
Masih tak percaya dengan apa yang telah terjadi padaku. Beberapa jam yang lalu aku resmi menjadi istri seseorang yang baru beberapa hari ku kenal. Aku juga mengucapkan janji sehidup semati dengan lancar.
Apa-apaan aku ini??? Sekarang aku sadar betapa gilanya aku hari ini.
Kaki dan tanganku masih terasa lemas. Aku seolah tak mampu melakukan apa pun. Bahkan ketika para kolega ayah dan ayah Jin mengucapkan selamat padaku, aku hanya berdiri dan menyambutnya dengan lemas.
“Nak... kau kelihatan letih sekali, istirahatlah dulu.” Bibi Feng... bukan... ibu mertuaku tepatnya, begitu khawatir melihatku dalam keadaan yang tampak lemas dan pucat.
Tentu saja aku sangat lemas dan pucat setelah seharian aku terkena serangan jantung terus menerus. Bahkan sampai sekarang detak jantung masih belum normal. Untung saja aku tak pingsan.
Sedangkan Jin, aku tak tau dia ada di mana. Sedang menjamu tamu ayahnya mungkin. Atau entah ke mana aku tak tau. Sejak acara pemberkatan aku sudah tak berada di sampingnya. Karena setiap melihatnya, jantungku seperti terkena serangan lagi. Berdetak cukup kencang tak beraturan.
Ling? Dia sudah pamit sedari tadi karena ayahnya sedang merasa tak enak badan
Dan sejak kepergian Ling, aku merasa sangat bosan.
Tak ada yang menghiburku. Tak ada yang meredakan rasa gugupku.
“Aku tak apa-apa bu.” Jawabku dengan menyunggingkan senyum yang aku punya semanis mungkin.
“Masuklah, istirahatlah lebih dulu... kami tau kau begitu kelelahan.” Nah... ibuku tau aku begitu kelelahan karena pernikahan ini.
Sejujurnya, aku memang sangat kelelahan. Terutama hati dan pikiranku. Aku lelah sekali.
“Kalau begitu... aku mau istirahat dulu.” Pamitku pada orang tua dan mertuaku pada akhirnya.
"Pergilah!" Ibu mertua mengangguk dan tersenyum padaku.
Aku pun berjalan terseok kembali ke ruangan di mana aku di rias sebelumnya.
Tak berapa lama para undangan juga pamit pulang satu persatu, hingga ballroom acara kini terlihat telah sepi. Ayah, ibuku beserta mertuaku menghampiriku ke ruangan di mana aku berada sekarang.
"Sayang... Kami juga pamit dulu ya?" Ibuku memelukku hangat.
"Jin masih berada di ballroom, sebentar lagi dia akan datang. Ibu dan ayah juga pamit ya nak." Kini giliran ibu mertuaku yang memelukku hangat.
Aku pun mengiyakan mereka untuk pulang lebih dulu.
“Nanti aku harus pulang ke mana?” tanyaku pada diri sendiri lirih setelah kepergian mereka semua.
“Kita akan menginap di sini semalam, besok sore baru kita pulang. Ah... pulang ke rumahku.” Tiba-tiba Jin sudah berada di sampingku membuatku terkejut.
Spontan aku mendekap dadaku yang berdetak sangat kencang.
“Di.. di... di sini??” aku tergagap karena grogi dan takut yang bercampur jadi satu.
Apakah aku harus benar-benar menginap di sini? Aku masih tak percaya.
Tidak menjawab pertanyaanku, Jin malah berjalan santai menuju sebuah tirai satin tipis yang membentang lebar. Aku mengernyit melihat apa yang tengah dilakukannya.
Perlahan tangannya menggapai sebuah tombol yang menggantung di dinding. Tak berapa lama tirai itu membuka dengan sendirinya dan memperlihatkan ruangan di baliknya.
Mataku membelalak tak percaya. Ternyata ini adalah suit room, karena setelah tirai itu terbuka, terlihat sebuah tempat tidur besar di ujung ruangannya dengan taburan red rose petals di atas tempat tidurnya.
Apakah karena aku terlalu gugup dan tegang sehingga aku tak menyadari tirai itu?
“Kkk... Kita... pulang saja!” dengan gemetar aku berusaha bangkit dari tempatku duduk dan segera beranjak pergi ke kamar mandi untuk mandi dan berganti pakaian.
SRETTT....
Tangannya yang kuat menarik lenganku hingga spontan membuatku berbalik ke arahnya dan langsung menubruknya. Lebih tepatnya sekarang aku berada dalam pelukannya.
Aku tak bisa berkata apa-apa. Lidahku benar-benar terasa kelu. Mataku terpaku menatap matanya.
Matanya yang benar-benar meneduhkan. Aku merasa seolah-olah aku sudah lama sekali mengenal Jin.
“Ayah dan ibuku sudah bersusah payah memesankan ruangan ini jauh-jauh hari. Kalau kita pulang, mubadzir kan?” ucapnya lembut sambil menunduk ke arahku yang jauh lebih pendek darinya.
