
"Saya terima nikah dan kawinnya Dina Rahmata binti Rahmawan dengan mas kawin seribu gram emas dan sepasang cincin pernikahan seberat 12 gram di bayar tunai!!"
Dengan tangan saling berjabat kuat, antara Lexsus dengan penghulu sekaligus sebagai wali hakim yang di minta untuk menjadi wali dari mempelai wanita. Suara Lexsus Kamoga terdengar lantang, tegas, dan lancar dalam satu tarikan nafas. Pria manis itu mampu mengucapkannya ijab kabul, adalah salah satu syarat sah sebuah ikatan suci pernikahan.
"SAH.. !!!
Serempak para saksi dan kerabat yang hadir bersuara mengucap bersamaan dengan perasaan lega. Wajah tegang dari semuanya berangsur berubah tenang. Begitupun dengan Dina yang mendengarnya, wanita itu ikut tersenyum lega, hatinya juga ikut tenang. Ia sudah sah dan berubah statusnya menjadi istri Lexsus Kamoga.
Setelah ijab kabul dan keduanya saling memasangkan cincin di jari manisnya masing-masing. Lexsus mengecup kening sang istri dengan lembut penuh perasaan, dan di balas Dina dengan meraih tangan kanan sang suami menciumnya dengan takzim penuh kepatuhan.
Ucapan penuh syukur di iringi doa tengah di panjatkan, dengan di pimipin oleh salah satu pemuka agama setempat. Semuanya terdiam, mendengarkan dengan khidmat. Suasana berubah haru ketika Dina teringat mendiang kedua orangtuanya yang telah lama berpulang.
Ia berharap kedua orang yang teramat di cintainya itu dapat menyaksikan dan memberikan restu untuk pernikahan keduanya bersama Lexsus. Pernikahan yang di dasari oleh rasa cinta yang kuat. Maya menyodorkan selembar tissue, tidak terasa setetes air mata jatuh tanpa Dina mampu menahannya.
Setelah selesai menandatangani buku nikah dan surat-surat lainnya. Tiba saatnya kedua mempelai menyalami semua yang hadir, di awali dari para orangtua. Ambo dan Indo yang juga menangis bahagia saat menyampaikan petuah kepada anak menantunya yang akan memulai menjalani kehidupan berumah tangga.
Berganti mengitari satu persatu, giliran Tuan Cjokro dan Bunda Rossa. Setelahnya Umi Wanda dan para orangtua lainnya yang menjadi saksi. Tiba di hadapan Maya dan Lingga, kedua wanita muda itu saling berangkulan kembali dengan tangis bahagia. Keduanya tertawa pelan menutup mulut saat Maya membisikkan sesuatu.
"Jangan lupa di pakai ya Neng nanti malam." bisik Maya
"Pakai apa?" Dina kembali berbisik
"Aku menaruh bingisan di dalam kamarmu Din.. Kado spesial dan harus di pakai.. Aku akan marah kalau sampai tidak kamu pakai malam ini.." Maya kembali berbisik.
"May.." Lingga bersuara ketika melihat sang istri terlihat tengah berbisik-bisik kepada sang pengantin wanita. Pria itu mengingatkan Maya agar berhenti bicara karena masih banyak tamu yang harus di salami kedua pengantin.
"Iya Abang.." Maya tertawa nyengir memperlihatkan gigi putihnya.
"Sini dekat Abang." Lingga mengulurkan tangan agar Maya merapat kepadanya.
"Bicara apa tadi, May?" Lingga menatap menyelidik sang istri.
"Ihh... Abang kepo!" Maya mencibir mengerucutkan bibirnya.
"May, jangan memancing. Jangan membuat Abang gemas." Lingga berbisik di telinga Maya.
Istrinya itu terlihat semakin cantik. Sesampainya di Kota Makassar, keluarga Sutan beristirahat sejenak di Hotel Bintang Lima yang telah di siapkan untuk berganti pakaian dan merias diri. Maya yang menggunakan kebaya modern di padu padankan dengan songket yang sudah di desain menjadi rok. Kain songket yang pernah ia beli di pulau Lombok. Sebagai Dress Code di acara penting Dina. Bunda Rossa dan Umi Wanda pun memakai kebaya dan songket yang sama.. Hanya desainnya saja yang di bedakan.
Maya tersenyum seraya mengusap pipi Lingga.
"Bang sudah lewat 40 hari.. Masa nifas Maya sudah selesai." Maya berkata pelan
"Lalu?" Lingga pura-pura tidak mengerti.
"Dihh Abang.. Masa gak ngerti? Maya ingin hamilnya bareng Dina." Maya berbisik di telinga Lingga.
"May.. Kamu harus kontrol sekali lagi. Abang harus memastikan semuanya sudah aman terkendali.. Sabar, Honney.." Lingga mengusap sayang kepala Maya.
Keluarga dan para tamu yang hadir tengah menikmati santap makan bersama. Dengan deretan piring sejajar dan berbagai macam hidangan yang di siapkan tuan rumah. Bukan prasmanan yang biasa di letakkan di atas meja.
Tetapi hidangan yang di letakkan di atas karpet dengan duduk saling berhadapan. Hingga terasa kental budaya dan tradisi membuat hubungan kekeluargaan menjadi dekat. Tidak ada skat pembatas, tidak ada perbedaan, tidak ada jarak, semua duduk bersama dengan makanan yang sama.
