TRUE LOVE For MAYA

TRUE LOVE For MAYA
NAGALA BRAJA



Masih di kepergian Maya


Akhirnya, Maya dapat bernafas lega, dari pagi menunggu di Mushola, saat ini ia sudah duduk di dalam bus, sesuai nomor A5 yang tercatat di tiket miliknya, kursinya berada di deretan nomor 3 belakang supir.


Sebelumnya, ia sudah menyempatkan membersihkan diri di kamar mandi umum, dan membeli sebungkus nasi campur kalau-kalau dalam perjalanan perutnya terasa lapar.


Sesuai harga yang di bayarkan, bus yang akan membawanya bukan bus eksekutif dengan failitas selimut, makan gratis dan toilet di dalam. Paling tidak bus yang di naikinya sudah cukup nyaman, bus patas menggunakan AC dengan konfigurasinya yang 2-2 sehingga penumpang bisa lebih nyaman duduk, dengan lorong yang lebih luas.


Menaruh tas di bawah kaki, Maya menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi. Setengah hari berada di luar, membuat tubuhnya tak nyaman dan berkeringat. Dan saat ini, ia sedang menikmati AC dari lubang kecil di atas kepalanya.


Kaos sweater panjang yang di kenakannya, cukup hangat untuk udara malam nanti dan suhu dingin di dalam bus. Menaruh tangan di atas perut, ia teringat ucapan Haris semalam.


"Aku akan mengakui dia sebagai anakku." Mengusap perut, Maya berucap pelan. "Anakku akan menjadi anakku, dia bukan anakmu, Mas." Maya akan mempersiapkan diri jika hal itu datang terjadi.


Pandangannya menerawang ke arah luar di balik kaca jendela. Memandang jalan raya yang terlihat ramai. Tiba-tiba hatinya sedih, saat roda bus perlahan bergerak, meninggalkan terminal besar untuk menjemput penumpang lainnya di sepanjang jalan. Tidak terasa, waktu sudah menunjukkan pukul 3, mundur satu jam dari waktu yang di janjikan.


"Selamat tinggal Jakarta.. Selamat tinggal Abang." tak kuasa menahan sedih ketika menyebut namanya. Matanya kembali memanas menahan airmata. Sungguh ia sangat merindukan pria itu, hal yang terberat adalah, ia harus berpisah dengannya sampai waktu yang ia tidak tau.


Dari siang berganti petang, dari petang semakin malam.. Saat ini bus yang membawanya sudah berada di jalan tol, sudah berkilometer, jauh meninggalkan kota impiannya. Meninggalkan sahabat yang selalu ada, yang membuatnya selalu tertawa. Dina Nuraina.


Meninggalkan Kang Oleh, pria baik yang selalu siap membantunya, teringat cilok, jajanan enak yang pasti akan di rindukannya, juga teman-teman sesama pekerja dari rumah makan sebelah yang mengajaknya bergosip bersenda gurau di waktu senggang.


Meninggalkan pekerjaan yang selama ini sangat membantu dan di sukainya, meninggalkan Tante Rossa, wanita anggun yang begitu baik kepadnya dan meninggalkan pria yang teramat di cintainya. Lingga.


Sudah jam sembilan malam. Lampu kendaraan pun sudah di matikan, tetapi matanya tidak bisa terpejam, saat penumpang lainnya sudah tertidur pulas, bahkan ada yang mengeluarkan suara dengan mulut terbuka. Sudah menjadi kebiasaan, bus malam selalu menyetel lagu dengan tv kecil yang di pajang paling depan. Saat hatinya sedang di landa pilu, sang kondektur menyetel lagu yang membuat Maya tak bisa menahan laju airmatanya.


Lagu lawas, saat ini di populerkan kembali oleh pria muda dengan petikan gitar dan penghayatan, dengan suara yang luar biasa, yang mampu menyayat hati siapa saja.


( zinidin zidan, bisa browsing ya )


Ke mana pun ada


Bayanganmu


Di mana pun ada


Bayanganmu


Di semua waktuku ada


bayangmu


kekasihku


Ku menangis


Menangisku kar’na rindu


Ku bersedih


Sedihku karena rindu


Ku berduka


Dukaku karena rindu


Ku merana


Meranaku kar’na rindu


Mau tidur, teringat padamu


Mau makan, teringat padamu


Mau apa pun, teringat padamu


Kekasihku


Ke mana pun ada


Bayanganmu


Di semua waktuku ada


Bayangmu


Kekasiku...


"Jangan di tangisi Mbak, kalau Tuhan mengijinkan sejauh mana kita melangkah, kita akan bertemu kembali." penumpang pria yang duduk di sampingnya, menyodorkan tissue, seoalah tau yang tengah terjadi terhadap wanita cantik yang duduk di sampingnya.


