
Jakarta
Dina melonjak kegirangan, wanita itu berteriak meluapkan rasa gembira tiada tara. Hingga mengema di dalam ruangan. Baru selesai berbenah pakaian, menyapu lantai, ponselnya berbunyi nyaring dengan ringtone musik dangdut pavoritnya. Nada dering itu terus menggema tidak berhenti, menandakan panggilan masuk itu minta di perhatikan tak ingin di abaikan.
Di lihatnya di tampilan layar, panggilan videocall melalui aplikasi pesan hijau dari Abang.
"Abang.." mulutnya bergumam. Karena sudah lama sekali pria tampan itu tak menghubungi apa lagi bertemu denganya. Dari terakhir Lingga datang menemuinya di butiq untuk meminta alamat kampung halaman, tepatnya tempat tinggal dimana Umi Wanda berada.
Duduk di lantai bersandar di sofa tunggu untuk para pengantar dan pembeli. Dina mengusap panggilan telfon berwarna hijau. Wajahnya berubah sumringah dengan senyum lebar, ketika mengetahui siapa wanita yang berada di depan layar.
"Mayaaaaaaa…." Dina senangnya bukan kepalang.. Sangking senangnya, ia sampai menitikan airmata karena rasa rindu lama tak berjumpa. Ingin sekali ia memeluk Maya, ia rindu akan teman seperjuangannya. Yang bersama-sama mencari nafkah, bersama-sama menjaga butiq dan melayani para pembeli. Makan, jajan cilok pun selalu bersama. Berkeluh kesah selalu berdua. Dan selama Maya tidak ada, ia kesepian, ia sendirian..
Hanya Kang Oleh yang masih setia menemaninya, mengobrol di kala pekerjaan keduanya sedang senggang. Terkadang juga membantunya jika di minta bantuannya.
"Din, jangan teriak-teriak. Nanti Kang Oleh mendadak terkena serangan jantung karena kaget kalau sampai mendengar suaramu." Ucap Maya dengan tertawa
"Hahahaha…" Dina tertawa lebar.
"Tenang saja, May.. Kang Oleh punya jantung cadangan. Onderdil-nya lengkap, stok banyak.."
"Kamu ya Din, tega banget sih.. Emangnya Kang Oleh mesin bubut." keduanya tertawa bersamaan.
"Bagaimana kabarmu May? Aku dengar dari Lendra kamu sama Abang sudah menikah?" Dina mulai serius bertanya.
Dina sudah sangat mengenal Lendra, pria itu terkadang menyempatkan untuk datang ke butiq hanya untuk bertemu dengan Tante Rossa dan berbincang dengannya. Yang pada akhirnya, Dina mengetahui kebenarannya, kalau Lendra adik sepupunya Lingga dan Tante Rossa Ibu kandung Abang. Sungguh kabar yang sangat mengejutkan untuk Dina.
"May, aku kangen.." Dina rindu akan temannya.
"Kapan kita bertemu lagi?" Dina bertanya
"Kita pasti akan bertemu, Din.. Aku juga kangen kamu.. Tunggu aku pulang dari Lombok yaa.. Aku pasti akan datang ke Butiq menemuimu." Maya menjawab dari layar ponsel.
"Asik bener yang lagi honeymoon.. Jadi pengeennn.." Dina memasang wajah memelas terlihat lucu
"Pengen apa?" Maya memancing temannya yang terkenal gesrek
"Pengennn uwu uwu…" Dina tertawa lepas dengan ucapannya sendiri.
"Kamu masih bekerja disini kan May? Eeh.. Aku lupa." Dina menepuk keningnya. "Kamu kan sudah menjadi menantu Tante Rossa May? Masa menantu si Bos masih bekerja?" Dina bicara sembari nyengir
"Aku masih Maya yang dulu Din, dan aku akan selalu menjadi temanmu. Kalau Abang mengijinkan aku sih maunya masih terus bekerja, tapi semua keputusan ada di tangan Abang. Nanti aku ceritakan dan aku jelaskan kalau kita sudah bertemu ya din."
"Siappp Bu Bos.."
Keduanya saling melepas rindu dan bercerita seputar pernikahan, cukuplah sebagai pengobat rindu keduanya. Dina sudah merasa tenang, karena sudah mengetahui kabar dan keberadaan Maya.. Dina juga sempat menyapa si Abang yang melambaikan tangan, pria itu baru nimbrung sambil memeluk Maya dari belakang.
"Sampai berjumpa di Jakarta Din.. Jangan lupa titip salam buat Kang Oleh." sebelum akhirnya pembicaraan itu selesai karena Maya harus segera berangkat ke bandara dan sambungan videocall itu terputus.
