TRUE LOVE For MAYA

TRUE LOVE For MAYA
SETIA



Pesawat yang membawa Maya dan Lingga mendarat dengan selamat di landasan Bandara Internasional Lombok. Selama seminggu mereka akan berbulan madu, mengelilingi tempat-tempat indah pulau Lombok yang ditawarkan.


Menikmati suasana pantai dan tempat wisata lainnya. Memiliki hobi yang sama, Lingga dan Maya sangat menyukai alam. Selama seminggu pula, mereka akan menginap di sebuah Resort di kawasan pantai senggigi yang terkenal akan keindahan pantainya. Sebuah Resort yang memiliki fasilitas lengkap menghadap lautan lepas .


Mereka berpisah dengan Sutan Cjokro dan Sang Bunda di bandara Adi Sutjipto, semenjak Cjokro menceraikan Lusiana dan menetap di kediaman Tante Rossa, pasangan senja itu terlihat semakin romantis. Cjokro sudah tidak menutupi, bahkan terang-terangan menggandeng tangan Rossa di tempat umum. Tak mau kalah dari pasangan pengantin baru itu, tangan Cjokro tak lepas dari pinggang Tante Rossa yang masih tampak awet muda. Dengan Lexsus yang juga kembali ke Jakarta.


Tak bisa di pungkiri sisa-sisa ketampanan Cjokro masih terlihat jelas. Tubuhnya pun masih terlihat gagah dan sehat. Lingga adalah cetakan Sutan Cjokro di masa muda.


Begitupun sang Umi beserta Maka dan Mada.. Mereka juga harus kembali ke pangandaran.. "Neng di jaga kandungannya, jangan kelelahan." Umi berpesan


"Ya. Umi.." Maya dan Lingga mencium punggug tangan Umi dan sang Bunda sebelum berpisah di jalur pintu penerbangan.


"Teteh jangan lupa kabarin Mada dan Maka ya, kalau sudah kembali ke Jakarta." kedua adik laki-laki kembarnya berpesan.


"Iya, Teteh akan kabari." Maya melambaikan tangannya.


°°°°°


Disinilah mereka saat ini, sebuah kamar yang sangat nyaman dan mewah, yang langsung menghadap ke pantai. Hamparan air laut biru yang tenang tampak menyegarkan Mata.


Hembusan angin laut yang menyentuh kulit membuat Maya ingin segera bermain pasir saat menjelang sore. Tetapi ia harus bersabar menunggu sampai besok, sang suami memintanya untuk beristirahat dulu. Mengingat Maya Yang sedang hamil muda.


"Istirahatlah dulu, May.."


"Besok kita akan menjelajah.. Abang akan membawamu ke tempat-tempat indah di pulau Lombok.


°°°°°


Hanya menutup rollingdoor separuh, selepas jam kerja Dina masih berada di dalam ruko. Malam ini Dina sudah janjian dengan Kang Oleh ingin memata matai Kang Jujunnya yang menurut kabar dan gosip beredar, katanya suka jalan bareng dengan wanita lain di kawasan jalan kenangan. Belum sampai 3 bulan berstatus pacaran, Dina sudah mendapat cobaan.


Apa ini sebagai pertanda, kalau Dina harus berjuang lagi mencari laki-laki sejati yang mencintainya dengan tulus, tanpa memandang status apa lagi fisik.


Duduk bersandar di sofa pikirannya tiba-tiba menerawang jauh kebelakang, saat ia menjalani rumah tangganya yang pertama hingga akhirnya ia menyandang status janda. Memiliki suami pengangguran, kesehariannya hanya mengelus kepala ayam jago untuk di jadikan sebagai ladang mencari uang membuat Dina tidak kuat.


Saat ini, ia berharap akan ada pria yang jauh lebih baik dari sebelumnya, bukan hanya soal materi tapi akhlak yang baik dan bertanggung jawab. Dan yang pastinya mencintainya melebihi apapun.


Memiliki karakter yang ceria mampu menutupi hati yang sebenarnya. Tidak akan ada yang mengira kalau seorang Dina juga banyak melewati jalan terjal, berliku, berbelok naik turun tanjakan.


"Sssttt..." Kang Oleh melongokkan kepalanya di pintu memanggil dengan mengkodenya.


"Apa Kang?" Dina menengok ke arah pintu.


"Jangan melamun. Semangat!" Kang Oleh mengangkat tangan sembari mengepal.


"Tenang Mang.. Ayeemmm strong woman." ( maksudnya I`m a strong women )


"Neng Dina mau makan apa?" Kang Oleh bertanya.


"Kang Oleh tanya Dina mau makan apa? Emang mau beliin Dina makan?" Dina memastikan


"Enggak, Neng cuma tanya.." Kang Oleh tertawa.


