WE GOT MARRIED

WE GOT MARRIED
Chapter 17 KONYOL



Masih teringat dengan jelas kejadian kemarin. Kejadian yang sungguh tak mengenakkan hati. Di mana aku harus memilih Ikut Jin atau diantar manager Wang?


Dan pada akhirnya aku memilih ikut bersama dengan Jin. Padahal aku hampir saja ikut dengan manager Wang. Walau pun... aku merasa sangat canggung padanya.


Dan gara-gara kejadian itu, kini efeknya masih tersisa hingga sekarang.


Ya, Aku malas melakukan sesuatu dan hanya berdiam diri di dalam kamar berguling ke sana ke mari tak karuan. Membaca novel pun tak nyaman, mendengarkan music lewat headset pun semakin tak nyaman.


Semua terasa tak nyaman.


Di saat aku memutuskan untuk menyerah saja atas manager Wang di saat itu pula dia semakin menunjukkan perhatiannya terhadapku. Meskipun... aku tau dia tengah menyukai seseorang di luar sana. Tapi perhatiannya padaku, akan membuatku salah paham jika aku tak mengatasinya dengan baik.


Di saat itu pula aku harus sadar bahwa aku adalah calon istri dari orang lain. Tidak benar jika aku terus-terusan dekat dengan manager Wang. Tapi Ini semua di luar kendali ku. Aku terus saja terpikirkan akan hal itu. Kepalaku semakin sakit jika memikirkannya.


“Kakak kau tidak makan?” teriak Huan dari luar mengejutkanku.


Aku kemudian beranjak untuk duduk. Aku benar-benar merasa pusing.


“Ya....” dengan malas dan rambut acak-acakan seolah selamat dari sambaran petir, aku berjalan keluar kamar dengan terseok-seok menuju ruang makan.


“Ibu kepalaku sa...” kalimatku terputus saat melihat seseorang yang aku rasa mengenalnya tengah duduk manis di kursi dekat Huan.


"Apa ini karena efek sakit kepalaku?" Aku bergumam lirih.


Ku pegang kepalaku kemudian memejamkan mata sesaat lalu ku buka kembali untuk memastikan. Apakah ini efek pusing dan sakit kepalaku atau memang Jin ada di sini.


“Bu... sepertinya aku mulai gila atau apa? Kenapa aku berhalusinasi?” tanyaku sembari memejamkan mata lagi dan menjambak rambut kepalaku sendiri karena pusing yang teramat sangat.


“Aishh.... kau ini calon istri macam apa yang menjamu calon suaminya dengan muka kusut seperti itu?” ibuku menggerutu padaku sambil berbenah meja makan.


Mendengar perkataan ibuku, aku langsung membelalakkan mataku untuk melihat lebih jelas.


“Ja...ja..jadi... ini benar kau????” aku dengan lolanya masih tak percaya.


Mendapati ekspresiku yang seperti orang bodoh dia hanya menatapku sembari tersenyum.


“Apanya yang beneran? Kak Jin sudah datang dari jam 6 tadi.” Huan yang menjawab pertanyaanku tanpa ku minta.


Seketika ku menoleh ke arah jam dinding yang menurut pandanganku tengah bergoyang-goyang karena pusing, tengah menunjukkan setengah 8 malam lebih. Berarti dia sudah 1,5 jam lebih lamanya berada di rumah. Dan aku sungguh tak tau kalau dia ada di rumah sedari tadi.


Dan kini? Aku malah menjamunya dalam keadaan seperti ini? memakai baju tidur dan rambut acak-acakan. Kacau. ini benar-benar kacau.


Perlahan aku menarik kursi dan duduk berseberangan dengannya dengan perasaan campur aduk.


“Ini... minum dulu obatnya.” Ibu memberiku obat pereda sakit kepala.


“Kakak ipar bahkan membantuku mengerjakan tugas hingga selesai. Kau bahkan tak tau. Cccihh... calon istri macam apa ini?” Huan menyela yang membuatku hanya mengernyitkan kening tak percaya.


Bergegas aku menelan obat pemberian ibu. Dan saat aku hendak mengambil air minum, tanpa ku minta Jin sudah mengambilkannya untukku. Tapi masih saja terdiam tanpa suara.


