
Sepertinya tidak asing. Saat melihat siapa pria yang berdiri di samping mobil BMW berwarna putih tulang keluaran terbaru yang masih terbalut simpul pita berukuran panjang. Beberapa kali Mak Kom mengucek mata untuk memastikan siapa pria tersebut. Memperhatikan dari ujung rambut sampi ujung kaki hingga berulang-ulang.
Laki-laki yang di lihatnya satu bulan yang lalu saat bertemu di pemakaman masihlah terlihat kurus, dan sekarang tubuh krempeng itu berubah lebih berisi dan beotot. Di tambah dengan kemeja putih celana hitam yang di kenakannya.
"Soleh..??" ucap Mak Kom. "Elu Sholehudin kan?? Perasaan mata Emak belum rabun dah!!" Mak Kom kembali mengucek matanya.
"Haiiss..!! Mak.! Ini Oleh! Keponakannya Emak Komariah yang paling demplon sedunia." pria itu terkekeh.
Penglihatan Mak tidak salah, Pria itu adalah Kang Soleh keponakannya.. Yang sebelumnya bekerja sebagai petugas parkiran di jalan kenangan. Tepatnya di kawasan ruka Blok C. Pria itu saat ini sudah bertransformasi, tubuh kurusnya terlihat lebih berisi dengan penampilannya yang rapih.
"Elu kenapa berubah jadi keren begini Leh?" Mak Kom tampak terpukau dengan perubahan penampilan sang keponakan. Berulang kali Mak Kom memutar balikkan tubuh Soleh sambil menekan-nekan lengannya."
"Pusing Maakkk.!!" empat kali putaran lumayan membuatnya oleng.
Mak..! Kau apakan laki-laki itu? Macam komedi putar saja." Edo ikut berkomentar.
"Do, kenalin neh … ini keponakannya Emak. Namanya Solehudin. Gantengkan?" Mak Kom tertawa sumringah..
"Iya gantenglah Mak, kalau cantik jadi aneh dia."
Belum sempat Mak Kom mengintrogasi kembali Kang Oleh, suara Maya terdengar nyaring terdengar di telinga. "Kang Oleehhh..!!" reflek, Maya meninggalkan Lingga sambil berteriak memanggil. Ia terkejut bukan main saat melihat siapa pria yang bersama Mak Kom dan Edo penjaga rumah. Sesosok pria yang sangat di kenalnya, pria yang menjadi teman ngobrol, teman bercanda, bahkan teman yang sudah lama sekali ingin di temuinya.
Maya mendadadak lupa, bahwa sang suami mengawasinya dengan mata tajam. Wanita itu berlari ke arah Kang Oleh dengan niat ingin memeluknya.
Berbeda dengan Kang Oleh yang langsung menghindar, pria itu mundur beberapa langkah ke belakangagar. Agar Maya tak menyentuhnya. Jika sampai itu terjadi, habislah dia. Tidak hanya mendapatkan teguran, bisa-bisa baru pertama bekerja sudah di pecat sebagai supir dan pengawal pribadi. Kang Oleh dapat melihat dengan jelas sorot mata tajam dari sosok pria yang berjalan di belakang Maya.
"Stop Neng..!! Stop..!" Kang Oleh menahan dengan kedua telapak tangan di hadapkan kedepan agar Maya menghentikan langkahnya. "Maksudnya, Bu Maya.." Kang Oleh meralat panggilannya.
"Apa sih Kang? Ibu! Ibu..! Biasanya juga manggil Neng Maya? Terus itu kenapa tangannya begitu?" Maya merasa heran dengan sikap Kang Oleh yang menjaga jarak dengannya.
Tak beda dengan Mak Kom, Maya pun memperhatikan penampilan dan postur tubuh Kang Oleh yang sudah berubah. Pria kurus yang di kenalnya, sekarang berubah. Badan kurus itu berubah menjadi lebih berisi dan rapih.
Bertolak pinggang Maya memuji perubahan yang ada pada diri temannya. "Beehhhh...!! Kang Oleh sekarang mah beda.! Keren.! Tambah tam.."
"May..!" suara Lingga memutus ucapan Maya.
"Eeh, Abang.." Maya meringis, wanita itu baru tersadar mengapa Kang Oleh menghindarinya. Agar dunia persilatan tetap aman sentosa, Maya langsung merangkul leher Lingga. "Terimakasih Abangku, Sayang.. Terimakasih hadianya, Maya sangat suka." menatap dengan senyum manis yang Maya berikan.
"Hanya ucapan terimakasih?" Lingga balas merangkul pinggang Maya.
Cup .. Cup .. cup .. Cup
Maya langsung mengecup kening, pipi kiri, pipi kanan, dan yang terakhir mengecup bibir.
"Abang yang terbaik.. " ucap Maya setelah mengecup seluruh wajah Lingga.
"Abang akan selalu memberikan yang terbaik buatmu, May.. Dan seperti janji Abang.. Mulai hari ini, temanmu itu akan bekerja sebagai supir sekaligus penjagamu."
"Beneranan Bang?" Maya membulatkan matanya seakan tidak percaya.
"Kang Oleh akan bekerja di sini? Bersama kita?"
"Heemmm.." Lingga mengangguk tersenyum.
"Pria itu Abang tugaskan untuk mengantar kemanapun dan melaporkan segala aktifitasmu saat berada di luar rumah, May.." Lingga bermonolog dalam hati. Abang tidak ingin kejadian buruk terulang kedua kalinya."
