TRUE LOVE For MAYA

TRUE LOVE For MAYA
DUA ISTRI



Prankkk…


Teguran di iringi pukulan mendarat di kepala. Mengagetkan Laoka yang sedang menggedor pintu sambil berteriak memanggil-manggil nama Leksus dan sang Kakak ipar.


"Kau itu mengganggu Daengmu saja!" tiba-tiba Indo Senna sudah berdiri di belakangnya seraya memukul kepala putra bungsunya dengan tutup panci yang di bawanya.


"Aduhh..!! Indo ! Sakit kepala Oka!" remaja itu meringis sambil mengusap-usap kepalanya.


"Bagaimana Indo mau cepat dapat cucu! Kalau kau ganggu Kakakmu itu! Kakakmu itu butuh konsentrasi!" Indo menambahkan toyoran di kepala Laoka.


"Ada tamu Indo di depan. Mereka tak akan pulang kalau belum bertemu dengan Daeng Lexsus dan Kakak Dina." Laoka menjelaskan.


"Siapa?" mengerutkan alis, Indo bertanya.


"Coba Indo lihat saja siapa tamunya?" masih mengusap-usap kepalanya.


"Katakan kepada mereka, menunggulah dulu.. Daengmu mungkin sedang berganti pakaian."


Senna meninggalkan Laoka kembali ke dapur dengan membenturkan panci dan tutupnya lagi.


Praankkk…!!!!


"Indooooo… berisik!" Laoka menutup telinganya.


"Sama seperti teriakanmu.." ucap Senna dengan bibir tersenyum.


Belum hilang rasa sakit akibat pukulan Indo. Laoka kembali mendapatkan jitakan di kening dari Daeng saat pintu terbuka.


"Aww..!! Daeng..! Janganlah kau siksa adik tampanmu ini? Indo sama Daeng sama saja sukanya menyiksa." Laoka menggerutu


"Tidak bisakah kau tidak berteriak? Menganggu saja kau ini!"


Tidak memperdulikan ucapan Lexsus.. "Kakak Dina kemana?" Laoka hendak melongokkan kepalanya di sela-sela pintu, tetapi lebih cepat di tahan oleh Lexsus dengan menarik kerah kaosnya dari belakang.


"Eeeeh.. Kau mau apa hah?"


"Janganlah begini Daeng.." Laoka membebaskan diri dari cengkraman sang Kakak. "Oka hanya ingin melihat Kakak Dina sedang apa?"


"Tidak boleh..!" Daeng menjauhkan Laoka dari pintu mengangkat kerah baju hingga mencekik leher.


"Kakakmu sedang mandi Laoka.." Lexsus memberikan tatapan tajam.


"Ampun Daeng.. Ampun.." Laoka meringis tersenyum merapatkan kedua telapak tangannya di depan dada.


"Ada tamu yang ingin bertemu dengan Daeng dan Kakak Dina." Laoka menyampaikan setelah terbebas dari cengkraman.


"Siapa ?" Lexsus bertanya


"Daeng lihatlah sendiri.. Oka mau makan.. Lapar!" Remaja itu akan melangkah ke dapur menyusul Indo Senna.


"Heii..!!" menarik lagi kaos Laoka. "Sampaikan dulu, suruh tunggu. Daeng akan menunggu Kakakmu selesai mandi." perintah Lexsus tidak dapat di bantah oleh Laoka.. Dan pengantin itu kembali masuk ke dalam kamar.


Membuka pintu melongokkan kepala, Laoka berteriak bertanya.. "Apa keponakanku sudah OTW Kakak Dina?" Pria remaja itu dengan cepat menutup pintu kembali dan langsung berlari ke ruang tamu sebelum mendapatkan lemparan dari dalam.


Dina keluar dari dalam kamar mandi masih menggunakan handuk kimono.. Rambut basahnya di gulung ke atas menggunakan handuk kecil. Beberapa tanda kemerahan di pundak sempat Daeng tinggalkan sebelum akhirnya, cumbuan itu harus di hentikan akibat ulah sang adik.


"Siapa tamunya Daeng?" Dina bertanya sambil duduk di depan meja rias.


"Daeng belum menemuinya. Kita akan menemuinya bersama." Daeng bicara sambil melangkah ke arah Dina berdiri di belakang. Tangannya melepas handuk yang membungkus rambut. Lexsus membantu mengusaknya agar kering.


"Nanti malam Daeng ingin melihat Anri menggunakan gaun yang Anri sembunyikan dalam koper." Pria itu bicara dengan tenang.


"Apa? Gaun ? Gaun yang mana?" Dina pura-pura tidak mengerti.


Karena sebelum masuk kamar mandi, Dina menyempatkan menaruh gaun horor itu ke dalam koper. Ia berharap Lexsus tak meihatnya.


"Daeng sudah melihatnya Anri.."


Cup ..


Meraup kedua pipi Dina dari atas, Daeng mengecup kening sang istri. Wanita itu menenggadahkan kepalanya ke atas bersandar di perut Daeng yang berdiri di belakangnya.


"Cepatlah berganti pakaian.. Atau kita lanjutkan yang tadi? Dan kita akan keluar dari dalam kamar besok Pagi."


Membulatkan mata seraya bergidik. Dina beranjak membebaskan diri sambil menyambar gaunnya yang tergantung untuk segera masuk ke dalam kamar mandi.


"Temuilah dulu tamunya Daeng.. Nanti Anri menyusul." Dina berteriak dari dalam.


"Baiklah.. Jangan lama-lam Anri."


