TRUE LOVE For MAYA

TRUE LOVE For MAYA
MAYAKU SUDAH KEMBALI



Tiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiitttttttt………………..


Tit.. Tit.. Tit.. Tit.. Tit…


Suara monitor itu kembali normal bersamaan dengan suara halus, suara merdu yang sangat sangat di rindukan….


"Abang……."


Lirih terdengar, suara itu terdengar pelan namun terdengar jelas di pendengaran Lingga. Tetesan airmata yang jatuh mengalir di pipi Lingga terasa hangat, sehangat hati Lingga tatkala ia menyadari kehadiran Maya. kehadiran sosok wanitanya, Mayanya.


Ya… Mayanya telah datang.. Mayanya telah kembali.. Mayanya mendengar panggilan, memenuhi janjinya… ia pun tak bisa pergi dari sang kekasih hati..


"Maya…….."


Mulutnya menyebut nama kekasihnya.


Dengan perlahan Lingga mengangkat kepala, ia ingin memastikan pendengarannya tidak salah, ia yakin Maya telah kembali. Dengan gerakan lambat, Lingga memalingkan wajah, mengangkat kepala agar berada di atas wajah Maya..


Kelopak mata Lingga semakin berair, sorot mata itu mengembun dengan bibir yang terangkat sedikit membentuk senyum keharuan ketika melihat kedua kelopak mata Maya terbuka. Keduanya saling bertatapan, saling berhadapan dengan wajah Maya berada di bawah dan Lingga berada di atasnya.


Lingga belum sanggup bersuara, antara shok, bahagia, terkejut, tidak percaya yang menjadi satu. Disaat ia sedang berusaha ikhlas walau sulit… disaat ia sudah memasrahkan hatinya… disaat ia sudah tidak meminta, memohon dan memaksakan kehendaknya lagi… disaaat ia meyakinkan diri bahwa ketentuan Allah di atas segala-galanya..


Bahwa jodoh, rejeki dan maut telah menjadi ketentuannya..


Mukzizat itu datang kepadanya.. Mukzizat itu nyata.. Jelas adanya.


Azza Wa Jalla


Dengan perlahan, Maya menggerakkan tangan yang terbebas dari selang infusan. Tangan itu terangkat, mengusap seluruh wajah Lingga, dari alis turun ke mata, dari mata berpindah ke hiding, bibir dan dagu. Tangan lembut yang terasa dingin itu mengusap airmata yang mengalir di pipi Lingga..


Seperti gersang yang mendapat hujan, seperti dahaga yang mendapatkan air, Lingga telah menemukan yang hilang.. Lingga telah berhasil membawanya kedalam pelukan..


"Abang jangan menangis." ucap Maya dengan suara pelan nan menyejukkan. "Jagoan Maya tidak boleh cengeng… lelaki Maya harus kuat setegar batu karang di lautan.."


"Maya sudah kembali… Abang jangan marah, ya… Maya sudah menepati janji.." bibir pucat itu bergerak memberikan senyum hangatnya. Bersama Lingga yang semakin menumpahkan airmata.


Bukan lagi airmata kesedihan, tetapi airmata kebahagiaan.


"Tidak.. Abang tidak akan bisa marah, May.. Abang hanya takut, Abang takut Mayaku pergi dengan tidak membawa Abang." Lingga meraih tangan Maya yang masih mengusap pipinya, di genggamnya tangan kurus itu, di kecupnya berulang-ulang telapak dan punggung tangannya.


"Abang rindu, May.. Abang merindukanmu.. Abang merindukan semua yang ada di dirimu."


Semua keluarga dan para tim Dokter yang berada di dalam ruangan terpaku berdiri terdiam, terkesiap tak menyangka, haru yang mereka rasakan… semua yang meyaksikan, mengusap airmata kebahagiaan..


Di penghujung kepasrahan, Keikhlasan,


Tuhan telah mengembalikan Maya. Di detik-detik terakhir, di sisa-sisa ikhtiar dan doa, Mukzizat hadir di tengah-tengah mereka. Rasa haru di iringi beribu-ribu ucapan rasa syukur memenuhi seisi ruangan. Mereka menenggadahkan tangan kepada Sang Pencipta Semesta Alam. Pemilik hak penuh akan kehidupan


Mereka saling memeluk sebagai bentuk ungkapan kebahagiaan, rasa gembira tak terkira. Mereka memberikan ruang, membiarkan waktu kepada sepasang suami istri itu untuk berbicara, saling melepas rindu. Saling mengungkapan perasaan..


Akan ada banyak waktu untuk mereka. Mereka tidak akan menganggu keduanya, cukuplah mereka menyaksikan kalau Maya telah sadar, Maya telah bangun dari koma, Maya telah kembali pulang..


