
Sekitar pukul 12 malam, Maya dan Lingga baru sampai di Villa, baru saja Maya akan terpejam, mobil yang di kendarai Lingga memasuki kawasan Villa.
"Malam Pak.." seorang penjaga berpakaian biasa yang melingkarkan gulungan sarung di pingggang menyapa setelah Lingga menurunkan separuh kaca mobilnya..
"Saya yang menyewa Villa nomor 9." Lingga menyampaikan
"Monggo.. Silahkan, Pak.. Silhkan.."
penjaga itu menyambut dengan ramah memberikan jalan.
Melajukan mobil lebih masuk kedalam, dimana tempat orangtua, bodyguard dan sang supir beristirahat. Dilihatnya dari balik kaca mobil, Lexsus dan Dayat belum tidur, kedua pria itu tengah menikmati kopi dan sebatang rokok di teras Villa.
Lingga turun lebih dahulu. Berjalan mengitari depan mobil. Pria itu membuka pintu untuk maya. Pintu terbuka, dan wanita itu masih mengusap matanya yang ia paksakan agar terbuka, selama 3 jam bermain di dalam mobil membuatnya mengantuk kelelahan.. Ia harus bisa mengimbangi kekuatan Lingga hinga berjam-jam. Oh, Abang kamu luar biasa
"Abang gendong ya kalau ngantuk?"
"Enggak, Bang.. Maya jalan saja.."
"Yakin bisa jalan?" Lingga bertanya seraya tersenyum
Dengan gemas Maya memukul dada Lingga dengan mendelikkan Matanya, yang membuat Lingga tertawa.. Membuat wanita itu malah terlihat lucu dan mengemaskan. Maya masih mengingatnya dengan jelas, kala ia berteriak saat Lingga begerak menghentak dan mendorong miliknya yang membuat ia kewalahan.. Tetapi bukannya berhenti, Lingga semakin merajalela, seakan mendapatkan sensasi yang berbeda, Lingga mengikat tangan Maya dengan dasi dan di letakkan di atas kepala, hingga membuat wanita itu pasrah saat Lingga menikmati permainan dan tubuhnya.
"Gendoooongg.." Maya akhirnya menerima tawaran Lingga, ia sengaja ingin bermanja-manja dengan suaminya.
Tangan Lingga bersiap akan mengangkat tetapi di urungkan saat Maya menolak
"Gendong belakang Bang.." Maya mengerucutkan mulutnya.
"Ayo, cantik.." Lingga membalikkan badanya agar Maya naik ke punggungnya.
Melingkarkan tangan di atas pundak dan mendekap dada, dengan tangan lingga yang menyangga di bawah paha Maya, keduanya berjalan masuk ke dalam Villa.
Lexsus dan sang supir hanya bisa tersenyum melihat kemesraan keduanya. Lexsus sangat mengetahui dan menyaksikan bagaimana Lingga selama tiga bulan berusaha bangkit, menyelesaikan segala masalah sambil mengasingkan diri.
Saat ini, melihat atasan sekaligus temannya itu bahagia, membuatnya juga merasa bahagia.
"May, Jangan memancing Abang. Jangan sampai besok pagi kamu tidak bisa jalan." Ucap Lingga, saat pria itu merasakan kecupan di tengkuknya.. jika tidak mengingat kandungan Maya, mungkin malam ini ia tidak akan berhenti.
"Isshh… Pelit.! Cium gitu aja gak boleh." Maya bicara pelan di samping telinga Lingga.
"Abang gak pelit, Honey... Abang hanya tidak ingin membuatmu kelelahan.. Kamu harus istirahat dulu sebentar."
"Iya, Abaaangg.. Maya ngerti, Maya juga capek.. Maya kan cuma cium dikit."
"Tidak perduli dikit atau banyak May.. Dia akan bangun saat kamu menyentuh Abang."
Keduanya bicara sambil terus berjalan melewati pintu yang di buka oleh Lexsus.
Merasa malu karena di saksikan bawahan sang suami, Maya menyembunyikan wajah di ceruk leher Lingga. Menghindari ciuman di tengkuk malah mendapatkan gesekan di lehernya.
"Oh, May.. Kamu benar-benar.." Lingga bicara pelan seraya berdesis.. Hasrat yang telah di redamnya menjadi bangkit kembali. Entah kenapa, bersama Maya membuat Lingga menjadi pria berbeda. Berbeda saat bersama Alisa, berulang kali wanita itu berusaha merayunya, tetapi Lingga meresponnya dengan biasa. Ada kemalasan saat akan melakukannya. Padahal Alisa memiliki tubuh yang molek luar biasa karena perawatan yang di jalaninya. Wanita itu sampai harus merubah bagian dadanya.
Masuk kedalam kamar.. Lingga langsung merebahkan Maya di atas tempat tidur.