°°°°°
Dari bahagia tiba-tiba suasana hati Dina berubah buruk, saat membaca pesan masuk.. Malam minggu ini sudah ketiga kalinya Kang Jujun membatalkan janji untuk bermalam minggu bersama. Walau hanya mengitari jalan kenangan, sekedar nongkrong di warung kopi. Menikmati segelas Es Cappuccino kesukaannya..
Bukan hanya wajahnya yang di tekuk, tetapi wajah itu terlihat masam, pasti rasanya kecut bukan kepalang.. Tapi wajah itu tak membuat siapapun akan bosan saat memandangnya.
Belum lagi bibirnya yang maju lima centi. Sudah tiga minggu terakhir ini suara-suara sumbang sudah berkembang di antara para pekerja, hingga sampai di telinga dan menganggu pikirannya.
Bukan gosip murahan atau sekedar kabar burung yang di hembuskan dari para pekerja warung makan, dan toko lainnya, yang menyampaikan berita kalau Kang Jujun sang pujaan yang belum lama ini menjadi kekasih hatinya, membonceng wanita lain dengan begitu mesranya.
Dengan salah satu pekerja mie klenger yang demplonnya bukan kepalang. Selalu berdandan tebal, bedak berlapis sudah mirip tumpukan kue lapis legit. Lipstik merah menyala, mengalahkan lampu merah di perempatan jalan, eyeshadow beralaskan bulu mata anti huru hara, dengan alis yang melingkar bak bulan sabit. Belum lagi pemerah pipi yang di jadikan shading agar terlihat tirus dari yang sebenarnya.
Bukan menjadi rahasia lagi dari mulai ujung jalan sampai blok berikutnya, kalau pria berseragam putih biru itu gebetan Dina.. Pelayan Butiq yang selalu tampil ceria berwajah manis terbilang cantik. Hanya saja, Dina tampil apa adanya tanpa polesan apalagi berpakaian yang menonjolkan kemolekan tubuhnya.
"Lihat saja! Kalau sampai ketahuan dan gosip itu benar adanya, Dina bejek-bejek tuh orang pake ulekan." Dina sungguh kesal alias cemburu di buatnya
"Kenapa Neng?" Kang Oleh muncul dari pintu. Pria itu melihat Dina sedang meninju sofa dengan wajah kesal.
"Dina kesel kang.." Dina mulai mengadu
"Kesel kenapa?" Kang oleh bertanya, sengaja pria itu masuk kedalam selain ingin menyapa Dina, Kang Oleh punya misi mendinginkan badan.
"Jangan pura-pura gak tau deh Kang?" Dina bicara dengan tampang memelas dan wajah masam
"Ya apa, Neng?" Kang Oleh masih belum paham soal gosip yang sudah merebak seantereo jagad raya. Malah berita itu sudah sampai masuk grup PPD ( para pemburu dolar )
Ternyata bukan hanya keluarga atau alumni sekolahan. Para pekerja sepanjang jalan kenangan pun memiliki grup chat di aplikasi berwarna hijau, dengan dua wanita pekerja rumah makan ayam bakar dan nasi padang sebagai adminnya.
"Belum denger Neeeeenggg gosipnya.. Tapi kalau lihat sudah." Kang Oleh bicara sambil menahan tawa.
"Kang Oleeeehhhh.. Ihh, si Akang mah tega! Sudah lihat dari mata kepala sampai kaki terus gak mau cerita sama Dina?" Wanita itu semakin kesal di buatnya.
"Kang Oleh mah tega bener!" Dina benar-benar merajuk
"Bukannya tega Neeeenggg… Kang Oleh Cuma pingin Neng Dina melihatnya langsung tanpa mendengar aduan dari siapapun. Kalau Neng Dina taunya dari orang lain si Junaedi bisa mengelak."
"Terus Dina harus gimana Kang? Bantuin Dina si cantik jelita ini ngapaaa? Galau membuat penampilan Dina berantakan kang.." tetep, biarpun sedang galau, narsisnya gak hilang-hilang. Itulah Dina
"Bukannya udah dari sononya berantakan Neng." Kang Oleh mengoda Dina yang sedang kacau balau hatinya. Kasihan juga mengodanya lebih lama, Kang Oleh akhirnya bertanya, gosip apa yang sudah di dengarnya.
Lalu Dina menceritakan pembatalan sepihak pertemuannya malam ini untuk ngedate bareng Kang Jujun.
"Ya`elahhh Neng.. Sudah mirip pembatalan kontrak kerja dah itu mah." Kang Oleh berkomentar
"Bagaimana kalau Kang Oleh temani Dina mengintai nanti malam. Sekali-kali kita beralih profesi menjadi detektif." Dina butuh teman, wanita itu sedang mencari sekutu
"O'kehhh…. Siapa takut..
****
Bersambung ❤️