"Dihh.. Kirain mau traktir makan." Dina mencibir.


"Kang Oleh bercanda Neng.. Ya, sudah mau makan apa? Mumpung lagi ada rejeki nih." Kang Oleh serius menawarkan.


"Beneran Kang?"


"Deehhh Neng Dina.. Gak percaya bener sih.. Mau ada misi, kita harus menyiapkan stamina Neng. Nangis juga kan butuh tenaga." Kang Oleh menjelaskan.


"Cepetan mau makan apa? Kang Oleh pesenin."


Sudah tiga jam lewat dari waktu berakhirnya jam kerja. Saat ini sudah pukul 8. Setelah menghabiskan sebungkus nasi beserta lauk, sambal, dan lalapannya.. Dina bersiap-siap akan mencari keberadaan Kang Jujunnya.


Info yang di dapat dari salah satu pekerja lainnya, Kang Jujun biasa nongkrong di sekitaran bundaran jalan kembar, 3 blok dari blok A. tidak jauh dari pasar malam dadakan yang selalu di gelar setiap malam minggu tiba.


"Ayo Kang. Dina sudah siap." Dina sudah mengunci pintu kaca dan menggembok pintu rollingdor.


"Lets, go.." Kang Oleh sudah menghidupkan mesin motornya.


Dina naik di jok motor. Menggunakan jaket hoddie Dina menutupi kepalanya agar tidak ada yang mengenalinya.


Di mulai dari bundaran satu, Kang Jujun masih belum di temukan.


Matanya memperhatikan setiap warung kopi yang ada. Dari mulai tongkrongan yang biasa hingga yang berkelas.


"Kita ke bundaran dua ya Neng." Kang Oleh mengajak berpindah tempat.


"Ok, Kang.." Dina menjawab dari balik punggung..


Mata Dina baik Kang Oleh tak berkedip memperhatikan deretan caffe dan warung kecil yang juga buat tongkrongan para anak muda. Dan Kang Jujun belum juga kelihatan batang hidungnya.


Motor yang di kendarai Kang Oleh bergerak melaju dengan kilometer rendah.. Memperhatikan setiap sudut jalanan.


Sampai di bundaran tiga, dimana tempat pasar malam dadakan berada, berbagai macam dagangan di jajakan, dari mulai pakaian, sepatu sandal, tas di obral murah, peralatan make-up yang di gelar dia atas tanah berlapiskan alas terpal.


Belum lagi para penjul makanan yang berjejer rapih saling berhadapan di pinggir jalan. Kang Oleh memarkirkan motornya, lebih tepatnya menitipkan motor kepada temannya sesama petugas parkir.


Agar ia dan Dina lebih leluasa berjalan, memperhatikan warung yang berada di dalam, di lapangan luas yang di jadikan sebagai tempat hiburan untuk anak-anak.


Dengan langkah kaki pasti, Kang Oleh dan Dina menyusuri, melewati satu persatu para penjual kaki lima.


Sampai akhirnya dari kejauhan, Dina merasa seperti mengenal kemeja yang mirip dengan kemeja yang biasa di kenakan Kang Jujun..


"Kang." Dina menepuk pundak Kang Oleh.


"Apa Neng?" Kang Oleh melihat Dina.


"Noh.." Dina menunjuk dengan dagu ke arah salah satu warung kopi yang mirip dengan caffe.


Kang Oleh melihat ke arah mana dagu Dina mengarah bergerak. Kang Oleh dapat melihat jelas, pria yang di kenalnya bernama Junaedi. Tengah tertawa menikmati segelas minuman bersama wanita di sampingnya. Wanita yang menjadi bahan omongan bernama Lela.


Mata Kang Oleh beralih menatap Dina yang berdiri di sampingnya dengan diam. Wanita itu tengah serius memperhatikan kemesraan pujaan hatinya, dengan seorang wanita yang bergelayut manja di lengan Kang Jujun.


"Dasar buaya cap kadal. Diam-diam ternyata membahayakan. Dikira setia? Eeehh… SETIA beneran.!" Setiap tikungan ada.


"Neng.. Neng Dina baik-baik saja kan?" Kang Oleh mengkhawatirkan, melihat wajah Dina yang berubah menakutkan."


"Tenang Neng, jangan emosi.. Neng Dina harus bersikap elegan." dengan yakin, Kang Oleh mengajarkan


"Iya kang.. Tenaaaangg Dina masih waras. Sekarang lebih baik kita ikut ngopi bareng.. Gimana?" Dina memainkan alisnya dengan senyum penuh misteri.


"Hayoo… Kita ngopi geratis."


Kang Oleh tertawa tanda mengerti.


****


Bersambung ❤️


Met malming.. Maaf kemaleman efek review lama