TRUE LOVE For MAYA

TRUE LOVE For MAYA
TERBANG KE BULAN



Selesai acara, Lexsus dan sang supir mengantar Cjokro dan Rossa untuk beristirahat ke tempat mereka menginap di villa yang berada di kawasan wisata Ketep pass, yang berada di lereng gunung merbabu. Karena tempat tinggal Bik Hima tidak memungkinkan untuk menampung banyak orang menginap, karena tidak memiliki kamar yang memadai.


Lingga menyewa I Villa dengan ukuran besar yang berisikan beberapa kamar, untuk mereka tempati. Selang satu jam sekitar pukul 8 Maya dan Lingga memutuskan untuk menyusul ke villa, karena tidak ada ranjang pengantin yang tersedia. Sebelum menikah dengan Lingga, saat kembali ke rumah Bibiknya, Maya akan tidur sekamar bersama Dania.


"Neng.., besok pagi Umi akan kirimkan sarapan ke villa. Sekalian Adik-adikmu juga ingin mengunjungi ketep pass sebelum kembali ke kampung." ketep pass tempat pariwisata di lereng gunung merbabu


"Ya, Umi.. Kalau untuk minuman hangat, di villa ada pekerja yang menyediakan.. Jadi Umi tidak perlu repot-repot.. Apa kalian tidak ingin ikut menginap di villa?" Maya bertanya kepada Adik-adiknya.


"Tidak teh, malam ini kami masih ingin melepas rindu dengan Dika, Dania, dan Kak Daksa. Besok pagi Kak Daksa sudah harus kembali bertugas."


\*\*\*\*\*


Sebelum pergi, Maya menyempatkan berpamitan kepada Daksa.. Karena mereka tidak akan bertemu lagi besok pagi. Dan juga, Maya menitipkan kunci kamar kostnya kepada Daksa karena akan di gunakan olehnya


"Abang besok minta di buatkan sarapan apa?" Umi Wanda bertanya kepada menantunya.


"Apa saja Umi, apapun yang di buat oleh Umi pasti enak.." Lingga menjawab sebelum mobil yang di kendarainya meninggalkan pekarangan rumah.


"Neng, udaranya dingin.. Pakai baju hangat.. Hati-hati di jalan.." hal yang biasa bagi seorang Ibu, berpesan banyak hal kepada anak dan menantunya.


"Ya, Mi.. Assalamuallaikum.." Maya dan Lingga berpamitan


"Waalaikumsallam.." Umi menjawab, melepas kepergia mobil yang membawa anak memantunya pergi menuju villa..


"Dingin, May? Lingga bertanya seraya meraih tangan Maya dengan tangan kirinya, menggenggam tangan Maya yang terasa dingin, sesekali Lingga mengecup tangan itu, dan menggesekkannya di rahangnya


"Hemm.. Dingin Bang.." suara Maya yang terdengar manja di telinga, membuat desiran yang berbeda di tubuh Lingga.. seketika tersetrum, tiba-tiba Lingga sangat menginginkannya..


"Abang hari ini belum mengusap jagoan Abang.." tangan Lingga beralih menelusup masuk kedalan kaos longgar yang di kenakan Maya.. Tangannya mengusap lembut perut bawah pusat Maya.. Ia lupa atau sengaja lupa, kalau tadi pagi ia tidak berhenti mengelus perut Maya.


"Apa nyaman?" Lingga memastikan..


"He'em.. Sangat nyaman, Bang.." Maya membiarkan tangan itu terus mengusap perutnya karena memang terasa nyaman.


Lingga masih dalam posisi mengemudi menggunakan salah satu tangan kanannya dengan kecepatan dalam batas normal, membuat kendaraan terkendali dengan aman.


Maya harus mengigit bibirnya menahan des*han, saat merasakan tangan Lingga yang terus turun ke bawah.. Menyentuh miliknya, tangan itu berubah liar, dari usapan berubah menelusup masuk, dengan reflek Maya melebarkan kedua pahanya memberi ruang saat tangan itu semakin tidak bisa diam bermain masuk ke bagian dalam…


"Ab… aaanggg…" Maya tak kuasa menahannya. Ia tak bisa melarang tangan itu menyentuh miliknya, tubuhnya sedikit menggeliat.. Menahan rasa yang membuat Maya terpancing, Maya merasakan panas di dalam tubuhnya..


"Jangan di tahan, May.. Lepaskan.. Abang senang mendengar suaramu." Lingga bicara dengan nafas yang juga berubah semakin berat.. Sesekali ia berpalin menatap Maya.. Dengan sorot mata yang berbeda.


"Nghhh… Banggg.." Maya menengok kesamping kanan, menatap Lingga dengan mata yang berubah sayu dan penuh harap.. wajahnya nampak memerah..


Tetapi Lingga ingin memberikan pelepasan pertama yang berbeda kepada Maya.. Tangannya tidak berhenti, terus menekan bagian sensitiv di dalamnya.