"Tidurlah duluan May, Abang harus meredamnya dulu.. Abang akan memintanya saat pagi.." Lingga menarik selimut untuk mentupi tubuh Maya. Udara yang dingin cukup menembus hingga kulit
"Abang mau kemana?" Maya bertanya.
Menatap langit-langit kamar, Maya tersenyum sendiri kala mengingat kejadian di mobil tadi. Ia tidak menyangka dirinya akan mampu melakukan itu. Flashback kebelakang. Maya teringat saat berhubungan dengan Haris..
Pria itu akan cepat keluar saat Maya belum mendapatkan pelepasan dan kepuasan. Setelah itu, Haris akan langsung tidur meningalkannya dalam kehampaan.
Sangat berbeda jauh dengan Lingga, pria itu selalu memiliki fantasi yang berbeda, cara yang berbeda, dalam mengajaknya berhubungan. Walau sedikit ekstrim, entah kenapa Maya menyukainya. Ia jadi bisa mengeksplorasi dirinya, nalurinya keluar begitu saja seakan terbawa.. Ia bisa bermain dengan lepas bebas.. Bukan permainan baku dan monoton yang terkadang membuat jenuh. Maya bisa menjadi dirinya sendiri, ia tidak malu mengeluarkan suaranya.. Ia tidak sungkan untuk meminta duluan.
Hingga tak terasa, matanya terpejam, efek rasa lelah yang menderanya, Maya tertidur dengan bibir tersenyum. Tidak perduli apa yang akan terjadi pagi hari nanti, ia hanya ingin menjalankan perannya sebangai istri yang mengabdi kepada suami, yang patuh, yang selalu siap melayani sang suami baik urusan perut, pakaian, juga ranjang.
Sang supir membawakan secangkir kopi hitam dan di letakkan di hadapan Lingga yang sedang menyulut sebatang rokok..
"Kopi Pak."
"Terimakasih.."
ketiga duduk bersama semeja.
"Papa sudah tidur dari tadi Lex?"
"Jam 9 Tuan Cjokro sudah masuk kamar bersama Nyonya."
"Apa tiket sudah di siapkan?" Lingga bertanya sembari menghembuskan gumpalan asap rokok dengan menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi jati.
"Sudah Pak, hanya waktunya saja yang minta di undurkan. Nyonya meminta penerbangan sore. Sama dengan tiket kelombok."
"Apa ada kabar yang lain Lex?"
"Untuk saat ini tidak ada pergerakan apapun, Pak.. Tapi akan terus saya pantau. Info yang saya terima, satu bulan lagi, Alisa akan bebas."
"Awasi terus.. Kalau mereka berbuat macam-macam, segera ambil tindakan. Kemarin saya masih memberikan kesempatan. Tapi tidak untuk kedua kalinya." Lingga bicara dengan mematikan puntung rokok..
"Baik, Pak.. Saya siap kapanpun.."
Seandainya Lingga tidak mencegah, dan memberikan kesempatan kepada pria itu untuk berubah. Mungkin Sanjaya saat ini hanya tinggal nama, bahkan hilang tanpa jejak. Saat itu Lexsus dengan senang hati, bersiap melemparkan tubuh pria itu untuk menjadi santapan Hiu ganas yang berada di dalam kapal di tengah lautan luas miliknya.
Hiu yang menjadi piaraan-nya selama ini. Lexsus akan mengeksekusi lawan dengan caranya, tanpa suara dan tanpa jejak.
Hanya beberapa orang-orang penting, termasuk Dirga yang terkadang memakai jasanya. Dan hanya orang-orang tertentu yang mengetahui siapa Lexsus. Yang menyimpan nomor pribadinya.
Lexsus salah satu orang setia Lingga. Ia mempunyai cerita sendiri kenapa ia sangat menghormati dan rela mengabdi kepada Lingga. Sebuah jasa yang tidak akan pernah ia lupakan, bantuan dan rangkulan Lingga saat ia terpuruk, mampu membuatnya menjadi pria yang di takuti hingga ia mampu memiliki banyak anak buah yang tak memiliki nama..
Berkeliaran di luar sebagai bayangan. Dialah Lexsus Kamoga, pria dingin yang berasal dari Bugis. Pria berkulit coklat kehitaman.. Rambut ikal, berwajah manis dengan alis tebal dan rahang yang kokoh. Jika di perhatikan, pria itu cukup lumayan.
Pria itu akan berubah menyeramkan, saat sedang mendapatkan tugas. Dan juga menghadapi para pemakai jasanya. Hanya kepada Lingga ia akan tunduk berubah menjadi pria biasa. Dan 6 bulan terakhir ini ia melebarkan bisnisnya dengan membuka jasa keamanan yang resmi.
"Istirahatlah.."
Lingga beranjak meninggalkan dua orang bawahannya setelah menenggak kopi hitam yang di buatkan oleh sang supir. Saat pikirannya kembali mengingat Maya.
****
Bersambung ❤️
Lexsus berjodoh dengan siapa yaa ???
Biasanya kamuh kamuuhhh paling pinter menebak..