Kenapa dia hanya diam saja tak berkata apa pun dan hanya senyam senyum seperti itu? Dan itu semakin membuatku gugup tak karuan.


“Terimakasih.” Ucapku padanya. “Ada apa kau ke mari?” aku bertanya senormal mungkin kemudian.


“Aku? Tentu saja mengunjungi keluargaku. Ada yang salah?” dia balik bertanya padaku.


Apa tadi katanya 'mengunjungi keluargaku?'


"Akkk....!" Aku memekik pelan saat Ibuku tiba-tiba memukul kepalaku menggunakan spatula kayu yang membuatku meringis semakin merasa kesakitan.


“Yaaa... sebenarnya aku ini anak siapa?? Kenapa ibu tega sekali padaku?” Aku setengah berteriak karena kesal kepalaku yang tengah merasa pening di pukul oleh ibuku. Bisa dibayangkan rasanya bagaimana?


“Kau sendiri yang membuat ibu ingin sekali memukulmu.” Ibu mengacungkan spatulanya lagi hendak memukul. “Dia ini calon suamimu... apa salahnya mengunjungi keluarga calon istrinya?” Ibu mulai mengomel.


Aku mendengus sedikit merasa kesal sembari meminum Sup Jahe sarat dengan emosi.


“Awww....” sup jahe yang terlalu panas serasa membakar mulutku.


“Sudah tau supnya masih panas, kau ceroboh sekali.” Jin memarahiku kemudian memberikan kertas tisue.


“Kenapa kau membentakku?” aku balik membentak Jin.


“Ahhh... sudah-sudah... ibu mau pergi dulu menyusul ayah, kau jaga rumah ya.” Ibu terlihat cepat-cepat menyiapkan bento.


“Ayah? Lembur lagi ya? Kenapa tidak Huan saja yang mengantarkan bekalnya?” aku menyarankan, peningku rasanya mulai berkurang.


“Aku juga akan pergi. Besok kan hari minggu. Aku ada janji menonton dengan Haoming.” Huan terlihat makan dengan terburu-buru.


“Ya... jadi aku sendirian di rumah?” aku merajuk. Seketika sakit kepalaku hilang.


“Kan ada kakak ipar?” Huan berdiri dan mengingatkanku jika Jin ada di sini. “Jaga kakakku yang cerewet ini kakak ipar, semoga kau tidak cepat tua jika bersamanya.” Huan menepuk bahu kanan Jin dan berlari menjauh takut ku kejar.


“Yaaa.... Zhang Xiuhuan!!! Mau mati kau???” aku berteriak emosi hendak berdiri mengejarnya.


“Sepertinya sakit kepalamu sudah sembuh?” Jin setengah tertawa dan tetap menikmati makanannya.


Mendengar pertanyaannya aku tak jadi mengejar Huan dan beralih melirik Jin yang tengah acuh menikmati makannya.


Tak!!


“YA!!” Jin berteriak setelah aku memukul kepalanya pakai sendok.


“Rasakan!!!” aku menggerutu sambil duduk kembali hendak melanjutkan makan.


“Ibu pergi dulu, baik-baik di rumah ya.” Ibuku beranjak pergi.


Dan kami benar-benar tinggal berdua saja.


Setelah semua pergi, situasi pun berubah menjadi sangat canggung. Senyap. Tidak ada sepatah kata pun keluar dari mulut kami. Jin dengan canggungnya kemudian beranjak berdiri .


“Ah... aku... mau menonton tv dulu.” Ucapnya terlihat kaku. Sepertinya dia sangat gugup.


“Eoh...!” ucapku mengiyakan tak kalah canggung.


Di saat Jin tengah menonton tv, aku mulai membersihkan dapur dengan diselimuti perasaan yang sangat aneh.


Sesekali mataku melirik ke arah Jin yang terlihat dengan jelas dari dapur.


Dia dengan santainya menonton tv dengan merebahkan diri di sofa sambil memeluk bantal, matanya fokus memperhatikan tv yang berada di depannya.


Entah kenapa melihat dengan curi-curi pandang seperti ini, membuatku merasa semakin ingin menatap wajahnya.


***