"Nikmati, May.. Berteriaklah sepuasmu." Lingga terua bicara


"Baaaangggg....... Kedua tangan Maya mencekram pinggiran kursi dengan dada yang membusung dan kepala yang menenggadah ke atas saat sesuatu yang terasa akan keluar membawanya terbang ke bulan..


"Aaahhh… Baaannggg.." Maya berteriak saas pelepasan di dapatnya.. Tubuhnya terkulai lemas..


"Lingga tersenyum puas, karena dapat memberikan sesuatu yang berbeda kepada Maya.. "Kamu suka?" tak memakai tissue, Lingga membersihkan jarinya dengan mulutnya.


"Heem.. Maya menganguk, selama menikah dengan Haris belum pernah pria itu melakukan seperti apa yang di lakukan Lingga.. Pria yang berada di sampingnya saat ini terlalu banyak memberikan kejutan untuknya. "Abang jorok ihh, Maya merebut jemari Lingga, bersamaan tangang kirinya menarik tissue.


"Hal seperti ini tidak ada kata jorok, May.. Besok abang berikan cara yang lain. Abang senang mendengar teriakanmu." Lingga tersenyum sambil menatap ke depan.


"Ahh, May.. Abang sedang menyetir.."


"Kenapa kalau sedang menyetir? Bukankah Abang sangat ahli berkendara dengan satu tangan dan di situasi apapun?" tangan Maya menerobos masuk saat resleting celana Lingga berhasil di turunkannya.. Mengenggam sesuatu yang keras dan menegang.


Hana mengikuti naluri, sesungguhnya Maya belum pernah melakukannya.. Maya hanya membayangkan ia sedang melahap buah pisang ambon yang besar dan panjang.


"Mayyy... Akkhh..." Lingga mengerang.. tangannya kirinya mengusap rambut Maya yang sedang berada di bawah perutnya di atas pahanya.. Dengan tangan yang berusaha konsentrasi, mengendalikan stir mobil..


"Buka May..." suaranya Lingga bertambah berat


Maya paham apa yang di inginkan Lingga.. Melepakan pisang ambon dari mulutnya, Maya melepaskan training yang di kenakannya..


"Naik, May.. Kemari.. Abang sudah tidak kuat.."


Lingga menarik Maya agar duduk di pangkuannya dalam posisi kendaraan yang terus melaju menuju villa..


"Kita akan terbang ke bulan bersama menggunakan mobil, May.."


Dengan memeluk tubuh Lingga dengan posisi kepala berada di samping.. Supaya Lingga tetap bisa melihat ke jalan raya.


Membenamkan milik Lingga ke dalam miliknya, Maya bergerak, dan memompa dengan perlahan..


"Ohh, May.. Va**na-mu sangat legit, May.. Kamu seperti gadis pe**wan.... Akhh … May... Ini nikmat May.."


Dengan pencahayaan dari sorot lampu mobilnya… Lingga berusaha fokus di tengah rasa yang membuat nafsunya semakin meningkat.. Memiliki stamina yang prima karena rajin berolah raga.. Deru nafasnya tetap stabil saat mendapatkan guncangan dari Maya.. Wanita itu meliukkan tubuh di atas pangkuannya.


Beberepa kilometer lagi akan sampai di kawasan Villa.. Lingga membanting stir ke sisi kiri jalan.. Setelah menarik handrem.. Lingga langsung meraup wajah Maya dengan kedua tangannya, mendaratkan bibirnya.. Ia mencium, mencecap, bibir yang sangat sensual, lidahnya membelit, menerobos masuk mengabsen setiap rongga dengan Maya yang tak berhenti bergerak.


"Mmmhhh.." Maya melenguh dalam ciuman. Dengan suara tertahan


"Banggg… Ahh...., Maya men**sah saat ciuman itu terlepas..


Tangan Lingga menelusup masuk kedalam kaos, membuka pengait yang menampung bukit kembar yang tampak lembut dan kenyal.


Pria itu mensesap pucuk yang sudah mencuat.. Memberikan banyak tanda di kulit bersih putih halus seperti kapas..


Dua jam tak juga membuat Lingga kalah, hingga membuat tubuh Maya bergetar lagi, untuk kedua kalinya mendapatkan pelepasan...


Memundurkan kursi merebahkan kebelakang, Lingga membalikkan tubuh maya agar terlentang.


Berganti posisi, Llingga bergerak dengan lutut di atas kursi berada di tengah paha Maya.. Mengejar yang belum di dapatnya.. Meraih kenikmatan yang tidak akan ada habisnya…


Mencengkram, menautkan jemari kesela-sela jemari Maya.. Lingga paling senang saat berada di atas, ia akan memandang wajah Maya yang terlihat semakin cantik, seksi menggoda dengan rambut yang berantakan, dengan raut wajah yang memerah merasakan kenikmatan.


Membuat hasrat Lingga semakin memuncak dan dengan cepat ia meraih titik.. Yang mengumpul menjadi satu dan siap menyembur keluar.


"Mayyy…"


Lingga mengerang dengan wajah mengeras dan mulut sedikit terbuka…


****


Bersambung ❤️


Hareudang euy... Upnya gak jadi malam..