"Putra kita sangat tampan seperti Abang.." Maya bicara setelah Lingga menjeda ciumannya, pria itu seakan tak mau berhenti mengecupi wajah Maya, dari mulai kening, kedua kelopak mata , hidung, kedua pipi yang terlihat tirus, dan mengecup bibir yang masih terlihat pucat.


"Putra?" Lingga bertanya tak mengerti, dengan Maya yang mengedipkan Mata sebagai tanda jawaban


"Magada ada bersama ayah.. Dia sudah bahagia."


Lingga tercengang mendengar ucapan Maya.


"Kamu bertemu dengan Putra kita May?" Lingga memastikan apa yang di dengarnya tak salah.


"Ya, Bang… Sutan Magada. Nama yang gagah, pemberani, dan bijaksana.."


"Kamu suka dengan nama pilihan Abang?"


Maya menganguk tersenyum mengiyakan.


"Apa kita belum layak memilikinya, Bang?" Maya mengucapkan pertanyaan dengan suara lirih, terselip kesedihan dan kerinduan di dalamnya.


"Kelayakan bukan di ukur dari sesuatu yang hilang, May.. Hanya saja, Tuhan lebih sayang kepadanya. Percayalah, Tuhan akan mengirimkannya kembali di kelahiran berikutnya. Cepatlah sehat dan pulih Mayaku." Lingga kembali mengecup bibir Maya.


"Jangan bersedih, May.. Jangan menagis Honey.. Kita akan menengoknya, Abang sudah berjanji kepada Gada akan membawamu ke tempat peristirahatan terakhirnya." Dirga bicara sambil menempelkan keningnya di atas kening Maya.


"Jangan berpikir yang berat.. Semuanya akan kembali normal, semuanya akan baik-baik saja. Ada Abang, Abang akan ada, akan selalau bersamamu." Lingga meraup wajah Maya.


"Maafkan, Abang .. Abang telah lalai menjagamu. Tapi janji, tidak akan Abang ulangi lagi. Kita akan memulainya lagi dari awal. Kita akan berbulan madu lagi, kita akan membuat Gada Gada yang lain, May.. Kita akan punya banyak anak.. Jangan khawatir, jangan takut.. Abang masih cukup kuat."


Maya tersenyum lebar mendengar ucapan Lingga.. Ia tahu, suaminya itu sedang menyemangatinya. Ia tahu, suaminya itu tak menginginkan-nya bersedih dan menangis. Meratapi kepergian yang sudah seharusnya terlepas. Maya mengingat kembali pesan yang si sampaikan sang ayah kepadanya. Beberapa penggalan kalimat yang masih terngiang di pikiran dan telinganya.


"Jangan biarkan orang-orang yang mengasihimu menangis. Ikhlaskan apa yang sudah seharusnya terlepas. Tidak ada yang salah dengan kehidupan ini. Jangan pula menyalahkan siapa-siapa. Sejatinya Tuhan akan selalu bersama kita."


°°°°°


Dokter Hansel dan timnya segera melepaskan alat yang tersambung ke tubuh Maya, setelah mengecek semua bagian-bagian fungsi tubuh Maya. Dari mulai indrea perasa, pendengaran, penglihatan dan sendi-sendi tulang. Tak lupa jalannya kantung kemih dan pernafasan. Dokter Hansel juga banyak bertanya, bertanya tentang banyak hal kepada Maya, untuk menguji kepekaan, daya ingat dan kemampuan berpikir dan berjalan. Semuanya dalam keada baik dan normal.


Dokter Arum juga akan melakukan USG lagi kepada Maya. untuk memeriksakan kondisi rahim Maya pasca keguguran. Yang pastinya, Maya harus menjalani perawatan sampai di nyatakan pulih dan benar-benar sehat. Semua keluarga masih menunggu di luar sampai Dokter selesai melakukan pemeriksaan dan para perawat memindahkan Maya ke ruang perawatan.


Tampak wajah-wajah lebih tenang dari para orangtua, adik dan sahabat… wajah-wajah cemas berbalut kesedihan itu tampak hilang dari pandangan. Mereka sudah tidak sabar untuk memeluk Maya.


Lingga berdiri disamping brankar selama pemeriksaan, pria itu tidak mau menjauh sedikitpun dari Maya. Seakan takut kehilangan… rasa itu masih bergelaut dalam hatinya.


Pandangannya tak lepas dari Mayanya.. Senyum hangat itu tersungging di bibirnya.


Pandangan tak pernah berubah, pandangan itu selalu memuja, mata itu penuh cinta, bahasa tubuhnya selalu penuh perhatian, perlindungan..


Gelora cinta itu terus berkumandang… cinta itu semakin kuat dan besar


****


Bersambung ♥