di antara mereka sopan.


Ya mereka datang berdua saja.


"Mari!" Aku pun tersenyum mempersilahkan mereka masuk, kemudian membawakan selimut tebal untuk mereka.


"Ah... Pak presdir ke mana? Bukankah ini akhir pekan?" Tanya salah satu dari mereka sembari menangkupkan selimut yang aku berikan ke tubuhnya.


"Ah iya, suami saya pergi sebentar. Mungkin beberapa saat lagi akan kembali." Aku menjelaskan pada mereka ramah.


Aku pun bergegas membuatkan jahe hangat dan menyiapkan camilan untuk mereka agar merasa lebih hangat.


"Bapak-bapak tadi sudah lama ya? maaf... saya tak bisa berjalan cepat." Ucapku sembari meletakkan nampan di atas meja.


"Tidak apa bu, Kami juga baru saja sampai." Ucap salah satu di antara mereka sedikit menggigil.


"Ahh... saya jadi merepotkan semua orang." Ucapku menyesal.


"Itu sudah kewajiban kami bu, tak usah khawatir." Salah satu di antara mereka tersenyum.


"Tetap saja... saya merasa tak enak. Oh... iya mari pak di minum tehnya." Aku mempersilahkan dan ikut duduk sebentar berbincang dengan mereka.


"Masih belum ditemukan ya kebaradaan Fei?" Tanyaku penasaran akan kelanjutan kasus manager Wang.


"Belum, kami juga telah bekerja sama dengan psikiater untuk mempermudah pencarian. Kami mengumpulkan semua data tentang tersangka. Dan hasilnya... Tersangka rupanya adalah seorang... psikopat. Untuk itu, dikhawatirkan tersangka akan kembali ke sini karena tersangka mengincar anda." Seorang di antara mereka menjelaskan.


"Fei? Psikopat?" Tentu saja aku sangat terkejut. Fei... ternyata mengalami gangguan jiwa seperti itu. Ya Tuhan... kasihan sekali dia.


"Menurut analisis data memang demikian." Seorang polisi lainnya membenarkan.


Aku terdiam dan begitu lemas mendengar penuturan mereka. Sekarang aku tau dan aku percaya kalau Fei adalah seorang psikopat. aku pernah membaca suatu literatur.


Seseorang yang berlaku antisosial dan karenanya disebut sebagai sosiopat. Mereka pintar berbohong, mampu memanipulasi emosi orang lain dengan lihai, sulit mengontrol emosi dan bisa mendendam untuk waktu yang lama, cerdas, dan pandai mengatur ekspresinya.


Fei... karena Jinyi tak membalas perasaanmu kau jadi begini? Aku tak tau harus merasa bersalah atau bagaimana?


"Pantas saja dia bertindak melampaui batas. Kasihan sekali." Aku mendesah pelan.


Bukannya malah takut, aku malah merasa simpati pada Fei. Aku terdiam beberapa saat dan berkutat dalam pikiranku sendiri.


Sampai akhirnya aku merasa punggungku mulai merasa pegal.


"Ibu istirahat saja. Sepertinya ibu sangat lelah." Ucap salah satu polisi itu menyadari bahwa aku merasa lelah.


"Baiklah kalau begitu, saya tinggal dulu ya pak...Maaf..." Pamitku pada mereka sembari berdiri.


"Iya bu silahkan!" Ucap salah satu di antara mereka mempersilahkan.


Aku pun kembali ke kamar dan duduk bersandar dengan kaki berselonjor di sofa dalam kamar.


Entah kenapa aku mudah sekali merasa lelah. Mungkin karena kehamilanku juga. Aku juga sudah mulai tidak betah duduk atau berdiri sedikit lebih lama. Punggungku akan terasa pegal sekali. Tapi... tentu saja aku sangat menikmatinya.


Aku pun melanjutkan kegiatanku membaca novel sambil menikmatu macaron manis.


"Sayang.... ini buah Pipanya sudah dapat." Jin setengah berlari sambil membawa dua kantong besar mendekatiku yang kini tengah duduk membaca novel di sofa dalam kamar.


"Benarkah???" Mataku membelalak berbinar. Aku begitu senang melihat dia berhasil mendapatkan buah yang aku inginkan.


"Kau tau? aku sudah berkeliling Beijing dan masuk ke segala penjuru pasar. Syukurlah masih ada yang berjualan meskipun keadaannya sudah seperti ini." Jin dengan antusias membuka kantong plastik itu dan menunjukkan keadaannya padaku.


"Tak apa...." Ucapku senang. "Tapi Sayang.... apa ini tidak kebanyakan??" Aku membelalak lebar saat mengetahui dua kantong plastik itu semuanya terisi buah Pipa.


"Kau sangat menginginkannya, jadi mumpung ada, aku memborong semua. Karena pertengahan musim dingin pasti sudah tidak ada." Ucapnya sumringah sembari meletakkan kantong plastik itu di atas meja. "Ini.... coba... aa..." Dengan senang Jin mengupaskan sebuah dan menyuapkan ke mulutku.


Dengan senang hati pula aku membuka mulutku dan menggigit separuhnya saja. Tapi..... kenapa tak seperti yang aku bayangkan semalam?


"Kenapa???" Jin membelalakkan matanya menyadari ekspresiku yang sepertinya terlihat kecewa.


"Tak apa..... aku sudah memakannya...." Ucapku sedikit merasa kecewa karena tak sesuai dengan anganku namun aku masih menyunggingkan senyumku padanya.