"Terimkasaih, Bang.." Maya memeluk Lingga dengan membenamkan wajah di dada.
Sedangkan Mak Kom, Kang Oleh, dan Edo ikut tersenyum senang melihat kedua majikannya yang tampak mesra.
"Jangan memeluk pria lain selain Abang May.." Lingga berbisik di telinga Maya. "Kalau tidak mau Kang Oleh-mu itu Abang hukum."
"Iya Abaaanggg.. Maaf.." Maya menunjukan wajah memelas.
"Nikmati hadiahnya, May.. Abang harus berangkat sekarang. Jangan lupa sarapanmu.." Lingga mengingatkan sang istri yang belum mengisi perutnya.
"Abang tidak sarapan?"
"Tidak sempat Honney.. Roby sudah menghubungi Abang.. Kita bertemu saat jam makan siang, Ok.."
"Abang tunggu."
"Siapp Abang.." Maya mengangkat tangan khas perwira.
"Mana vitamin c buat Abang?"
"Tadi sudah.."
"Masih kurang, May.. Abang perlu Vitamin yang banyak.."
Tak mengubris alasan Maya, Lingga mencium bibir Maya sejenak. Membuat para pekerja menurunkan tatapan tak berani melihatnya.
"Leh.." Lingga menyapa Kang Oleh yang sudah resmi bekerja untuknya. "Jangan lupa pesan saya."
"Baik, Pak.. Saya tidak akan lupa.."
Maya mengantar Lingga masuk ke dalam Audinya. Menunggu dan memperhatikan pria itu memasang sabuk pengaman.
"Do, sudah kamu cek dan panaskan?" Lingga menengok ke arah Edo. Pria yang bertugas menjaga keamanan tempat tinggalnya.
"Sudah Pak.. Aman." Edo memberi kode kepada penjaga yang lain agar memencet tombol pintu gerbang.
"Hati-hati Bang.." Maya membungkukkan punggung menyandarkan siku di jendala pintu sebelum kaca itu tertutup.
"Ya, Honney.." tangannya terulur keluar jendela seraya mengusap pipi Maya dari balik kemudi.
"Nak Lingga.." suara Umi Wanda terdengar saat Lingga mulai menyalakan mesin mobil. Wanita itu jalan terburu-buru sambil menjinjing Superware. "Jangan sampai tidak sarapan." Umi memberikan kotak bekal berisikan nasi uduk untuk sang menantu. "Kalau menantu Umi sampai sakit karena telat makan, siapa yang akan menjaga putri Umi?"
"Terimakasih Umi.." Lingga menerima bekal yang di siapkan untuknya.
"Istrimu terlalu senang dengan hadiah yang baru saja datang, sampai lupa menyiapkan bekal untuk Abang tersayangnya." sindir Umi sambil tertawa.
"Umi, Maya lupa.."
"Maaf, ya Bang.."
"It's ok, May.. Abang berangkat dulu ya.. Ohya, Umi jangan pulang hari ini ya.. Besok saja."
Umi Wanda mengangguk setuju permintaan menantunya.
"Mi, Maya jangan sampai telat sarapan. Abang titip Maya.." pesan Lingga sebelum roda Audi yang di kendarainya bergerak jauh meninggalkan pekarangan kediamannya."
"Kang cepatan buka pitanya.." Maya sudah tidak sabar.
"May, sarapan dulu. Baru mencoba mobil barunya." Umi Wanda mengingatkan.
"Sebentar Umi, Maya mau lihat dalamnya dulu."
"Wuiihhh..!! Hadiah Teteh keren.." Maka keluar masih bertelan*ang dada, adik kembarnya itu baru saja selesai mencoba semua peralatan olahraga di dalam ruangan gym pribadi Lingga. Remaja itu tampak terpukau mengangumi, tangannya langsung mengelus Body BMW yang masih mulus tanpa goresan.
Di susul Mada yang datang mendekat saat melihat mobil baru dengan balutan pita.
"Ini mobil Teteh?" Mada bertanya sambil memperhatikan setiap lekuk Body kendaraan.
"Iya..Bagus kan?" Maya bertanya senang
"Harga mobil di atas 5 M pastinya sangatlah bagus Teteh.." menyukai mobil sport, remaja itu hapal luar kepala setiap harga mobil
"Apa?!! Di atas 5 M?" Maya membulatkan mulutnya, ia tidak menyangka suaminya akan menggelontorkan uang sebanyak itu hanya untuk membahagiakannya.
"Yang bener Da?" Maya masih tak percaya.
"Coba teteh browsing.."
Remaja itu ikut membantu Kang Oleh membuka tapi simpul pita yang membungkus mobil.
"May, kalau tidak cepat sarapan, Umi telfon Abang." Ancam Wanda
"Iya Umi, Maya makan.. Sebentaaarrr lagi."
"Kang, ayok cepat di lepas talinya.." Maya sudah tak sabar ingin melihat interior dalam mobil.
"Iya Bu.." Kang Oleh mengangguk tersenyum.
"Diihh... Kang Oleh apaan sih..!! Panggil Ibu gak seru Kang.." Maya protes. "Panggil Neng Maya sepert biasanya saja ya kang?"
"Mak Kom tolong ambilkan ponsel Umi di kamar." Umi mengedipkan sebelah matanya kepada Mak Kom menunggu mobil itu terbuka.
"Iya, iya, Umiii … Maya makan dulu."
Meninggalkan hadiah dan Kang Oleh… Maya segera masuk untuk mengisi perut sebelum Abang menghubunginya...
****
Bersambung ❤