
Setelah mengantar Maya pulang ke apartemen, Lingga kembali keluar untuk menemui Lexsus.. Saat ini Lingga sedang berada di Caffe dekat dengan kantornya. Pria itu tengah membahas sesuatu yang sangat serius.. Sambil menunggu kedatangan dua orang bawahannya.
"Kapan dia keluar?" Lingga bertanya
"Siang tadi, Pak.. Nyonya Lusiana yang menjemputnya langsung."
"Bagaimana dengan Mawardi Sanjaya?"
"Pria itu sedang terjerat hutang lintah darat yang cukup besar. Kemungkinan Sanjaya akan bergantung kepada Nyonya Lusiana atau Alisa. Saat ini Sanjaya tengah bersembunyi di apartemen Alisa."
"Dan rumah besar pemberian Tuan Cjokro sudah masuk iklan penjulan."
Lingga mendengarkan apa yang di sampaikan Lexsus, sambil membuka pesan yang di kirim oleh Lusiana dan Maya.. Bibirnya tersenyum saat membaca balasan pesan Maya. Tetapi berubah datar saat membaca pesan dari wanita yang telah menjadi Mamanya selama 32 tahun.
Wanita itu menghubunginya sedari siang, tetapi panggilan itu tidak di angkatnya. Berganti pesan tertulis yang meminta untuk bertemu. Setelah selesai melangsungkan akad nikah, Lingga baru kembali mengaktifkan nomor dan ponselnya. Saat aktif, begitu banyak pesan yang di kirim oleh Lusiana kepadanya. Dari mulai kata maaf, sampai meminta untuk bertemu. Karena Cjokro sudah memerintahkan security agar melarangnya masuk ke dalam gedung ketika wanita itu datang ke kantor.
"Apa Bapak akan menemuinya?" Lexsus bertanya.
"Ya, saya hanya ingin tau apa yang ingin Mama bicarakan. Mau bagaimana-pun dia telah bersama saya sampai saya dewasa.. Saya tidak bisa menutup mata." Lingga bicara
"Apa anda yakin, Pak. Tidak akan menjadi masalah?" Lexsus menegaskan.
"Apakah kamu akan mengabaikan sosok Ibu yang telah merawatmu Lex?" Lingga balik bertanya.
"Tidak.. Selagi dia tidak membuat masalah."
"Ya, saya harap Mama tidak akan membuat masalah baru. Cukup perbuatannya dimasa lalu."
"Saya harap begitu." ucap Lexsus
"Sore Pak, Lingga.. Maaf kami telat." dua orang bawahannya yang di tunggu telah datang.
"Silahkan.." Lingga memanggil pelayan Caffe untuk membawakan dua minuman.
"Bagaimana?" Lingga langsung bertanya setelah kedua pria itu duduk di hadapannya.
"Berita Grup akan menaikkan beritanya satu jam lagi Pak." pria yang bernama Wawan bicara
"Dan, kita juga akan menaikkan berita yang sama dengan isi berbeda." pria kedua yang bernam Eko menjelaskan
"Bagaimana dengan stasiun TV yang lain?" Lingga bertanya kembali
"Mereka sudah kami beri informasi, Pak. Serempak akan start mengangkat berita satu jam setelah Berita Grup mempublis di semua media, baik media cetak dan elektronik. Bapak bisa dengar langsung beritanya." Pria itu membuka laptop yang ia bawa untuk di lihatkan kepada Lingga.
"Kenapa tidak kita lebih dulu mempublish-nya Pak.. Supaya tidak ada gosip miring yang beredar tentang Bapak." Wawan bertanya
"Tidak perlu.. Saya ingin bermain-main dengan mereka yang mencoba mengusik kehidupan saya." Lingga tersenyum penuh arti. "Dan saya membutuhkan perusahaan itu sebagai jalan."
Tanpa di ketahui Anton. Selama Di Lombok, Lingga telah menugaskan satu jurnalis bawahannya untuk melakukan peliputan dan penulisan, mengambil beberapa foto kebersamaannya bersama Maya. Bahkan Lingga melakukan sesi wawancara untuk di sebarluaskan sebagai info aktual melalui beberapa stasiun TV dan juga media, yang akan mengangkat seputar pernikahan resminya dengan Maya. Lingga juga memberikan foto akad nikahnya saat berada di Desa Dakawu Kecamatan Pakis. Ia sudah mempersiapkan segala resiko yang akan terjadi kedepan.
Tidak lupa, Lexsus juga sudah menghubungi Johan dan timnya.. Johan akan mensomasi pihak perusahaan sebelum melangkah ke jalur hukum. Yang pastinya akan ada beberapa syarat yang akan di ajukan oleh Lingga sebagai penggugat. Jika tidak, Johan akan mempersiapkan laporan dan tuntutan kepada Berita Grup sebagai perusahaan yang menaungi dan memberikan ijin, sebagai pencemaran nama baik dan kebohongan publik setelah beritanya terangkat di media.