"Ahhhh...... aku mengerti. Kau semalam menginginkan jus pipa bukan? Baiklah akan aku buatkan... Mungkin karena semalam kau mengingkan jus pipa, jadinya kau tak antusias memakan buahnya." Jin bergegas membereskan kantong plastik itu dan beranjak ke dapur.


"Tapi sayang..." Aku mencoba menghentikannya yang tergesa ke dapur.


"Tak apa sayang, tunggu sebentar." Ucapnya sembari berjalan dengan setengah berteriak.


Aku menghela napas dalam dan panjang kemudian melanjutkan membaca novel lagi. Namun aku tak bisa berkonsentrasi membacanya karena teringat Jinyi yang antusias mencarikan apa yang aku minta. Apalagi di luar sangat dingin sekali. Dan dia harus berkeliling Beijing hanya untuk buah pipa.


Tak berapa lama Jin kembali dengan membawa segelas besar jus buah pipa.


"Nah.... ini dia...." Jin memberikan gelas itu padaku.


Aku pun dengan senang hati menerimanya dan segera menyeruputnya. Namun.... sama seperti sebelumnya. Apa yang aku rasakan tak sesuai dengan ekspektasiku. Jin mengernyit memperhatikan ekspresiku.


"Kenapa? Apa rasanya sangat asam? apa perlu aku tambahkan gula?" Jin masih mencoba untuk membuatku merasa puas akan keinginanku.


"Tidak sayang.... Ini sudah cukup. Aku senang bisa merasaknnya." Ucapku sembari menutup novelku dan meletakkannya di atas meja dekat gelas jus pipa.


"Tapi kau hanya makan segigit, minum jusnya pun hanya satu teguk." Jin merasa tak habis pikir dengan diriku.


Padahal aku memintanya begitu menggebu-gebu. Tapi nyatanya, setelah dapat aku hanya mencicipi sedikit saja. Apakah seperti ini yang dikatakan orang tentang mengidam?


"Tapi aku sudah memakannya. Aku tak mau lagi." Ucapku padanya menjelaskan bahwa aku benar-benar tak mau lagi.


"Mei.... kau tau aku sangat sulit mencarinya. Aku bahkan membelikan sangat banyak untukmu. Terus siapa yang akan memakannya kalau begini?" Jin merasa sedikit kesal.


Aku bisa memaklumi kekesalannya. Tentu saja, jika aku jadi dirinya, sudah pasti aku akan sangat marah. Bagaimana tidak? Dalam keadaan cuaca yang berada di bawah 0°C harus berkeliling kota hingga pelosok hanya untuk buah pipa. Tapi setelahnya, aku hanya memakan sedikit saja.


"Tapi aku sudah tidak mau lagi sayang." Aku sama kesalnya dengan Jin.


Tak sesuai benakku aku malah berbalik kesal padanya. Padahal awalnya aku ingin minta maaf telah menyulitkannya, namun pada akhirnya aku malah kesal karena dia tak mau mengerti.


"Sayang....." Jin tak jadi melanjutkan kata-katanya dan berakhir menarik napas dalam dan menghembuskannya melalui mulut. "Baiklah...... maaf.... maafkan aku..... jangan kesal lagi eum?" Jin duduk berjongkok di depanku dan memegang kedua tanganku meminta maaf dan merasa menyesal karena telah meluapkan kekesalannya padaku.


Sebenarnya.... Aku juga sangat merasa bersalah padanya.


"Tidak.... Aku yang meminta maaf...." Aku menarik tanganku dari genggamannya kemudian langsung memeluknya dengan sangat erat.


"Tidak... harusnya aku memaklumimu. Itu bukan keinginanmu sendiri." Jin melepaskan pelukanku dan beralih merengkuh wajahku agar kami bisa bertatapan mata.


"Tapi aku telah menyulitkanmu. Maaf..." Ucapku benar-benar menyesal.


Chup....


Jin mengecup bibirku kilat kemudian menatap wajahku lagi.


"Sudah.... jangan diperpanjang. Aku tak mau kalau kau kesal karenaku. Dan lagi.... kalau kau manyun dan merajuk seperti itu... membuatku kehilangan akal sehatku," Jin mendengus kesal. "Aku ingin sekali...."


"Jin... jangan mulai lagi. Di luar sedang ada tamu." Aku yang mengerti maksud Jin langsung menyadarkannya dengan mencubit bibirnya gemas.


"Aahh... aku melupakannya." Jin semakin kesal dan merajuk. Membuatku terkekeh pelan melihatnya. "Aku benar-benar tak bisa marah padamu. Aku sungguh mencintaimu Mei..." Jin mengecup kening dan pucuk hidungku hangat.


Hangat sekali. Aku benar-benar menyukainya karena membuat hatiku berdesir.


"Kalau kau mencintaiku.... mau kah kau memijit kakiku? betis dan lututku terasa lelah sekali...." Aku merajuk padanya.


Jin menarik napas pasrah nan jengah.


"Iya lah.... cintaku.... sini aku pijit." Meskipun awalnya seolah tidak ikhlas, tapi pada akhirnya Jin melakukannya juga dengan senang hati.


"Mood booster dong!" Ucapnya tiba-tiba mendekatkan wajahnya padaku.


"Baiklah....." Aku pun merengkuh wajahnya dan mengecup bibirnya singkat berkali-kali.


"AKU JUGA SANGAT MENCINTAIMU!" Bisikku pelan padanya. Dan tentu saja, hatiku hampir meledak saat mengatakannya.


***