Maka dan Mada terlihat akrab dengan Laoka yang baru mereka kenal. Ketiga remaja itu menjauhkan diri dari para orangtua.
Sayangnya Lendra tidak bisa hadir karena ada tugas yang tidak bisa di tinggalkannya. Sedangkan Hadid dan Lena, kedua orangtua itu, mendadak harus kembali ke negara China di lebaran kedua karena ada client Hadid yang tersandung masalah dan sangat membutuhkan jasanya.
Begitupun dengan Burhan dan Roby. Kedua pria yang di kenal Lexsus itu tidak dapat hadir karena sesuatu hal yang juga tidak dapat di tinggal.
Sedangkan kedua mempelai masuk ke dalam kamar untuk berganti pakaian yang berikutnya. Akan ada sesi foto yang akan keduanya jalani.
"Maaf.. Maaf.. Saya tidak sengaja Kak."
"Iya.. Tidak apa-apa." jawab Dina
"Ada apa Anri? Lexsus mendekat. Pria itu mengkhawairkan wanitanya yang sudah sah menjadi istrinya.
"Tidak apa-apa Daeng.. Hanya sedikit terkena jepitan.."
"Mbak, biarkan saya yang melepasnya." Lexsus menggantikan pekerjaan wanita yang bertugas merapihkan rambut Dina.
"Daeng.. Tidak apa-apa.." Dina meyakinkan.
"Duduklah Anri, akan Daeng lepaskan jepit rambutnya agar kulit kepala Anri tidak tergores."
Pria manis itu berdiri di hadapan Dina dengan posisi Dina yang duduk di bangku rias. Kepala Dina pas berada di depan perut Lexsus yang berkotak bak roti sobek. Pria itu hanya mengenakan kaos oblong putih pas body setelah melepas jasnya. Dengan telaten, satu persatu jepit hitam yang memenuhi rambut Dina ia lepaskan.
"Apa sakit, Anri?" Lexsus bertanya.
"Tidak Daeng." Dina menjawab sambil tersenyum.
hatinya merasa senang, di perlakukan dengan penuh kelembutan. Membuat Dina merasa sangat bersyukur dapat memiliki Lexsus. Pria dingin yang selama ini tidak banyak bicara, pria itu akan bicara seperlunya saja… tetapi tidak mengurangi kelembuatan dan kasih sayang yang selalu ia tunjukkan untuknya.
Tiga orang penata rias dan penata rambut hanya bisa tersenyum kagum melihat sepasang pengantin yang tampak romantis. Mereka agak menjauh dengan mempersiapkan gaun berikutnya. Dan, salah satu dari ketiganya yang bernama Rini, sangatlah mengenal Lexsus, iapun juga sangat mengenal Ape..
Rini adalah teman dari keduanya. Rini tidak menyangka, Lexsus sudah dapat melupakan temannya. Ia masih dapat mengingat dengan jelas bagaimana hubungan Lexsus dan Ape dahulu. Keduanya sangatlah dekat.
Hingga suatu hari, secara mengejutkan Ape memutuskan menikah dengan Tuan tanah di kota Makassar dan meninggalkan Lexsus. Dengan alasan karena desakan orangtua. Sebagai teman, iapun ikut kecewa dengan keputusan Ape. Tetapi ia tidak bisa berbuat banyak, walaupun setahun terakhir ini. Ape mengungkapkan penyesalannya.
Temannya itu tidak bisa melupakan Lexsus, bahkan semalam, Ape masih datang menemuinya di rumah. Ape menangis, menceritakan kalau Lexsus akan menikahi wanita lain. Wanita yang Lexsus bawa dari Jakarta.
Rini hanya terdiam, sebagai teman ia tidak tau harus bicara apa. Jika ia jujur mengungkapkan kebenaran yang harus ia sampaikan. Ia khawatir Ape akan semakin menangis histeris. Dan saat ini, Rini dapat menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri bagaimana perlakuan Lexsus kepada sang istri. Bagaimana sayangnya Lexsus kepada wanita yang tak kalah cantik dari Ape. Seraut wajah yang selalu tersenyum bahagia.
Dan, Rini ikut senang Lexsus mendapatkan pengganti temannya. Akhirnya manis nan tampan itu dapat bangkit kembali, bangkit dari masa keterpurukan dimana Lexsus harus merelakan, melepaskan Ape yang selama lima tahun berpacaran.
"Selamat ya Lex.." Rini tersenyum, memberanikan untuk mendekat dengan mengulurkan tangan.
"Terimakasih Rin.." Lexsus menyambut uluran tangan temannya yang berprofesi sebaga perias.
"Anri, kenalkan.. Rini adalah teman Abang."
"Salam kenal Kakak." Rini beralih mengulurkan tangannya kepada Dina.
"Ya, salam kenal kembali." Dina balas menjabat tangan Rini dengan tersenyum ramah.
"Rin, tolong sampaikan agar berhati-hati.."
Lexsus menginginkan penata rambut untuk tidak melukai atau menyakiti Dina.
"Ya, Lex... Rini yang akan menangani Kakak Dina."
"Jangan khawatir... "
****
Bersambung ❤
Mohon dukungannya komen dan likenya donkk...