Napasnya mengenai pucuk hidungku karena begitu dekatnya jarak kami sehingga membuatku semakin gelagapan dan kening serta sekujur tubuhku mulai berkeringat dingin.
“Ttt.... tunggu...” aku mendorongnya setelah tersadar sepenuhnya, sehingga terlepas dari pelukannya.
Kemudian aku berbalik dan menarik napas dalam mencoba menstabilkan degub jantungku yang getarannya seoalah ingin membuatnya melompat dari tempatnya.
Pipiku terasa panas. Ku lirik dia sekilas yang tengah tersenyum menatapku hingga membuatku ingin cepat-cepat bersembunyi darinya saking malu dan gugupnya.
"Ak... aku... akan mandi lebih dulu." Ucapku sembari berlari ke kamar mandi.
Saat tengah mandi aku mencoba memutar otak, berpikir bagaimana caranya agar aku dan Jin tidak tidur semalaman. Karena aku takut. Nanti di saat aku tidur tiba-tiba Jin.... Tidak! Aku takut membayangkannya.
Kemudian aku teringat, pasti ada wine kan? Biasanya suit room selalu memberikan wine secara percuma. Ahh.... aku buat saja dia mabuk lebih dulu agar aku bisa tidur dengan nyenyak. Aku terkikik senang membayangkan hal itu.
Dengan girang aku segera memakai dress piyama yang ibuku persiapkan.
Aku ternganga bukan main. Kenapa piyama ini sangat seksi sekali? Aku mencoba mencari baju yang lain. Dan ternyata semua sama dan hanya menyisakan dres yang akan aku gunakan besok saat pulang.
Dasar! Sebenarnya otak siapa ini yang telah mempersiapkan malam ini sedemikian rupa. Ibuku? ibu mertuaku???
Sigh. Aku mendesah kesal. Jadi mau tak mau aku memakai dress piyama yang berwarna kuning pastel. Karena yang lainnya warnanya lebih mencolok. Merah dan Pink yang terang. Meskipun modelnya tetap sama seksinya.
Dengan malu-malu aku keluar kamar mandi.
"Sudah?" Tanya Jin tak memperhatikanku dan tetap fokus pada tabletnya.
"Kkk.... kau tak membersihkan dirimu?" Tanyaku padanya gugup.
"Ok, aku akan mandi sekarang." Ucapnya sembari meletakkan tablet di atas nakas di samping tempat tidur yang super besar itu.
Jin menatapku sejenak dan dengan spontan aku membalikkan badan dan menutup belahan dadaku yang terbuka.
'Ya Tuhan.' Aku mendesah dalam hati sembari menggigit bibir bawahku.
Jin tersenyum sembari berjalan memasuki kamar mandi. Setelah Jin masuk ke kamar mandi, Aku dengan gesit mengambil Wine di dalam keranjang di atas nakas yang tersedia di ruangan itu serta duduk bersila dan menutupi tubuh depanku dengan bantal.
Tak berapa lama Jin telah keluar dari kamar mandi dalam keadaan hanya memakai celana boxer selutut saja yang membuatku semakin panas dingin dibuatnya.
“Yaa.... kenapa kau tak pakai baju?” aku menelungkupkan wajahku pada bantal dipangkuanku. Aku tak mau melihatnya karena aku yakin aku tak akan mampu. Sebab apa? sebab rambut dan tubuh atletisnya yang sedikit basah pasti akan membuat wanita mana saja mimisan. Jadi... aku menghindari hal itu. Karena aku tak mau mimisan atau pun pingsan.
Dia hanya tersenyum melihatku yang bersembunyi dengan bantal tak nyaman. Namun pada akhirnya dia memilih mengenakan singlet longgar.
“Aku kan suamimu... kenapa ekspresimu seperti itu?” dia tersenyum menggoda.
“Tetap saja...” aku menggerutu sebal. Hingga akhirnya aku bertekad menatap wajahnya dan membuang semua rasa maluku meskipun rasanya benar-benwr tak nyaman.
“Jah... ayo kita minum ini?” aku memberikan gelas yang telah terisi wine pada Jin.
"Kau yakin mau minum ini?" Dia menyelidik padaku tajam sembari menerima gelas berisi wine pemberianku.
"Tentu saja..." Aku meyakinkannya. Meskipun sebenarnya perasaanku agak takut karena aku belum pernah minum minuman beralkohol.
Untuk membuktikannya aku mencoba menenggak gelas yang telah terisi wine milikku.
Rasanya sangat aneh sekali. Kenapa orang begitu menyukainya? Aku berusaha menahan mimik wajahku agar terlihat santai seperti pernah melakukannya.
Kepalaku tiba-tiba langsung merasa pening yang teramat sangat. Tapi wine itu memang candu. Aku jadi ingin sekali meminumnya lagi dan lagi. Seperti orang yang tengah kesetanan karena langsung menenggak habis setiap menuang ke dalam gelas. Padahal rasanya sangat tak enak. Tapi aku mau lagi dan lagi.
***