°°°°°


Keluar dari dalam kamar, Daeng melangkah ke ruang depan untuk menemui tamu yang sudah menunggunya. Lexsus dapat mengenal wajah orangtua yang sangat di kenalnya. Sesosok pria seumuran dengan Ambo Werang yang bernama Layang dan sang istri, dua orang yang pernah menolaknya. Mereka adalah orangtua Ape.


"Lexsus.." Layang bangun dari duduknya menyapa pria yang sudah banyak berubah. Bukan hanya dari segi materi, tetapi pria itu terlihat semakin tampan dan dewasa.


"Duduklah Paman.." Lexsus meminta agar Layang tak perlu berdiri.


Sedangkan sang istri hanya menunduk terdiam.. Wanita itu masih mengingat jelas. Panggilan Ambo dan Indo Lexsus sematkan tiga tahun yang lalu saat masih menjadi kekasih dari Ape putrinya. Dan sekarang, Lexsus memanggilan Layang dengan panggilan Paman.


"Selamat untuk pernikahanmu Nak." Istri dari Layang yang bernama Nosa itu memberanikan diri membuka suara. "Kami sebagai orangtua turut senang atas kebahagiaanmu Lexsus." Layang ikut bicara. "Tapi.. Bukan hanya itu saja tujuan kami datang ke rumah ini."


"Langsung ke intinya saja paman. Ada apa?"


Lexsus sudah dapat menangkap niat dan maksud tujuan Layang dan Nosa..


"Maafkan kami Lex.. Kami tidak bermaksud merusak hari bahagiamu. Kedatangan kami kemari mungkin sangat tidak tepat waktunya."


"Tapi.." Nosa menggenggam tangan suaminya, wanita itu meminta suaminya untuk tidak meneruskan ucapannya dengan menggelengkan kepala.


"Biarlah Indo.. Kita harus bicara kepada Lexsus." Layang memberikan pengertian kepada istrinya.


"Kami sebenarnya malu Lex.. Tapi rasa malu itu kami tahan demi Ape.. Sebagai orangtua kami sadar ucapan kami akan menyakiti istri Daeng. Tapi tolonglah untuk di pikirkan kembali. Kami menyadari kesalahan kami dahulu. Sebagai orangtua, saat itu kami hanya menginginkan masa depan yang terbaik untuk Ape.. Tapi keputusan dan pemikiran salah.. Kami sudah membuat Ape tidak bahagia.."


"Langsung saja Paman." tanpa ekpresi, Daeng memotong ucapan Layang.


"Nikahilah Ape. Nikahilah anak kami Lexsus." dengan suara gemetar Layang menyampaikan keinginannya.


"Ape benar-benar terpukul Daeng.. Hari ini, Ape tidak keluar kamar. Bahkan Ape tidak mau makan karena pernikahanmu. Ape terpukul Daeng.. Ape putus asa. Nikahilah Ape Daeng.. Tak apa kalau Ape harus menjadi yang kedua. Kami mohon Lexsus."


"Lalu bagaimana dengan menantuku?" tiba-tiba Senna muncul dari arah dapur.


"Tidakkah kalian mengerti dan mau memahami perasaannya. Belum 24 jam dia menjadi istri Lexsus. Kalian sudah meminta putraku menikahi putri kalian.. Kenapa tidak kalian beri pengertian kepada Ape. Bahwa sesuatu yang di paksakan tidak akan berujung dengan baik."


"Aku tanya ? Bagaiman kalau posisi Ape berada di posisi menantuku. Bagaimana perasaannya saat suaminya di paksa harus menikahi wanita lain? Dan bagaimana perasaan kalian sebagai orangtua saat menantu kalian akan menikah lagi?"


"Indo.. Sabarlah.." Ambo datang mendekat, pria itu mengelus pundak sang istri agar tidak emosi.


"Biarkan Ambo.. Biarkan Layang dan Nosa mendengar langsung dari mulutku. Bukankah kalian sudah menolak dan bersumpah tidak akan menerima, bermenantukan Lexsus Kamoga yang tidak memiliki apa-apa. Aku rasa kalian cukup mengingatnya!"


"Aku, suamiku, putraku, kami tak menganggu bahkan tidak merusak hari pernikahan Ape dahulu.. Dan sebagai orangtua, kami masih menerima dengan baik kedatangan Ape kembali menemui kami, yang kami anggap sebagai bentuk tali silahturahmi."


"Tapi bukan berarti aku akan diam saja ketika kalian datang kemari dan merusak hubungan rumah tangga putra dan menantuku."


"Indo.. Sudah.. Tidak baik bicara seperti itu.. Jangan di teruskan.. Malu di dengar tetangga." Ambo Werang meredam suara Indo


Sedangkan Dina terpaku terdiam mendengarkan dari balik buffet besar yang menjadi penghalang antara ruang tamu dan ruang keluarga.


"Kakak sedang apa berdiri disisni?"


Suara Laoka menyadarkan Lexsus kalau Dina tengah berdiri mendengarkan di belakangnya.


"Anri.." Lexsus segera mengejar saat Dina pergi berbalik kembali masuk kamar.


"Dengan segala kerendahan hati.. Pulanglah Layang. Bawa istrimu.. Sebagai orangtua kita wajib menasehati dan memberikan pengertian kepada putra putri kita."


"Uruslah putrimu dengan baik.."


"Disini aku yang memutuskan.."


Werang bersuara dengan tegas.


"Tidak aku ijinkan putraku memiliki dua istri sampai kapanpun.!!"


****


Bersambung ❤


Mohon dukungan like komen hadiah dan votenya yaa 🙏 Terimakasih