TRUE LOVE For MAYA

TRUE LOVE For MAYA
DAENG



Di lain tempat.


Salah seorang wartawan tengah memperhatikan lagi hasil jepretan kamera yang telah di ambilnya secara diam-diam saat di Bandara. Gambar sesosok pria yang ia ketahui bernama Sutan Lingga Hanunggara, putra dari Sutan Cjokro pemilik Kabar Grup tengan berjalan dan menggandeng tangan seorang wanita yang ia ketahui Maya, istri dari temannya Haris. Wartawan itu adalah Anton bersama rekan-rekan lainnya, Anton salah satu jurnalis dari perusahan media elektronik lainnya. Perusahaan media elektronik yang menjadi saingan Kabar Pos atau Kabar Grup.


Terakhir bertemu dengan Lingga, pada saat Anton mengisi bahan bakar pada saat kembali dari Tangerang. Pada waktu itu Lingga juga sama-sama tengah mengisi bahan bakar, pria itu baru kembali dari Serpong tepatnya kembali dari makan malam di Restoran Bandar Djakarta bersama Maya.


Dan Anton lah, seseorang yang di temui Haris pada saat di malam Haris bertengkar dengan Maya. Anton pulalah yang memberikan informasi kepemilikan Gold Card yang di miliki Maya. Dan saat ini Anton dan rekan-rekannya sedang berada di Lombok Tengah untuk meliput balapan motor di Mandalika International Street Circuit..


Begitu juga dengan beberapa jurnalis dari perusahaan Kabar Grup, mereka juga akan meliput acara Perhelatan balap motor betajuk Pertamina Grand Prix of Indonesia 2022 yang akan berlangsung di Lombok Tengah Provinsi Nusa Tenggara Barat dua hari hari lagi. Hanya saja Lingga memang tidak berniat untuk hadir dan menontonnya. Ia lebih memilih menikmati honeymoon-nya dengan berkunjung ke tempat-tempat romantis.


Anton akan mengangkat kabar dan gosip seputar Lingga, yang tengah berada di pulau Lombok bersama dengan seorang wanita yang ia ketahui bukan Alisa, tetapi Maya istri dari Haris. Dan Anton telah mengutus salah satu bawahannya untuk mengikuti kemana Lingga pergi dan berada. Ia percaya kabar yang akan di angkat ke permukaan akan menaikan rating salah satu berita acara di tempat perusahaannya bekerja. Beberapa jepretan yang ia terima dari timnya yang ia tugaskan mengikuti Lingga, mengirimkan beberapa gambar yang di ambil di sebuah Resort Pantai Senggigi.


"Apa tidak akan menjadi masalah untuk kita dan perusahaan?" salah satu temannya mengingatkan. "Jangan lupakan, dia Lingga.. Kabar yang beredar dia tidak pernah mengusik siapapun. Tetapi siapa saja yang mengusiknya akan berakhir dengan celaka."


"Tidak, janhan takut. Ini akan menjadi berita besar dan akan menaikan rating. Jangan lupa, karir kitapun secepatnya akan berubah dan akan ada peningkatan." Anton meyakinkan temannya.


"Kabar ini akan menjadi berita utama. Dan akan meledak." Anton tersenyum puas saat melihat pose foto yang menunjukaan keintiman dan kemesraan Lingga dan Maya.


"Baiklah.. Tetapi saya tidak mau menjadi penanggung jawab." rekannya itu kembali mempertegas keputusan yang akan di garap bersama.


"Baik, semua akan menjadi tanggung jawabku." dengan percaya Diri, Anton meyakinkan.


°°°°°


Jakarta.


Kang Oleh masih kepo dengan pria yang mengantar Dina saat tadi pagi.. Di tambah siang ini Dina mendapatkan kiriman makan siang dari salah satu kurir makanan salah satu restoran.


Ting..


Satu pesan masuk ke ponselnya, dengan nama si pengirim. Daeng Lexsus. Bibir Dina tersenyum malu saat membaca isi pesannya.


[ Anri, jangan telat makan. ~ Daeng


Singkat padat dan jelas.. Tak ada kata-kata yang lainnya. Tapi cukup membuat Dina merasa di perhatikan. Keputusannya sudah bulat. Ia akan mulai berusaha membuang jauh pria-pria yang mendekatinya dan akan serius membuka hatinya untuk Daeng Lexsus.


"Ternyata bukan hanya ada cinta satu malam, tetapi cinta ketemu semalam." Dina bermonolog sendiri, tertawa dengan menutup mulutnya.


"Neng... Emang enak di cuekin." Kang Oleh yang sudah masuk kedalam ruangan bertanya dengan bertolak pinggang.


"Eeh.. Ada Kang Oleh. Kirain manekin yang sudah ganti pakaian."


"Neng Dina tega.! Mentang-mentang sudah ada gebetan baru, kawan lama di lupakan. Nyamain sama patung toko lagi." ( manekin )


"Bukan di lupakan Kang Oleh.. Tapi kelupaan." Dina cekikikan.