Lingga sudah membuka semua jejaring sosialnya. Untuk mengetahui kabar yang akan secepatnya tersebar.
Sudah menjadi rutinitas.. Sebelum azan maqrib, Mak Kom akan meyetel TV yang berada di dalam kamarnya saat pukul Lima sore.. Sudah menjadi hobinya.. Setelah menonton acara gosip, berlanjut ke acara kuliner enak. Bersamaan dengan Maya yang baru turun dari kamarnya, setelah mandi dan berganti pakaian.
"Mak.." Maya memanggil Mak.. Wanita itu melangkah ke arah dapur yang posisinya berada paling depan, bersebelahan dengan ruang tamu dan pintu keluar.
Apartemen dua lantai itu cukup luas. Selain satu kamar utama dan kolam renang mini yang berada di lantai atas. Ada dua kamar di lantai bawah. Yang mana satu kamar di jadikan ruang kerja Lingga. Dan satu kamar pembantu yang berdampingan dengan ruang cuci pakaian.
Tidak ada jawaban dan tidak melihat keberadaan Mak Kom, Maya melongokkan kepalanya ke pintu kamar yang terbuka. Ia melihat Mak Kom sedang serius menonton acara berita gosip di salah satu srasiun TV.
Mulutnya tak jadi memanggil, ketika Maya mendengar salah satu host pembawa acara menyebut nama Sutan Lingga Hanunggara. Putra dari Sutan Cjokro, sang pewaris kerajaan bisnis dari Kabar Grup dan pemilik stasiun FansTV menjadi bahan obrolan kedua host itu.
"Aduuhhh.. Mau deh jadi Wil dari salah satu Crazy Rich." candaan dari host wanita saat berinteraksi dengan host pria sebagai patnernya.
Maya dapat melihat dengan jelas foto-foto kebersamaannya bersama Lingga saat berada di kepulauan Lombok tersebar di media. Terpampang di layar kaca. Acara gosip itu memberitakan perselingkuhan sesosok pria bernama Sutan Lingga dengan seorang wanita biasa bernama Maya Mawanda istri dari sang sahabat berinisial HM.
Seketika kakinya terasa lemas, dadanya bergemuruh kencang.. Tubuhnya gemetar.. Maya berpegangan di pintu kamar Mak Kom dengan kuat, menahan tubuhnya agar tidak ambruk ke lantai.
"Neng.." Mak Kom baru menyadari kehadiran Maya saat suara pintu terdorong. Wanita itu segera beranjak dari hadapan TV dan mendekat ke arah Maya.
Pikiran Maya langsung blank, seakan buntu.. Baru saja ia mereguk kebahagiaan dan ketenangan. Kabar buruk datang menghantamnya. Sebagai orang awam, yang tidak pernah mengenal kamera dan tersorot media. Tentunya membuat Maya shok dan ketakutan. Seakan banyak pasang mata sedang menatapnya.
"Neng tidak apa-apa?" Mak Kom memapah tubuh Maya, membawanya agar duduk di kursi makan. Dan segera mengambil segelas air putih untuk Maya.
"Minum dulu Neng.." Mak Kom memberikan gelas berisi air itu, agar Maya meminumnya.
Dengan perlahan Maya memaksakan untuk bisa meneguk air putih walaupun susah. Pikiran Maya langsung ke Uminya.. Yang ia takutkan adalah, para tetangga akan mencemooh sang Umi karena berita yang tidak benar sepenuhnya.
Ia memang pernah melakukan kesalahan dengan Lingga di saat statusnya masih menjadi istri Haris. Tetapi, kebersamaannya saat di Lombok, statusnya sudah sah menjadi istri Lingga dan telah berpisah dengan Haris selama 3 bulan sepuluh hari. Sedangkan di berita gosip yang tayangkan menyatakan kalau statusnya saat ini masih menjadi istri Haris. Walau di sebut dengan inisial.
"Itu semua tidak benar, Mak.. Abang sudah mengurus surat cerai Maya di pengadilan saat kami akan menikah." Maya bicara dengan suara bergetar dan tidak bisa menahan tangisnya..
"Iya, Neng. Mak percaya.. Berita itu jangan dulu di dengar Neng.. Bapak pasti akan mengurusnya. Neng harus sabar."
"Sudah, jangan nangis ya Neng... Lebih baik Neng hubungi Bapak sekarang. Biar lebih jelas. Bapak kan orang TV Neng. Kasus Bu Alisa saja bisa hilang, tidak mungkin Bapak akan membiarkan Neng Maya dalam masalah.."
"Menyeka airmata.. Maya membuka ponsel barunya, dan menekan nomor kontak Lingga..
Tut.. Tut.. Tut..
Sampai panggilan berakhir, Lingga belum juga menjawabnya.
"Tidak di angkat Mak.." Maya kembali menangis..
"Di coba lagi, Neng.."
"Istiqhfar.. Tarik nafas.. Supaya Neng Maya tenang."
****
Bersambung ❤️