"Mas perhatikan saya ya dari tadi?" Maya menerima tissue dan berusaha tersenyum menghentikan tangisnya.


"Iya, sayang banget, ada wanita cantik tidak di lihat." Pria dengan rambut cepak, berwajah manis dengan alis tebal dan postur tubuh tegap, balas tersenyum hangat kepada Maya.


"Terimakasih sudah di bilang cantik, tapi recehan saya sudah habis buat beli roti Mas." Maya berkelakar mengalihkan suasana hatinya.


"Kamu lucu Mbak." Pria itu semakin melebarkan senyumnya


"Emangnya aku badut lucu." dan Maya malah menangis lagi.


"Tuhkan, gara-gara Mas, saya nangis lagi." Maya bicara dengan cemberut sambil mengeluarkan ingusnya.


"Dihhh.. Cantik-cantik jorok."


Bukannya berhenti, tangisannya semakin kejer. Ucapan pria tu mengingatkannya akan Dina.


"Mbak, sudah jangan nangis, ucapan saya salah ya?" pria itu bicara dengan pelan, khawatir mengganggu ketenangan penumpang lainnya yang sedang tidur.


"Enggak salah, Mas. Tapi ucapan Mas mengingatkan saya denga Dina."


"Dina? Saya laki-laki loh Mbak."


"Iya, saya tau."


"Dina itu siapa?" duhhh keponya sudah mirip Dina sama Kang Oleh


"Teman saya, sahabat saya."


"Ooouuhhh.." pria itu manggut-manggut


"Kita satu tujuan, Mbak pulang ke daerah mana?"


Maya menyebutkan salah satu desa tujuannya.


"Mbak asli dari desa itu?" Pria itu bertanya lagi dan Maya menggelengkan kepala.


"Bukan. Saya mau numpang hidup di sana Mas."


"Mbak kabur dari rumah ya?" Pria itu menebak, lebih tepatnya menuduh


"Issshh.. Mas sok tau." Maya menunjukkan wajah cemberutnya.


Di keremangan lampu yang di padamkan, pria itu bisa melihat dengan jelas wajah Maya yang terlihat semakin lucu.


"Kenalkan, saya Gala. Nagala Braja." Pria itu mengulurkan tangannya.


"Saya Maya.. Maya Mawanda." Maya membalas uluran tangan pria yang sepertinya dua tahun lebih tua darinya.


Mampu mengurangi rasa sedihnya, obrolan keduanya terus berlanjut, ucapan yang di keluarkan dari mulut pria yang bernama Gala, bisa membuat Maya sedikit tertawa. Pria itu bercerita kalau ia asli Sumatra, bertugas di jakarta dan saat ini ia di pindah tugaskan di salah satu desa masih satu kecamatan dengan desa tujuan Maya.


"Mas hebat ya.. Masih muda sudah bertitel, terus mau lagi, dari kota besar di pindah tugaskan di desa terpencil."


"Sudah kewajiban Mbak. Dimanapun saya berada saya yakin itu yang terbaik buat saya kedepannya."


Ucapan yang mampu memecut semangat Maya.


"Aku yakin umurku lebih tua dari kamu May." pria itu mengubah panggilannya.


"Hanya saja wajahku ini Baby face. Jadi terlihat seperti umur belasan."


"Bukan Baby face Mas.. Tapi old face."


Gala tergelak tertawa, hingga ia menutup mulutnya.


"Jadi, kamu boleh panggil saya Abang."


Deggg ..


Maya langsung mengingat Lingga. Saat berkirim pesan, pria itu memintanya memanggil dengan sebutan Abang. Seakan tak rela panggilan Abang berpindah ke pria lain. Maya memilih memanggilnya dengan panggilan lain.


"Kakak saja ya.. Biar berasa punya Kakak laki-laki."


"Senyamannya kamu saja May."


Lama-lama bicara, kesadaran Maya mulai menghilang. Matanya perlahan terpejam dengan bertambahnya waktu yang terus berputar ke kanan. Efek semalaman Maya tak tertidur setelah pertengkaran. Dengan kepala bersandar ke jendela kaca. Wajah cantik itu terlihat lelah, dengan membawa segala beban yang sedang di pikulnya.


Oh, Maya semoga kamu akan bahagia.


Tanpa di sadari Maya, pria bernama Gala. Menatapnya dengan rasa kagum dan terpesona. Dari mulai duduk di sampingnya ketika sinar masih terang, petang belum beranjak datang dan lampu belum di padamkan. Ia bisa melihat pipi Maya yang masih memerah, terjiplak jelas bekas gambar tangan dengan sudut bibir yang meninggalkan luka.


"Siapa kamu, hai wanita cantik?"


****


Bersambung ❤️


Tinggalkan jejak ya