"Sama saja, Neeeenggg… Jadi mau rahasi-rahasiaan nihh sekarang?" Kang Oleh merajuk alias penasaran.


"Nanti Dina ceritain Kang, Dina janji.. Sekarng kita makan bareng yuk Kang.. Ini ada dua box nasi." Dina berbagi makanan yang di kirim Lexsus untuknya.


"Buat Neng Dina saja. Kang Oleh menolak. "Kang Oleh belum lapar."


"Iihh… Kang, gak baik nolak rejeki.. Lagian Dina gak akan habis dua porsi. Buat sore juga nanti kurang enak. Sayangkan kalau sampai basi. Mubazir buang-buang makanan."


"Yukk, Kang.. Di parkiran ada Kang Ncup kan, yang jagain? Apa Kang Oleh mau makan di luar sama Kang Ncup juga boleh? Biar romantisss.." Dina memainkan alisnya sembari tersenyum menggoda Kang Oleh..


"Dehhh.. Gini-gini juga masih normal Neng… Pejantan tangguh ini." Kang Oleh menyombongkan dirinya dengan membusungkan dada.


"Pejantan tangguh, tapi gak laku-laku.." Dina mencibir


"Panjang umur dah tuh orang. Di sebut namanya, sudah nongol." Kang Oleh bicara sambil meraih kotak makan.


"Ya, sudah Kang Oleh terima dahh.. Makasih ya Neng, sering-sering aja begini Neng.. Dapet makan gratis. Kang Oleh makan diluar ya …sama si Ncup … biar bisa gantian jaga parkiran."


"Eehh… Ntar dulu Kang." Dina menghalangi jalannya Kang Oleh.


Sedangkan patner kerjanya kang oleh yang baru saja memberi berita bernama Ncup Sutarya langsung kabur.


"Apa lagi Neng.?" Kang Oleh sudah paham apa yang akan Dina pertanyakan. Pasti ucapan si Ncup Surucup soal gebetan. "Paling demen dahh tu anak buat gosip." Kang Oleh ngedumel di dalam hati


"Kog gak pernah cerita kalo kang Oleh punya gebetan?" Dina menelisik Kang Oleh dengan curiga. "Kang Oleh curang.. Tidak solmed.. Tidak setia sebagai teman sejati seperjuangan." Dina nyerocos tidak tidak berhenti.


"Neng Dina jangan percaya sama si Ncup Surucup.." Kang Oleh berusaha meyakinkan.


"Lagian ya Neng.. Akang mah belum kepikiran gebetan.. Kerjaan saja masih seperti ini.? Mana ada yang mau Neng sama tukang parkir."


"Bohong." Dina masih belum percaya.


"Memangnya kenapa sama kerjaan Kang Oleh? Yang penting kerjaan itu halal Kang. Dina gak suka Kang Oleh merendahkan diri.." jiwa persahabatannya meronta tidak terima saat Kang Oleh bicara merendah.


"Ya, sudah iya dah.. Kang Oleh makan dulu ya Neng Dina cantiiikkk…"


"Tap janji, nanti cerita.."


Sebelum Kang Oleh menjawab, suara dering telfon ponsel Dina menyelamatkan Kang Oleh.. Pria itu terbebas dari pertanyaan sohibnya dan segera kabur keluar.


Dina segera mengangkat panggilan saat nama Daeng Lexsus menghubunginya.


Baru saja benda pipih itu ia tempelkan ke telinga, suara bariton sudah terdengar lebih dulu dari sebrang.


"Sudah makan Ri?"


Dina masih bingung dan belum hapal.. Menjauhkan ponselnya dari telinga, ia mengingat-ngingat dan baru ingat, di pesan masuk Lexsus memanggilnya dengan sebutan Anri. ( Adik )


"Daeng." Dina mengigit bbirnya, takut-takut jawabannya akan salah.. Ia memanggil dengan sebutan Daeng sesuai keinganan pria itu.


"Sudah di makan?" Pria itu kembali bertanya.


"Ya, Daeng, ini mau Dina makan.. Eemm … terimakasih.." Dina berkata lembut malu-malu kucing.


"Jangan membeli makanan dari luar. Mulai hari ini Daeng yang akan mengirim makanan."


Dina melongo mendengar ucapan Lexsus.


"Anri.. Kamu dengar?" Lexsus bertanya saat tak ada suara dari Dina.


"I.. Iya, Daeng.. Dina dengar … tapi apa tidak merepotkan?" Dina merasa sungkan, ia tidak mau mengunakan kesempatan dan di cap wanita macam-macam.


"Tidak.. Kamu pilihanku.. Dan kamu akan menjadi tanggung jawabku."


****


Bersambung ❤️


Selamat menjalankan ibadah puasa bagi teman-teman yang menjalankan.. Mohon maaf lahir batin yaa 🙏 lopuyuuu 😘